RSS

Arsip Kategori: global media

Liga Inggris dan Kebijakan Publik


Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

 

Copynorms v. Copyright Law: Profit Dispute, Locally and Universally


catatan: Mbak Ria Pascucci mendorong saya menulis ini untuk gobble up and down… your wish is my command *bow*

: – )))

… for a brief moment in the early 1990s, the entertainment industry expressed optimism that it could beat the copyright piracy problem of piracy as several countries known for piracy agreed to enforce intellectual property laws more strictly in exchange for trade concessions. Of course, those hopes were quickly dashed … Virtually overnight, a vast group of people—hundreds of millions—acquired the means to violate copyright law easily and conveniently. Just as important, they wanted to do so. Manifestly, people desire entertainment; presumably, they desire free entertainment even more. There was little in the experience of the average person to dissuade her from using file-sharing to fulfill this desire. (Copynorms, Schultz, 2006).

Hingga akhir tahun 2006 USPTO, lembaga negara di Amerika Serikat yang bertanggung-jawab atas domain kerja “patent – trademark”, masih berupaya menggalang upaya persuasi ke sekretariat ASEAN. Waktu itu, dikumpulkan seluruh regulator negara-negara ASEAN untuk sebuah diskusi anti-pembajakan sinyal televisi satelit. Mungkin seperti acara di PBB, peserta dan pembicara sama-sama gagap dalam berbahasa Inggris, apalagi tak ada penerjemah disiapkan panitia untuk diskusi satu hari di Bangkok ini. Mulai dari ESPN hingga pengacara hak cipta dan perdagangan dari negeri industri kreatif ditampilkan. Sepulang dari sana, mungkin yang terjadi hingga detik ini adalah “business as usual”, alias bajak ya bajak saja.

Bulan lalu, masih seputar pembajakan sinyal TV yang disalurkan via satelit, ada tekanan lagi dari industri TV Asia Pasifik ke negara-negara yang belum kuat penegakan hukum di bidang hak cipta seperti Indonesia ini. Tekanan itu disampaikan ke pemain industri besar yang berkedudukan di Jakarta kemudian juga tiba di kantor birokrat Depkominfo. Keluarlah ancaman “sweeping” operator TV berlangganan di daerah (baca beritanya lengkap dengan data “pembajak” itu di sini).

Yang dilakukan oleh operator di luar Jakarta ini, sebagian besar terpusat di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi yang notabene ‘blankspot’, ditengarai sebagai pelanggaran hukum. Mereka menikmati uang dari penayangan ESPN, HBO dan saluran TV lain yang hanya bisa disaksikan jika kita membayar sejumlah uang berlangganan. Yang dilakukan oleh operator ini awalnya adalah tindakan menyelamatkan diri dari ‘blank spot’ (survivor of blank spot) untuk rumahnya sendiri yang kemudian meluas ke lingkungan sekitar.

Apa kemudian yang membedakan operator TV lokal ini dengan Youtube atau Napster? Operator TV lokal ini melakukannya untuk menghasilkan uang. Ada seribu pelanggan membayar Rp 30 ribu per bulan untuk menonton 40 saluran TV (free to air atau berlangganan). Sang operator mendapatkan (gross) Rp 30.000.000,- dengan hanya membayar berlangganan salah satu operator berlisensi resmi (Telkomvision, Indovision, Astro Malaysia, dll.) dan berlangganan sebagai individu, bukan korporasi. Jika korporasi ia harus menjadi ‘downline’ dari salah satu operator berlisensi itu.

Sedangkan Youtube (dan sesungguhnya Napster, sebelum ia dibeli oleh UMI/Universal Music International) adalah ‘operator’ tayangan klip audio visual bajakan juga. Hanya Youtube tidak mengambil profit dari tayangan ini, tapi dari iklan (product placement) yang menyusup di video itu, atau dengan cara ‘tradisional’ Google AdSense (Youtube adalah milik Google sejak 2006). Profit tidak dihasilkan dari “penjualan” tayangan, tapi penjualan iklan yang ada di setiap halaman posting video tertentu. Masalahnya tayangannya hanya klip (potongan) dan terkadang telah di-remix. Sehingga yang terjadi adalah audio X digunakan untuk visual Y dari sebuah tayangan auvi Y, misalnya, yang kemudian dianggap sebagai bentuk kreativitas. Pencipta video remix ini, atau siapapun yang mengunggah/upload video itu, tidak mendapatkan profit. Google tidak bisa digugat, karena ia bukan operator yang mengunggah atau menggubah video itu. Ia hanya berperan ibarat pemberi lapak kosong yang telah ditempeli merek Coca Cola hingga Warung Tegal Sudimampir (saking localised-nya Google AdSense itu). Google memberikan lapak itu secara gratis!

Itu logika yang dibangun, dan kian banyak situs seperti Youtube yang tak hanya video-base, tapi juga text-base (DocStoc) dan audio-base (Imeem). Semua bisa diunduh/download lewat pintu belakang. Pintu belakang atau back door ini bukan ciptaan Youtube, DocStoc atau Imeem. Semakin banyak pula anggota jejaring sosial seperti Facebook atau komunitas mailing list tertentu yang saling bertukar file pdf, MP3 dan MPEG4. Atau hanya pranala/link dari situs yang memiliki file ini.  Di saat operator TV berlangganan lokal yang mendapatkan margin profit dari berlangganan sebagai individu, masyarakat dunia yang sudah terhubung via internet telah mencapai 1,3 milyar! Dengan operator TV berlangganan sejumlah 695 (bahkan lebih) tersebar di titik-titik yang tak memiliki infrastruktur transportasi yang baik, pemerintah pusat tentu tak memiliki dana dan aparat cukup dalam menindak ini secara sistematis.

Akan menjadi mahal juga bagi Amerika Serikat atau Uni Eropa membuat standar hukum hak cipta tanpa memperhatikan norma setempat; apalagi tayangan utuh sebuah film yang baru main di bioskop bisa didapat secara gratis melalui back door tadi. Saatnya korporasi besar dunia — dan perangkat hukum di dua polar industri kreatif dunia — memikirkan model bisnis yang lebih fleksibel, dengan tentunya memperhatikan norma-norma yang berlaku di tiap negara. There is always room to squeeze “this” in, try the Google way.

ASEAN-USPTO2

 

The Era of Handsome Leaders


“He’s so good looking, I’m even thinking of introducing him to my wife.”

Pada suatu ketika, negara ini pernah mengalami demam imam yang pintar. Pada suatu ketika, ia juga pernah mengidolakan pemimpin tinggi kekar dan pintar. Pada ketika lain, ia bisa saja cuek bebek.

Hari ini, media adalah pemegang kendali siapa yang paling ganteng, siapa yang bisa jadi korban ataupun penjahatnya. Kasus Marcella v. Ananda v. Agung membuat penonton bingung siapa yang jahat. Kalau di politik, saya ingat ibu-ibu di arisan tante saya mengelu-elukan SBY saat kampanye tahun 2004 lalu: “Aih… ganteng, kekar, doktor pula.” Era nenek saya di ‘kampanye’ 1998, Amien Rais bisa jadi idola bentuk lain.

sultan

Tahun 2009 yang riuh ini, saya melihat capres atau cawapres yang sudah berani tampil masih “keberatan” dengan citra masa lalunya. Contohnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah sosok yang dikenal dengan nama “Sultan”, atau sederet nama lain mulai dari Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi, KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping X. Terlalu panjang untuk dikutip di media televisi yang hitungannya detik, bukan?

Jika mau bersahabat dengan media, marilah kita lihat sifat-sifat media: simplifikasi, sensualitas, dan freshness. Pengulangan atau rerun hanya ada di tengah malam atau jam mati. Warna-warni adalah tampilan utama, karena gloomy atau kesusahan itu tak bisa menjual kecuali ditampilkan dengan dramaturgi victim-butcher. Obama Girl, misalnya, adalah salah satu bentuk bersahabatnya kandidat dengan media audio-visual. Abhisit juga tampil elok di setiap kesempatan. Bagaimana kandidat presiden kita di masa depan? Saya tetap yakin yang elok dan memiliki dramaturgi berorasi sajalah yang mampu tampil ke permukaan. Jargon “kemiskinan” atau “korupsi” cuma di ujung lidah yang kelu, tapi wajah ganteng dengan gaya orator menarik bisa menjadi modal utama yang lebih menjual.

abhisit1

 
 

Liga Inggris, Liga Dekoder


Memasuki minggu kedua, tayangan Liga Inggris musim tanding 2008-2009 tetap diobok-obok. Masa tunggu musim tanding kali ini disambut para penggila bola (gibol) dengan nada datar. Banyak yang pasrah, “Ya sudah, nonton yang lain saja.” Gibol di negeri ini mungkin sudah jenuh, atau juga sudah kehabisan uang untuk ganti dekoder.

Hitung-hitungannya mudah, dan seluruh dunia sudah tahu: sekarang tak ada lagi Liga Inggris paket lengkap bisa dinikmati di televisi gratisan! Tee hee….

Walau sebenarnya musim 2008-2009 ini bakal lebih seru dari musim-musim sebelumnya. Musim tanding lalu Manchester United mampu membabat Chelsea di final, namun kali ini Big Phil Scolari bersumpah merebutnya dari Sir Alex Ferguson, seperti masa jaya 2005 dan 2006. Kalau tidak, maka akan ada 11 tahun kejayaan MU.

Arsenal memang kehilangan Flamini dan Hleb, tapi Nasri masuk dan sejumlah pemain muda yang mampu menegaskan penyegaran yang tak ada di musim lalu. Mereka bisa?

Atau Liverpool dan Rafael Benitez juga bergerak? Jika tidak Spurs dan Portsmouth bisa menendang empat besar, sementara jika Hull mampu bertahan di awal saja sudah baik.

Apa saja yang menjadi pendorong masing-masing klub di Premier League ke 17 kali ini. Kaji profil pemain, statistik masing-masing pemain dan klub, serta naik-turunnya setiap orang dan klub. Know ahead of the big kick off, klik saja di sini.

ARSENAL FC

Posisi musim lalu: KETIGA (3)
Manager: Arsène Wenger

8 deals: 4 in, 4 out
IN Samir Nasri (dari Marseille, £11.5m), Aaron Ramsey (dari Cardiff, £5m), Amaury Bischoff (dari Werder Bremen, nilai tak jelas), Carlos Vela (dari Osasuna, nilai tak jelas).
OUT Gilberto Silva (ke Panathinaikos, £1m), Alexander Hleb (ke Barcelona, £12m), Jens Lehmann (ke Stuttgart, gratis), Mathieu Flamini (ke Milan, gratis).

JAGOAN MUSIM INI Theo Walcott – sekarang nomor 14, mari harapkan gol-gol baru darinya.
YANG PARAH MUSIM INI Adebayor – meminta pergi, dan tak ada yang mau tahan dia.
LAWAN YANG DIBENCI Juande Ramos.
LAWAN GAMPANG Spurs (pastinya).
LAWAN TANGGUH Manchester United – ketat! Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2008 in business, football, global media, hak siar, pay TV, sports

 

MNC di AsiaSat S3


Malam ini saya mau titip salam kenal buat kawan yang ingin mengetahui saluran MNC di satelit AsiaSat S3. Apakah yang dimaksud “mnc” dalam arti luas “multinational corporation”, atau MNC alias Media Nusantara Citra; jika MNC yang terakhir ini, yang merupakan unit dari Global Mediacom, hingga hari ini sih belum terdaftar di jajaran penyewa AsiaSat S3. Ada memang Sun TV, tapi beralamat China, satu negara yang menjadi incaran ekspansi Global Mediacom AKA Bimantara Citra, saudara sepupu dari Bhakti Investama. Memang melalui satu unit di bawah MNC, Global Mediacom telah membeli outstanding share dari perusahaan telekomunikasi di China, Linktone Ltd. yang juga merupakan penyedia media interaktif. Linktone juga merupakan biro iklan eksklusif dan penyedia isi bagi Qinghai Satellite Television, sebuah saluran TV via satelit yang bisa ditangkap di 24 provinsi dengan total penonton 276 juta. Nah, Qinghai ini memang diuplink ke satelit AsiaSat S3 juga. Jadi, kesimpulannya: bukan MNC langsung ya?

Anyway…

Bangga juga ada pengusaha Indonesia yang bisa mengayuh perahunya sejauh China. Asal tidak ada cuci-cuci uang, saya mah angkat kepalan tangan saya (bukan topi, karena enggak suka pakai topi sih) buat Global Mediacom.

***

Kapasitas dan cakupan footprint AsiaSat S3 itu cukup besar, maklum milik General Electric dan Citic. GE adalah konglomerat Amerika Serikat yang punya GE Commercial Finance, GE Industrial, GE Infrastructure (termasuk GE Aviation dan bekas Smiths Aerospace), GE Consumer Finance, GE Healthcare, dan NBC Universal, usaha bisnis hiburan (wikipedia). Sedangkan Citic (China International Trust and Investment Company) merupakan BUMN Pemerintah China.

Beberapa saluran di dalam AsiaSat S3 adalah sebagai berikut: China Entertainment TV, China Entertainment TV 2, Maharishi Veda Vision, Zee Network, Channel NewsAsia, Radio Singapore International, BTV World, TVB 8, Celestial Movies, Celestial Classic Movies, Azio TV Asia, Fashion TV Hong Kong & Asia, Aaj TV, Arirang Arab, NOW, Bloomberg TV Asia-Pacific, Russia Today, MTA International, Al Jazeera English, Supreme Master TV, TV 5 Monde Asie, Eurosport Asia, Eurosport News, IRINN, Amouzesh TV Network, IRIB Quran, Jame-Jam TV Network 3, Press TV, Sahar, IRIB Radio 1, Radio Payam, Radio Javan, Radio Maaref, Radio Farhang, Sedaye Ashena, Radio Varzesh, Radio Quran (Iran), Radio Yazd, Radio Sistan Balochestan, Phoenix InfoNews Channel, Kerman TV, Khalij Fars TV, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Noor TV (Afghanistan), Tamadon TV, PBC Larkana, Radio Pakistan, Sun TV (China), PTV Global, PTV Global, TVB, TVB Xing He, MATV, Horizon Channel, PTV National, PTV Home, Radio Pakistan, Zee Network, Zee Muzic Asia, Zee Smile, Geo TV Network… pokoknya cukup heboh!

 

Lost a Fortune and Found a Wife


An Aussie-born, American resident, and Hongkong second-wifey pooh with Londoners’ heir. Ain’t he a real internationalist? Betcha.

Saya senang sekali mengamati gerak-gerik media tycoon macam Rupert Murdoch. Jejaringnya adalah media dari hulu ke hilir, dari talent (klub sepakbola) hingga pipa distribusi (kabel, satelit, terestrial) hingga pengelolaan iklan untuk semua media miliknya (cetak, audio atau audio-visual).

16-news-corporation-2.jpeg

Ia pernah rugi mengelola Star TV Hongkong di awal niatannya merambah pasar China daratan. Ia juga pernah terpuruk di India. Hari ini ia mungkin hanya satu-satunya orang down under yang bisa go beyond the level of universe. Jangan salah, Murdoch juga menguasai dapur berita. He knows when to pull, when to push. Check this out.

 
 

SeMaNTic wEb: Give Meaning To My Anonimity?


Suatu hari kita bisa meng-update blog melalui telepon selular dengan harga lebih murah dari hari ini.
Suatu hari kita akan mengakses internet di mana saja dan dalam durasi waktu lebih banyak daripada jam tidur.
Suatu hari kita bisa men-download satu file 90 menit film Nenek Grondong Siang Bolong hanya 15 menit.
(s-mntk)
radar-networks-towards-a-web-os.png

Pic: Nova Spivack & Radar Network

Suatu hari itu adalah di saat Departemen Komunikasi (communication? k-myn-kshn) dan Informatika (informatics? nfr-mtks) sudah selesai bertugas sebagai leading sector of Palapa Ring dan (utamanya) opsi routing-backbone. Setelah gempa Taiwan tempo hari, proyek-proyek megadolar ini adalah langkah antisipasi arus internet macet.

Kembali ke semantic web, tak hanya sebuah mekanisme jaringan yang “bisa mengerti” secara teknis tapi juga secara manusiawi. Manusiawi? Di tengah belantara data yang kian hari kian menggunung, tak setiap orang memiliki keahlian meng-google dengan baik. Eric Schmidt (CEO dari Google) memprediksi bahwa satu hari (secepatnya):

  • aplikasi akan semakin kecil, data akan berada di satu kelompok tertentu,
  • aplikasi itu bisa dipakai di alat apa saja, PC atau telepon selular,
  • aplikasi itu sangat sangat cepat dan dapat disesuaikan (customizable),
  • aplikasi tersebut didistribusikan ibarat virus (viral distribution)
  • kita semua tak harus pergi ke toko dan membeli semua hal.

Lalu di mana manusiawinya web semantik ini? Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari “arti” dari setiap ungkapan (kata, kalimat, gerak tubuh, dan seterusnya). Sehingga yang terjadi dengan web masa depan (sooner than you thought!) adalah web yang mengenali identitas kita (OpenID dan ClamID) untuk memproses setiap langkah (klik). Contoh mudah adalah AdSense, tapi kemudian di web semantik semua keinginan kita (mulai penerapan password hingga kebutuhan informasi yang ingin kita baca setiap hari) akan direkam dan diproses otomatis. Setiap orang memiliki unique ID (seperti memberi nomor ke setiap kening kita) sehingga di setiap klik kita hanya mendapatkan informasi yang kita inginkan saja.

Web semantik ini secara manusiawi memudahkan langkah-langkah mencari informasi hingga bertransaksi dari meja kita ke ujung dunia manapun. Still people talk to people, machines talk to machines, masalah keamanan adalah hal krusial di sini. Anonimity? No, this is not my most favourite sin.