RSS

Arsip Kategori: curhat

“Bad News” is not good for my rating


For three days I haven’t seen news or clicked any link in detikcom, I just felt good. I knew about the fire in Grand Indonesia, I heard my hubby mumbling when reading Kompas. For three days I learned bawang merah is some kind of gone into thin air after its price dropped a little bit. An old trick to raise price. For three days I learned nothing new.

Fact is, I got cold. And I need something to escape with: hot orange juice and good readings. CS Lewis, Edgar Allan Poe, Mary Higgins-Clark are amongst the must-read, at least once in my lifetime. Probably poems, too. I loved Wordsworth once. Or local writers like Marah Roesli? Ah, I need something lighter.

Stop.

I don’t need bad news. CBS even cut loss by providing good news. Viewer age remains a concern while CBS has traditionally attracted more total U.S. viewers than its competitors, its average viewer tends to be older, beyond the demographic groups that many advertisers prefer to reach. To date this season, the network’s median age is 52.9, compared with 45.2 for Fox, 48.4 for NBC and 49.6 for ABC. This year, perhaps trying to appeal to younger viewers, CBS will introduce four mixed martial-arts shows Saturday nights in the United States.

What about Liputan 6 whom once attracted viewers with unabashed Ira Koesno-Arief Suditomo duet? What about Metro TV smiley anchorwomen? Ten TV stations in Jakarta are jumbled content. What about our younger viewers. Yay, not that easy. They are kind of blogging and facebooking for news. They even unaware of happenings due to their “gw bgt” attitude. They went for fun karaoke or singing contest. They are singing their heart out and still need push entertainment served to their laps. Me or younger generations are looking for pull news. The hectic, bad news provided by television is crowding out.

I am too serious, aren’t I?

*away from my keyboard*

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 19, 2008 in curhat, newsworthy

 

Gugat Telkomnet Speedy!


STO Cempaka Putih mengalami “kerusakan massal”?

Minta maaf karena server rusak?

Sil, ini posting paling pendek lagi, karena memang pelayanan publik di negeri ini kacau-balau, kita punya uang, tapi kita tak punya kuasa atas jasa yang kita beli. Telkom memang harus di-Baby Bell-kan. Kita buat agar semangat otonomi daerah akan menjadikan “Telkom Jakarta” berubah lebih profesional dari “Telkom Jakarta Coret”.

FYI, Telkomnet Speedy rusak sejak Sabtu siang hingga malam ini. Dial-up? Kalau kepepet. Mengadu ke YLKI? Di-forward ke BRTI. Telepon BRTI? Protes karena dapat limpahan YLKI. *geleng geleng gaya dugem Ebony*

and away from my keyboard again…

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 31, 2008 in curhat

 

Sil, ini posting terpendek


(maaf, baru satu posting terpendek di blog ini, tapi terus terang piring cantik juga cita-cita!)

Berhenti di lampu merah air mancur pizza man di Jl Sudirman, Jakarta, saya terpana dengan lampu kerlap-kerlip dengan tiang beton yang harga satu tiangnya tentu lebih mahal dari 100kg beras raskin. Ada ratusan (mungkin ribuan kalau dihitung semua lampu ‘gak penting’ di Jakarta). Cahaya kerlap-kerlip ini bisa disubstitusi dengan lampu sorot macam tiga arah di Bunderan HI. Letakkan di titik-titik pertigaan atau perempatan di seluruh Jakarta, lebih memiliki manfaat. Sil, saya punya pertanyaan jadoel: sekarang sebutkan manfaat dari fungsi guna? Jawabnya: lampu ‘gak penting. :))))

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 28, 2008 in curhat

 

Corruption of Economics, or Economics of Corruption?


corruption.jpgcorruption2.jpgcorruption3.jpg

Heal The World
Make It A Better Place
For You And For Me
And The Entire Human Race
There Are People Dying
If You Care Enough
For The Living
Make A Better Place

Tak bosan saya membaca berita korupsi. Setidaknya ada harapan buat rakyat kecil seperti saya ini. Lirik lagu Michael Jackson “Heal the World” saat ini bermain di kepala saya. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) adalah instansi yang berani mengambil langkah maju di tengah derasnya tiupan angin 2009. Prof Iwan Jaya Azis pernah tekankan ini di kelas, bahwa setiap hari di koran ada berita korupsi di-highlight. Itu pertanda baik. Institusi negara ini mulai memberi tanda-tanda membaik.

Institusionalisme mewajibkan pilar kepastian hukum dan manusia penegak hukum yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi yang baik. Beberapa tahun lalu, apapun bisa terjadi di Negeri Sim Salabim seperti Indonesia ini. Pernah ada harapan besar dari rakyat saat terompet reformasi ditiup; untuk itu janganlah pemimpin negeri ini membuatnya melorot dengan membangun pilar-pilar institusi negara yang tak kuat.

Hodgson & Jiang (2007) menekankan bahwa korupsi itu retorika yang harus didefinisikan lebih luas lagi karena “organizational corruption, rather than corruption in a broader sense, such as the corruption of language or a single individual… [we] criticized the idea that organizational corruption is confined to the public sector only. A much shorter subsequent section briefly establishes that corruption need not always be for private gain. Another section criticizes utilitarian treatments of corruption and establishes its immoral character, leading to a specific definition of organizational corruption involving the violation of established, normative rules. From this perspective it is argued in the penultimate section that organizational corruption incurs social costs that cannot fully be internalized.”

Yeah, it takes two to tango. One to dangdut (sambil merem melek, keliling lantai joget sendirian!). Mau korupsi tentu ada dua pihak. Ada Urip, ada juga Artalyta-nya dong. Tango bisa juga berlaku di pemberantasan korupsinya: harus ada yang tertangkap tangan dan ada yang menangkap tangannya.

Masalahnya memang korupsi kecil-kecil (seperti uang posyandu yang dikutip petugas kelurahan, ataupun dana-dana perbaikan jalan di Sorong dikutip staf bupatinya) tak terjangkau KPK. SMS terakhir soal korupsi posyandu ke satu kawan yang anggota KPK tak ditanggapi. Saya mau curhat soal dana otsus yang dikutip dengan berbagai “gaya renang” sepertinya harus menunggu BLBI tuntas dulu.

Posyandu? Dua ratus ribu? Kurang seksi…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 17, 2008 in corruption, curhat, KPK, law, poverty

 

Siapa paling berperan?


Tadi sore anak saya bertanya, “Siapa paling berperan dalam pendidikan anak?”

Sambil duduk santai di samping sang anak, suami saya menjawab, “Tulis saja: anak itu sendiri. Bapak sama Ibu juga. Bapak periksa PR kamu, Ibu periksa gizi yang masuk ke otak kamu. Pemerintah juga harus menyiapkan anggaran.  Kalau tidak cukup uang untuk beli buku baru harusnya…” Saya langsung tertawa terbahak-bahak! Edan. Anak kecil kok disuruh menjawab yang ribet. Walhasil, dengan muka polosnya anak saya menulis jawaban singkat: “anak”.

As simple as that.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2008 in curhat

 

Reminisce the goold old days


*** And you coming back to me is against all odds
It’s the chance I’ve gotta take ***

Tapi lagu Phil Collins yang paling paling akhir ngetop di beberapa tangga lagu dunia bukan yang ini, tapi Another Day in Paradise. Setelah itu tak ada lagi number one hit-nya. Saya juga nonton konser Phil Collins di Ancol dahulu (hmmm, jadul!) dan menyesal karena tak ada element of surprise untuk audiens di Jakarta. Lebih bagus lihat rekaman konsernya via DVD (waktu itu mungkin masih VHS formatnya). Kalau mau beli DVD, saatnya adalah membeli Manhattan Transfer dan Matt Bianco yang juga mau ke Jakarta, sayangnya tiketnya… huhuy! Lebih baik uangnya beli stok kedelai ya?

Yang sudah kesampaian adalah menonton Michael Franks di Blue Note Jazz, Jakarta (kafe ini sudah almarhum lama) di akhir tahun 1996 atau 1997. I am terrible with numbers still. Situs http://www.michaelfranks.com baru naik lagi, bulan lalu tak bisa diakses. Michael Franks adalah PhD sastra Inggris yang tesisnya tentang lirik lagu. Banyak juga pelajaran sejarah dan mitologi saya dapatkan dari lirik lagunya. Terkadang lucu seperti Eggplant (yang artinya terong!). Atau sendu seperti How I Remember You. Paling utama adalah bagaimana ia membawa saya membayangkan tempat-tempat indah atau suasana hati yang gundah. Semuanya diracik dalam nota dan lirik yang…

*** If it’s true from the start
That the names of those we love
Are written in our hearts
And we’ll search ’til we find
In this jungle of Confusion
Something that reminds us
How we love each other
Then I think I’ve found the clue
Because I certain I remember you

… Like the sunlight that shines
Like the fragrance of the rose
No single word defines
We are tuned to the sound
That displays creation
That our lives revolve around
And searching for each other
From a million hearts we choose
You remember me and I remember you
***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 3, 2008 in arts, curhat, songs

 

Waking Up: WordPress yourself


*yawn* Already Jan. 30. Just now, after a quick napping I made some hot tea. Need to freshen up to start writing a loooong due presentation.  Sipping my tea, I started reading J Kristiadi’s column (again) in Kompas Jan. 29. His writings always soft but sharp.

Thinking and putting thoughts into good writings required 3 things:

  • the thoughts (of course),
  • hard work (exercising in the brain is more than muscle-wise work), and
  • experience in writing (how many thousands of letters and rejections, this matters most).

I don’t like writing poem, btw. I used to. I don’t like writing journals. I used to, too. I just find it easier today to express thoughts in longer longer words. I hated the skyrocketting tempe price and kedelai v. corn; I wrote them. I searched long hours just to find out how agrobusiness really worked out. I wrote them in 10 minutes. I love the idea of sertifikasi guru, I wrote it. Many many more things I read and think in a day, I just wrote them. Thanks for sharing.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2008 in curhat, thinking, wordpress, writing