RSS

Arsip Kategori: economy

Corporate: Malaysian operations to drive Astro


30 Jul 2007
Corporate: Malaysian operations to drive Astro
By Cindy Yeap – fd@bizedge.com

Last Thursday, for the first time since its Main Board debut nearly four years ago, Astro All Asia Networks plc’s shares fell below their initial public offering (IPO) price of RM4.06. Astro shares continued to slip on Friday, closing at an all-time low of RM3.94. Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2008 in business, economy

 

Industri Film Kita, Mau Diberi Insentif Seperti Apa Biar [Makin] Hidup?


PRODUKSI

  • 1999 ada dua film saja diproduksi.
  • 2007 sudah ada 76.
  • 2008 diperkirakan lebih dari 120!

DISTRUBUSI

EKSIBISI

APRESIASI

KRITIK

Ini adalah 5 pilar sebuah industri film yang baru saya pelajari dari kawan baru Alex Sihar. Banyak hal yang saya pelajari beberapa hari terakhir ini. Saya hanya tak terlalu belajar memegang kamera broadcast quality macam Sony PD170.

Lelah yang amat sangat, tertawa-menangis dan serius belajar diaduk jadi satu. Minggu ini saya mendalami produksi film hingga struktur industri content yang sekarang mulai hidup.

Saya lelah sekarang, mungkin posting ini akan saya lanjutkan untuk berbagi pelajaran dan pengalaman yang saya dapat dari Alex Sihar dan Duta Prameswari. Terima kasih Lasja. Terima kasih Lex, Dut… it’s a hell of a week for me!

 
 

Into Micro Thing


Really micro thing.

Learn substitutes. Be it class or unitary.

Learn here.

(I am too bz with my own startup, into details, that’s what I really like. I got lost in translation.)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 23, 2008 in economy, microeconomics

 

Long Weekend: ?


Still had the same wonder everytime I passed by that area. Fifty men not working, sitting in warung. Sipping coffe or just smoking. Not doing anything only catching up same old, same old. Tonite I am still awake, tired but not sleepy. I conclude a new horizon about dialog on theory of economy. That Stephen Hawking shall come up with new theory of big bang particles and the rest of the universe. A dialog of Einstein and Newton. Of Milton Friedman and Robert M. Solow. Of me and my new pair of glasses.

rigel-2.jpg

poseidons.net

This song keeps playing inside my head, “You had a bad day, you’re taking one down…” and I am having a ball today, exhaustively speaking. I feel very responsible seeing those men laying low while I wish I had more time and energy everyday to finish many things. I must read all materials on distribution theory. I must finish the proposal by 16th this month. I must meet someone err two people tomorrow. I must arrange the new column. I must go to my shopping arcade first thing in the morning, feed all the babies well (even the daddy), and I think any public-policy related topics are not for tonight’s writing. “Will you need a blue sky holiday? The point is they laugh at what you say… and I don’t need no carryin’ on…”

 
 

Dimensi Korupsi


Tak perlu tanyakan apa akibatnya, tak perlu tanyakan berapa besar. Penyebabnya jelas: kesempatan dan tak adanya integritas. Hari ini saya disodori “uang transportasi” karena membantu memberi pengetahuan secara informal. No pun intended, saya hanya anggap dia tak tahu bahwa saya dibayar lebih mahal (dari sejumlah uang yang ingin ia berikan itu) jika saya memberikan paparan formal. Saya menolak halus, “Traktir saya kalau satu hari saya berada di kota Bapak.”

Pendekatan formal-legal mengenal bahwa tindakan korupsi adalah tindakan yang melanggar “specific rules governing the way public duties should be performed” (Williams 1987: 15), sebagai “pertukaran ilegal” antara barang politis dengan barang/hadiah pribadi (Manzetti & Blake 1996; Heidenheimer, Johnston & LeVine 1989: 8-9; Williams 1987: 15-16). Hukum (rules) itu sendiri bisa ambigu, tak jelas, multi-interpretatif (Lowenstein 1989). Pendekatan legal-formal juga dinamis dari satu negara ke negara lain, dan terkadang tindakan ini menjadi tindakan manipulatif dari aktor politik (Williams 1987: 18). Bisa juga definisi legal berupa tindakan yang tidak ilegal tapi ternyata dianggap tidak pantas (Moodie 1989: 876; Theobald 1990: 17).

Sandholtz & Koetzle (1998) pernah mengkaji dimensi korupsi dalam 2 hal:

  • “structure of opportunities and incentives” dan
  • “culture, [or] understood as a “repertoire of cognitions, feelings, and schemes of evaluation that process experience into action”

Yang kedua merupakan budaya yang melahirkan integritas yang bisa terbentuk sejalan dengan:

  • matangnya pemikiran setiap warga negara tentang demokrasi, dan
  • freedom of economy (atau saya terjemahkan sebagai) kesejahteraan ekonomi dan sosial setiap warga negara.

Khusus di Indonesia, saya ingin mengkaji lebih jauh dari dari sekadar integritas: informasi asimetris. Saya mengambil contoh peristiwa pagi ini. Ada informasi asimetris antara saya dan sang bapak yang ingin memberikan uang tadi. Tak hanya sebatas pengenalan antar-diri secara sepihak (saya mendapat informasi tentang dia lebih banyak dari dia tentang saya), tapi juga tentang pengetahuan empiris yang berbeda antara dia dan saya. Sesungguhnya internet telah memudahkan kita berilmu dengan murah, dan yakinlah bapak tersebut adalah bukanlah orang yang rajin nge-blog. Baca di sini untuk paparan UNDP dan di sini untuk kajian Center for the Study of Democracy yang pokok pemikirannya saya kutip di atas (See? I am not that witty, I just read a bit more than him)

Atau baca di sini untuk tulisan karya Bosserman (2005)… lihat bagan di bawah.

affiliation-corruption.jpg

 

 

 

 

DOI: Indonesia Belum Biru


Paling gelap warnanya berarti paling siap infrastruktur (kriteria: manusia, jaringan teknis dan hukum). Beruntung sekali Indonesia (secara keseluruhan) tidak diberi warna kuning oleh International Telecommunications Union (ITU).  Padahal ada titik yang sudah “amat sangat” padat dengan penggunaan teknologi seperti Jakarta atau Bandung atau bahkan Kabupaten Sragen dan Kota Balikpapan, dan ada juga Jakarta coret, Bandung coret atau Balikpapan coret (baca: hutan Bukit Soeharto).

Indonesia masih berwarna hijau yang belum terlalu pekat. Tujuh belas ribu pulau, dua ratus tujuh puluh juta manusia dan milyaran titik blank spot?

digital-opportunity-index-doi-asia.png

Digital opportunity index (DOI) adalah indeks yang dibuat atas kesepakatan internasional untuk indikator teknologi informasi dan komunikasi. DOI adalah perangkat standar bagi pemerintah, operator, pendidik dan periset, serta lainnya untuk melihat jurang digital sendiri serta membandingkan kemajuan antar-negara.

Menarik mengkaji Indonesia secara paralel, bagaimana pembangunan infrastruktur komunikasi dan informasi ini terpengaruh dengan penyebaran penduduk, infrastruktur listrik serta kemampuan setiap warga negara (membeli perangkat hingga menggunakan perangkat secara maksimum).

 
 

Black Eyed Policies


 bolong.jpg
The wars’ going on but the reasons’ undercover
The truth is kept secret
Swept under the rug

If you never know truth
Then you never know love
Where’s the love y’all? (I don’t know)

Hari ini di halaman 27 Kompas dibahas APBD DKI Jakarta yang terlambat diproses karena ada beberapa perubahan. Jika dahulu sempat disinggung soal anggaran media massa Rp 35 milyar (karena kerjasama dengan media massa asing), hari ini perubahaan beberapa mata anggaran semakin membuat saya terbahak-bahak sendiri. Kok ya semakin banyak belanja modal pemerintah yang lebih banyak “bikin menor diri” daripada “bangun infrastruktur untuk rakyat”. Bayangkan ada absensi jari di setiap kelurahan Rp 11 M, papan nama ketua RT Rp 7 M, atau kamera pengawas di 5 kantor walikota Rp 65 M! Anggaran bus TransJakarta disunat, tak disinggung berapa dana nambal jalan bolong ataupun yang terkait dengan kesejahteraan warga DKI (baca: pendidikan, kesehatan, pasar dan distribusi bahan pokok yang baik). Siapa butuh absensi jari kalau kita tahu tak ada petugas kelurahan sebelum jam 9 atau sesudah jam makan siang? Atau, siapa butuh papan nama RT padahal dengan bertanya ke warung terdekat, siapa tak kenal Pak RT sendiri?

“Ekonomi biaya tinggi,” ini SMS Bang Ade Armando beberapa waktu lalu saat saya update beberapa informasi terkait anggaran di Depkominfo yang kemarin diberi tanda “WDP” oleh Badan Pengawas Keuangan. Kalau saya malah senang menggunakan istilah “Choking on Growth” atau “Black Eyed Economy” karena kalau tidak terbatuk-batuk ya lebam. Setiap penyelenggara negara ini batuk, yang keluar adalah virus mematikan rakyat. Jika ingin protes sedikit (seperti kasus di Mataram) wartawan bisa berakhir dengan mata bengkak (baca: mati).

***

Di sebelah saya teronggok buku sejarah bergambar. Mesopotamia, Babylonia, Yunani, Romawi hingga China dan India mengalami sejarah panjang. Ada yang hilang, ada yang bertahan hingga sekarang. Terkadang saya suka heran dengan orang-orang yang tidak pernah belajar dari masa lalu, atau tidak pernah mengintip resep sukses negeri tetangga. Jika anggaran DKI Jakarta itu adalah satu titik balik perjuangan reformasi, ada baiknya semua warga siap-siap mengalami de ja vu yang bersiklus lima tahun (banjir) atau tiga puluh tahun (rejim pemerintahan tergeser).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2008 in economy, efisiensi, history, infrastruktur, public policy