RSS

Arsip Kategori: football

The Beauty of Soccer


LSI vs. LPI. For you doesn’t follow what’s going on in Indonesia’s soccer industry, here goes…

LSI is a Liga Super Indonesia; sponsored by one of cigarette brand, that’s where the “super” derived from. LPI or Liga Primer Indonesia (hoping it is not another cigarette brand) is created solely by Arifin Panigoro, a coal-mine taipan who has the guts to declare war with PSSI, the root of LSI.

Anyway, nevermind the lungs cancer and soccer relationship. I am just going to highlight Irfan Bachdim stardom in this chaos of management and leadership. Who needs who? PSSI (read: LSI) is going to go down the sink if LPI proves itself to be a better management and better leadership. Strong like the coal, Panigoro shall demolish all gaps among clubs and officials. Hopefully, too, internal corruption can be pressed to near-zero percentage

Let’s pray for the best… competition is always good, even in Indonesia.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2011 in football, soccer, sports

 

Tag: , , , ,

Liga Inggris dan Kebijakan Publik


Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

 

Hak Siar Liga Inggris: Mengukur Dampak Evolusi


Kolom
Amelia Day

Kata “aora” dalam bahasa Spanyol mengandung arti “sekarang”. Nah, mulai sekarang pulalah di Indonesia siaran divisi utama Inggris, Premier League, hijrah ke televisi berbayar yang baru seumur jagung nongol di Indonesia, AORA TV.

Entitas usaha yang dimotori Rini Soemarno, mantan menteri perindustrian dan perdagangan era Megawati, ini menurut undang-undang nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran masuk dalam kategori Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) via satelit.

Saking mudanya usia AORA, kita bisa dapati banyaknya ghost link atau halaman under construction dalam situs resmi LPB tersebut, http://www.aora.tv, yang juga didukung http://www.nontonligainggris.com, hingga sekarang. Jadi, tidak mengherankan bila nama AORA masih terdengar asing di telinga para penggila bola di negeri ini.

Mengapa sebuah televisi baru bisa langsung mendapatkan tayangan bergengsi sekelas Liga Premier? Fenomena ini adalah lanjutan dari keanehan yang berawal di musim lalu ketika para pencinta liga Inggris secara mendadak harus hijrah dari stasiun televisi Trans7 ke televisi berbayar milik Malaysia yang mulai beroperasi di Indonesia, Astro Nusantara.

Bila tahun lalu sebagian kecil siaran Premier League masih bisa kita ikuti di TV One, sebagai salah satu stasiun televisi free-to-air di Indonesia, kini tampaknya tak bakal ada lagi tayangan gratis siaran langsung Liga Premier di Indonesia.

Sebanyak 370 paket tayangan superlengkap Premier League 2008/09 di Indonesia hanya bisa dinikmati lewat AORA. Seharusnya sistem penayangan Liga Inggris yang sepenuhnya berbayar ini sudah berlaku mendunia sejak musim lalu, tapi Indonesia menjadi sebuah pengecualian. Mengapa sampai terjadi demikian?

UE Hapus Monopoli

Semua berawal saat pada 2007 Komisi Eropa tidak lagi mengizinkan transaksi pembelian tunggal hak siar Liga Inggris di pasar Uni Eropa. Larangan monopoli ini juga diikuti aturan agar sistem kontrak dibuat berdurasi lebih pendek, hanya setahun saja dari semula yang bisa berjangka tiga sampai lima tahun.

Dalam kawasan Uni Eropa disiarkan 380 pertandingan Premier League yang terbagi dalam empat paket, yaitu live audio-visual rights, near-live audio-visual rights, mobile rights, dan national radio rights.

Live audio-visual rights terdiri dari enam paket siaran yang masing-masing terdiri dari 23 laga siaran langsung. Near-live audio-visual rights terdiri dari dua paket yang masing-masing terdiri dari 121 laga siaran tunda.

Mobile rights adalah paket tunggal yang berisi klip-klip pertandingan berdurasi maksimal lima menit yang bisa disaksikan lewat perangkat nirkabel dengan batasan aturan berbeda. Terakhir, national radio rights terdiri dari tujuh paket yang masing-masing berisi 32 pertandingan siaran langsung audio saja.

Seluruh paket hak siar ini dibuat Football Association of Premier League di Inggris dengan Komisi Eropa. Hasilnya paket ini kemudian dibeli BSkyB dan Setanta dengan nilai 1,7 miliar pound alias 29,2 triliun rupiah.

BSkyB berhak menyiarkan Premier League di kawasan Inggris dan seluruh Uni Eropa, kecuali Irlandia. Setanta memegang pasar Irlandia. Pada sisi lain, BBC, yang membayar “hanya” 171,6 juta pound (Rp 2,95 triliun), cuma mendapatkan hak untuk siaran radio secara penuh dan tayangan highlights untuk tiga musim sekaligus.

Meski relatif kecil, Szymanski menyebut angka yang dibayarkan BBC di atas sebenarnya sudah naik sebesar 63% dari nilai kontrak sebelumnya. Biaya untuk menonton aksi Manchester United dan klub-klub top di liga domestik Inggris memang tidak murah karena tingkat permintaan yang terus meningkat.

Regulasi yang mirip dengan di kawasan Uni Eropa hanya berlaku di negara-negara persemakmuran karena ikatan latar belakang historis mereka dengan Inggris. Selebihnya hak siar Liga Premier di dunia, juga mulai pada 2007, dijual dengan beragam cara baru yang tergantung pada potensi pasar sebuah kawasan, cakupan wilayah siaran, dan durasi kontrak.

Anomali Akibat Protes

Nah, imbas evolusi aturan di Uni Eropa tersebut juga rupanya terasa hingga Asia, yang terpancing untuk memopulerkan sistem bayar per tayang, yang jelas-jelas bakal lebih menguntungkan. Astro di 2007/08 membeli hak siar untuk wilayah Malaysia (Astro Malaysia), Brunei (Kristal Astro), dan Indonesia (Astro Nusantara). Paket siaran ini dinamai sebagai Paket Transaksi Astro.

Anomali yang terjadi di Indonesia pada era baru penjualan paket hak siar ini muncul ketika eksklusivitas siaran Liga Premier diprotes banyak penggemar di Tanah Air. ESPN-Star Sports (ESS), yang memegang hak siar untuk sebagian besar pasar Asia, terpaksa membuka lelang khusus di 2007/08.

Mungkinkah anomali yang sama terjadi musim ini?

Hingga tulisan ini saya susun, AORA masih merupakan satu-satunya LPB yang memegang hak siar Premier League 2008/09 di Indonesia. Paket lelang khusus seperti tahun lalu juga telah dibuka ESS, tapi tidak diminati sponsor yang mendanai Lembaga Penyiaran Swasta.

Kita harus menunggu solusi baru untuk situasi ini. Sebagai wacana, penjualan hak siar lintas negara seperti di Asia Tenggara juga terjadi di Afrika. Sebuah LPB di Uganda, GTV, bahkan berani membeli hak siar Liga Primer untuk ditayangkan di 48 negara Afrika dengan kontrak tiga tahun sekaligus!

Uniknya, GTV sebenarnya baru diluncurkan dua bulan sebelum musim 2007/08 dimulai. Ada apa di belakang fenomena yang mirip kelahiran mendadak AORA di Indonesia ini?

Migrasi Nol Rupiah

Saya yakin bahwa untuk musim ini ke depan churn rate atau angka pemutusan dekoder yang tinggi akan terjadi di Astro Nusantara. Sebagian dari mereka akan beralih–sambil mengomel–ke AORA.

Hal ini sulit untuk ditoleransi bila dilihat dari sudut kepentingan konsumen. Saya menilai perlindungan konsumen di negeri ini masih sebatas pada hal-hal yang kasat mata, seperti bagi orang yang dirugikan karena mengonsumsi makanan kadaluwarsa atau pemadaman listrik yang membuat dunia industri tidak produktif.

Sebaliknya, tingkat kenyamanan menonton sepakbola bagi para penggemar Premier League adalah sesuatu yang tidak bisa diukur secara eksak. Lembaga regulator penyiaran di negeri ini seharusnya terusik untuk mempertimbangkan isu tersebut sebagai hal yang penting dan mendasar.

Bila mereka tidak bisa menghitung dampak perpindahan siaran Premier League dari Astro Nusantara ke AORA terhadap kenyamanan pemirsa secara akurat, hitunglah berapa uang yang harus dikeluarkan para penggemar untuk membeli dekoder baru.

Mengingat banjir keuntungan yang diperoleh Astro tahun lalu, ada baiknya operator prematur seperti AORA mempertimbangkan kenyamanan publik di atas segalanya. Bila warga Indonesia harus mengubah dekodernya untuk menonton siaran Premier League dengan nyaman, harus dipastikan bahwa biaya migrasi ini adalah nol rupiah.

http://www.bolanews.com/edisi-cetak/tv12.htm

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2008 in aora, astro, broadcasting rights, business, football, hak siar

 

Liga Inggris, Liga Dekoder


Memasuki minggu kedua, tayangan Liga Inggris musim tanding 2008-2009 tetap diobok-obok. Masa tunggu musim tanding kali ini disambut para penggila bola (gibol) dengan nada datar. Banyak yang pasrah, “Ya sudah, nonton yang lain saja.” Gibol di negeri ini mungkin sudah jenuh, atau juga sudah kehabisan uang untuk ganti dekoder.

Hitung-hitungannya mudah, dan seluruh dunia sudah tahu: sekarang tak ada lagi Liga Inggris paket lengkap bisa dinikmati di televisi gratisan! Tee hee….

Walau sebenarnya musim 2008-2009 ini bakal lebih seru dari musim-musim sebelumnya. Musim tanding lalu Manchester United mampu membabat Chelsea di final, namun kali ini Big Phil Scolari bersumpah merebutnya dari Sir Alex Ferguson, seperti masa jaya 2005 dan 2006. Kalau tidak, maka akan ada 11 tahun kejayaan MU.

Arsenal memang kehilangan Flamini dan Hleb, tapi Nasri masuk dan sejumlah pemain muda yang mampu menegaskan penyegaran yang tak ada di musim lalu. Mereka bisa?

Atau Liverpool dan Rafael Benitez juga bergerak? Jika tidak Spurs dan Portsmouth bisa menendang empat besar, sementara jika Hull mampu bertahan di awal saja sudah baik.

Apa saja yang menjadi pendorong masing-masing klub di Premier League ke 17 kali ini. Kaji profil pemain, statistik masing-masing pemain dan klub, serta naik-turunnya setiap orang dan klub. Know ahead of the big kick off, klik saja di sini.

ARSENAL FC

Posisi musim lalu: KETIGA (3)
Manager: Arsène Wenger

8 deals: 4 in, 4 out
IN Samir Nasri (dari Marseille, £11.5m), Aaron Ramsey (dari Cardiff, £5m), Amaury Bischoff (dari Werder Bremen, nilai tak jelas), Carlos Vela (dari Osasuna, nilai tak jelas).
OUT Gilberto Silva (ke Panathinaikos, £1m), Alexander Hleb (ke Barcelona, £12m), Jens Lehmann (ke Stuttgart, gratis), Mathieu Flamini (ke Milan, gratis).

JAGOAN MUSIM INI Theo Walcott – sekarang nomor 14, mari harapkan gol-gol baru darinya.
YANG PARAH MUSIM INI Adebayor – meminta pergi, dan tak ada yang mau tahan dia.
LAWAN YANG DIBENCI Juande Ramos.
LAWAN GAMPANG Spurs (pastinya).
LAWAN TANGGUH Manchester United – ketat! Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2008 in business, football, global media, hak siar, pay TV, sports

 

Babak Baru: AFC v. English Premier League


bola.jpg

Richard Scudamore dari Liga Inggris (English Premier League) siap-siap menggelar pertandingan persahabatan EPL di Bangkok, Beijing, Hong Kong, Melbourne dan Singapore (haha Jakarta kelewat!). Akan ada 10 pertandingan di lima kota itu sebelum 2011. Scudamore menyatakan bahwa pertandingan ini akan menaikkan popularitas EPL ke seluruh dunia (juga menaikkan pemasukan klub dengan menaikkan nilai hak siar dan hak intelektual via platform lain, sehingga sponsornya makin menggila).

Hebatnya, presiden Asian Football Confederation (AFC) Mohamed bin Hammam menolak inisiatif Scudamore ini dengan alasan tidak baik untuk perkembangan klub sepakbola Asia. Tambahnya, “I appreciate, for example, if the Premier League wants to play in Darfur, Somalia or East Timor where they can act as peace makers.” ROFLMAO, LOL! Good one. Sayangnya, kalau EPL main di sana nanti Beckham pun bisa pulang ke Inggris tanpa kaki.

Apa yang saya lihat? Murni pertarungan lahan sponsor global.

Szymanski (2002) dan Dawson (2005) adalah dua peneliti yang khusus memfokuskan diri untuk urusan sports economics, khususnya sepakbola. Lihat bagan di bawah ini. Hak siar tertinggi dunia untuk olahraga masih diduduki oleh tayangan bola. Mereka bahkan melihat bahwa pergerakan hak siar sepakbola dari tahun ke tahun kian menggila.

2-liga-inggris-terkaya.jpg

Selanjutnya, lihat bagan di bawah ini. Semenjak dipegan BSkyB harga hak siar Liga Inggris di seluruh dunia mulai meroket. Harga per pertandingan pun berlipat ganda.

3-kontrak-bskyb-rocketing.jpg

Untuk seterusnya uang ini dibagikan ke setiap klub. Persentase hitung-hitungannya untuk setiap klub saya punya juga, tapi kita bahas di diskusi lain saja. Uang itu akhirnya kembali ke kampung halaman tiap klub, membangun stadion dan regenerasi pemain dan semua pilar institusi sebuah klub yang baik.

Akhir ceritanya, memang uang dari hak siar menjadi pemicu bagaimana sebuah asosiasi yang baik membangun [industri] sepakbola di negaranya. AFC punya hak untuk teriak, sementara itu EPL juga bisa menjadi gurita yang tak terhentikan. Plain supply-demand thing. But most of all, people (read: AFC and EPL) always respond to incentive. Cring-cring!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in football, sepakbola, sports

 

PSSI Revisited


Turut berduka cita atas tewasnya pendukung sepakbola Liga Indonesia. Turut berduka juga atas 60% dari 278 kartu kuning yang diberikan untuk pemain asing. Turut berduka juga atas panggilan pihak imigrasi terhadap mereka yang tak punya izin resmi tapi berkelahi dan bikin onar di banyak tempat selain lapangan sepakbola.

soccer-face-smash.jpg http://www.21lmao.com

Daripada urusan solidaritas dan semangat kelompok yang sehat, atau toleransi dan fair play, klub-klub sepakbola di bawah bendera PSSI yang bertemu dalam berbagai bendera liga pertandingan malah melakukan sebaliknya. Olahraga adalah bentuk hiburan selain olahraga an sich itu sendiri. Pertandingan olahraga yang menghibur ini akhirnya harus mengikuti jaman yang kian komersial. Tantangan dan ancaman lain adalah perjudian, eksploitasi pemain muda, narkoba, rasisme, kekerasan, korupsi dan pencucian uang.

Uni Eropa pernah mengkaji hal ini pula untuk semua cabang olahraga yang kian mendapat tekanan dari segala lini. Esensi awal mengapa diadakan pertandingan olahraga harus dikembalikan ke bentuk semula. Hooliganisme adalah fenomena tahun 1980-an di kala manajemen Liga Inggris terpuruk. Paket insentif yang diperbaiki secara bertahap mengikis peran hooligan di banyak tempat. Paket insentif yang juga transparan ini juga memberi ruang sempit bagi korupsi dan pencucian uang.

Undang-undang Olahraga baru disosialisasikan beberapa waktu terakhir ini oleh Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Stadion olahraga yang beralih fungsi seperti yang pernah ada di Menteng menjadi satu polemik tersendiri. Hal ini membuat Sutiyoso kabarnya berkirim surat khusus ke Menteri Adhyaksa Dault untuk satu kebijakan khusus. Mudah-mudahan cuma gosip.

Yang bukan cuma gosip adalah masalah-masalah yang tak akan selesai sampai kapanpun jika PSSI tidak berbenah diri dan memberi contoh kepada seluruh klub. Pemain asing dibenahi, pemain lokal diberi insentif besar, dan pengelolaan stadion juga “diswastanisasikan” seperti pengelolaan mal. Adalah kewajiban pengambil keputusan negeri ini untuk membenahi persepakbolaan nasional, dan me-manage sebuah institusi seperti PSSI bagai mengurus sebuah negara kecil yang punya banyak masalah-masalah internal lain.

Good luck Pak Adhyaksa, please read some materials like this (click here).

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in football, hooliganism, PSSI, rusuh, sepakbola, sports, sports economics

 

Bola Indonesia Ngesot Terus?


Sepakbola masuk televisi memang cuma urusan hiburan. Kalau pendukung klub bola sudah merusak aset publik atau barang orang lain, nah ini harus diurus lebih serius.


Tragedi Heysel 1984                            Tragedi Kediri 2008
(pic: News Limited)                            (pic: Liga Indonesia)

PSSI hanya mengatur internal: klub dan panitia pelaksana. Masyarakat yang mendukung tidak bisa kena sanksi secara langsung, walau bisa digugat pidana karena perusakan fasilitas publik. Spin berita terakhir, bahwa PSSI menetapkan sanksi terhadap pendukung “bahwa mereka tak boleh masuk ke dalam stadion”.

Tidak sepakat dengan “berita” putusan terhadap pendukung klub. Sederhana saja, kelompok pendukung Arema bisa masuk dengan atribut netral; tapi bagaimana jika di dalam stadion mereka berganti kaos? Singkatnya, enak mana angon anak-anak kucing, atau beri denda 25 juta ke singo edan.

***

Hooliganisme pernah terjadi di belahan dunia lain; dan percikan kebencian lawan karena fanatisme klub favorit akan selalu muncul. Yang terparah di dunia mungkin terjadi saat Piala Eropa 1985 di Stadion Heysel di Brusel, Belgia. Sebanyak 39 orang tewas, dan terbanyak adalah pendukung Juventus saat pertandingan antara Juventus melawan Liverpool. Sesungguhnya gerakan hooliganisme ini adalah bentuk balas dendam pendukung Liverpool yang diserang, dipukul dan ditusuk di Roma tahun 1984.

Tragedi Stadiun Heysel terjadi karena kompleksitas keberanian kolektif dan keberanian karena pengaruh minuman keras. Selain itu, banyak juga para pendukung yang tak membayar tiket. Kondisi stadion yang memang sudah ramai menjadi tambah labil karena tambahan penonton selundupan; kejadiannya kemudian adalah tingkat sentimen antar-kelompok pendukung pun terdongkrak cepat.

Pasca-tragedi Heysel, polisi Inggris cepat melakukan penyidikan kasus ini. Dari bukti foto koran dan gambar bergerak, diteliti semua warga Inggris yang melakukan tindakan brutal. Sebanyak 27 warga Inggris diadili dan ditetapkan bersalah atas dakwaan pembunuhan. Hari ini di seluruh Eropa telah diterapkan standar stadion, mulai dari struktur bangunan, pelayanan tiket hingga keamanan stadion. Disiplin pun harus dibangun dari kampung halaman setiap klub.

Mempelajari kasus Heysel ini, ada dua hal yang harus digarisbawahi.

  1. Seluruh pendukung fanatik bola yang terbukti merusak fasilitas ditindak secara tegas. Karena peristiwa Arema-Persiwa tak memakan korban jiwa, tak ada yang dituntut delik pembunuhan. Sebaiknya gunakan metode konseling dan denda yang bisa menjadi alternatif tindakan, karena jika seluruhnya dihukum pidana perusakan tentu penjara akan jadi arena fanatisme baru.
  2. Panitia penyelenggaraan dievaluasi, dan institusi panitia diusut jika terbukti bersalah karena lalai melaksanakan tugas pengamanan. Sepakat dengan Komisi Disiplin PSSI.
  3. Pengaturan diperketat lagi. Denda 25 juta rupiah untuk klub yang pendukungnya merusak masih terhitung ringan. Skorsing agar klub tidak bermain 3 hingga lima tahun mungkin memberikan dampak langsung bagi pendukungnya. Sayangnya, hari ini mungkin belum bisa diterapkan langsung. Jika diterapkan, anarki baru akan muncul dari Malang, kota sejuk itu.

Mari kita berhitung dengan kepala dingin. Stadion rusak, mobil milik orang rusak, dan nama baik Indonesia juga turut tergores. Ekspose ESPN dan beberapa media internasional adalah harga mahal bagi negeri ini; di saat kita ingin menciptakan citra aman dan nyaman bagi siapapun.

Pernahkah terpikirkan lebih jauh bagaimana buruknya tindakan hooliganisme ini:

  1. Jargon “Visit Indonesia 2008” ada baiknya diundur hingga 2010, karena akan ada usaha lebih besar dan lebih mahal lagi untuk meyakinkan calon wisatawan luar negeri datang ke Indonesia. More money-effort.
  2. Jika tidak gencar, artinya target wisatawan datang ke Indonesia berkurang sehingga berkurang pula devisa masuk dari pariwisata dan sektor terkait. No money coming in.
  3. Kerugian potensial lain (yang mungkin belum terlalu dipikirkan orang banyak) adalah bahwa nilai hak siar penjualan tayangan pertandingan di masa mendatang akan menurun. Tak ada stasiun TV luar negeri yang berminat membeli karena citra klub di Indonesia adalah berkelahi. Again, no money, not interested anyway.

Jika tak ada pertandingan sepakbola yang menghibur dengan strategi dan gaya bermain sepakbola yang cantik unik dari setiap klub, ada baiknya para penonton televisi membeli DVD asli film Indonesia yang judulnya lucu-lucu itu. Atau kita ganti saja judulnya agar lebih lucu lagi: “Penalti dalam Kubur”, “Lawang Gawang”, “Susahnya Jadi Wasit”, “Legenda Sundul [Bola] Bolong”, atau “Kiper Ngesot”?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 18, 2008 in football, PSSI, sepakbola