RSS

Arsip Kategori: country

Infrastruktur


Setelah sekian lama tidak update blog ini, malam ini timbul kangen menulis tanpa dibayar 🙂

Beberapa presentasi saya di Slideshare.net telah dilihat dan diunduh beberapa kali. Hanya satu yang hari ini saya buka untuk diunduh, yaitu tentang “Telco & Media in Indonesia“. Bahan presentasi saya di kelas “Bisnis dan Industri Televisi” ini banyak diunduh tak hanya kalangan mahasiswa, tapi juga pebisnis… bahkan pebisnis telekomunikasi dari Norwegia! (FYI: Slideshare membolehkan siapa saja mengunduh slide asal kita mendaftar sebagai anggota Slideshare, dan kebanyakan kita menggunakan nama asli untuk bahan *serius*).

Kembali ke pebisnis telekomunikasi. Saya takjub dengan presentasi Hans Rosling di Ted.com beberapa waktu lalu. Rosling mampu menyajikan presentasi tentang statistik yang mudah dicerna. Presentasi saya tentang Telco (telecommunications company) dan Media di Indonesia itu sesungguhnya terinspirasi dari Rosling; bagaimana saya bisa menjejerkan dua sektor berbeda di era 1990-an dan batasan keduanya menjadi sumir hari ini. Yang lebih terpenting lagi, bagaimana saya melihat buruknya infrastruktur berbanding dengan kapasitas kemampuan negara ini, dibanding negara tetangga, Malaysia.

Saya yakin pemerintah masih punya niat baik untuk meneruskan Proyek Palapa Ring dan jalur kabel serat optik bawah laut Australia – Indonesia – Jepang, daripada selalu bottleneck di Singapura. Kedua proyek multiyears, multiplatform ini seharusnya lebih prioritas dari gedung wakil rakyat atau proyek-proyek renovasi fasilitas ini itu yang tak terkait langsung dengan kemaslahatan rakyat. Jika rakyat makmur, yakinlah pemerintah bisa merevisi kantornya di Planet Mars sekalipun.

Terakhir, pebisnis Eropa pun tak punya data akurat tentang industri telekomunikasi dan media di Indonesia hingga harus percaya saja dengan presentasi saya ke mahasiswa… *just kidding, guys*

 

‘Preman’ was here


A leader is best when people barely know he exists...
not so good when people obey and acclaim him, worse when they despise him...
(Lao Tzu)


This country is, again, hopeless. Law is made, here, to be broken. As long as everything is procedural, stealing money is allowed in this country. I had a little time to check what’s wrong, but they surely have had fun for decades on behalf of the people. I cannot tell the details in such small space, but I surely know what is weird about this article (click here for the news). One guy  in the news, the so-called clean man from West Sumatra, is definitely successful with his anti-corruption campaign (again, click here for another news). The other guy is waiting for his sentence on corruption case, dana bansos they call it,  (click here again) for a tour & travel package of his stupid family gathering plus to-and-fro-dunno-where gifts of flower arrangements.  Oh, by the way, Tomohon is located in North Sumatra, the highland cool-breeze area, with beautiful scenery of flowers and many other plant species. Beautiful, beautiful place to meditate. I could write a book or two if I stay there in a week.

OK, back to the first guy from West Sumatra and the other guy from North Sulawesi. Why the people need a leader? A true leader, that is. In today’s corruptive system, I am still waiting for a true leader to bend the existing system or even fight for a new. I don’t need Gamawan Fauzi to bend rules for adjusting “a potential corruptor” that is already behind bars. I don’t need a Jefferson Rumajar who has traveled first class with a whole package of his socialite family. Public servants are serving the public, not playing tricks with the public. The latter is usually called ‘preman’. Make no mistakes, it is not superman’s half brother.

Considered these preman leaders would say: “bend any rules that are on the way to halt our money”. They are living in fancy glamorous lives whilst the people are starving and watching those prices skyrocketting fast. What went wrong with this picture? Nothing. I am just living in a wrong country, for sure. I don’t need any leaders who bend rules not for the people. We don’t need corruptive government.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 9, 2011 in corruption, country, leader, leadership

 

Tag: ,

A Smile at Prices of Hot Spices


Indonesia is a unique country, for I cannot say it is impossible to live in. I still have to use a positive sentence to start the year.  We are still celebrating new year, and we passed Idul Fitri and Idul Adha, two most sacred days for moslems. Over the two latter, prices of hot spices–you might call it chillis and we called it “cabe”–was hotter than mercurius. We usually cook special food to celebrate Idul Fitri (hot “ketupat rendang” or “ketupat opor” added with ground chillis and onions). We also cook “kare kambing” or “lamb curry” after we sacrifice the lamb in the morning. Curry, as we know it, needs spices mostly chillis.

So what happened when it’s Christmas time? Do we cook spicey food? Not too many. New year’s eve? We cook spaghetti with is tomato sauce, and chillis if required–not a must. We serve pudding and other sweeties to close the year. Why on earth the price of chillis per kilogram went from IDR 50,000 to IDR 100,000 overnight on the first week of  2011? This is amazingly outrageous or outrageously amazing…!

Blame it on the extreme weather? Awww, come on… the sun is still there at certain times of the day. We have reached the highest level of bioengineering for food production for the last decades. Why don’t we do something out of it? In Indonesia, again as a unique country, priority of doing the right things is upside down, inside out of whatsoever. Our president was best seen sitting graciously near a soccer field instead of chopping the grass in the middle of paddy field. Our local government is too busy doing knick-knacks instead of encouraging the people to produce and distribute more efficient farming or fishery goods. Public officers concern more on renovating their official houses and buying more expensive official sedans to suit their ranking of bureaucratic system. (click here for one of the news)

We, the Indonesians, are likely to face a very hotter year in the future if the prices of 9 staff and staple (“sembilan bahan pokok” or “sembako”) are crazily skyrocketting.  There were no significant government’s actions last year, and we are not hoping more this year. However, we are the still the kindest and the most forgiving species on earth. We Indonesians always handle things with smile, for better or worse.

 

Tag:

Merumuskan Slogan Pariwisata


Terhenti di lampu merah Jl. Thamrin, saya papasan dengan bus pegawai Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata. Di belakangnya tertera logo dengan tulisan di bawahnya “Ultimate in Diversity”. Excuse me… ???

2270_775-logobenderacopy

Mari kita lihat dua kata tersebut secara seksama (saya kutip dari kamus The American Heritage Dictionary cetakan ketiga):

1. Ultimate

sebagai kata sifat

  • being last in a series process, or progression
  • fundamental, elemental
  • of the greatest possible size or significance, maximum; representing or exhibiting the greatest possible development; utmost, extreme
  • being most distant or remote, farthest
  • eventual

sebagai kata benda

  • the basic or fundamental fact, element, or principle
  • the final point, the conclusion
  • the greatest extreme, the maximum

2. Diversity

kata benda

  • the fact or quality of being diverse
  • a point or respect in which things differ
  • variety or multiformity

Jika digabung memang keduanya menjadi sangat “Pancasila-is” dengan nada kebhinekaan yang tunggal ika satu tujuan. Cara bertutur “utimate in diversity” biasa kita dengar saat ceramah P4 dahulu, atau bagaimana TVRI pernah memiliki slogan “Persatuan dan Kesatuan” di setiap bumper antar-program.

Saya mencoba mengecek lagi situs-situs Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata atau lembaga yang seharusnya menjadi corong promosi pariwisata negeri ini (atau lebih jauh lagi, corong pelestarian dan pemberdayaan budaya negeri ini). Catatan saya kemudian adalah:

  1. Situs resmi Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata www.budpar.go.id menjadi sekadar situs berita institusi yang melulu berisi “Ini loh gue, punya anggaran segini, meresmikan ini-itu, dan menginfokan agenda di sana tanpa kelanjutan bagaimana bisa sampai ke sana.”
  2. Situs dibuat asal jadi, terbukti dari isi satu situs www.my-indonesia.info atau www.indonesia.travel yang seluruh isi situsnya bisa direkap di hanya satu paragraf pendek di Wikipedia.  Sekali lagi, tak ada petunjuk apa dan bagaimana menjadi turis asing — bisnis atau rekreasi — di Indonesia.
  3. Satu hal lagi, jika kita google kata  “visit Indonesia” yang tertera di urutan paling atas adalah situs resmi http://www.my-indonesia.info. My? Bayangkan jika “id” adalah kode web Indonesia, dan Malaysia kode web adalah “my” sehingga terbacalah Malaysia Indonesia Info!

Tak mengherankan jika slogan di bus pegawai kantor pemerintah yang satu itu hanya berisi “ini loh gue” bukan berisi ajakan turis untuk kembali lagi ke Indonesia, atau ajakan setiap warga negara untuk semangat mengundang kawan-kawannya di luar negeri sana.

Sekarang saya mau membandingkan slogan “Ultimate in Diversity” itu dengan slogan pariwisata (bukan budaya) dari banyak negara yang sukses menaikkan rating “visit my country” selama beberapa tahun terakhir:

1. Maldives, sebuah negara dengan pantai pasir putih yang indah lengkap dengan pulau karang yang belum terjamah polusi. Statistik international tourist arrival 1990-2000 mencatat paruh pasar di region Asia Selatan adalah 7,5% dan pertumbuhan 8,6%

2. India, sebuah negara industri dan kaya budaya yang berkembang pesat secara ekonomi maupun modal sumber daya manusianya. India menempati peringkat tertinggi di Asia Selatan untuk kunjungan wisatawan selama 1990-2000 dengan paruh pasar 50,6% dan pertumbuhan 6,4%.

3. Dan beberapa negara lain yang pertumbuhan di atas 20% dengan pencitraan negara yang penuh warna dan terkesan hangat dinamis, di antaranya:

  • Bermuda: Feel the Love
  • Dubai: Definitely Dubai
  • Egypt: The Gift of the Sun
  • Lebanon: Splendid Lebanon
  • Spanyol: Espana
  • Sri Lanka: Small Miracle, Find Your Miracle
  • Turkey: Turkey Welcomes You
  • Zimbabwe: A World of Wonders

budpar

… dan yang paling penting adalah bagaimana negara tetangga Malaysia dan Singapura memosisikan dirinya

1. Malaysia: Truly Asia

2. Singapura:  Uniquely Singapore

Lihatlah ada slogan negara yang “berbicara” dengan sudut pandang diri “Saya” atau “I” yang mengajak turis sebagai “Anda” atau “You”. Ada juga negara yang mengangkat impian berada di tempat penuh cinta atau penuh matahari; sebuah ketertinggalan kesan yang mendalam setelah kembali dari sana. Sedangkan dua negara tetangga kita itu, tentu mengangkat keragaman budaya dan etos; betapa etnis India, China dan Melayu bersatu dengan turis atau pekerja ekspat di sana. Truly Asia, Uniquely Singapore, atau Ultimate in Diversity… dan slogan kita paling tidak indah, tidak merayu siapapun untuk datang.

** menghela nafas panjang **

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada September 12, 2009 in budpar, country, culture, image, Indonesia, institutionalism, media, slogan, tourism