RSS

Arsip Kategori: intellectual property rights

Gambar

Glocal Media


Saya baru saja menuntaskan satu karya tulis yang selama enam bulan terakhir saya ubah, dari sebuah buku teks menjadi buku berhipotesis tentang kebijakan publik dan media. Saya melakukan studi banding atas sektor M&E (media and entertainment) di China dan di Indonesia, dan khususnya tentang isi media atau lebih dikenal dengan istilah “content”. Saya tak harus pergi ke China untuk mendapatkan berbagai informasi, karena saya hanya duduk membaca seluruh sumber (pdf atau books.google.com) lalu menulis dan membaca lagi. Saya juga hanya berkirim email ke Prof. Anthonyy YH Fung dari School of Journalism and Communication, CUHK, Hong Kong dan Dr Umair Haque dari Havas Media Lab, Amerika Serikat.

Ini buku kedua tentang media, dan buku ketiga kalau dihitung dari buku dwibahasa cerita anak yang saya tulis semasa kuliah dulu.

Silakan klik sini untuk membaca lebih lanjut, dan klik sini untuk lampiran pdf atau video.

GlocalMedia

 

Internet Gak Pakai Kornet



internet itu kayak tubuh manusia… network system…

kesumbat aliran darah di bahu cuma pegel

kesumbat di jantung… mati

Riuh-rendah SOPA (Stop Online Piracy Act) di Amrikiyah sana mungkin menjadi tanya tanya besar di sini. Ada apa sih, kenapa kita di Indonesia harus ikut pusing?

Begini ya,  hari ini kita gak bisa akses beberapa klip video di Youtube karena negara kita masuk blacklist. Terutama video musik gres dari Amrikiyah sana. Nanti Youtube bisa ditutup kalau masih memuat latar musik ber-copyright, walau videonya cuma gegeloan acara ultah kawan tadi malam di klub dangdut.

Konon email di Yahoomail, misalnya, memuat pranala (link) ke pirated content, misalnya… akun kita bisa ditutup. Oh iya, kalaupun di Kompasiana ada link dokumennya ke situs 4shared misalnya, dan 4shared gudangnya dokumen sharing (baca: bajakan), apapun jenis file-nya. Andaikata, hosting Kompasiana misalnya di Amrikiyah, yang kena hukum pemerintah Amrikiyah itu perusahaan hosting-nya Kompasiana… Kompasiana bisa ditutup. Gitu tek-toknya…

Masih gak peduli? Ya sudah… tunggu Operation Blackout dari Anonymous dan big brothers macam Google dan Yahoo. Mereka akan tutup 24 jam biar kita di Indonesia tahu rasanya… gak pakai garam, gak pakai micin, gak pakai kornet pun…

KLIK SINI UNTUK DRAFT BILL (rancangan UU) DARI SOPA INI

 

PSSI, LPI, Big Money Honey…


 

Tag: ,

Distribusi Film Hollywood ke Indonesia Dihentikan


Selamat untuk para penggiat sinema dalam negeri. Selamat juga bagi distributor film Eropa dan film indie seluruh dunia. Dalam berita di Detikhot, baca di sini, alasan penghentian dinyatakan bahwa bukan karena “neverending story of Glodok piracy”. Kalau soal pembajakan, sungguh bukan kesalahan pemerintah yang tak mampu memberantas “pembajakan” kekayaan intelektual macam film layar lebar ini. Debat tentang ini terus terjadi di masa “abundant content” dan “open source” hari ini (klik sini untuk membaca salah satu perdebatan itu di Amerika Serikat sendiri). Impor film dari Hollywood yang terhenti bukan langkah pamungkas membasmi pembajakan, dan sayangnya penghentian ini akan menjadi salah satu faktor penyubur baru bagi bisnis DVD di Indonesia.

Yang menjadi “alasan Hollywood” kali ini adalah pajak berlapis, mulai pintu masuk di bandara (pajak barang mewah) hingga pintu keluar bioskop di daerah-daerah (atau pajak daerah, walau porsi penonton di Jakarta masih dominan). Di Detikhot, jelas sekali kok pihak 21 atau movie distributtion monopolist di Indonesia tak bisa menanggung pajak itu sendirian dan ingin dibebankan ke distributor film di Hollywood. Sayangnya, mungkin kalau saya benar, adalah ketetapan hati Hollywod untuk terima uang itu “bersih” dengan harga paket yang selama ini “naik-naik ke puncak gunung”.

Pihak 21 pastinya sudah mencari alternatif film layar lebar atau bioskopnya akan kosong melompong. Tak terkecuali yang baru direnovasi besar-besaran di beberapa titik. Pihak distributor film lain di Indonesia, atau mungkin bisa disebut sebagai fringe competitors, seperti Blitz atau siapapun, bisa menjadi pihak yang bernegosiasi dengan Hollywood. Sepertinya hanya penjudi sejati yang mampu bernegosiasi di saat semua serba mahal. Jangan lupa, menonton film adalah kebutuhan tertier… masih kalah dengan pamor cabe yang pernah menjadi faktor dominan atas pergerakan harga 9 bahan pokok (sembako).

howstuffworks.com

PS. di bawah ini saya berdialog dengan seorang sahabat, dan kutipannya adalah sebagai berikut:

“Mbak Mitra, pajak itu adalah bentuk proteksi terhadap industri lokal. Pajak di China lebih besar daripada kita kok, tapi pasar di China jauuuh lebih besar dari kita. China itu lebih ketat bahkan soal content film. Warner Bros bahkan tetap keukeuh produksi film di China, yang tak boleh diterjemahkan ke bahasa lain di pasar luar China. Warner Bros mengeruk keuntungan dari milyaran orang yang nonton dengan sejublak aturan main pemerintah China.

Btw, selama ini, walau sudah ada Blitz, tetap pintu distribusi ada di 21. MPA itu asosiasi yang selalu kumandangkan Indonesia “red hot” untuk pembajakan (padahal materi filmnya atau kepingan plastik DVD-nya dari Malaysia atau China). Ini bisa jadi momentum buat MPA mendeklarasikan sikap kepada pemerintah kita yang tak mampu negosiasi setinggi China.”

 

Tag: , , ,

Copyright Uni Eropa 95 Tahun?


Bagaimana orang-orang macam kita bisa maju, jika semua karya cipta buatan mereka di Uni Eropa diproteksi hingga 95 tahun lamanya. Amerika sudah lebih dulu mematok 95 tahun, dan Australia 70 tahun.

Padahal dipikir-pikir, dengan semakin demokratisnya kehidupan media (“internet governance has less and less government control“) serta semakin bersatunya platform (“henponku adalah radio FM-ku dan kameraku“) apakah bijak jika karya cipta benar-benar diproteksi sekian lama?

Terus-terang, saya adalah plagiat ulung. Saya baca karya orang, dan saya terjemahkan dalam bahasa yang dilatar-belakangi tumpukan pengalaman saya. Dengan begitu, otak saya berputar terus, “bagaimana jika diimplementasikan di kehidupan saya, kehidupan RT sini, ataupun hingga ke pelosok negeri ini.” Saya baca, lalu saya tulis pendapat saya. Mau kutip, silakan. Mau diakui jadi paper-nya sendiri, silakan. Toh, plagiat macam begini hanya bisa menulis di situ saja. Tak akan ada pengembangan lebih lanjut. No-brainer copycat? Sure, a no-go destination.

Sekali lagi, karya cipta adalah mekanisme kapitalisme yang paling mutakhir. Setelah barang dan jasa tangible alias bisa dipegang sudah aus nilainya, lahirlah konsep hak intelektual yang ditempel ke setiap lini berusaha.

Duh, saya selalu suka nasehat ini: “look but not touch”. Ini adalah labirin yang dibangun sebagai citra sebuah karya cipta. Pencitraan seperti ini: “Insentif pencipta harus ada, tapi yang tak perlu ada adalah kesejahteraan orang lain.”  Selanjutnya, uang saya bukan uang kamu. Kepintaran saya, untuk apa kamu ikut pintar. Padahal teknologi itu adalah variabel pertumbuhan yang kian hari kian dinamis.

Faktor “T” dalam sebuah fungsi pertumbuhan ekonomi menjadi kemutlakan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Jika tidak, lihatlah inefisiensi yang kian menumpuk. Kita makin miskin sementara kita juga kian tergantung dengan produk internasional. Bayangkan bahwa selama ini manusia Indonesia hanya semata-mata pasar empuk. Tak pernah memproduksi puluhan barang atau jasa yang kian efisien.

Pak Presiden tercinta, tak pernahkah terpikir satu hari kelak manusia-manusia Indonesia tak hanya jago main sinetron tapi juga membuat televisi yang setipis cermin kamar mandi?

 thumbs_up.png

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2008 in copyright, insentif, intellectual property rights, IPR, technology

 

30 Hari Mencari Hak Paten


Saat mengibaratkan sesosok CEO bagai raja dan ratu (baca: imperialis) dalam sebuah entitas besar seperti Media Citra Nusantara ataupun Lippo Group, ada baiknya kita membaca kisah Shakespeare ‘Henry V’ ataupun ‘Hamlet’. Betrayal could be everywhere in any format. Menyalib kawan bisnis di pengadilan atau meracuni minuman pesaing harus mengalir dalam darah seorang CEO. Kisah-kisah seputar pengusaha-pengusaha besar saat Orba yang tenggelam hari ini juga seperti membaca ‘Midsummer Night’s Dream’, di mana kelucuan itu terbaca dari tokoh-tokoh ‘supernatural’ Raja Oberon dan Ratu Titania yang dibantu karakter si ‘ada di mana-mana’ Puck.

Menikmati karya Shakespeare adalah saat menonton pertunjukannya dengan improvisasi masing-masing karakter oleh sang aktor. Menikmati karya sastra adalah membayangkan yang orang lain mungkin belum atau tidak akan memikirkannya. Please read between the lines…

Sosok Dayang Sumbi atau Bawang Merah yang diperkenalkan sejak kecil terkadang membuat saya heran. Secara ‘moral’, sosok ibu tiri dengan segala sifat dan sikap stereotipe ‘galak dan tidak sayang anak tirinya’ selalu ada di televisi kita. Sensualitas wanita jadi gunjingan di lift hingga di dalam berita-berita kriminal. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Di lain pihak, ada aspek ‘kedaulatan finansial’. Kekayaan intelektual kita banyak yang belum terdaftar dan terekam baik untuk melindungi jati diri bangsa, ataupun ‘melindungi dapur’ sang pencipta. Belum ada di Indonesia dibuat skema insentif yang bisa membuat sang pencipta sejahtera loh jinawi sampai anak cucu.

Pasca-kisruh lagu Rasa Sayange, kantor Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan membuat program pendaftaran gratis di seluruh kantor pemerintah daerah. Gratis? Tunggu dulu.

Indonesia memiliki Kabayan yang ‘tidak bekerja tapi baik hati’. Sayangnya, sosok non-produktif hari ini banyak sekali kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu hari saya datang ke kantor Ditjen HaKI, diterima baik-baik oleh pegawai di lantai 2 di kantor Tangerang. Lega rasanya diterima dengan senyum manis sang petugas. Sayang, tak ada sepuluh menit berdiskusi, ia lalu meminta uang dua puluh kali lipat harga resmi jika ingin produk yang saya daftarkan selesai dalam 1 bulan. “Kalau ingin jalur resmi, silakan menunggu 1,5 tahun.”

Saya berada di loket yang salah, atau petugas itu yang salah idola?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada November 13, 2007 in HAKI, intellectual property rights, IPR