RSS

Arsip Kategori: information

Masih perlukan “konsep” televisi digital di Indonesia?


Jawabannya: tidak.
Masalah dari dijalankan atau tidaknya infrastruktur televisi digital (baca: televisi terestrial digital) adalah ketersediaan frekuensi. Belajar dari “filosofi Jokowi”, menggusur berbeda dengan menggeser. Permasalahannya, penghuni frekuensi sekarang tidak rela digusur atau digeser. Alasan utamanya: tidak adanya kepastian hukum, siapa dapat apa di sektor komunikasi dan informasi ini. Mau digusur atau bahkan cuma digeser pun, mekanismenya konon terlalu ribet atau tidak transparan.

Saya cuma ingin mengingatkan saja, di saat kita semua terlena dengan konsep “televisi terestrial digital”, di saat itu pula dunia sudah memasuki era baru. Indonesia tidak berada di dalam peta global Hbb (hybrid broadcast broadband), yang perangkatnya hari ini sudah konvergensi (terpadu, atau interconnected).

Menunggu Godot? Ah… kok ya tetap pada ngotot!

Hybrid Broadcast Broadband

Baca di sini untuk konsepsi Hbb.
Baca di sini dan di sini untuk ekonomi dunia bergerak hari ini (mobile economy), and TV experience is just a small part of it… WAKE UP ALL Y’ALL!!!

Iklan
 

Tag: , , , , , , ,

Infrastruktur


Setelah sekian lama tidak update blog ini, malam ini timbul kangen menulis tanpa dibayar ūüôā

Beberapa presentasi saya di Slideshare.net telah dilihat dan diunduh beberapa kali. Hanya satu yang hari ini saya buka untuk diunduh, yaitu tentang “Telco & Media in Indonesia“. Bahan presentasi saya di kelas “Bisnis dan Industri Televisi” ini banyak diunduh tak hanya kalangan mahasiswa, tapi juga pebisnis… bahkan pebisnis telekomunikasi dari Norwegia! (FYI: Slideshare membolehkan siapa saja mengunduh slide asal kita mendaftar sebagai anggota Slideshare, dan kebanyakan kita menggunakan nama asli untuk bahan *serius*).

Kembali ke pebisnis telekomunikasi. Saya takjub dengan presentasi Hans Rosling di Ted.com beberapa waktu lalu. Rosling mampu menyajikan presentasi tentang statistik yang mudah dicerna. Presentasi saya tentang Telco (telecommunications company) dan Media di Indonesia itu sesungguhnya terinspirasi dari Rosling; bagaimana saya bisa menjejerkan dua sektor berbeda di era 1990-an dan batasan keduanya menjadi sumir hari ini. Yang lebih terpenting lagi, bagaimana saya melihat buruknya infrastruktur berbanding dengan kapasitas kemampuan negara ini, dibanding negara tetangga, Malaysia.

Saya yakin pemerintah masih punya niat baik untuk meneruskan Proyek Palapa Ring dan jalur kabel serat optik bawah laut Australia – Indonesia – Jepang, daripada selalu bottleneck di Singapura. Kedua proyek multiyears, multiplatform ini seharusnya lebih prioritas dari gedung wakil rakyat atau proyek-proyek renovasi fasilitas ini itu yang tak terkait langsung dengan kemaslahatan rakyat. Jika rakyat makmur, yakinlah pemerintah bisa merevisi kantornya di Planet Mars sekalipun.

Terakhir, pebisnis Eropa pun tak punya data akurat tentang industri telekomunikasi dan media di Indonesia hingga harus percaya saja dengan presentasi saya ke mahasiswa… *just kidding, guys*

 

CES 2011 is ngeces.com


Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, Amerika Serikat, telah berlangsung dua hari. Sejak 2004 CES merupakan ajang elit bagi produser adu-pamer perangkat digital canggih, terutamanya terkait internet dan komputer. Tahun lalu, komputer genggam versi tablet yang heboh itu, iPad, diperkenalkan Steve Jobs, petinggi Apple Inc. Tahun ini, Motorolla Xoom pun diperkenalkan juga, di antara produk baru seputar fisik atau pun tidak, mulai tablet, televisi dan kamera 3D, apps, dan seterusnya. Diperkirakan tahun ini adalah tahun perang tablet, dan perangkat lain yang mulai berkembang adalah perangkat internet yang ringkas untuk otomotif. Iya, jangan sampai pengemudi sedang menyetir, semua gadget itu kemudian mengganggu kenyamanan pengemudi… bagaimana dong jadinya? Go figure!

Sejam yang lalu, dari berita #CES via Twitter, Microsoft mengumumkan peluncuran AvatarKinect, yang dapat memindai wajah pengguna agar masuk ke dalam program. Daftar “Wow!” ini akan bertambah panjang seiring sejalan daftar “Oh crap! We are in Indonesia…”

That’s right! Percuma kita memiliki perangkat secanggih apapun kalau infrastruktur di negeri ini tidak mendukung. Ibaratnya, mobilnya Hummer tapi rumahnya di gang senggol. Apa pasal? Jelas kok biaya infrastruktur apa pun di negeri ini dikorupsi gila-gilaan. Jalan bolong langsung diaspal, ini impian di siang bolong. High cost juga akhirnya menimpa pihak swasta. Salah satunya setoran ke pejabat kalau mau membangun BTS di daerah, izinnya tidak mahal tapi dipersulit. Ini cuma salah satu kebocoran yang membuat biaya berusaha tak murah di Indonesia.

Akhirnya kalau tidak mau ngomel di Facebook atau Twitter tentang “Telkomsel Flash” yang tidak sesuai iklannya, mungkin kita hanya bisa login saat kita tidur nyenyak.

Selain itu memang infrastruktur telekomunikasi dan komunikasi yang belum merata ke seluruh pelosok Indonesia, wong jalan  aspal untuk jalur distribusi makanan dan produk ke dalam dan ke luar satu daerah saja hanya di pusat kota. Geser ke sekian kilometer dari alun-alun kota, banyak yang masih jalan setapak.

Terakhir, alasan utama buruknya jalur komunikasi internet negeri ini karena bottleneck yang tak kunjung diselesaikan.¬† Jalur ke luar dari Indonesia ke gateway terdekat¬† hingga ke Amerika Serikat dan Eropa itu cuma lewat Singapura. Ukurannya pun cuma segede sedotan dibanding¬†information highway dari Singapura ke Hongkong dan hub lain di dunia… dan Singapura bahkan memproklamasikan dirinya iN2015, atau intelligent nation 2015 (wikipedia: Intelligent Nation 2015 is a 10-year masterplan by the Government of Singapore to help Singapore realise the potential of infocomm over the next decade).

Di Indonesia…? Palapa Ring saja “katanya” mau pakai APBN 2011 untuk penyelesaian “sengketa” antar-anggota konsorsium. Another bail out for handicapped commercial entities? Setelah proyek selesai, semua uang pungutan dari infrastruktur ini masuk ke pundi swasta berjuta kali lipat daripada keuntungan yang dinikmati segelintir rakyat. Masih ingat pungutan jalan tol seumur hidup? Sampai hari ini saya tak pernah baca transparansi pemasukan dan pengeluarannya (ya alasannya ini sudah bukan APBN, ini arus uang masuk-keluar punya swasta… blah!).

Belum selesai Palapa Ring pun rakyat sudah rugi, karena APBN itu tidak taktis dialokasikan untuk infrastruktur jangka pendek. Jalan tetap bolong, sekolah tak punya atap selamanya, semua harga kebutuhan pokok naik tak jelas mengapa. Mengurai kompleksitas adalah memberi prioritas. Di lain pihak, alat secanggih apapun tentu masih produk luar negeri (baca: produk impor). Masyarakat hari ini masih dibuai kampanye konsumtivisme tingkat tinggi, tanpa melihat bahwa produk berteknologi tinggi hanya diciptakan oleh manusia berpikiran cerdas dan luas.

Hari gini masih mau ngomongin Gayus terus? Bosan ah… infrastruktur sesekali dong, Pak!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in informasi, information, infrastruktur, technology

 

Tag:

Just Another Year


A certain day, Friday maybe, could mean something sacred while it could mean a lay-low sign of long weekend. I could never consider a certain day is different from others. I don’t celebrate my own birthday by blowing candles and other party hocus-pocus. I don’t even pray just for my birthday. I don’t meditate just for that.

At my age, time flies so fast. Ah yes, been there, done that. It’s fun to see my children laughing chasing running going cuckoo, or my students writing their ass off to get good grades eventhough I’ve already marked their forehead with straight A’s. I enjoy every second of it. And I wish time just stand still to scan every pixel of a nice picture…

Happy New Year, everybody!

 
 

Tag:

Prita, People Power & International Title of Bullshit


Apa yang terjadi terhadap Mbak Prita kita mungkin akan mengalaminya. Saya pernah mengalaminya, dalam stadium yang masih rendah. Ditakuti-takuti air ketuban kering, anak pertama saya harus lahir dengan jalan saya harus dioperasi sectio; dan kedua, dan ketiga. Melahirkan dalam jarak yang dekat serta kelahiran pertama sudah melalui cesar meninggalkan risiko bagi saya jika anak kedua dan ketiga lahir normal.

Saya masih beruntung memiliki kerabat dokter spesialis yang mampu saya jadikan second opinion. Saat tahu saya telah ditakut-takuti agar saya mau menjalani bedah cesar, dan kemudian anak saya waktu bayi harus bolak-balik rawat inap di rumah sakit yang sama, saya pindah ke rumah sakit lain yang lebih bisa dipercaya: RSCM. Dengan gejala sakit yang sama, saya hanya membayar obat Rp 11 ribu, dan saya diusir pulang oleh Prof Agus Firman saat saya meminta anak saya dirawat inap karena panas tinggi.

a well informed 050609

Sejak menjadi ‘langganan’ RSCM, saya tak perlu lagi takut dibohongi. Saya tak perlu lagi mengeluarkan uang ekstra untuk hal tak penting. Saya adalah bagian dari piramida di tengah. Bagian paling atas, mereka sudah terbang ke Singapura atau Australia. Bagian paling bawah tentu tak punya uang untuk kesehatan. “Sudah bagus bisa makan hari ini, mau pakai dokter yang mahal? Minum jamu atau kerokan juga sembuh,” mungkin ini yang ada di dalam benak mereka.

Saya juga beruntung bisa mendapatkan informasi sebelum mendatangi dokter. Thanx to internet, banyak hal bisa saya print sebelum bertemu dan bertanya ini-itu ke sang dokter. Hanya saja, banyak dari lapisan piramida tengah ini yang tak tahu hal paling mendasar saat menghadapi dokter: mereka punya hak sebagai pasien untuk bertanya. Banyak dari kerabat saya yang pasrah harus membayar puluhan juta untuk alat dan obat yang sebetulnya tak mereka perlukan. Adik ipar saya bahkan harus merelakan kehilangan jabang bayinya setelah 11 tahun tak memiliki anak. Telah seminggu ia dirawat inap hanya untuk mendengarkan putusan dokter bahwa  ususnya harus dipotong karena sudah tak buang air satu minggu!

Dari kejadian hiruk-pikuk seminggu terakhir di media massa, termasuk blog dan facebook, ada pelajaran penting bagi kita semua. Posting di internet telah menunjukkan people power yang harus diperhitungkan dalam bermasyarakat dan bernegara. Selain itu, informasi perihal hak pasien dan pembelajaran tentang hukum mengalir tanpa pemaksaan ke dalam benak setiap warga negara. Kita menjadi lebih mawas diri jika harus bertemu dengan dokter dan berurusan dengan rumah sakit.

Beruntung saya ke RSCM, sebuah rumah sakit umum pusat nasional, yang dokter-dokternya menjelaskan hasil lab ke saya seperti dosen mengajari mahasiswanya. Oh ya, rumah sakit tempat saya dan ipar saya dioperasi itu juga memiliki titel ‘internasional’.

 

When in doubt, challenge the strategy, not the tactics


Malam ini saya belajar lagi dari blog Seth Godin (klik sini). Kalimat ini berlaku saat sebuah korporasi bingung menetapkan format iklan untuk sebuah kampanye. Skala mengkritisi brosur seperti yang disampaikan Seth Godin ini berlaku antara “great!” lalu “cuma ganti ukuran font…” hingga “untuk apa membuat brosur?”. Sejenak memang Seth Godin bisa memberikan pencerahan atas tindakan korporasi ini. Saya malah melihat “beyond advertising strategy” yang bernilai komersial. It is beyond that.

Terkadang kita melihat sebuah kampanye iklan itu dalam kerangka detail, hingga satu eksekutif bisa bertengkar hebat dengan eksekutif lain tanpa akhir. Saya pernah duduk di satu rapat yang cukup produktif menghasilkan detail kampanye iklan (waktu itu kami mau merumuskan tagline bagi Liputan 6 yang baru lahir).¬† Mbak Indrit, waktu itu direktur operasional, dengan cantik dan renyah mengarahkan kami memikirkan tagline itu. “Ayo kita urutkan bahasa Inggrisnya dulu, nanti kita cari bahasa Indonesia-nya”, keluar dari bibir Mbak Indrit yang lulusan Boston University itu. Dari arahan yang sangat sederhana itu, kami bisa menghasilkan tagline “Aktual, Tajam, Terpercaya” yang masih digunakan hingga hari ini, sudah lebih dari 16 tahun lamanya.

Disalib oleh Metro TV yang melulu menayang program berita, lalu hari ini oleh TVOne, SCTV kemudian harus berpikir ulang untuk mempertahankan program beritanya. Tak sekadar memindah jam tayang lebih awal atau mengganti setting studionya. Secara sederhana saya melihat persaingan news source dalam sebuah manajemen stasiun televisi (terutama yang memiliki tiang pemancar di banyak provinsi) ada dalam kajian kompetisi yang sehat:

1. Metro TV tak lagi memonopoli berita, walau telah mendominasi dengan berbagai format dan kerjasama. Satu rumor internal menyatakan program “Kick Andy” adalah program filantropis sang pemilik TV, karena terbukti setiap tayang program ini bleeding, tak bisa menghasilkan profit. Program pencitraan ini menjadi penting dipertahankan Metro TV agar tetap berdiri dengan tegak melawan head to head dengan TVOne.

2. Sejak berubah nama karena berubah kepemilikan (heck, another point to discuss later!), TVOne juga tak lagi berniat menjadi TV olahraga. Satu hal pasti, membeli hak siar Liga Inggris atau liga-liga terbaik dunia adalah mahal. Memproduksi berita, dengan kesiapan infrastruktur di setiap daerah, tentu lebih menguntungkan. Jika telah membuat format yang menarik perhatian, seperti Tina Talissa yang mengingatkan saya dengan gaya Ira Koesno waktu itu, TVOne kemudian mencuri porsi pemangsa berita di malam hari dari Metro TV.

3. Bagaimana dengan SCTV yang masih berkutat dengan “all-you-can-watch TV station”? Percayalah bahwa “Liputan 6” sudah menjadi merek sama kuatnya dengan “Headline News”, namun saya pribadi lebih menunggu update berita setiap jam dari Metro TV daripada sekadar duduk di sore hari menonton Liputan 6 secara penuh. Apakah SCTV akan mengubah strateginya, mengikuti dua TV berita di atas, ataukah akan membuat terobosan lain sebagai televisi dengan tayangan segala rupa?

Not so fast, kita lihat dulu beberapa latar belakang sebuah stasiun TV.

Kembali ke Seth Godin dan frasa yang dituturkan di artikelnya (lihat judul di atas), saya kemudian melihat bahwa ada beberapa hal jika ingin menilai stasiun televisi berita yang baik:

1. Skala ekonomi dan cakupan ekonomi dari pengumpulan dan pendistribusian berita yang bisa menekan biaya produksi di daerah-daerah hingga meningkatkan akses ke berita internasional;

2. Akses untuk manajemen berita yang lebih baik (dari luar negeri dan media lain) serta talenta terbaik (seperti jurnalis dan presenter andal);

3. Peningkatan akses ke modal asing untuk membantu alat perangkat pemberitaan tanpa mengganggu akses editorial;

4. Peningkatan akses ke teknologi pengumpulan, pendistribusian serta penyuntingan berita akurat dan cepat.

Dari sini, dan dari analisis kompetisi terhadap 2 stasiun televisi berita (lapis pertama untuk dikaji) dan ratusan televisi lokal-nasional lain (sebagai lapisan kedua yang dikaji) yang harus dilihat SCTV akan memberikan satu pandangan baru.

1. Jika ingin menjadi stasiun berita penuh nomor 3, SCTV harus berani menjadi nomor 3 dari televisi berita yang tak banyak dapat kue iklan gado-gado. Kelak stasiun TV akan mendapatkan banyak cipratan iklan kampanye partai atau kandidat presiden, tapi jika dibagi 3, akankah cukup untuk operasional sehari-hari?

2. Jika tetap ingin menjadi “all-you-can-watch TV station”, sepertinya SCTV juga harus mengembangkan merek “Liputan 6” dengan langkah lebih strategis lainnya. Sekarang program ini memang sudah masuk ke internet dan handphone masyarakat kita, yang saya pikir masih terbatas secara format dan akses. Apakah sudah dipikirkan pengembangan platform lain? Give you a hint: transmitted via satellite, dedicated 24 hours like Astro Awani, and free-to-air or placed in basic package… another platform, another resources for undecided voters?

Yeah right…

 

Content? What Content?


Chunk of content, that’s what everyone needs today. If someone is being nudged about indecent content shown on TV, let them be. Subject of the law is not the entertainer, but the TV station. [read the story, err… news here]

If I don’t like vulgarity shown on Youtube, I just flag it. I don’t like Ruben, I switch to other channel. Heck, Indosiar signal at my tube is not clear anyway. The most important thing of their acts (vulgar or polite, d’uh… TV, polite?) was not the last chapter of media competition. I don’t think this bunch of TV stations shall survive after 2009. Spacetoon is on sale today, no price tag yet, but it is not going to be a high bid due to uncertain licences and other bureaucratic process. Many local stations are dying. Big names are having a cutthroat competition and selling less than polite content. I just don’t care.

What I care is when access to Youtube is closed. What I care is when TV and radio stations all over Indonesia is on sale for penetrating political messages. And those stations are interfering with our comfort zone. Look at my TV, semut bo’!

*yawn*

I just let go my children play in the neighbourhood all day… running and laughing with their friends. When they are at home is the time for books and Youtube. Yep, who needs passive content today? Only the information have-nots, or I shall say, the have-nots of everything? I bet.

(Right! I just add this line a minute ago. There is an enlightening article, read here)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2008 in broadcasting, business, information