RSS

Arsip Kategori: language

Bahasa Birokrat


09 Mei 2007 (klik sini untuk berita lengkap)

Ditjen Postel Mengucapkan Terima Kasih Kepada Bapak Sofyan A. Djalil Serta Menyambut Selamat Datang dan Komited Sepenuhnya Dalam Mendukung Kepemimpinan Bapak Muhammad Nuh Sebagai Menteri Kominfo Yang Baru

04 September 2007 (klik sini untuk berita lengkap)

Penertiban Frekuensi Radio Bertujuan Meminimalisasi Kesimpang-siuran Penggunaan dan Kewenangan Pemberian Izin

Rabu, 23 Mei 2006, 11:51 WIB (klik sini untuk siaran pers lengkap)

Penyelenggaraan Lokakarya Nasional I
Pembinaan Ketahanan Masyarakat Pulau-pulau Terluar
Melalui
Peningkatan Pemahaman Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air
di KRI Tanjung Nusanive-973

Coba dikaji tiga judul berita tersebut di atas:

1. Penggantian menteri di sebuah cabang di dalam departemen pemerintahan; dengan penggunaan kata “komited” yang tak akan kita temui di kamus manapun di negeri ini (sebaiknya ditulis “committed”, yang berarti menetapkan diri atau terlibat)

2. Sebuah kalimat run-on atau tumpang-tindih kerap ditulis untuk mengaburkan makna, atau mungkin ditulis dengan tujuan yang tidak jelas subyek atau obyeknya. Jika ingin memutus menjadi dua frasa “Penggunaan” dan “Kewenangan Pemberian Izin”, jelas akan membingungkan banyak orang “menggunakan apa sehingga harus ditertibkan?”. Jika yang dimaksud adalah “Penggunanan Izin” dan “Kewenangan Pemberian Izin” seharusnya dituliskan “Penggunaan Izin dan Kewenangan Pemberian Izin”. Dua obyek yang berbeda:

– Penggunaan izin oleh pemain industri

– Kewenangan pemberian izin oleh regulator lain

Jadi yang mau ditertibkan adalah dua kelompok obyek berbeda. Pertanyaannya adalah, jika ingin menertibkan regulator, apakah mekanismenya hanya surat edaran instansi? Tidakkah ada semacam “badan arbitrase” atau koordinasi regulator yang lebih elegan?

3. Yang kerap terjadi dalam acara-acara resmi birokrasi, di pusat ataupun di daerah, adalah judul-judul seminar atau diskusi atau acara sosialisasi produk hukum/pemikiran eksekutif lainnya. Kembali terdapat run-on sentence di judul nomor 3 di atas. Asumsi saya, forum di atas tentu dihadiri para regulator yang terkait dengan urusan pulau terluar (bisa pemerintah daerah setempat, pemerintah pusat, tentara nasional, ataupun pemuka adat setempat). Topik untuk para regulator adalah “Pemahaman Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air” untuk meningkatkan ketahanan masyarakat di pulau terluar alias terpencil ini. Sekali lagi obyek dari acara seperti ini masih simpang-siur pula. Apakah regulatornya? Ataukah masyarakatnya? Mungkin jawabannya ada jika data acara seperti ini bisa dilihat lebih awal.

***

Bahasa mencerminkan bangsa. Jika Anda adalah regulator atau pemberi contoh ketertiban di segala lini, silakan beri contoh terbaik. Di saat seorang regulator menggunakan bahasa, terlihat juga strata pemahaman tentang bahasa dan budaya dirinya. Di saat seorang regulator membuat tulisan yang membingungkan, masyarakat dan pemain industri negeri ini juga turut pusing.

Minggu ini akan dibahas RUU Bahasa dan Politik Bahasa Nasional tanggal 11 September 2008 di Kampus Fakultas Ilmu Bahasa di Depok.

(klik sini untuk pengumuman acara diskusi ini)

 
 

Diktum, Diksi


Pemilihan frasa kampanye seperti “Berpengalaman di BIDANG birokrasi” membuat saya mengernyitkan dahi. What the… ^#%^%@??!! Sejak kapan “birokrasi” adalah sebuah bidang (baca: lahan untuk digarap)? Tak pernahkah pejabat kita melihat bahwa “menjadi Gubernur” itu adalah “melayani rakyat”, bukan mempersulit langkah setiap rakyatnya. Toh birokrasi yang ada sekarang di sana tak mampu membendung lumpur ratusan hektar.

Atau jargon “Bersama Kita Bisa” mungkin bisa nyerempet slogan kampanye Barack Obama “Yes, We Can!”. Jika Barack menciptakannya karena ia pusing hidup dalam dunia rasis di sana, di sini pusing dengan sejublak partai dan kelompok.

Saat HaDe menang, sekarang banyak balon (bakal calon?) pemimpin daerah bergandengan tangan dan membentuk kata baru yang sedikit “maksa”. Andai Roy Suryo dan Dhani Ahmad bergandengan tangan, tentu itu cuma kerjaan iseng desainer grafis yang juga insomniak seperti saya.

Memilih jargon, slogan ataupun frasa-frasa kampanye adalah sama sulitnya dengan memenuhi janji-janji di dalamnya. Bagaimana tidak, pemilihan kata yang enak didengar kemudian melancarkan jalan menuju gedung sate atau istana negara… tidak mudah.

Buktinya saya masih tertukar-tukar mengucapkan diktum dan diksi.

***

[dictum] Meriam-Webster:
1: a noteworthy statement: as a: a formal pronouncement of a principle, proposition, or opinion b: an observation intended or regarded as authoritative
2: a judge’s expression of opinion on a point other than the precise issue involved in determining a case

[diction] Meriam-Webster:
1: obsolete : verbal description
2: choice of words especially with regard to correctness, clearness, or effectiveness
3 a: vocal expression : enunciation b: pronunciation and enunciation of words in singing

[jargon] Meriam-Webster:
1 a: confused unintelligible language b: a strange, outlandish, or barbarous language or dialect c: a hybrid language or dialect simplified in vocabulary and grammar and used for communication between peoples of different speech
2: the technical terminology or characteristic idiom of a special activity or group
3: obscure and often pretentious language marked by circumlocutions and long words

[slogan] Meriam-Webster:
1 a: a war cry especially of a Scottish clan b: a word or phrase used to express a characteristic position or stand or a goal to be achieved
2: a brief attention-getting phrase used in advertising or promotion

[phrase] Meriam-Webster:
1: a characteristic manner or style of expression : diction
a: a brief expression; especially : catchphrase b: word
3: a short musical thought typically two to four measures long closing with a cadence
4: a word or group of words forming a syntactic constituent with a single grammatical function <an adverbial phrase>
5: a series of dance movements comprising a section of a pattern

[bureaucracy] Meriam-Webster:
1 a: a body of nonelective government officials b: an administrative policy-making group
2: government characterized by specialization of functions, adherence to fixed rules, and a hierarchy of authority
3: a system of administration marked by officialism, red tape, and proliferation

[people] Meriam-Webster:

7: the body of enfranchised citizens of a state

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2008 in campaign, language

 

SeMaNTic wEb: Give Meaning To My Anonimity?


Suatu hari kita bisa meng-update blog melalui telepon selular dengan harga lebih murah dari hari ini.
Suatu hari kita akan mengakses internet di mana saja dan dalam durasi waktu lebih banyak daripada jam tidur.
Suatu hari kita bisa men-download satu file 90 menit film Nenek Grondong Siang Bolong hanya 15 menit.
(s-mntk)
radar-networks-towards-a-web-os.png

Pic: Nova Spivack & Radar Network

Suatu hari itu adalah di saat Departemen Komunikasi (communication? k-myn-kshn) dan Informatika (informatics? nfr-mtks) sudah selesai bertugas sebagai leading sector of Palapa Ring dan (utamanya) opsi routing-backbone. Setelah gempa Taiwan tempo hari, proyek-proyek megadolar ini adalah langkah antisipasi arus internet macet.

Kembali ke semantic web, tak hanya sebuah mekanisme jaringan yang “bisa mengerti” secara teknis tapi juga secara manusiawi. Manusiawi? Di tengah belantara data yang kian hari kian menggunung, tak setiap orang memiliki keahlian meng-google dengan baik. Eric Schmidt (CEO dari Google) memprediksi bahwa satu hari (secepatnya):

  • aplikasi akan semakin kecil, data akan berada di satu kelompok tertentu,
  • aplikasi itu bisa dipakai di alat apa saja, PC atau telepon selular,
  • aplikasi itu sangat sangat cepat dan dapat disesuaikan (customizable),
  • aplikasi tersebut didistribusikan ibarat virus (viral distribution)
  • kita semua tak harus pergi ke toko dan membeli semua hal.

Lalu di mana manusiawinya web semantik ini? Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari “arti” dari setiap ungkapan (kata, kalimat, gerak tubuh, dan seterusnya). Sehingga yang terjadi dengan web masa depan (sooner than you thought!) adalah web yang mengenali identitas kita (OpenID dan ClamID) untuk memproses setiap langkah (klik). Contoh mudah adalah AdSense, tapi kemudian di web semantik semua keinginan kita (mulai penerapan password hingga kebutuhan informasi yang ingin kita baca setiap hari) akan direkam dan diproses otomatis. Setiap orang memiliki unique ID (seperti memberi nomor ke setiap kening kita) sehingga di setiap klik kita hanya mendapatkan informasi yang kita inginkan saja.

Web semantik ini secara manusiawi memudahkan langkah-langkah mencari informasi hingga bertransaksi dari meja kita ke ujung dunia manapun. Still people talk to people, machines talk to machines, masalah keamanan adalah hal krusial di sini. Anonimity? No, this is not my most favourite sin.

 

Business Incubation


Istilah “inkubasi bisnis” ini dipakai di beberapa badan penelitian khusus bisnis startup yang terkait erat dengan bidang teknologi. Menarik, karena yang berinkubasi itu kalau tidak bakteri, burung, ya bisnis. Bisnis bisa menjadi penyakit? Atau bisnis bisa terbang jauh? Bakteri penyakit adalah entitas terkecil yang bisa “terinkubasi” yang kemudian bisa membantu mengelola sampah (waste management). Telur burung yang”diinkubasi” adalah telur yang ingin ditetaskan lebih cepat. Bagaimana dengan sebuah entitas bisnis?

Secara khusus inkubasi atau penetasan atau pengeraman adalah proses mendukung sebuah bisnis awal (startup business) yang diakselerasi agar bisa menuntaskan segenap masalah sumber daya dan layanan. Harapannya adalah entitas bisnis ini kemudian bisa mandiri juga kuat mengatur masalah finansial. Manajemen inkubator biasanya juga telah memiliki jaringan yang luas untuk membantu merancang dan mengembangkan layanan entitas bisnis ini. Biasanya entitas yang telah selesai diinkubasi adalah entitas yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan, merevitalisasi kehidupan lingkungan, mengkomersialisasikan teknologi baru, dan memperkuat ekonomi lokal hingga nasional.

Ada dua catatan khusus untuk inkubasi bisnis ini. Keduanya diawali dari ruang sekolah dari SD hingga kuliah. Yang pertama adalah tingkat inovasi teknologi tidak tinggi. Selanjutnya adalah masalah kewirausahaan di tingkat perguruan tinggi yang hanya sebatas teori.

Khusus hal pertama, kurikulum sekolah masih mengutamakan “anak sebagai operator alat” bukan “anak sebagai inovator alat”. Contohnya adalah buku wajib anak SD hingga SMP tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). TIK adalah terjemahan langsung dari Information and Communication Technology. Dua buah teknologi yang hari ini berkonvergensi. Di saat matematika memiliki sifat statis (1 + 1 = 2 atau 2 – 1 = 1), maka perkembangan kurikulum TIK haruslah dinamis. TIK mengenal 2 + 1 bisa menjadi 1.000 karena “kawan” dari 1 di sebelah sana adalah 997 karena mereka berjaringan secara virtual. TIK juga mengenal siklus hidup yang cepat; bagaimana telepon genggam sepuluh tahun lalu bukanlah telepon seukuran sekarang dengan fasilitas kian beragam. TIK juga mengenal sejarah platform yang kaya: mulai dari komunikasi asap, menghitung dengan sempoa hingga komunikas satelit dan menghitung hitungan rumit dengan rumus template.

convergence.jpg

Pengertian mendasar tidak diajarkan untuk anak-anak negeri ini. Silakan simak buku wajib anak SD kelas 1 hingga 6. Betapa buku-buku TIK ini berisi “bagaimana mengenal Microsoft Paint” seperti manual penggunaan satu piranti lunak yang harus dimengerti selama 6 tahun! Memasuki SMP, yang diajarkan adalah internet secara kaku: mengenal fasilitas email dari Yahoo. Tak diajarkan konsep Web 2.0 secara mendasar.

Sehingga terbayang di kepala saya, memang anak-anak kita diajarkan untuk menjadi “tukang” bukan “inovator“. Buku tentang praktek mengenal kekayaan alam di segala topik (struktur tanah, sejarah Mesir dan Cina, energi, dan masih banyak lagi) hanya bisa didapat di toko buku Borders, Singapura atau yang lebih tipis berbahasa Indonesia hanya di Gunung Agung Kwitang terbitan Mandira Jaya Abadi (Semarang).

Jika sebuah usaha startup adalah sebuah makhluk hidup yang disamakan dengan bakteri atau telur, atau bahwa usaha Anda itu masih kecil dan rentan terhadap segala masalah, saya sebagai orangtua harus mampu melakukan inkubasi terhadap anak sendiri agar bisa menetas dan mentas (naik pentas) dengan baik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2008 in bahasa, business, education, language

 

Pilih Mana: “Peningkatan Produktivitas” atau “Penanggulangan Kemiskinan”


Negeri ini paling suka menggunakan bahasa yang terlampau muluk (amelioratif) atau yang buruk sekalian (peyoratif). Tidak pernah bermain di diktum yang “sedang-sedang saja”. Satu contoh, birokrasi kita paling suka menggunakan kata “miskin” yang kian membawa rakyat muram durja. Bahkan ada Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang bertugas dalam 3 fokus program kerja: pendataan, pendanaan, dan kelembagaan.

Soal nama tim itu sendiri, saya melihat beberapa hal yang unik.

  • Penanggulangan:
    • JS Badudu menyamakan “tanggulang” atau “menanggulangi” dengan”mengatasi”.
    • Selanjutnya, “mengatasi” bisa berarti: 1) melebihi, 2) menanggulangi, 3) ada di atas, 4) mengalahkan.
  • Kemiskinan:
    • Cap miskin menjadi semacam propaganda yang diberikan negara maju kepada negara berkembang (baca: bukan negara miskin). Tak akan pernah ada yang menempatkan kata “menanggulangi” di depan “negara berkembang”.
    • Bayangkan juga begini: seorang konglomerat terlibat BLBI pun bisa dibilang miskin karena utangnya lebih banyak dari aset, tapi ia masih mampu dinner di Hotel Mulia seminggu tujuh kali.
    • Artinya: kata “kemiskinan” adalah kata yang absurd untuk menjadi obyek sebuah program kerja.
  • Mari kita rangkaikan:
    • Jika “penanggulangan” berarti “ada di atas” bisa membuat frasa lucu: “ada di atas kemiskinan”.
    • Jika kata “penanggulangan” berarti “melebihi”, kita akan semakin tertawa: apa yang lebih enak dari kemiskinan yang berlebih?
    • Apalagi jika kita pakai “mengalahkan” sehingga menjadi “mengalahkan kemiskinan”. Mengapa memperlakukan suatu yang abstrak sebagai musuh?

Selain frasa “penanggulangan kemiskinan” itu adalah satu hal yang absurd dan tidak fokus, marilah kita melihat sesungguhnya soal fokus kerja tim ini:

  • Urutan pertama adalah “pendataan” (yang berarti pengumpulan informasi siapa saja yang layak diberdayakan atau diberi dana);
  • Selanjutnya “pendanaan” (sesungguhnya berarti “mengatur arus dana” atau istilah tim “pengarusutamaan” ke daerah atau pihak-pihak yang membutuhkan);
  • Terakhir adalah “kelembagaan” (yang berarti pemberdayaan lembaga).

Proses manajemen modern mengenal detail “pendanaan” sebagai pokok bahasan terakhir. Istilah “pengarusutamaan” dana juga apakah berasal dari frasa “arus utama” atau “main stream”. Sesungguhnya kamus umum JS Badudu tidak mengenal satu frasa khusus “arus utama”, karena “arus utama” merupakan dua kata terpisah. Repot ya?

Usul saya, daripada membuat sebuah tim koordinasi yang terdiri dari berbagai departemen yang menghabiskan anggaran rakyat (catatan: pembentukan tim ini berarti ada keputusan presiden, yang berarti juga kompensasi dana tambahan untuk operasional kerja), lebih baik membentuk badan yang:

1. Langsing dan fokus agar anggaran negara pun tidak terbuang percuma.

2. Berpikir positif: gunakan kata “produktivitas”, karena seperti mengajarkan anak akan kebaikan, “Ayo makan yang banyak, mari kita cari makan lebih banyak juga.” lebih baik daripada mencekoki dengan celaan “Oi, kamu ‘kan miskin, jadi mau makan apa?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 16, 2008 in bahasa, language, poverty, productivity, public policy