RSS

Arsip Kategori: history

PSSI, LPI, Big Money Honey…


 

Tag: ,

Black Eyed Policies


 bolong.jpg
The wars’ going on but the reasons’ undercover
The truth is kept secret
Swept under the rug

If you never know truth
Then you never know love
Where’s the love y’all? (I don’t know)

Hari ini di halaman 27 Kompas dibahas APBD DKI Jakarta yang terlambat diproses karena ada beberapa perubahan. Jika dahulu sempat disinggung soal anggaran media massa Rp 35 milyar (karena kerjasama dengan media massa asing), hari ini perubahaan beberapa mata anggaran semakin membuat saya terbahak-bahak sendiri. Kok ya semakin banyak belanja modal pemerintah yang lebih banyak “bikin menor diri” daripada “bangun infrastruktur untuk rakyat”. Bayangkan ada absensi jari di setiap kelurahan Rp 11 M, papan nama ketua RT Rp 7 M, atau kamera pengawas di 5 kantor walikota Rp 65 M! Anggaran bus TransJakarta disunat, tak disinggung berapa dana nambal jalan bolong ataupun yang terkait dengan kesejahteraan warga DKI (baca: pendidikan, kesehatan, pasar dan distribusi bahan pokok yang baik). Siapa butuh absensi jari kalau kita tahu tak ada petugas kelurahan sebelum jam 9 atau sesudah jam makan siang? Atau, siapa butuh papan nama RT padahal dengan bertanya ke warung terdekat, siapa tak kenal Pak RT sendiri?

“Ekonomi biaya tinggi,” ini SMS Bang Ade Armando beberapa waktu lalu saat saya update beberapa informasi terkait anggaran di Depkominfo yang kemarin diberi tanda “WDP” oleh Badan Pengawas Keuangan. Kalau saya malah senang menggunakan istilah “Choking on Growth” atau “Black Eyed Economy” karena kalau tidak terbatuk-batuk ya lebam. Setiap penyelenggara negara ini batuk, yang keluar adalah virus mematikan rakyat. Jika ingin protes sedikit (seperti kasus di Mataram) wartawan bisa berakhir dengan mata bengkak (baca: mati).

***

Di sebelah saya teronggok buku sejarah bergambar. Mesopotamia, Babylonia, Yunani, Romawi hingga China dan India mengalami sejarah panjang. Ada yang hilang, ada yang bertahan hingga sekarang. Terkadang saya suka heran dengan orang-orang yang tidak pernah belajar dari masa lalu, atau tidak pernah mengintip resep sukses negeri tetangga. Jika anggaran DKI Jakarta itu adalah satu titik balik perjuangan reformasi, ada baiknya semua warga siap-siap mengalami de ja vu yang bersiklus lima tahun (banjir) atau tiga puluh tahun (rejim pemerintahan tergeser).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2008 in economy, efisiensi, history, infrastruktur, public policy

 

Hittites, Semites, Mesopotamia, and Tribal Marketing 3.0


Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

Lennon bahkan pernah menulis lirik untuk Timothy Leary “Come Together” untuk kampanye gubernur California, tapi kandidasi ini gagal karena Leary tertangkap basah menggunakan marijuana. Some hero huh?

Tak lama setelah lagu Lennon tadi, penyiar radio membacakan berita tentang [lagi-lagi] Israel. Otomatis saya bergumam, “Tawarkan saja Israel sewa tanah Papua biar diam.” Simplifikasi yang sangat bodoh memang. Saya pernah baca usul lebih cerdas, lupa baca di mana: “Jadikan tanah internasional, tak usah pakai paspor tapi dibuatkan institusi seperti FIFA atau Mahkamah Internasional.” That’s right, non-territory governing body. Suami saya yang mendengar gumaman saya tadi meminta saya buka lagi buku sejarah yang banyak gambarnya terbitan Kingfisher Book (dulu saya beli karena tawaran direct mail Book of the Month Club, UK).

kingfisher

Sejarah bukan mata pelajaran terfavorit, tapi the older I got, the most subject I required is history of every little thing, even the historian‘s personal life. Hittites, Semites, Minoans, Phoenicians, Mycenaeans. Banyak suku bangsa (tribe) dan peradaban (civilization) yang berasimilasi, hilang atau timbul. Invasi satu kelompok terhadap kelompok lain adalah kisah tak pernah habis.

Barusan juga saya sempat mampir ke salah satu top blog hari ini yang membahas satu film nasional. Tak pernah membaca novelnya, dan tak ingin menonton filmnya juga, but I just find it difficult for anyone to be annoyed by “ideas”. Chill out will ya… Kontroversi film ini tak ingin saya tanggapi, bahkan tak ingin sebut judul filmnya di sini.

Sadarkah bahwa semua hanya daya upaya marketer atau publicist hari ini. Sama seperti halnya Da Vinci Code, apapun berkedok agama atau kelompok harus dicerna dengan kepala dingin. Saya bahkan dengan senang hati menyamakan kontroversi berkedok agama ini dengan dengan Maia-Dhani, Dewi-Syamsul, atau Tiga Diva-Erwin. It’s all about [the] money, dum dum durrum dum dum… or new album, dum dum durrum dum dum… or… dum dum!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 25, 2008 in history, propaganda, religion