RSS

Arsip Kategori: football

The Beauty of Soccer


LSI vs. LPI. For you doesn’t follow what’s going on in Indonesia’s soccer industry, here goes…

LSI is a Liga Super Indonesia; sponsored by one of cigarette brand, that’s where the “super” derived from. LPI or Liga Primer Indonesia (hoping it is not another cigarette brand) is created solely by Arifin Panigoro, a coal-mine taipan who has the guts to declare war with PSSI, the root of LSI.

Anyway, nevermind the lungs cancer and soccer relationship. I am just going to highlight Irfan Bachdim stardom in this chaos of management and leadership. Who needs who? PSSI (read: LSI) is going to go down the sink if LPI proves itself to be a better management and better leadership. Strong like the coal, Panigoro shall demolish all gaps among clubs and officials. Hopefully, too, internal corruption can be pressed to near-zero percentage

Let’s pray for the best… competition is always good, even in Indonesia.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 8, 2011 in football, soccer, sports

 

Tag: , , , ,

Liga Inggris dan Kebijakan Publik


Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

 

Hak Siar Liga Inggris: Mengukur Dampak Evolusi


Kolom
Amelia Day

Kata “aora” dalam bahasa Spanyol mengandung arti “sekarang”. Nah, mulai sekarang pulalah di Indonesia siaran divisi utama Inggris, Premier League, hijrah ke televisi berbayar yang baru seumur jagung nongol di Indonesia, AORA TV.

Entitas usaha yang dimotori Rini Soemarno, mantan menteri perindustrian dan perdagangan era Megawati, ini menurut undang-undang nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran masuk dalam kategori Lembaga Penyiaran Berlangganan (LPB) via satelit.

Saking mudanya usia AORA, kita bisa dapati banyaknya ghost link atau halaman under construction dalam situs resmi LPB tersebut, http://www.aora.tv, yang juga didukung http://www.nontonligainggris.com, hingga sekarang. Jadi, tidak mengherankan bila nama AORA masih terdengar asing di telinga para penggila bola di negeri ini.

Mengapa sebuah televisi baru bisa langsung mendapatkan tayangan bergengsi sekelas Liga Premier? Fenomena ini adalah lanjutan dari keanehan yang berawal di musim lalu ketika para pencinta liga Inggris secara mendadak harus hijrah dari stasiun televisi Trans7 ke televisi berbayar milik Malaysia yang mulai beroperasi di Indonesia, Astro Nusantara.

Bila tahun lalu sebagian kecil siaran Premier League masih bisa kita ikuti di TV One, sebagai salah satu stasiun televisi free-to-air di Indonesia, kini tampaknya tak bakal ada lagi tayangan gratis siaran langsung Liga Premier di Indonesia.

Sebanyak 370 paket tayangan superlengkap Premier League 2008/09 di Indonesia hanya bisa dinikmati lewat AORA. Seharusnya sistem penayangan Liga Inggris yang sepenuhnya berbayar ini sudah berlaku mendunia sejak musim lalu, tapi Indonesia menjadi sebuah pengecualian. Mengapa sampai terjadi demikian?

UE Hapus Monopoli

Semua berawal saat pada 2007 Komisi Eropa tidak lagi mengizinkan transaksi pembelian tunggal hak siar Liga Inggris di pasar Uni Eropa. Larangan monopoli ini juga diikuti aturan agar sistem kontrak dibuat berdurasi lebih pendek, hanya setahun saja dari semula yang bisa berjangka tiga sampai lima tahun.

Dalam kawasan Uni Eropa disiarkan 380 pertandingan Premier League yang terbagi dalam empat paket, yaitu live audio-visual rights, near-live audio-visual rights, mobile rights, dan national radio rights.

Live audio-visual rights terdiri dari enam paket siaran yang masing-masing terdiri dari 23 laga siaran langsung. Near-live audio-visual rights terdiri dari dua paket yang masing-masing terdiri dari 121 laga siaran tunda.

Mobile rights adalah paket tunggal yang berisi klip-klip pertandingan berdurasi maksimal lima menit yang bisa disaksikan lewat perangkat nirkabel dengan batasan aturan berbeda. Terakhir, national radio rights terdiri dari tujuh paket yang masing-masing berisi 32 pertandingan siaran langsung audio saja.

Seluruh paket hak siar ini dibuat Football Association of Premier League di Inggris dengan Komisi Eropa. Hasilnya paket ini kemudian dibeli BSkyB dan Setanta dengan nilai 1,7 miliar pound alias 29,2 triliun rupiah.

BSkyB berhak menyiarkan Premier League di kawasan Inggris dan seluruh Uni Eropa, kecuali Irlandia. Setanta memegang pasar Irlandia. Pada sisi lain, BBC, yang membayar “hanya” 171,6 juta pound (Rp 2,95 triliun), cuma mendapatkan hak untuk siaran radio secara penuh dan tayangan highlights untuk tiga musim sekaligus.

Meski relatif kecil, Szymanski menyebut angka yang dibayarkan BBC di atas sebenarnya sudah naik sebesar 63% dari nilai kontrak sebelumnya. Biaya untuk menonton aksi Manchester United dan klub-klub top di liga domestik Inggris memang tidak murah karena tingkat permintaan yang terus meningkat.

Regulasi yang mirip dengan di kawasan Uni Eropa hanya berlaku di negara-negara persemakmuran karena ikatan latar belakang historis mereka dengan Inggris. Selebihnya hak siar Liga Premier di dunia, juga mulai pada 2007, dijual dengan beragam cara baru yang tergantung pada potensi pasar sebuah kawasan, cakupan wilayah siaran, dan durasi kontrak.

Anomali Akibat Protes

Nah, imbas evolusi aturan di Uni Eropa tersebut juga rupanya terasa hingga Asia, yang terpancing untuk memopulerkan sistem bayar per tayang, yang jelas-jelas bakal lebih menguntungkan. Astro di 2007/08 membeli hak siar untuk wilayah Malaysia (Astro Malaysia), Brunei (Kristal Astro), dan Indonesia (Astro Nusantara). Paket siaran ini dinamai sebagai Paket Transaksi Astro.

Anomali yang terjadi di Indonesia pada era baru penjualan paket hak siar ini muncul ketika eksklusivitas siaran Liga Premier diprotes banyak penggemar di Tanah Air. ESPN-Star Sports (ESS), yang memegang hak siar untuk sebagian besar pasar Asia, terpaksa membuka lelang khusus di 2007/08.

Mungkinkah anomali yang sama terjadi musim ini?

Hingga tulisan ini saya susun, AORA masih merupakan satu-satunya LPB yang memegang hak siar Premier League 2008/09 di Indonesia. Paket lelang khusus seperti tahun lalu juga telah dibuka ESS, tapi tidak diminati sponsor yang mendanai Lembaga Penyiaran Swasta.

Kita harus menunggu solusi baru untuk situasi ini. Sebagai wacana, penjualan hak siar lintas negara seperti di Asia Tenggara juga terjadi di Afrika. Sebuah LPB di Uganda, GTV, bahkan berani membeli hak siar Liga Primer untuk ditayangkan di 48 negara Afrika dengan kontrak tiga tahun sekaligus!

Uniknya, GTV sebenarnya baru diluncurkan dua bulan sebelum musim 2007/08 dimulai. Ada apa di belakang fenomena yang mirip kelahiran mendadak AORA di Indonesia ini?

Migrasi Nol Rupiah

Saya yakin bahwa untuk musim ini ke depan churn rate atau angka pemutusan dekoder yang tinggi akan terjadi di Astro Nusantara. Sebagian dari mereka akan beralih–sambil mengomel–ke AORA.

Hal ini sulit untuk ditoleransi bila dilihat dari sudut kepentingan konsumen. Saya menilai perlindungan konsumen di negeri ini masih sebatas pada hal-hal yang kasat mata, seperti bagi orang yang dirugikan karena mengonsumsi makanan kadaluwarsa atau pemadaman listrik yang membuat dunia industri tidak produktif.

Sebaliknya, tingkat kenyamanan menonton sepakbola bagi para penggemar Premier League adalah sesuatu yang tidak bisa diukur secara eksak. Lembaga regulator penyiaran di negeri ini seharusnya terusik untuk mempertimbangkan isu tersebut sebagai hal yang penting dan mendasar.

Bila mereka tidak bisa menghitung dampak perpindahan siaran Premier League dari Astro Nusantara ke AORA terhadap kenyamanan pemirsa secara akurat, hitunglah berapa uang yang harus dikeluarkan para penggemar untuk membeli dekoder baru.

Mengingat banjir keuntungan yang diperoleh Astro tahun lalu, ada baiknya operator prematur seperti AORA mempertimbangkan kenyamanan publik di atas segalanya. Bila warga Indonesia harus mengubah dekodernya untuk menonton siaran Premier League dengan nyaman, harus dipastikan bahwa biaya migrasi ini adalah nol rupiah.

http://www.bolanews.com/edisi-cetak/tv12.htm

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 28, 2008 in aora, astro, broadcasting rights, business, football, hak siar

 

Liga Inggris, Liga Dekoder


Memasuki minggu kedua, tayangan Liga Inggris musim tanding 2008-2009 tetap diobok-obok. Masa tunggu musim tanding kali ini disambut para penggila bola (gibol) dengan nada datar. Banyak yang pasrah, “Ya sudah, nonton yang lain saja.” Gibol di negeri ini mungkin sudah jenuh, atau juga sudah kehabisan uang untuk ganti dekoder.

Hitung-hitungannya mudah, dan seluruh dunia sudah tahu: sekarang tak ada lagi Liga Inggris paket lengkap bisa dinikmati di televisi gratisan! Tee hee….

Walau sebenarnya musim 2008-2009 ini bakal lebih seru dari musim-musim sebelumnya. Musim tanding lalu Manchester United mampu membabat Chelsea di final, namun kali ini Big Phil Scolari bersumpah merebutnya dari Sir Alex Ferguson, seperti masa jaya 2005 dan 2006. Kalau tidak, maka akan ada 11 tahun kejayaan MU.

Arsenal memang kehilangan Flamini dan Hleb, tapi Nasri masuk dan sejumlah pemain muda yang mampu menegaskan penyegaran yang tak ada di musim lalu. Mereka bisa?

Atau Liverpool dan Rafael Benitez juga bergerak? Jika tidak Spurs dan Portsmouth bisa menendang empat besar, sementara jika Hull mampu bertahan di awal saja sudah baik.

Apa saja yang menjadi pendorong masing-masing klub di Premier League ke 17 kali ini. Kaji profil pemain, statistik masing-masing pemain dan klub, serta naik-turunnya setiap orang dan klub. Know ahead of the big kick off, klik saja di sini.

ARSENAL FC

Posisi musim lalu: KETIGA (3)
Manager: Arsène Wenger

8 deals: 4 in, 4 out
IN Samir Nasri (dari Marseille, £11.5m), Aaron Ramsey (dari Cardiff, £5m), Amaury Bischoff (dari Werder Bremen, nilai tak jelas), Carlos Vela (dari Osasuna, nilai tak jelas).
OUT Gilberto Silva (ke Panathinaikos, £1m), Alexander Hleb (ke Barcelona, £12m), Jens Lehmann (ke Stuttgart, gratis), Mathieu Flamini (ke Milan, gratis).

JAGOAN MUSIM INI Theo Walcott – sekarang nomor 14, mari harapkan gol-gol baru darinya.
YANG PARAH MUSIM INI Adebayor – meminta pergi, dan tak ada yang mau tahan dia.
LAWAN YANG DIBENCI Juande Ramos.
LAWAN GAMPANG Spurs (pastinya).
LAWAN TANGGUH Manchester United – ketat! Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2008 in business, football, global media, hak siar, pay TV, sports

 

Babak Baru: AFC v. English Premier League


bola.jpg

Richard Scudamore dari Liga Inggris (English Premier League) siap-siap menggelar pertandingan persahabatan EPL di Bangkok, Beijing, Hong Kong, Melbourne dan Singapore (haha Jakarta kelewat!). Akan ada 10 pertandingan di lima kota itu sebelum 2011. Scudamore menyatakan bahwa pertandingan ini akan menaikkan popularitas EPL ke seluruh dunia (juga menaikkan pemasukan klub dengan menaikkan nilai hak siar dan hak intelektual via platform lain, sehingga sponsornya makin menggila).

Hebatnya, presiden Asian Football Confederation (AFC) Mohamed bin Hammam menolak inisiatif Scudamore ini dengan alasan tidak baik untuk perkembangan klub sepakbola Asia. Tambahnya, “I appreciate, for example, if the Premier League wants to play in Darfur, Somalia or East Timor where they can act as peace makers.” ROFLMAO, LOL! Good one. Sayangnya, kalau EPL main di sana nanti Beckham pun bisa pulang ke Inggris tanpa kaki.

Apa yang saya lihat? Murni pertarungan lahan sponsor global.

Szymanski (2002) dan Dawson (2005) adalah dua peneliti yang khusus memfokuskan diri untuk urusan sports economics, khususnya sepakbola. Lihat bagan di bawah ini. Hak siar tertinggi dunia untuk olahraga masih diduduki oleh tayangan bola. Mereka bahkan melihat bahwa pergerakan hak siar sepakbola dari tahun ke tahun kian menggila.

2-liga-inggris-terkaya.jpg

Selanjutnya, lihat bagan di bawah ini. Semenjak dipegan BSkyB harga hak siar Liga Inggris di seluruh dunia mulai meroket. Harga per pertandingan pun berlipat ganda.

3-kontrak-bskyb-rocketing.jpg

Untuk seterusnya uang ini dibagikan ke setiap klub. Persentase hitung-hitungannya untuk setiap klub saya punya juga, tapi kita bahas di diskusi lain saja. Uang itu akhirnya kembali ke kampung halaman tiap klub, membangun stadion dan regenerasi pemain dan semua pilar institusi sebuah klub yang baik.

Akhir ceritanya, memang uang dari hak siar menjadi pemicu bagaimana sebuah asosiasi yang baik membangun [industri] sepakbola di negaranya. AFC punya hak untuk teriak, sementara itu EPL juga bisa menjadi gurita yang tak terhentikan. Plain supply-demand thing. But most of all, people (read: AFC and EPL) always respond to incentive. Cring-cring!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in football, sepakbola, sports