RSS

Arsip Kategori: green business

Kampanye Kuning, Hijau, Colorless?


Say no to Ahmad Dhani (yellow journalism?)

Say no to plastic bags (green journalism?)

Say yes to biofuels (then tell a new story that it is 93% higher emissions than gasoline; new color journalism?)

Dialog-dialog seperti ini akan terus berlanjut. Menjalani kehidupan hari ini, di tengah hujan informasi yang kian deras, bisa membuat sakit kepala (jika tidak tahu bagaimana menyaring informasi).

Buku Warren Bennis “One Becoming A Leader” adalah salah satu yang bisa membuka mata dan menyaring apa yang harus masuk ke mata. Information overloaded adalah istilah yang saya kenal dari bukunya ini. Satu hal pasti, karena Bennislah saya kemudian mencoba untuk selalu membaca berita di antara berita “read between the stories, not just lines”. Mungkin su’udzon, tapi dengan trik Bennis ini setiap orang akan lebih cepat membaca apa yang terjadi dengan:

  • Ahmad Dhani, Dewi Dewi, Maia, duo baru dst. (ah Dhani ‘kan entertainer sejati, harus selalu tampil ke permukaan atau album selanjutnya tak laku dijual)
  • Plastic Bags (setuju untuk kurangi penggunaan plastik, apakah edukasi tentang sampah plastik tidak jalan di sekolah-sekolah atau memang tak ada CSR dari Tri Polyta)
  • Biofuels v. Gasoline (tak perlu membaca detail riset terakhir dari University of Minnesota, damage has been done; dunia akan memasuki resesi panjang dengan agflasi salah satu penyebabnya; dan kampanye anti-nuklir Amerika Serikat-Eropa sebagai alternatif energi, salah duanya; atau hutan di Kalimantan telah cepat berubah fungsi… dan seterusnya)

Inilah kegilaan berpikir yang saya dapat dari Bennis. Atau Leary. Atau Rheingold. Atau Krugman. Dan seterusnya… dan seterusnya…

The factory of the future will have only two employees, a man and a dog. The man will be there to feed the dog. The dog will be there to keep the man from touching the equipment. (Dr Warren G. Bennis)

 

Harga Hijau


Data dan proyeksi dari US Census tentang emisi karbon dioksida dari konsumsi bahan bakar fosil (fossil fuels) menyebutkan total dunia 7.308 juta ton (2005) dan proyeksinya di tahun 2010 adalah 8.146 juta ton. Bahan bakar ini termasuk minyak, gas alam, batubara dan pembakaran gas alam. China (minus Taiwan) menempati urutan kedua (1.186 juta ton) setelah Amerika Serikat (1.683 juta ton). Hanya India, Jepang dan Korea Selatan yang menempati urutan di bawah Russia yang menempati urutan ketiga (405 juta ton di tahun 1998).

Sedangkan untuk pencemaran udara (air pollutant) tertinggi tahun 1997 di dunia ini ditempati Australia (sulfur oksida 100,7 kg per kapita dan nitrogen oksida 118, 5 kg per kapita) dan Luxembourg (karbon dioksida 20,5 kg per kapita). Pembuah sampah (waste generated) tetap dipegang oleh Amerika Serikat sebesar 2.100 ton per kapita.

Selain itu, tahun 1998 Amerika bagian utara juga masih produsen energi terbesar dunia (99,3 trilyun Btu) diikuti oleh Asia dan Oseania (75,4 trilyun Btu). Catatan: Btu=British thermal units. Untuk konsumsi energi terbesar dunia juga masih diduduki Amerika bagian utara (112,6 trilyun Btu) dan Asia/Oseania (99,3 trilyun Btu).

Apa yang terjadi dengan acara-acara “selamatkan bumi” merupakan satu indikasi bahwa bumi akan tenggelam dalam pencemaran kronis sejalan dengan industrialisasi global. Negara-negara industrialis yang tersebut di atas adalah produsen sekaligus konsumen dan pencemar bumi terberat.

Lebih mikro lagi, produk-produk besar (misalnya mobil, perangkat elektronik) terindikasi diproduksi dengan konsumsi energi lebih besar dan dikonsumsi lebih banyak oleh pria. Johansson-Latham mengadakan penelitian bahwa “pria” lebih banyak memicu polusi karbon dibanding “wanita” yang lebih banyak membuang sampah karena menggunakan produk-produk “hygiene, medical care and health, and clothing and shoes”. Pria lebih banyak memiliki perangkat atau gadget yang menghasilkan lebih banyak carbon footprint.

Tentu saja ajang “bersihkan bumi” yang diselenggarakan di Bali, 3-14 Desember 2007, menjadi ajang bergengsi bagi Indonesia di tahun ini, khususnya membawa pesan “Bali aman”. Sesungguhnya konferensi United Nations Framework for Climate Change ini adalah putaran ke-13 pasca putaran ke-3 yang terkenal dengan Kyoto Protocol and Climate Change. Konferensi ini memiliki pesan dan tujuan:

  • menghindari pembatasan atas pertumbuhan karena polusi selalu dikaitkan dengan pertumbuhan industrial, dan negara berkembang berpotensi tumbuh sangat cepat
  • negara-negara berkembang tak boleh menjual energi tanpa menghiraukan kemungkinan polusi berlebihan
  • negara-negara ini akan menerima uang dan teknologi dari negara maju untuk mengatasi polusi

Pembedaan antara negara industralis, negara maju dan negara berkembang sesungguhnya tidak perlu mengingat setiap orang harus mengurangi emisi dan tingkat polusi industri. Untuk itu Amerika Serikat tak menandatangani Kyoto Protocol karena akan berakibat bagi perindustrian dan kondisi ekonominya (lihat data di atas).

Indonesia, yang memiliki hutan terluas setelah hutan Amazon di Amerika Latin, tentulah daerah yang “paling bertanggungjawab” sebagai penyeimbang pembuangan karbon ini. Indonesia, selain itu, juga termasuk dalam deretan negara berkembang yang sedang memacu industri domestik lebih kencang lagi. Posisi yang cukup strategis dengan harga yang tak cukup hanya “dibayar” untuk mempromosikan Bali.

Penekanan “harga hijau” untuk transfer teknologi ke Indonesia harus diajukan. Kebijakan-kebijakan Indonesia kelak pasca-konferensi ini harus juga berbentuk nyata, seperti pembangunan pengelolaan sampah a la Jepang, atau pembangunan pabrik pendaur-ulang air a la Singapura.

Tak perlu pusing dengan ulah Amerika Serikat. Selama keuntungan tanah air tercinta lebih dahulu diprioritaskan oleh para “konsultan politik”. Kalau memang berani, buatlah agenda terkait harga hijau ini bagi delegasi Indonesia untuk membahas kiat diplomasi internasional dalam konferensi International Association of Political Consultants yang bertemu di Bali minggu ini.

Link ke beberapa organisasi dunia yang terkait lingkungan hijau:

Environmental Defense
European and Chicago Climate Exchanges
European Commission Directorate General for Environment
European Federation for Transport and Environment
Friends of the Earth
Greenpeace
International Energy Agency
The Pew Center on Global Climate Change
United Nations Environment Agency
United Nations Framework Convention on Climate Change
US Department of Energy
World Meteorlogical Association
WWF