RSS

Arsip Kategori: India-China

Gambar

Glocal Media


Saya baru saja menuntaskan satu karya tulis yang selama enam bulan terakhir saya ubah, dari sebuah buku teks menjadi buku berhipotesis tentang kebijakan publik dan media. Saya melakukan studi banding atas sektor M&E (media and entertainment) di China dan di Indonesia, dan khususnya tentang isi media atau lebih dikenal dengan istilah “content”. Saya tak harus pergi ke China untuk mendapatkan berbagai informasi, karena saya hanya duduk membaca seluruh sumber (pdf atau books.google.com) lalu menulis dan membaca lagi. Saya juga hanya berkirim email ke Prof. Anthonyy YH Fung dari School of Journalism and Communication, CUHK, Hong Kong dan Dr Umair Haque dari Havas Media Lab, Amerika Serikat.

Ini buku kedua tentang media, dan buku ketiga kalau dihitung dari buku dwibahasa cerita anak yang saya tulis semasa kuliah dulu.

Silakan klik sini untuk membaca lebih lanjut, dan klik sini untuk lampiran pdf atau video.

GlocalMedia

 

Domino Effects


Topik yang ingin saya angkat kali ini mungkin lebih baik dibahas oleh sahabat saya di kampus, Pak Joko, yang memang jagoan di dunia finansial dan investasi. Selamat malam, Pak. Maaf saya sebut-sebut, but do correct me if I misled everybody here, ‘K?

***

Saya tak ingin masuk ke detail masalah. Yang bisa saya kaji sebagai orang awam tentang The Fed mengintervensi bursa di Amerika Serikat adalah bahwa atas tindakan ini, investor akhirnya tergerak untuk membeli. Terjadilah rush pasar Asia yang buka lebih dahulu dari pasar Eropa, tentulah pasar Asia gain. Sedangkan pasar Eropa yang sedang lelap hanya mendapat “sisa” dari upaya The Fed ini. Di saat ini mungkin beberapa investor Eropa akan mengutuk, “Oh I wish the bloody world is flat, and the sun shines here earlier, waaay before Asia”

Di lain pihak, sore ini saya membuka beberapa situs berita internasional. Sebuah kebetulan atau tidak, kupasan Mas Ninok Leksono di halaman 1 di Kompas tadi pagi juga memfokuskan hal yang serupa tapi tak sama. Ah, all about China on filthy dirty economy system. Sebaliknya, situsĀ  berita Xinhua justru memberitakan Presiden Hu Jintao memberi ucapan selamat tahun baru bagi rakyatnya. Pastinya dengan harapan “more prosperous year to come.”

Sementara itu di belahan dunia yang merasakan matahari kemudian, Footsie (FTSE) adalah bursa yang turut merasakan kecutnya Asian rush. Pagi ini (or at the moment I am typing this writing) Bank of England tetap keukeuh untuk tidak menanggung beban pasar Amerika (alias tak ingin ikut-ikut turunkan tingkat suku bunga). Gubernur the Bank of England, Mervyn King menyatakan bahwa “There is a risk that weaker activity and lower asset prices could result in another round of losses for banks and a further tightening of credit conditions.” (independent.co.uk, 23 Januari 2008)

Bermain di kepala saya betapa sistem perdagangan internasional kian memberi bentuk tersendiri bagi peradaban negeri ini. Kelesuan pasar Asia beberapa waktu terakhir dengan agflasi sebagai salah satu pemicunya mulai bergeliat setelah kejadian ini. Hanya kemudian kita tak boleh terlena. Saya mungkin salah, tapi kampanye negatif media massa atas geliat ini juga harus diwaspadai. China atau India adalah topik paling seksi dibahas selama dekade ini. Jika kedua pasar besar sekaligus juga produsen besar di berbagai sektor ini kemudian menjadi topik atas limbah industri dan sistem pengelolaan pangan ekspor yang tidak sehat hari ini, saya tidak melihatnya sebagai sebuah kebetulan belaka. Oh yeah, it’s just a plain vanilla war, another kind perchance. We’re in a war time economy, or maybe economy war time? Let’s ask Mr Bush.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2008 in India-China, koran global, propaganda

 

West Wing for Indonesia


Sam Seaborn (diperankan Rob Lowe) dalam serial West Wing musim tayang ketiga bergumam soal “Amerika Serikat berinvestasi di India atau China”. Dengan alasan English-speaking and democratic people, deputi direktur komunikasi White House Seaborn memilih India; sebuah perenungan kembali saat saya membaca Perdana Menteri India Manmohan Singh mengunjungi China minggu ini.

Perang Sino-India tahun 1962 di perbatasan Himalaya telah lewat. Ada agenda lebih penting lainnya dalam pertemuan Singh dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Presiden Hu Jintao. Presiden Hu juga telah mengunjungi India tahun lalu; hasilnya perdagangan bilateral telah mencapai US$ 40 milyar tahun ini sesuai target.

Dua negara besar di Asia, baik dalam hal sumber daya ataupun pertumbuhan ekonomi, duduk bersama di satu meja diplomasi. Bayangkan saja, jumlah penduduk India dan China adalah dua per lima penduduk dunia. Tiga milyar kapitalis baru, adalah pameo yang mengiringi pertumbuhan ekonomi keduanya. Satu persen dari tiga milyar adalah angka fantastis untuk produk konsumsi apapun. Bayangkan jika ada 30 juta bungkus Supermie dikonsumsi dalam sehari di kedua negara ini…

Sayangnya, hingga hari ini masih ada masalah institusional di dalam. Pertumbuhan India masih di bawah China, tapi pemerataan di China masih bermasalah. China juga masih dinyatakan “belum demokratis” oleh negara-negara industrialis. Masih banyak daerah kumuh ditemui di pelosok-pelosok keduanya.

Walau tidak terkenal sebagai negara yang English-speaking, China memiliki infrastruktur (termasuk peraturan daerah) yang lebih baik dari India. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi (10-12%) bahkan harus direm agar tidak exhausted atau aus karena penduduknya tidak kuat mengikuti pertumbuhan ini. Srinivasan (2002) mengkaji posisi fiskal, kemiskinan, dan disparitas kawasan, selain faktor buruh dan reformasi politik serta keuangan. Semua ini juga terkait faktor-faktor eksternal kedua negara ini. Semuanya harus diwaspadai seiring dengan perkembangan sikap setiap warga negaranya yang menginginkan lebih banyak kebebasan berusaha dan berinteraksi. Jangan sampai pertumbuhan tetap tinggi tapi rakyatnya tak mampu menunjang. Beware, bubble economy is coming to town.

Seaborn mungkin hanya karakter gumam yang cuma ada di televisi, namun saya banyak belajar dari gumaman cerdas setiap karakter di serial itu. Memang ada adegan Presiden Bartlet menghadapi duta besar China untuk Amerika yang “oh drama drama!” tentang sikap politis China. FYI, saya tetap jatuh hati pada dialog dan intrik dalam “West Wing” daripada “Commander ini Chief”.

west-wing1.jpg

Terakhir, Indonesia adalah negara ketiga di Asia yang memiliki lansekap institusi yang mirip dengan kedua negara ini. Satu hal pasti yang menjadi catatan akhir saya tentang kerjasama India dan China ini: bagaimana Indonesia belajar dari keduanya, baik secara internal ataupun eksternal. Watch, learn, and implement it wisely…