RSS

Arsip Kategori: hooliganism

PSSI, LPI, Big Money Honey…


 

Tag: ,

Selamat Datang Tahun Penuh Keindahan


Saya bukan orang yang pesimistis melihat hidup, tapi menyambut tahun ini sungguh perasaan saya tidak enak. Minum teh hangat sambil membaca artikel koran di hari Minggu pagi adalah kenikmatan di tengah kesibukan rutin. Sayangnya, pagi ini saya sedih membaca perihal situs sejarah (bukan website!) di Trowulan (klik sini untuk lihat petanya di wikimapia.org). Atas nama peradaban negeri ini, ada rasa tidak nyaman membaca artikel ini. Majapahit ataupun bukan, selalu bangsa ini lupa menjaga warisan atau pusaka atau heritage (bahasa kerennya). Saya tak sering menonton National Geographic, History atau Discovery Channel, tapi membandingkan usaha pengrusakan ini dengan upaya orang bule mempertahankan identitas dirinya dari segala aspek kehidupan, sungguh miris.

Lebih trenyuh lagi adalah saat membaca berita ketidakpedulian petugas di Museum Trowulan sana. Mereka bisa loh melihat seonggok batu bata yang diproses di jaman dahulu seperti melihat seonggok sampah. Ah…

Tapi ini belum seberapa. Bacalah paragraf terakhir artikel di Kompas Minggu ini, bahwa alasannya “akan diresmikan SBY sebelum Pemilu 2009”. Ufh…!

Atas nama demokrasi? Jika ditarik jauh ke upaya SBY meresmikan museum ini, kok seperti bau kampanye beliau selama ini. Atas nama sukses memberantas korupsi (tidak intervensi?) atau menurunkan premium dua kali setelah lupa mengukur dampak kesulitan distribusinya di akhir tahun.

Bangsa ini juga paling senang buang uang untuk jadi sampah. Banyak uang tidak dilarang, tapi mengapa banyak sampah spanduk, baliho, tutup bajaj, flyer dan segala materi kampanye yang dipasang seenak udel? Tak adakah pengaturan yang tegas dari KPUD di setiap daerah yang padat; kalaupun anggota KPU Pusatnya masih berlibur setelah lelah keliling dunia kemarin.

Ya sudah. Memulai hari baik harusnya diisi dengan ucapan baik dan perilaku baik. Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan doa, semoga dibukakan mata hatinya, siapapun yang tak punya rasa keindahan di dalam hatinya. Keindahan akan warisan nenek moyang, dan keindahan akan lingkungan kita hari ini.

Selamat malam, dan selamat bertugas esok.

trowulan_archaeological_site1sumber: wikimedia.org

***

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 4, 2009 in calon presiden, campaign, hooliganism

 

PSSI Revisited


Turut berduka cita atas tewasnya pendukung sepakbola Liga Indonesia. Turut berduka juga atas 60% dari 278 kartu kuning yang diberikan untuk pemain asing. Turut berduka juga atas panggilan pihak imigrasi terhadap mereka yang tak punya izin resmi tapi berkelahi dan bikin onar di banyak tempat selain lapangan sepakbola.

soccer-face-smash.jpg http://www.21lmao.com

Daripada urusan solidaritas dan semangat kelompok yang sehat, atau toleransi dan fair play, klub-klub sepakbola di bawah bendera PSSI yang bertemu dalam berbagai bendera liga pertandingan malah melakukan sebaliknya. Olahraga adalah bentuk hiburan selain olahraga an sich itu sendiri. Pertandingan olahraga yang menghibur ini akhirnya harus mengikuti jaman yang kian komersial. Tantangan dan ancaman lain adalah perjudian, eksploitasi pemain muda, narkoba, rasisme, kekerasan, korupsi dan pencucian uang.

Uni Eropa pernah mengkaji hal ini pula untuk semua cabang olahraga yang kian mendapat tekanan dari segala lini. Esensi awal mengapa diadakan pertandingan olahraga harus dikembalikan ke bentuk semula. Hooliganisme adalah fenomena tahun 1980-an di kala manajemen Liga Inggris terpuruk. Paket insentif yang diperbaiki secara bertahap mengikis peran hooligan di banyak tempat. Paket insentif yang juga transparan ini juga memberi ruang sempit bagi korupsi dan pencucian uang.

Undang-undang Olahraga baru disosialisasikan beberapa waktu terakhir ini oleh Kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Stadion olahraga yang beralih fungsi seperti yang pernah ada di Menteng menjadi satu polemik tersendiri. Hal ini membuat Sutiyoso kabarnya berkirim surat khusus ke Menteri Adhyaksa Dault untuk satu kebijakan khusus. Mudah-mudahan cuma gosip.

Yang bukan cuma gosip adalah masalah-masalah yang tak akan selesai sampai kapanpun jika PSSI tidak berbenah diri dan memberi contoh kepada seluruh klub. Pemain asing dibenahi, pemain lokal diberi insentif besar, dan pengelolaan stadion juga “diswastanisasikan” seperti pengelolaan mal. Adalah kewajiban pengambil keputusan negeri ini untuk membenahi persepakbolaan nasional, dan me-manage sebuah institusi seperti PSSI bagai mengurus sebuah negara kecil yang punya banyak masalah-masalah internal lain.

Good luck Pak Adhyaksa, please read some materials like this (click here).

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 7, 2008 in football, hooliganism, PSSI, rusuh, sepakbola, sports, sports economics