RSS

Arsip Kategori: detikcom

Bail Out


Kalau di film tuh ya, ada tersangka kasus pidana atau perdata mau jadi tahanan rumah, atau drunk driver ditahan di kantor polisi, dia ini bisa keluar dengan jaminan atau bail out. Nilainya mungkin kecil, mungkin besar untuk ukuran yang mau menjamin (bisa keluarga, istri atau pengacaranya). Masalahnya kalau bail out untuk cegah depresi hebat kedua (Great Depression II) di Amerika Serikat yang punya dampak bola salju ke seluruh dunia, nah ini baru jaminan luar biasa.

Terkadang juga apa yang digembar-gemborkan media tentang mekanisme bail out di Amerika Serikat sana, baik melalui berita aktual ataupun kolom opini para pakar, bisa bergulir dan melahirkan dampak sampingan yang membuat panik siapapun. Masalahnya, kalau tidak diberitakan atau disampaikan dengan arif, bisa jadi kita semua jadi generasi paranoia; satu berita heboh (Ryan, misalnya) ke berita heboh lain (resesi ekonomi yang tak kunjung selesai).

Mari kita bail out rasa nyaman kita membaca berita, menonton TV, mendengarkan radio, atau klik detikcom yang suka bombastis bikin judul itu (maklum, urusannya per detik, kalau tak di-klik orang, beritanya lewat saja).

Oke, selamat Lebaran dan Liburan! Dua hal yang paling saya nanti setiap tahun. Maaf lahir batin ya buat semua, kalau ada salah ketikan atau tindakan…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 1, 2008 in depression, detikcom, great depression, recession

 

Tragedy of the Commons 2009: Expecting the Unexpected


Dasar dari teori permainan (game theory) adalah teori pengambilan keputusan dan pengukuran ‘balik modal’, permainan dan format strategis atau runut, pemolesan dalam skala Nash equilibrium versus hasil yang ada sekarang, informasi sempurna dan tidak sempurna, strategi gabungan, permainan berulang, permainan koperatif, dan permainan dengan informasi tidak sempurna. Aplikasi politis [yang mungkin bisa diterapkan dalam Pemilu 2009] adalah terkait model ruang dan waktu:

  • masalah barang publik (frekuensi penyiaran dan jalanan untuk menancapkan tiang kampanye)
  • gerakan kolektif (banyaknya partai bermain dalam waktu bersamaan)

Atau model revolusi dan transisi dengan:

  • desain institusional khusus
  • permainan pemilihan (voting)
  • penetapan agenda
  • aturan main untuk memilih secara strategis
  • koalisi parlemen
  • teori formasi kabinet

Satu hal yang mungkin juga harus dikalkulasi sejak awal adalah “the element of surprise” yang akan dibuat dalam bagan-bagan teori permainan dan desain kolusi.

Dalam sebuah sistem permainan, riak-riak kecil akan mendorong para pemain melakukan perubahan substantif yang bisa menjadi faktor kejutan dan bisa meyakinkan permainan diulang kembali. Masih ingat bagaimana proses Gus Dur ‘diangkat’ kemudian setelah terjadi riak-riak yang tak bisa dikendalikan Gus Dur lalu legislatif dengan mudahnya melakukan pengocokan ulang? Hitung-hitungan kekuatan ini harus dipetakan secara sistematis dengan menambahkan skenario-skenario yang menempatkan faktor kejutan yang bisa dikendalikan. Tanpa kejutan yang membangkitkan rasa waspada setiap pemain, sebuah permainan akan menjadi membosankan dan bisa diprediksi. Seperti menonton drama cengeng.

Di saat seperti sekarang ini, situasinya adalah banyak kandidat partai (exceeding supply) yang akan bertarung memperebutkan suara pemilih yang tak berkembang (stagnant to decreasing demand), ditambah dengan pemain-pemain besar mulai kekurangan suara; atau mungkin juga membengkaknya jumlah undecided voters karena banyak alasan (ketidakpastian kondisi perekonomian hingga kesalahan administratif di KPU). Di tengah situasi seperti ini, terjadilah tragedy of commons, atau kesulitan mengakses hak publik. Informasi asimetris adalah salah satu penyebab terjadinya masyarakat yang masuk dalam golongan undecided voters, atau bahkan mungkin pemilih yang salah pilih karena tak mendapatkan informasi selayaknya tentang seluruh kandidat secara berimbang. Siapa yang kuat membeli jam siaran di TV dan radio, silakan berhitung dengan lebih strategis.

 

Hari Ini Berita Detikcom NGACO


betadine3.jpg betadine2.jpg

Tiga tetes air rahmat di air PDAM, air bisa bebas bakteri langsung minum? Soal air ini, Detikcom mengutip pernyataan resmi Direktur Penyehatan Lingkungan dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La.

Berita tentang air rahmat (Air RahMat) ini ditulis oleh Rafiqa Qurrata dan di-upload Detikcom pukul 22.17 hari ini. Detikcom membuat sebuah berita yang MENYESATKAN. Jika memang ada kebiasaan bahwa wartawan yang ditempatkan di akhir pekan adalah wartawan rookie, harus dipertanyakan apakah beritanya juga imparsial. Saya menyesalkan sebuah penulisan yang hanya mementingkan judul heboh dan tanpa mengindahkan kode etik wartawan secara utuh.

Bayangkan sebuah jumpa pers Depkes, oleh Dr Wan Alkadri, Direktur Penyehatan Lingkungan di Hotel Shangri-La Jakarta (mengapa tidak di kantor resmi, dan mengapa akhir pekan?) diplintir sebagai berita yang “menjual produk” yang telah terdaftar di Depkes dan telah mendapatkan sertifikat halal MUI. Tidakkah sebuah media berita online seperti Detikcom mampu meng-google kata kunci “air rahmat” dan “wan alkadri” untuk mencari hubungannya? Perkenankan saya cari jembatannya: USAID sebagai donor dan John Hopkins sebagai peneliti.

1. Rafiqa teledor dengan angle berita; mengapa mengaitkannya dengan “lebih menghemat BBM” dan memberi informasi sepenggal-sepenggal. Mengapa tidak disebutkan bahwa air rahmat ini adalah produk yang diteliti, didistribusikan dan dipasarkan oleh John Hopkins, sebuah institusi penelitian resmi Amerika Serikat yang memiliki kantor di Jakarta? Mengapa tidak digali lebih lanjut hasil riset John Hopkins? Bisa juga dilengkapi kasus sukses penurunan diare di daerah-daerah yang sudah memanfaatkan air ini (jika ada).

2. USAID yang mendukung penyebaran air rahmat (baca di sini untuk berita lengkap pemerintah Amerika Serikat “menolong” program air bersih Indonesia) bekerja sama dengan Depkes untuk “mengentaskan” masalah air tidak bersih di negeri ini untuk menghindari diare. Masalah sesungguhnya berada di hulu (masyarakat Indonesia yang belum memperhatikan kesehatan lingkungan secara utuh). Kalau mau tarik ke hulu, mungkin terlalu lama (baca: memakan uang donor USAID lebih banyak) untuk mendidik dan melatih tuntas soal kebersihan 200 juta orang. Akan lebih mahal lagi membangun infrastruktur daur-ulang air seperti yang dimiliki Singapura untuk melepaskan ketergantungan air bersihnya dari Malaysia.

3. Memberi nama “rahmat” adalah sebuah trik yang memanfaatkan agama. Satu usaha yang tidak simpatik, seakan orang Indonesia semua berpikir tahayul untuk konsep sanitasi. Tiga tetes air, voila! semua sehat. Padahal Islam juga mengajarkan kebersihan yang lebih konsepsional; salah satu bentuknya adalah berwudhu atau langsung membersihkan diri jika terkena najis.

4. Logika, membunuh kuman di dalam air, dan airnya kita minum, akan berapa banyak substansi pembunuh kuman masuk ke perut masyarakat yang percaya tahayul? Selama ini yang saya tahu kalau ingin membunuh kuman saya oleskan, teteskan atau kumur Betadine, tidak dengan meminum Betadine dan kumannya sekalian. Berapa banyak informasi lain yang belum diketahui masyarakat. Mengerikan jika pemberian nama “Air RahMat” ini adalah cara menjual produk yang tidak jelas apa dampak jangka panjang untuk rakyat Indonesia.

Janganlah menempatkan sebuah berita layaknya iklan komersial. Lama-lama Detikcom kok menjadi media infotainmen kacangan ya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in detikcom, news, profesionalisme