RSS

Arsip Kategori: infrastruktur

Masih perlukan “konsep” televisi digital di Indonesia?


Jawabannya: tidak.
Masalah dari dijalankan atau tidaknya infrastruktur televisi digital (baca: televisi terestrial digital) adalah ketersediaan frekuensi. Belajar dari “filosofi Jokowi”, menggusur berbeda dengan menggeser. Permasalahannya, penghuni frekuensi sekarang tidak rela digusur atau digeser. Alasan utamanya: tidak adanya kepastian hukum, siapa dapat apa di sektor komunikasi dan informasi ini. Mau digusur atau bahkan cuma digeser pun, mekanismenya konon terlalu ribet atau tidak transparan.

Saya cuma ingin mengingatkan saja, di saat kita semua terlena dengan konsep “televisi terestrial digital”, di saat itu pula dunia sudah memasuki era baru. Indonesia tidak berada di dalam peta global Hbb (hybrid broadcast broadband), yang perangkatnya hari ini sudah konvergensi (terpadu, atau interconnected).

Menunggu Godot? Ah… kok ya tetap pada ngotot!

Hybrid Broadcast Broadband

Baca di sini untuk konsepsi Hbb.
Baca di sini dan di sini untuk ekonomi dunia bergerak hari ini (mobile economy), and TV experience is just a small part of it… WAKE UP ALL Y’ALL!!!

 

Tag: , , , , , , ,

Gambar

Glocal Media


Saya baru saja menuntaskan satu karya tulis yang selama enam bulan terakhir saya ubah, dari sebuah buku teks menjadi buku berhipotesis tentang kebijakan publik dan media. Saya melakukan studi banding atas sektor M&E (media and entertainment) di China dan di Indonesia, dan khususnya tentang isi media atau lebih dikenal dengan istilah “content”. Saya tak harus pergi ke China untuk mendapatkan berbagai informasi, karena saya hanya duduk membaca seluruh sumber (pdf atau books.google.com) lalu menulis dan membaca lagi. Saya juga hanya berkirim email ke Prof. Anthonyy YH Fung dari School of Journalism and Communication, CUHK, Hong Kong dan Dr Umair Haque dari Havas Media Lab, Amerika Serikat.

Ini buku kedua tentang media, dan buku ketiga kalau dihitung dari buku dwibahasa cerita anak yang saya tulis semasa kuliah dulu.

Silakan klik sini untuk membaca lebih lanjut, dan klik sini untuk lampiran pdf atau video.

GlocalMedia

 

Infrastruktur


Setelah sekian lama tidak update blog ini, malam ini timbul kangen menulis tanpa dibayar šŸ™‚

Beberapa presentasi saya di Slideshare.net telah dilihat dan diunduh beberapa kali. Hanya satu yang hari ini saya buka untuk diunduh, yaitu tentang “Telco & Media in Indonesia“. Bahan presentasi saya di kelas “Bisnis dan Industri Televisi” ini banyak diunduh tak hanya kalangan mahasiswa, tapi juga pebisnis… bahkan pebisnis telekomunikasi dari Norwegia! (FYI: Slideshare membolehkan siapa saja mengunduh slide asal kita mendaftar sebagai anggota Slideshare, dan kebanyakan kita menggunakan nama asli untuk bahan *serius*).

Kembali ke pebisnis telekomunikasi. Saya takjub dengan presentasi Hans Rosling di Ted.com beberapa waktu lalu. Rosling mampu menyajikan presentasi tentang statistik yang mudah dicerna. Presentasi saya tentang Telco (telecommunications company) dan Media di Indonesia itu sesungguhnya terinspirasi dari Rosling; bagaimana saya bisa menjejerkan dua sektor berbeda di era 1990-an dan batasan keduanya menjadi sumir hari ini. Yang lebih terpenting lagi, bagaimana saya melihat buruknya infrastruktur berbanding dengan kapasitas kemampuan negara ini, dibanding negara tetangga, Malaysia.

Saya yakin pemerintah masih punya niat baik untuk meneruskan Proyek Palapa Ring dan jalur kabel serat optik bawah laut Australia – Indonesia – Jepang, daripada selalu bottleneck di Singapura. Kedua proyek multiyears, multiplatform ini seharusnya lebih prioritas dari gedung wakil rakyat atau proyek-proyek renovasi fasilitas ini itu yang tak terkait langsung dengan kemaslahatan rakyat. Jika rakyat makmur, yakinlah pemerintah bisa merevisi kantornya di Planet Mars sekalipun.

Terakhir, pebisnis Eropa pun tak punya data akurat tentang industri telekomunikasi dan media di Indonesia hingga harus percaya saja dengan presentasi saya ke mahasiswa… *just kidding, guys*

 

CES 2011 is ngeces.com


Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, Amerika Serikat, telah berlangsung dua hari. Sejak 2004 CES merupakan ajang elit bagi produser adu-pamer perangkat digital canggih, terutamanya terkait internet dan komputer. Tahun lalu, komputer genggam versi tablet yang heboh itu, iPad, diperkenalkan Steve Jobs, petinggi Apple Inc. Tahun ini, Motorolla Xoom pun diperkenalkan juga, di antara produk baru seputar fisik atau pun tidak, mulai tablet, televisi dan kamera 3D, apps, dan seterusnya. Diperkirakan tahun ini adalah tahun perang tablet, dan perangkat lain yang mulai berkembang adalah perangkat internet yang ringkas untuk otomotif. Iya, jangan sampai pengemudi sedang menyetir, semua gadget itu kemudian mengganggu kenyamanan pengemudi… bagaimana dong jadinya? Go figure!

Sejam yang lalu, dari berita #CES via Twitter, Microsoft mengumumkan peluncuran AvatarKinect, yang dapat memindai wajah pengguna agar masuk ke dalam program. Daftar “Wow!” ini akan bertambah panjang seiring sejalan daftar “Oh crap! We are in Indonesia…”

That’s right! Percuma kita memiliki perangkat secanggih apapun kalau infrastruktur di negeri ini tidak mendukung. Ibaratnya, mobilnya Hummer tapi rumahnya di gang senggol. Apa pasal? Jelas kok biaya infrastruktur apa pun di negeri ini dikorupsi gila-gilaan. Jalan bolong langsung diaspal, ini impian di siang bolong. High cost juga akhirnya menimpa pihak swasta. Salah satunya setoran ke pejabat kalau mau membangun BTS di daerah, izinnya tidak mahal tapi dipersulit. Ini cuma salah satu kebocoran yang membuat biaya berusaha tak murah di Indonesia.

Akhirnya kalau tidak mau ngomel di Facebook atau Twitter tentang “Telkomsel Flash” yang tidak sesuai iklannya, mungkin kita hanya bisa login saat kita tidur nyenyak.

Selain itu memang infrastruktur telekomunikasi dan komunikasi yang belum merata ke seluruh pelosok Indonesia, wong jalanĀ  aspal untuk jalur distribusi makanan dan produk ke dalam dan ke luar satu daerah saja hanya di pusat kota. Geser ke sekian kilometer dari alun-alun kota, banyak yang masih jalan setapak.

Terakhir, alasan utama buruknya jalur komunikasi internet negeri ini karena bottleneck yang tak kunjung diselesaikan.Ā  Jalur ke luar dari Indonesia ke gateway terdekatĀ  hingga ke Amerika Serikat dan Eropa itu cuma lewat Singapura. Ukurannya pun cuma segede sedotan dibandingĀ information highway dari Singapura ke Hongkong dan hub lain di dunia… dan Singapura bahkan memproklamasikan dirinya iN2015, atau intelligent nation 2015 (wikipedia: Intelligent Nation 2015 is a 10-year masterplan by the Government of Singapore to help Singapore realise the potential of infocomm over the next decade).

Di Indonesia…? Palapa Ring saja “katanya” mau pakai APBN 2011 untuk penyelesaian “sengketa” antar-anggota konsorsium. Another bail out for handicapped commercial entities? Setelah proyek selesai, semua uang pungutan dari infrastruktur ini masuk ke pundi swasta berjuta kali lipat daripada keuntungan yang dinikmati segelintir rakyat. Masih ingat pungutan jalan tol seumur hidup? Sampai hari ini saya tak pernah baca transparansi pemasukan dan pengeluarannya (ya alasannya ini sudah bukan APBN, ini arus uang masuk-keluar punya swasta… blah!).

Belum selesai Palapa Ring pun rakyat sudah rugi, karena APBN itu tidak taktis dialokasikan untuk infrastruktur jangka pendek. Jalan tetap bolong, sekolah tak punya atap selamanya, semua harga kebutuhan pokok naik tak jelas mengapa. Mengurai kompleksitas adalah memberi prioritas. Di lain pihak, alat secanggih apapun tentu masih produk luar negeri (baca: produk impor). Masyarakat hari ini masih dibuai kampanye konsumtivisme tingkat tinggi, tanpa melihat bahwa produk berteknologi tinggi hanya diciptakan oleh manusia berpikiran cerdas dan luas.

Hari gini masih mau ngomongin Gayus terus? Bosan ah… infrastruktur sesekali dong, Pak!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 6, 2011 in informasi, information, infrastruktur, technology

 

Tag:

Industri Film Kita, Mau Diberi Insentif Seperti Apa Biar [Makin] Hidup?


PRODUKSI

  • 1999 ada dua film saja diproduksi.
  • 2007 sudah ada 76.
  • 2008 diperkirakan lebih dari 120!

DISTRUBUSI

EKSIBISI

APRESIASI

KRITIK

Ini adalah 5 pilar sebuah industri film yang baru saya pelajari dari kawan baru Alex Sihar. Banyak hal yang saya pelajari beberapa hari terakhir ini. Saya hanya tak terlalu belajar memegang kamera broadcast quality macam Sony PD170.

Lelah yang amat sangat, tertawa-menangis dan serius belajar diaduk jadi satu. Minggu ini saya mendalami produksi film hingga struktur industri content yang sekarang mulai hidup.

Saya lelah sekarang, mungkin posting ini akan saya lanjutkan untuk berbagi pelajaran dan pengalaman yang saya dapat dari Alex Sihar dan Duta Prameswari. Terima kasih Lasja. Terima kasih Lex, Dut… it’s a hell of a week for me!

 
 

Diseminasi Informasi Gaya Afsel, Mali, India dan Kamboja


Untuk negara berkembang macam negeri ini, ada baiknya kita belajar dari negara berkembang lain untuk pengelolaan “diseminasi informasi” (oh how I really despise it when this phrase is used as a DG of government office… simplify simplify your mind, please!)

Bushmail

solusi email yang bisa digunakan via frekuensi radio HF di Afrika.

CanTV

mendistribusikan stream video melalu Wi-Fi (dari stasiun radio ke stasiun TV di Mali) dengan penerima khusus (antena yang dibangun dengan alat seadanya di daerah itu).

Computer On A Stick (COS)

adalah bootable portable USB drive yang bisa dijalankan di sistem operasi tersendiri dengan berbagai aplikasi kerja dan internet.

e-Granary Digital Library

adalah perpustakaan dengan jutaan sumber pendidikan bentuk digital yang terhubung dengan sekolah di Afrika dengan cara men-download ke komputer dan memasang kemudian ke jaringan internal.

Freedom Toaster

seperti warnet tapi lebih memfokuskan sebagai kios “Bring ‘n Burn” yang mudah dijumpai di area ramai, menyediakan produk digital gratis, termasuk piranti lunak, foto/grafis, musik, dan literatur (pdf).

Hole-in-the-Wall

adalah contoh pendidikan dengan sedikit campur-tangan, di mana warnet itu ditempatkan di desa atau daerah kumuh yang khusus dibuat untuk anak-anak usia sekolah saja.

Internet Village Motoman

menggunakan sepeda motor yang berkunjung ke desa-desa di Kamboja, masyarakat bisa mengunjungi situs untuk upload-download materi di internet.

The United Villages Initiative

yang dibangun masyarakat India ini adalah pengembangan konsep di Kamboja ini dengan menyediakan “drive by Wi-Fi” melalui “DakNet” yang menggunakan kendaraan bus atau station wagon yang memiliki antena short-range Wi-Fi.

loband

adalah layanan yang menyerdehanakan halaman situs agar lebih mudah di-download dengan koneksi internet yang lamban.

Samurai

adalah inisiatif masyarakat Brazil yang menggunakan cakram CD-R yang didistribusikan langsung dengan jaringan Linux yang mampu menyimpan file untuk disediakan di terminal komputer secara umum.

Whizzy Digital Courier

adalah proyek di Afrika Selatan yang mendistribusikan data (biasanya email tapi juga isi situs yang telah di-cached) yang ditempatkan ke tempat yang tak memiliki koneksi internet; yang kemudian diambil tengah malam saat biaya sambungan dial-up lebih murah, atau bisa diambil dengan menggunakan USB memory stick.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 7, 2008 in information, infrastruktur

 

Lost a Fortune and Found a Wife


An Aussie-born, American resident, and Hongkong second-wifey pooh with Londoners’ heir. Ain’t he a real internationalist? Betcha.

Saya senang sekali mengamati gerak-gerik media tycoon macam Rupert Murdoch. Jejaringnya adalah media dari hulu ke hilir, dari talent (klub sepakbola) hingga pipa distribusi (kabel, satelit, terestrial) hingga pengelolaan iklan untuk semua media miliknya (cetak, audio atau audio-visual).

16-news-corporation-2.jpeg

Ia pernah rugi mengelola Star TV Hongkong di awal niatannya merambah pasar China daratan. Ia juga pernah terpuruk di India. Hari ini ia mungkin hanya satu-satunya orang down under yang bisa go beyond the level of universe. Jangan salah, Murdoch juga menguasai dapur berita. He knows when to pull, when to push. Check this out.