RSS

Arsip Kategori: DKI Jakarta

Capres Peduli Reformasi Birokrasi


“Reformasi birokrasi adalah Jokowi.” Kalimat ini diucapkan seorang sahabat di salah satu rapat kementerian, setahun lalu. Hari ini, Jokowi maju untuk calon presiden Republik Indonesia. Hitung cepat (quick count) menunjukkan PDI-P yang mengusung Jokowi melesat meninggalkan partai politik lain. Selain PDI-P, yang masuk peringkat 3 besar adalah Partai Golkar dan Partai Gerindra. Menarik…

Kira-kira nanti ada 3 (tiga) pasang capres-cawapres, kalau melihat konstelasi pemenang suara pemilu legislatif hari ini. Siapapun, saya tak ingin berspekulasi di sini, karena sesungguhnya siapapun itu sudah wajib menjalankan RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) dengan kabinet yang bersih dan bekerja.

Wajib hukumnya psangan capres–cawapres ini bersih dan bekerja. Karena siapapun capres-cawapresnya, kalau masih punya agenda utang perusahaannya atau menggelembungkan parpolnya, rakyat Indonesia akan memasuki 5 tahun yang suram lagi.

Baiklah, ada RPJP.

Baiklah, harus bersih.

Lalu, bagaimana profil birokrasi hari ini? Sudah siap? HARUS SIAP! Karena Jokowi, salah satu contoh yang disebut ‘reformis’ tadi, mempunyai prioritas kerja di detik pertama ia menjadi Gubernur DKI Jakarta: mereformasi jajaran birokrasi DKI Jakarta.

SBY sebenarnya telah menandatangani Perpres 81/2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi.Ada tahapan untuk mereformasi jajaran birokrasi ini, dengan 3 indikator utama keberhasilannya: 1) pemerintah bersih bebas & KKN, 2) kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, 2) peningkatan kualitas pelayanan publik.

RB2

Dari ketiga indikator keberhasilan reformasi birokrasi ini ada beberapa hal yang perlu dipahami lebih mendalam:

  1. Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, dengan dua indikator utama: IPK (Indeks Persepsi Korupsi) yang disurvei Transparency International, dan Opini BPK WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) yang diselenggarakan Badan Pemeriksa Keuangan.
  2. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat, dengan indikator: Integritas Pelayanan Publik yang disurvei KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan Peningkatan Kemudahan Berusaha atau Doing Business Index yang disurvei oleh The World Bank.
  3. Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi dengan indikator: Indeks Efektivitas Pemerintahan atau World Governance Index yang diselenggarakan The World Bank,serta jumlah instansi pemerintah yang akuntabel berdasarkan hasil LAKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintahan) yang dinilai Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

RBApa yang telah dihasilkan sepanjang 2010-2014? Mungkin baru output (dokumen hasil kegiatan birokrasi), namun belum sepenuhnya mencapai outcome & impact (umpan balik atas hasil dan dampak) atas kegiatan birokrasi, apapun sektornya. Penguatan pengawasan juga belum terselenggara dengan ideal di beberapa kementerian dan lembaga (catatan pribadi selama menjadi anggota evaluator Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di beberapa K/L selama periode 2012-2013).

Input-process-output-feedbak

Jadi, apa yang harus dilakukan capres dan cawapres yang akan datang? Harapannya memang seperti apa yang dilakukan Jokowi: melakukan gebrakan sistem terkait rekrutmen dan pengawasan pelaksanaan program/kegiatan. Ya, chicken or egg? Mau SDM aparaturnya bersih dulu baru diawasi, atau SDM diawasi dulu baru direkrut yang bersih?

Saya berharap, Jokowi effect itu harusnya ada di tingkat nasional. Amin…

*Catatan tambahan: TULISAN INI TIDAK DIBAYAR OLEH TIM SUKSES MANAPUN, paham?

 

Tag: , , ,

My Old Article (1): Cybercity Indonesia, where no one has gone before


cybercity

JAKARTA (JP): Living in today’s world, the net is open for business-big time. As big as it gets, the 21st century’s civilization builds cities on networking, virtual or real.

Now, cybercities are blooming all around the world. One of them, carefully and intelligently planned, is Malaysia Super Corridor (MSC) by Multimedia Development Corporation Sdn Bhd (MDC).

Indonesia, with its setbacks and uproars, comes next. The city funded by L&M Investments Group and organized by PT Cybercity Indonesia will be built in Kemayoran area, the long defunct airport in Jakarta. There is also an already-established satellite city without Internet gimmick, Karawaci, built by the Lippo Group.

Although without the Net gimmick, Karawaci housing has plug-in cable network and other integrated facilities. Unlike Karawaci, the 10-hectare Kemayoran cybercity is still an empty space. The latter also claims to “”act as a hub and a locomotive bridging Indonesia and the world by creating a virtual and physical cluster of Internet-related business.””

Defining a Cybercity

What is a cybercity? Defining cybercity can be pretty tricky. To give an idea, let’s look up the word “”cyberspace”” that was coined by William Gibson in his 1984 novel Neuromancer. Cyberspace is the total interconnectedness of human beings through computers and telecommunication without regard to physical geography. Ever since the Internet became a hype all over the world in the 90s, the word “”cyber”” grows famous for any word related to the Net.

The word cybercity could mean a physical city with Internet connection, yet could mean a virtual city on the Net. If the first is taken into account, then a physical city must include five sectors of living: home, school, office, other facilities for religious, entertainment or commercial purposes, with streets to connect each and one of them. This kind of city could be added with Internet connection to intensify the “”cyberhood”” of the area-in contrast with traditional city.

A property consultant, T. Legawa, states another definition of cybercity. Cybercity is the extended version of teleport. Teleport itself is defined as the interrelated centers of broadband world. One big difference between traditional city and teleport is that teleport’s building has raise floors for computer and telecommunication cables to run freely underneath. This type of building then is 50 cm higher than traditional building. It is a smart building, he adds.

One teleport sponsored and funded entirely by private sector, Immobilien-Treuhand und vermogensahage AG, is Focus Teleport at Berlin, Germany. Another is in India, the Software Technology Park at Bangalore. This teleport was initiated and funded by the Indian Government through the Department of Electronics.

To make it short, a cybercity is probably termed as an enhanced sophisticated city in contrast with today’s existing “”traditional”” city. Cybercity is a more advanced teleport, or a smart city.

From Cyberlaw to Smart Buildings

Despite the political turbulence of the current years, Prime Minister Dato’ Seri Dr Mahathir Mohamad has visioned Malaysia as a fully developed, matured and knowledge-rich country by year 2020. He phrases this as “”Vision 2020″”, a national long term objective guideline.

With this vision, Malaysia prepares Putrajaya (the new seat of government and administration), and Cyberjaya (an intelligent city for multimedia and commercial companies). As a government-appointed, government-backed corporation, MDC calls Putrajaya and Cyberjaya as highlights of MSC’s physical environment. The 15-km-wide-and-50-km long MSC project will connect the Kuala Lumpur City, the new Kuala Lumpur International Airport, Putrajaya and Cyberjaya. With worldwide partners such as Sun Microsystems, Oracle, and many others, MDC is arranging the project with three phases of establishment.

Phase 1 is more to establishing the basics: laws and regulations. A world-leading framework of Cyberlaws and intellectual property laws, they call it. Putrajaya for government office area and Cyberjaya for commercial sites are also established during this phase.

On Phase 2, MSC is ready to link itself to other cybercities (or teleports) in Malaysia and all around the world. Phase 3 would transform Malaysia to be a full-fledged knowledge-based country.

Indonesia is most likely to catch up with what Malaysia has planned and achieved. The executive committee chairman of L&M Investments Group, Edward Soeryadjaya, the son of William Soeryadjaya, founder of Astra International, would bring in strategic partners to fund Cybercity Indonesia. Soeryadjaya has already offered SingNet to take up 30 percent stake valued at US$15 million for the project.

Occupying 10 hectares site in Kemayoran area, Jakarta, this cybercity is initiating e-business, incubation, multimedia, education, technology park. PT Cybercity Indonesia has thought of B2B, B2C, ISP, and other net terms for the e-business item.

Incubation includes expertises for technical, industry, financial and business sides. Exposure of multimedia-or more than one concurrent presentation medium-is supported with broadcasting to broadband facilities. Education and Technology Park would possibly become the most essential part of a cybercity.

Last of all, since this project is funded exclusively by private sector, many aspects of this project can only touch the surface. It is difficult to foresee cyberlaw to be set forth soon by the government.

Since most attention of Indonesia’s government is focused on restructuring a bigger land, the cybercity could live up to gimmick of selling Kemayoran real estate.

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, December 31 2000, 7:20 AM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 21, 2013 in DKI Jakarta, e-business, e-commerce, planning

 

Tag: , , , , ,

Formulir Isian Warga Negara (per keluarga)


Malam ini saya menuntaskan pengisian formulir Isian Warga Negara yang didistribusikan khusus oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tadi sore ibu-ibu arisan (yang kebetulan berkumpul di rumah saya) ramai menanyakan bagaimana mengisinya. Mulai dari nama lengkap Ketua RW hingga pengisian nomor induk ayah/ibu dari kepala keluarga. Saya yang tadinya ‘menyerahkan’ pengisian ini sepenuhnya ke suami, jadi penasaran. Kebetulan suami saya belum menyerahkan ke koordinator RT. Saya akhirnya turut membaca dan menuntaskan pengisian formulir tersebut.

*ahem*

Ada beberapa catatan untuk proses pendataan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini.

Upaya yang patut diacungi jempol, tangan kanan dan kiri saya.

Ada beberapa hal yang agak sulit diisi, di antaranya:

  • Bagaimana membedakan status suami saya yang dibedakan antara ‘kepala keluarga’ dan ‘suami’? Mungkin akan menjadi repot mengisi ‘kepala keluarga dan suami’, ‘kepala keluarga dan istri’ (kalau suami tidak ada), atau ‘kepala keluarga dan ayah mertua’ (jika saya masih tinggal dengan ayah mertua saya).
  • Cacat. Tak ada pilihan untuk yang secara fisik masih sehat.
  • Yang terpenting: tak ada simulasi bersama dengan arahan dari pegawai kelurahan. Hal ini mungkin akan membantu pengisian secara seksama dan epsilon-nya atau kesalahannya akan menjadi lebih kecil.

Dengan dimulainya proses pendataan ini, saya yakin bahwa DKI akan menjadi lebih tertib dalam hal administratif. Pemerintah daerah akan lebih akurat dalam membuat cetak biru bagaimana meningkatkan kesejahteraan warganya. Sukses untuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. It surely is a smart start. Salute for Pak Foke!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 11, 2008 in census, DKI Jakarta, statistics