RSS

Arsip Kategori: e-commerce

My Old Article (1): Cybercity Indonesia, where no one has gone before


cybercity

JAKARTA (JP): Living in today’s world, the net is open for business-big time. As big as it gets, the 21st century’s civilization builds cities on networking, virtual or real.

Now, cybercities are blooming all around the world. One of them, carefully and intelligently planned, is Malaysia Super Corridor (MSC) by Multimedia Development Corporation Sdn Bhd (MDC).

Indonesia, with its setbacks and uproars, comes next. The city funded by L&M Investments Group and organized by PT Cybercity Indonesia will be built in Kemayoran area, the long defunct airport in Jakarta. There is also an already-established satellite city without Internet gimmick, Karawaci, built by the Lippo Group.

Although without the Net gimmick, Karawaci housing has plug-in cable network and other integrated facilities. Unlike Karawaci, the 10-hectare Kemayoran cybercity is still an empty space. The latter also claims to “”act as a hub and a locomotive bridging Indonesia and the world by creating a virtual and physical cluster of Internet-related business.””

Defining a Cybercity

What is a cybercity? Defining cybercity can be pretty tricky. To give an idea, let’s look up the word “”cyberspace”” that was coined by William Gibson in his 1984 novel Neuromancer. Cyberspace is the total interconnectedness of human beings through computers and telecommunication without regard to physical geography. Ever since the Internet became a hype all over the world in the 90s, the word “”cyber”” grows famous for any word related to the Net.

The word cybercity could mean a physical city with Internet connection, yet could mean a virtual city on the Net. If the first is taken into account, then a physical city must include five sectors of living: home, school, office, other facilities for religious, entertainment or commercial purposes, with streets to connect each and one of them. This kind of city could be added with Internet connection to intensify the “”cyberhood”” of the area-in contrast with traditional city.

A property consultant, T. Legawa, states another definition of cybercity. Cybercity is the extended version of teleport. Teleport itself is defined as the interrelated centers of broadband world. One big difference between traditional city and teleport is that teleport’s building has raise floors for computer and telecommunication cables to run freely underneath. This type of building then is 50 cm higher than traditional building. It is a smart building, he adds.

One teleport sponsored and funded entirely by private sector, Immobilien-Treuhand und vermogensahage AG, is Focus Teleport at Berlin, Germany. Another is in India, the Software Technology Park at Bangalore. This teleport was initiated and funded by the Indian Government through the Department of Electronics.

To make it short, a cybercity is probably termed as an enhanced sophisticated city in contrast with today’s existing “”traditional”” city. Cybercity is a more advanced teleport, or a smart city.

From Cyberlaw to Smart Buildings

Despite the political turbulence of the current years, Prime Minister Dato’ Seri Dr Mahathir Mohamad has visioned Malaysia as a fully developed, matured and knowledge-rich country by year 2020. He phrases this as “”Vision 2020″”, a national long term objective guideline.

With this vision, Malaysia prepares Putrajaya (the new seat of government and administration), and Cyberjaya (an intelligent city for multimedia and commercial companies). As a government-appointed, government-backed corporation, MDC calls Putrajaya and Cyberjaya as highlights of MSC’s physical environment. The 15-km-wide-and-50-km long MSC project will connect the Kuala Lumpur City, the new Kuala Lumpur International Airport, Putrajaya and Cyberjaya. With worldwide partners such as Sun Microsystems, Oracle, and many others, MDC is arranging the project with three phases of establishment.

Phase 1 is more to establishing the basics: laws and regulations. A world-leading framework of Cyberlaws and intellectual property laws, they call it. Putrajaya for government office area and Cyberjaya for commercial sites are also established during this phase.

On Phase 2, MSC is ready to link itself to other cybercities (or teleports) in Malaysia and all around the world. Phase 3 would transform Malaysia to be a full-fledged knowledge-based country.

Indonesia is most likely to catch up with what Malaysia has planned and achieved. The executive committee chairman of L&M Investments Group, Edward Soeryadjaya, the son of William Soeryadjaya, founder of Astra International, would bring in strategic partners to fund Cybercity Indonesia. Soeryadjaya has already offered SingNet to take up 30 percent stake valued at US$15 million for the project.

Occupying 10 hectares site in Kemayoran area, Jakarta, this cybercity is initiating e-business, incubation, multimedia, education, technology park. PT Cybercity Indonesia has thought of B2B, B2C, ISP, and other net terms for the e-business item.

Incubation includes expertises for technical, industry, financial and business sides. Exposure of multimedia-or more than one concurrent presentation medium-is supported with broadcasting to broadband facilities. Education and Technology Park would possibly become the most essential part of a cybercity.

Last of all, since this project is funded exclusively by private sector, many aspects of this project can only touch the surface. It is difficult to foresee cyberlaw to be set forth soon by the government.

Since most attention of Indonesia’s government is focused on restructuring a bigger land, the cybercity could live up to gimmick of selling Kemayoran real estate.

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, December 31 2000, 7:20 AM

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 21, 2013 in DKI Jakarta, e-business, e-commerce, planning

 

Tag: , , , , ,

Matinya Televisi Terestrial: TVRI 4.1?


Judul ini saya tak suka, karena tak ada media yang mati; hanya fungsinya menjadi obsolete alias kadaluwarsa. Pager dan teleks adalah dua media berkomunikasi yang fungsinya diperbaharui oleh telepon selular dan mesin faks. Jangan tanya jika mengirim faks ternyata tak lagi sepraktis mengirim email dengan 45 Mb lampirannya (attachment). Jangan tanya lagi kalau nanti mengirim lampiran itu juga tak lagi nyaman karena file-sharing sudah menjadi bagian berinternet-ria kelak. “Hey, buka saja slideshare dot sekian sekian, bahan presentasi saya ada di sana semua.”

Baik, kembali ke televisi terestrial.

Lativi berubah jaket menjadi TVOne mengikuti nama pemiliknya, lalu terpolarisasi dengan stasiun televisi terestrial lain. Beware, integrasi horizontal televisi-televisinya harus diterjemahkan ke dalam visi yang lebih dari sekadar hari ini. Beware, buatlah model bisnis yang lebih integral. Beware, restrukturisasilah semua aset (program on air ataupun bukan) dalam sebuah pemikiran multi-fungsi vertikal, tak hanya horizontal. Tak bisa tidak, polarisasi ini tak boleh hanya mengecilkan biaya operasional (efisiensi) tanpa memikirkan integrated profit.

Peta persaingan televisi terestrial di Jakarta sudah jelas terbaca. Di tengah riuh-rendah televisi baru yang lahir dari semangat lokal atau sekadar kocek berlebih, sesungguhnya pemainnya tak lebih dari lima saja. Kembali ke zaman RCTI baru muncul. Bedanya memang hari ini ada puluhan biro iklan dan talent agency serta ratusan talent itu.

Era pertama (1.0) adalah saat TVRI (bersama RRI) menguasai angkasa negeri ini.

Era kedua (2.0) adalah saat RCTI, SCTV, TPI, ANTV dan Indosiar turut meramaikan dunia penyiaran Indonesia.

Era ketiga (3.0) adalah saat Metro TV, Lativi (AKA TVOne), Global TV, TV7 (AKA Trans7) dan TransTV turut memperkeruh kolam persaingan televisi terestrial.

Era hari ini (4.0) adalah saat TV lokal menyerbu di daerah-daerah (bahkan di Jakarta) yang kemudian turut terpolarisasi secara alamiah.

Era 4.1? This is the diminishing return era. Bend a little one way or the other. Leave your mind open to discover. Or soon you’ll be gone.

Semua stasiun televisi terestrial (menggunakan frekuensi UHF atau VHF untuk bersiaran) tidak akan mati, tapi akan menyesuaikan diri. Saat ini saya lebih menyukai YouTube untuk memanjakan mata dan telinga. Hari ini juga CBS dan NBC sudah goes online dan memungut biaya untuk menjual programnya serialnya yang jadoel seperti Star Trek ataupun serial terbarunya The Office. “The [Office] episode attracted a broadcast audience of 9.7 million people, according to Nielsen Media Research. It was also streamed from the Web 2.7 million times in one week…” A chunk of content of a big streaming buck, you bet!

ist2_3001428_green_media_icons.jpg

Saya bukan penonton yang tergantung dengan remote control lagi. Saya adalah penguasa atas apa yang mau saya tonton. Jutaan tontonan, saya tinggal google saja. Ya toh?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2008 in business, e-commerce, global industry, media

 

e-commerce = e-business (Part Two)


Selalu melihat satu proses manajemen dari dua sisi mata uang: internal dan eksternal. Melakukan transaksi, baik itu cara tradisional ataupun dengan cara termutakhir, tetap ada kaitannya dengan masalah internal dan eksternal.

Yang dimaksud dengan cara termutakhir adalah saat teknologi berperan. Teknologi berfungsi untuk memudahkan proses atau mempersingkat langkah-langkah kerja (dari sepuluh tahap menjadi dua tahap). Transportasi memudahkan orang berpergian antar-kota. Telepon mempersingkat langkah transaksi (orang tak perlu secara fisik berada di tempat transaksi).

E-commerce adalah istilah untuk transaksi berbasis WWW atau web, atau orang membeli buku di http://www.inibuku.com. Sedangkan e-business lebih luas dari e-commerce. Di saat seluruh proses sebuah perusahaan, secara internal atau eksternal, berbasis web, e-mail, intranet dan segala infrastruktur terintegral, di sinilah e-business dijalankan oleh perusahaan tersebut.

Secara internal, langkah-langkah kerja perusahaan dipersingkat dan dipermudah. Tak usah terlalu banyak kertas untuk mendelegasikan tugas ke bawah. Otomatisasi absensi pabrik langsung ke komputer kantor pusat adalah tindakan efisiensi pemantauan. Salah satu dampaknya kemudian adalah struktur organisasi internal yang tak lagi gendut.

Secara eksternal, tata hubungan perusahaan dengan pemasok hingga perusahaan dengan pemerintah juga bisa menjadi lebih efisien. Sebaliknya, pemerintah juga bisa memaparkan peraturan perundangan secara lebih transparan, baik dari sisi proses pembuatan peraturan perundangan ataupun hasilnya.

Hari ini, e-business sedang berproses untuk mencari kesetimbangan dalam banyak faktor. Infrastruktur adalah faktor dengan porsi terbesar. Salah satu contohnya, tiang listrik adalah faktor utama untuk menjalankan sebuah komputer. Jika tiang telepon atau menara televisi sudah berdiri di satu daerah, namun infrastruktur listrik tidak memadai, tentu proses bisnis dengan cara termutakhir tak dapat berjalan baik di sana.

Satelit juga merupakan faktor yang harus dipertimbangkan kemudian. Rentang udara Indonesia tak mengharuskan seluruhnya menjadi kavling satelit milik Indonesia. Masih banyak infrastruktur e-business yang belum dibangun secara terpadu di negeri ini. Sebuah tantangan untuk anak bangsa…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 12, 2008 in e-business, e-commerce

 

e-commerce = e-business (Part One)


Dotcom populer lebih dulu daripada Dotbiz. Penggunaan kata commerce atau commercial mungkin lebih dipilih karena kedekatannya dengan communication; bahwa transaksi adalah proses dialog, bukan semata-mata “saya menjual, dan Anda diam saja wahai pembeli”.

Definsi e-commerce (whatis.com) adalah jual beli barang atau jasa melalui WWW (world wide web). E-commerce bisa disamakan dengan e-business atau e-tailing.

Yang orang kadang lupa adalah “bisnis” tetap bisnis. Mau ada “e” di depan atau di belakang, tetap bisnis yang memiliki infrastruktur dan otak manusia yang menggerakkannya. Tetap bisnis yang produknya untuk menjadi obyek transaksi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 9, 2008 in e-commerce