RSS

Arsip Kategori: competition

Diproteksi: Asymmetric Competition


Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Iklan
 
Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Ditulis oleh pada Februari 27, 2015 in competition

 

Tag:

Infrastruktur


Setelah sekian lama tidak update blog ini, malam ini timbul kangen menulis tanpa dibayar 🙂

Beberapa presentasi saya di Slideshare.net telah dilihat dan diunduh beberapa kali. Hanya satu yang hari ini saya buka untuk diunduh, yaitu tentang “Telco & Media in Indonesia“. Bahan presentasi saya di kelas “Bisnis dan Industri Televisi” ini banyak diunduh tak hanya kalangan mahasiswa, tapi juga pebisnis… bahkan pebisnis telekomunikasi dari Norwegia! (FYI: Slideshare membolehkan siapa saja mengunduh slide asal kita mendaftar sebagai anggota Slideshare, dan kebanyakan kita menggunakan nama asli untuk bahan *serius*).

Kembali ke pebisnis telekomunikasi. Saya takjub dengan presentasi Hans Rosling di Ted.com beberapa waktu lalu. Rosling mampu menyajikan presentasi tentang statistik yang mudah dicerna. Presentasi saya tentang Telco (telecommunications company) dan Media di Indonesia itu sesungguhnya terinspirasi dari Rosling; bagaimana saya bisa menjejerkan dua sektor berbeda di era 1990-an dan batasan keduanya menjadi sumir hari ini. Yang lebih terpenting lagi, bagaimana saya melihat buruknya infrastruktur berbanding dengan kapasitas kemampuan negara ini, dibanding negara tetangga, Malaysia.

Saya yakin pemerintah masih punya niat baik untuk meneruskan Proyek Palapa Ring dan jalur kabel serat optik bawah laut Australia – Indonesia – Jepang, daripada selalu bottleneck di Singapura. Kedua proyek multiyears, multiplatform ini seharusnya lebih prioritas dari gedung wakil rakyat atau proyek-proyek renovasi fasilitas ini itu yang tak terkait langsung dengan kemaslahatan rakyat. Jika rakyat makmur, yakinlah pemerintah bisa merevisi kantornya di Planet Mars sekalipun.

Terakhir, pebisnis Eropa pun tak punya data akurat tentang industri telekomunikasi dan media di Indonesia hingga harus percaya saja dengan presentasi saya ke mahasiswa… *just kidding, guys*

 

Liga Inggris dan Kebijakan Publik


Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

 

When in doubt, challenge the strategy, not the tactics


Malam ini saya belajar lagi dari blog Seth Godin (klik sini). Kalimat ini berlaku saat sebuah korporasi bingung menetapkan format iklan untuk sebuah kampanye. Skala mengkritisi brosur seperti yang disampaikan Seth Godin ini berlaku antara “great!” lalu “cuma ganti ukuran font…” hingga “untuk apa membuat brosur?”. Sejenak memang Seth Godin bisa memberikan pencerahan atas tindakan korporasi ini. Saya malah melihat “beyond advertising strategy” yang bernilai komersial. It is beyond that.

Terkadang kita melihat sebuah kampanye iklan itu dalam kerangka detail, hingga satu eksekutif bisa bertengkar hebat dengan eksekutif lain tanpa akhir. Saya pernah duduk di satu rapat yang cukup produktif menghasilkan detail kampanye iklan (waktu itu kami mau merumuskan tagline bagi Liputan 6 yang baru lahir).  Mbak Indrit, waktu itu direktur operasional, dengan cantik dan renyah mengarahkan kami memikirkan tagline itu. “Ayo kita urutkan bahasa Inggrisnya dulu, nanti kita cari bahasa Indonesia-nya”, keluar dari bibir Mbak Indrit yang lulusan Boston University itu. Dari arahan yang sangat sederhana itu, kami bisa menghasilkan tagline “Aktual, Tajam, Terpercaya” yang masih digunakan hingga hari ini, sudah lebih dari 16 tahun lamanya.

Disalib oleh Metro TV yang melulu menayang program berita, lalu hari ini oleh TVOne, SCTV kemudian harus berpikir ulang untuk mempertahankan program beritanya. Tak sekadar memindah jam tayang lebih awal atau mengganti setting studionya. Secara sederhana saya melihat persaingan news source dalam sebuah manajemen stasiun televisi (terutama yang memiliki tiang pemancar di banyak provinsi) ada dalam kajian kompetisi yang sehat:

1. Metro TV tak lagi memonopoli berita, walau telah mendominasi dengan berbagai format dan kerjasama. Satu rumor internal menyatakan program “Kick Andy” adalah program filantropis sang pemilik TV, karena terbukti setiap tayang program ini bleeding, tak bisa menghasilkan profit. Program pencitraan ini menjadi penting dipertahankan Metro TV agar tetap berdiri dengan tegak melawan head to head dengan TVOne.

2. Sejak berubah nama karena berubah kepemilikan (heck, another point to discuss later!), TVOne juga tak lagi berniat menjadi TV olahraga. Satu hal pasti, membeli hak siar Liga Inggris atau liga-liga terbaik dunia adalah mahal. Memproduksi berita, dengan kesiapan infrastruktur di setiap daerah, tentu lebih menguntungkan. Jika telah membuat format yang menarik perhatian, seperti Tina Talissa yang mengingatkan saya dengan gaya Ira Koesno waktu itu, TVOne kemudian mencuri porsi pemangsa berita di malam hari dari Metro TV.

3. Bagaimana dengan SCTV yang masih berkutat dengan “all-you-can-watch TV station”? Percayalah bahwa “Liputan 6” sudah menjadi merek sama kuatnya dengan “Headline News”, namun saya pribadi lebih menunggu update berita setiap jam dari Metro TV daripada sekadar duduk di sore hari menonton Liputan 6 secara penuh. Apakah SCTV akan mengubah strateginya, mengikuti dua TV berita di atas, ataukah akan membuat terobosan lain sebagai televisi dengan tayangan segala rupa?

Not so fast, kita lihat dulu beberapa latar belakang sebuah stasiun TV.

Kembali ke Seth Godin dan frasa yang dituturkan di artikelnya (lihat judul di atas), saya kemudian melihat bahwa ada beberapa hal jika ingin menilai stasiun televisi berita yang baik:

1. Skala ekonomi dan cakupan ekonomi dari pengumpulan dan pendistribusian berita yang bisa menekan biaya produksi di daerah-daerah hingga meningkatkan akses ke berita internasional;

2. Akses untuk manajemen berita yang lebih baik (dari luar negeri dan media lain) serta talenta terbaik (seperti jurnalis dan presenter andal);

3. Peningkatan akses ke modal asing untuk membantu alat perangkat pemberitaan tanpa mengganggu akses editorial;

4. Peningkatan akses ke teknologi pengumpulan, pendistribusian serta penyuntingan berita akurat dan cepat.

Dari sini, dan dari analisis kompetisi terhadap 2 stasiun televisi berita (lapis pertama untuk dikaji) dan ratusan televisi lokal-nasional lain (sebagai lapisan kedua yang dikaji) yang harus dilihat SCTV akan memberikan satu pandangan baru.

1. Jika ingin menjadi stasiun berita penuh nomor 3, SCTV harus berani menjadi nomor 3 dari televisi berita yang tak banyak dapat kue iklan gado-gado. Kelak stasiun TV akan mendapatkan banyak cipratan iklan kampanye partai atau kandidat presiden, tapi jika dibagi 3, akankah cukup untuk operasional sehari-hari?

2. Jika tetap ingin menjadi “all-you-can-watch TV station”, sepertinya SCTV juga harus mengembangkan merek “Liputan 6” dengan langkah lebih strategis lainnya. Sekarang program ini memang sudah masuk ke internet dan handphone masyarakat kita, yang saya pikir masih terbatas secara format dan akses. Apakah sudah dipikirkan pengembangan platform lain? Give you a hint: transmitted via satellite, dedicated 24 hours like Astro Awani, and free-to-air or placed in basic package… another platform, another resources for undecided voters?

Yeah right…

 

Sekali Lagi, Microsoft Kena ‘Priiit!’ di Jepang


Mungkin saya naif, mungkin juga membaca dalam bahasa Inggris masih tertatih-tatih. Satu hal pasti yang dapat disimpulkan saat saya membaca putusan FTC Jepang terhadap Microsoft (klik sini untuk beritanya, tentu dalam Bahasa Inggris) adalah perihal exclusive dealings. Tentu saya harus membacanya ekstra-konsentrasi. Ditemani lagu Simply Red lama, Star, saya menikmati membaca putusan FTC ini.

“…[T]he Microsoft clause barred the companies from taking legal action against the software maker even if they found that parts of its Windows product violated their technology patents.”

Nah, siapa bisa membantu saya menerjemahkan kasus ini dalam bahasa sehari-hari yang lebih akrab?

Hmm… kalau saya membacanya singkat: spyware. Ada yang tidak setuju?

Mungkin ada blogwalker yang bersedia membantu menerangkan, sekali lagi, dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Inilah waktunya kita sebagai bangsa Indonesia belajar betul bagaimana mengapresiasi hak paten atau hak kekayaan intelektual. Dirjen Paten kita selama ini hanya berkutat di masalah hak paten barang dan jasa kreatif dasar (maksudnya batik, tokoh sinetron, dll.). Ada baiknya sekarang kita belajar lebih lanjut lagi perihal inovasi teknologi, yang membawa dampak berlipat bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. Pertanyaan OOT (out of topic), mengapa KPK belum merambah sistem korupsi di birokrasi. Kalau cuma tertangkap tangan, mudah. Bisakah KPK sampai memutus sistem bobrok dana kickback setiap ada proyek di birokrasi, karena jika tidak bisa tentu akan ada high cost economy kronis bagi negeri ini. Bagaimana mau berinovasi dan berkreasi, jika sedikit-sedikit uangnya untuk Pak Dirjen hingga penerima surat permohonan masuk. Masih ingat ‘kan cerita saya waktu di kantor Pak Dirjen di Tangerang? Klik sini kalau mau baca cerita basi itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2008 in business, competition, corruption

 

Sebuah Nilai (baca: Microsux & Winsux)


Malam ini di TV kita:

  1. Ada dagelan Tukul dan hipnoterapi untuk artis latah (yang katanya hanya ada di kalangan artis Indonesia) di Trans7,
  2. Ada juga Indosiar dan RCTI yang menayang kontes nyanyi yang serupa tapi tak sama (another type of latah?),
  3. Juga tampil di TransTV Rambo yang telah diputar ratusan kali di negeri ini (yang mungkin menjadi sebuah hipnoterapi bagi yang tak punya tontonan lain?),
  4. sementara Dhani Ahmad & his package tampil di layar SCTV.

Zapping dari semua televisi dengan tatapan kosong karena lelah satu minggu ini, mata saya akhirnya nyangkut di ANTV, sebuah anak perusahaan keluarga Bakrie. Yang sangat menarik di sini adalah pernyataan sang Ibu Ketua APJII, Sylvia Sumarlin, saat diwawancara seputar kedatangan Bill Gates. Terkesan beliau melakukan lip-sync saat pewawancara cantik menanyakan seputar kuliah Bill Gates pagi ini di Hotel Shangri-la.

“Ya, betul.” (saat ditanya manfaat internet bagi perkembangan kedokteran dll.)

“Bill Gates menekankan infrastruktur… bla bla bla.” (membaca dari teks?)

Tak ada yang baru dari kuliah Bill Gates hari ini. Tak ada yang menarik pula dari pembahas kuliah di ANTV malam ini. Yang sesungguhnya terjadi hari ini adalah bahwa seorang kepala negara sebuah negara besar (populasi 270 juta, prediksi Pak Faisal Basri) mengikuti kuliah besar dari pemain monopoli piranti lunak dunia.

Sekilas tampak antusiasme Pak Presiden SBY (menggenggam tangan di depan perut), tapi sesaat kemudian beliau sudah menatap kosong podium tempat Bill Gates berpidato. Tangan Pak Presiden sudah diletakkan di sisi kursi. Sementara itu, deret depan tampak beberapa menteri kabinet negeri ini. Sebuah gesture birokrat yang berlebihan untuk sebuah negara sebesar Indonesia.

Saya jadi teringat saat Pak Presiden menjenguk Pak Soeharto di RSPP tempo hari; sorenya beliau jumpa pers dengan jejeran kabinetnya duduk di samping. Foto jumpa pers ini menjadi berita halaman pertama Kompas Minggu. Sebuah political gesture yang mungkin membuat akhir pekan yang tadinya slow news day menjadi riuh berminggu-minggu kemudian hingga Pak Harto mangkat. Saking riuhnya, bahkan bisnis gosip TV turut menyorot sakit Pak Harto dengan “penampilan artis yang datang ke RSPP”.

Dengan gesture Pak Presiden seperti ini, menyimak soal kedatangan Bill Gates kali ini, saya yakin akan ada berminggu-minggu keriuhan piranti lunak Microsoft yang WAJIB digunakan di seluruh pelosok negeri ini (bayangkan juga akan ada banyak ‘pengadaan’ tak jelas). Setelah birokrat daerah diwajibkan memakai Windows OS, selanjutnya seluruh sekolah di Indonesia menjadi pangsa pasar korporasi global macam Microsoft. Tentu menghapus impian dan konsep mulia Pak Menristek.

Sudah saatnya negeri ini memiliki sikap yang lebih tegas. Pengembangan open source negeri ini bahkan di seluruh dunia adalah hal yang terkait erat dengan konsepsi persaingan usaha. Jika iming-iming dari Bill Gates adalah sebuah piranti lunak/keras yang ‘murah’ atau ‘gratis’ untuk pendidikan, mari kita cermati lebih jauh lagi.

Pertama: Belajarlah dari Uni Eropa. Tak bisa menegakkan hukum persaingan usaha untuk sebuah entitas di negeri lain (non-ekstrajurisdiksional), Uni Eropa menerapkan penalti denda dan ketentuan macam-macam karena usaha Microsoft yang mengikutsertakan piranti lunak miliknya dalam operating system Windows. Salah satu putusan Komisi Eropa adalah Microsoft WAJIB menggandeng piranti lokal jika ingin masuk ke pasar Eropa. Baca putusan Uni Eropa untuk Microsoft di sini. Atau belajar juga sampai ke negeri China. Baca protes rakyat China atas kuliah serupa Bill Gates di Universitas Peking, China tahun lalu, klik sini.

Kedua: Murah adalah mutlak bagi kantong masyarakat yang kian terjepit harga-harga bahan pokok. Jangan pernah mimpi makan empat sehat lima sempurna tiap hari jika BBM naik tak terkendali. Kebutuhan sekunder dan tertier dan selanjutnya adalah hal keseratus dalam benak ibu RT macam saya.

Jika demikian, akan menjadi paradoks jika Pak Presiden mengangguk untuk sebuah paket ‘piranti lunak gratis’ bagi pendidikan (yang di-bundling dengan piranti keras US$200?). Di saat sebuah piranti lunak tertentu menjadi hal wajib di sekolah, tidakkah masyarakat diberikan pilihan lain? Mungkin juga piranti lunak ini dipaketkan dengan komputer bekas (secara negeri ini adalah tong sampah?).

Ketiga: Menjual (atau membuang komputer bekas) atas nama pendidikan di Indonesia menjadi sebuah usaha CSR (corporate social responsibility) yang cerdas kelas global. CSR atas nama pendidikan/education ataupun kepemimpinan/leadership adalah mantera manjur berinisial $$$. Bill & Melinda Gates Foundation adalah ujung pensil yang lebih mumpuni daripada berdagang piranti lunak a la Glodok. Ah, sepertinya anti-pembajakan menjadi tujuan di balik upaya mulia sebuah ‘Foundation’ (baca: kunjungan Bill Gates ke negeri para pembajak?). Pembajakan piranti lunak di Indonesia kian kronis; walau piranti lunak bajakan menjadi salah satu pilihan murah menjadi sepintar Bill Gates? Baca beritanya di situs Jakarta Post hari ini (klik sini untuk berita lengkap):

Gates said he was ready to help Indonesia get high-quality personal computers for a price of less than US$200 per unit, plus free software if Indonesia could make a deal with Intel chairman Craig Barrett, who will meet Yudhoyono in Jakarta next week.

Padahal di Amerika Serikat sendiri Nicholas Negroponte membuat program “ONE LAPTOP PER CHILD” atau OLPC untuk komputer seharga US$100! Tentu saja Intel dan Microsoft meledek kemampuan Negroponte mewujudkan hal ini. Baca di sini untuk artikel Intel, dan di sini untuk Microsoft. Akhirnya memang Negroponte memakai Linux untuk sistem operasi laptop ini. Baca beritanya di sini. Atau baca komentar soal price wars antara OLPC dan Intel-Microsoft di sini.

Keempat: Seorang Presiden sebuah negara besar ternyata bisa ‘disuruh-suruh’ Bill Gates untuk negosiasi dengan petinggi Intel? Tak adakah industri atau asosiasi industri negeri ini yang mampu berhadapan F2F (face to face) dengan Bill Gates atau Craig Barrett? Betul, korporasi global seperti Intel atau Microsoft akan terus memeras kepeng orang miskin macam saya. Saya tak punya pilihan lain. Sesungguhnya, sejujurnya, berapakah nilai komputer 2 juta rupiah (kali ratusan ribu sekolah, kalikan lagi empat puluh meja lab komputer di setiap sekolah) bagi seorang Bill Gates? Heaven! Bandingkan dengan nilai uang belanja saya. Yeah right, it’s a global scam, unfortunately.

***

Saya jadi teringat seorang sahabat virtual bernama Mr_C, yang selalu ketik atau bicara “Microsux” atau “Winsux” dalam setiap kesempatan. Waktu itu (sekitar tahun 1996-1997) saya hanya tertawa tanpa tahu artinya. Hari ini saya bisa nyengir kecut. Telat.

 
 

Dream for China? Olimpiade ke Laut Aje…


Kalau ada aktivis murni bekerja untuk kemaslahatan orang banyak, saya salut. Tapi kalau ada aktivis yang memojokkan China (baca beritanya di sini) dengan menodong korporasi global, mungkin saya harus berpikir ulang. Masalahnya jika Sudan membeli senjata dari China, dan China tahun ini menjadi tuan rumah Olimpiade 2008, lalu mengapa waktu Amerika menyerang Irak tahun 2003, tak ada organisasi penekan (baca: pressure organization) yang mengharamkan agenda genosida terselubung ini? Jawabnya jelas, banyak kegiatan aktivis anti-kekerasan yang uangnya bermuara dari Amerika Serikat. Mungkin hanya Michael Moore yang berani membuat buku dan film tentang skandal emas hitam (baca: minyak) yang menjadi pemicu serangan ini (bukan senjata pemusnah massal).

Gugatan Mia Farrow atas nama Darfur adalah sah dan menggugah hati siapa saja. Perang dan senjata tidaklah identik dengan negeri bernama China. Tukang pamer senjata kelas dunia adalah Amerika Serikat itu sendiri. Kompleksitas industri senjata di negeri itu sungguh amat menyesakkan dada; hingga anak sekolah bisa memberondong kawan sekolahnya karena kesal.

Saya selalu melihat masalah dari kacamata persaingan, termasuk masalah Mia Farrow ini. Jika China (atau Korea Utara atau Afghanistan) tidak “membentengi diri” dengan amunisi dan perangkat memadai, mungkin Amerika Serikat menjadi satu-satunya negeri yang paling jumawa di dunia ini. “I am the king of the universe. Yang lain ‘ngontrak.”

Terakhir, lirik lagu John Lennon bernyanyi di kepala saat ini…

Imagine all the people
Living life in peace…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 27, 2008 in beijing, competition, olympics, politics