Arsip Kategori: lifestyle

Hibernated, Prioritized

Writing and reading. Yes, I got kinda fed up with the bling-bling lifeĀ  that I cannot cooped up with. The thrill was something, but the reward was nothing. I could have written more, done something else for any good deeds or causes. For a week of “reclining ’em all”, I have finished writing another non fiction book with so so so tiresome (but satisfactorily wholesome) of deep research. What I love about writing is that I could onnect the loose ends, connecting those dots into something VOILA! I thought so, too! Or, ach so, I did not expect that…

The thrill is not for me. It is for others’ sake. I could confirm and conform them with new data, outrageous thoughts. But now, I must get out and meet some old buddies. Recharging after hibernating for a not-going-out-no-makeup-nor-dressup week is something. Yes, I only have few trustworthy, my-life-at-stake-trusted friends, and I always look forward to meeting those valuable friends. I keep them for keeping my life on track. Priority friends, see you tonite!

Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 13, 2016 in friendship, introvert, lifestyle, public policy, trusts


My Old Article (4): Krisdayanti joins famous people by building her personal website


JAKARTA (JP): She sings well, dresses elegantly and also knows how to act. Krisdayanti is probably an Indonesian 21st century icon. And yes, she is on the Net, too, with her “”still-under-construction”” personal website. Check out if you are curious.

Often, a site with a domain name that uses one’s own name, personal site for short, is sometimes not established by the owner of the name. It could be established by a fan or a group of fans. The beautiful Malaysian singer Siti Nurhaliza, for example, has a site ( established by a geek fan.

The site was constructed by young people who had met or adored the deceased Timothy Leary. He was the fascinating ex-Harvard lecturer who wrote Chaos and Cyberculture and whose ashes were scattered in outer space.

The site was picked as the Net’s Best Site in 1996. By that time, there were not so many marvelous web designs: no sound, no video and no Flash technology. Flash, by Macromedia ( for a free software download), creates animated vector-based websites.

Speaking of Flash technology, there is one local personal site supported by Flash: a site set up by techno-fiend media mogul Peter F. Gontha (

Okay, Krisdayanti and Siti Nurhaliza are pretty. Leary was a guru who envisioned cyberspace far before the Internet hype took root in the 1990s. If a businessman as great as Peter Fritz Gontha establishes his personal site with amazing vision, does this mean that he really keeps track of new technology in all media?

To find the answer, I logged onto With the so-called sophisticated Flash technology, I had to stare at a very long and boring “”loading”” tag. After that, I registered in out of curiosity. Unfortunately, nothing happened when I logged in again after registration. Ah, this is either a ghost site, a website that is no longer maintained but that remains available for viewing, or the owner just wants to keep the domain name. No vision yet.

Get a domain name

There are two ways to get a personal site. You can purchase a domain name (see, or you can join a provider of free space, (e.g. Gontha’s site takes the first route. Many recreational users take the second.

Joining the second group, I used to have one at before bought Soon afterward, there were none. By the way, it was really fun designing, typing and posting it. For someone like me — who cannot sing beautifully or envision the Net radically — I needed to give an intro of who I was. I pasted up a picture of myself. I also mentioned what I liked and did not like.

I really felt great about it until one day a friend of mine stopped by my site. He was a computer nerd who lived in San Francisco, USA. He said, “”It’s too naive””. I didn’t understand at the time. As I found out more about Internet security and privacy, I began to understand. I was just too naive to type my real name, age and address. This could be critical.

Back when there was only a small number of people logging onto the Net, online crime and information abuse was zilch. Today, even a college student like Steven Haryanto can say “”nothing personal”” explaining his dubious sites (e.g.,, and so forth) that snared customers who mistyped Bank Central Asia (BCA)’s web address The crime stops there though: he did not take advantage of people who mistakenly typed in their passwords. BCA accepted an apology before the matter was sent to court.

Madonna has fought for her domain name in court. The last time I logged in, her site was a retired or invisible site (one which doesn’t exist anymore and results in a “”not found”” message when you type the address). Her domain name is her trademark. She has, of course, many bodyguards to protect her privacy.

Personal sites

You may want to look around for personal sites in your leisure time. There are millions of other personal sites you can look at besides the ones I mentioned above. Log in to and click “”members”” to view some. Or click geocities, which is owned by yahoo, for a browse. You may want to check out some other search engines, too.

Alternatively, you can randomly type in anyone’s name with .com or .net, for example, which is not mine. Sometimes, typing a name may lead to a different site than the one I expected to find. I typed to find out more about Bill Clinton, yet I found a registered investment advisor firm.

If you are interested in having your own personal site, please consider some rules. Rule No. 1: know how to design well and efficiently. Let the visitors enjoy it page by page. A bit of knowledge about web technology is Rule No. 2. Actually you can upload anything with a simple program like Microsoft Word. Last of all, Rule No. 3: beware of what and how to reveal information about yourself on the web. See but not touch. Touch but … keep it for yourself. It can be a cruel cyberworld out there.

Famous sites

Local: (Peter F. Gontha), (Tya Subiakto),, (Anggun C. Sasmi),,

Overseas:, (Timothy Leary),,

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, July 29 2001, 7:03 AM


Tag: , , , , , , , , , ,

Produk Iklan Langgar Etika?

Hari ini di halaman 14 Kompas diberitakan promosi doktor di Jurusan Ilmu Filsafat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Disimpulkan oleh sang doktor baru Thomas Noach Peea itu begini, “Asosiasi [P3I] inilah yang nantinya memonitor praktik bisnis iklan dan memberi sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran dan kerugian yang ditimbulkannya.”

Sebelumnya saya membaca tulisan Pak Budiarto Shambazy “Geleng dan Angguk Kepala” di halaman sebelumnya. Saya terbiasa membuka koran halaman 1, lalu halaman terakhir soal tokoh, kemudian membuka halaman dari belakang. Tidak penting tapi ini ritual saya setiap pagi membaca koran yang seharusnya disurvei sebuah media massa untuk penentuan prioritas isi. Penempatan isi media kemudian yang bisa mengarahkan para pengiklan membuat strategi pemasaran produk dan jasanya. Ini adalah proses satu nafas sejak saya membaca halaman 1 sebuah koran di pagi hari.

Membaca kolom Pak Baz itu saya ikut menggangguk dan menggeleng. Kembali saya bertanya, demokratisasi apa yang Indonesia anut? Demokratisasi asal cangkem saja? Lalu saya meloncat (quantum leap?), apakah memang program glontor S2 dan S3 di UI ini juga tidak menganut pakem “riset benar hingga ke titik permasalahan”?


Saya kemudian mengangguk. P3I sudah memiliki kode etik yang diperbaharui hampir tiga tahun lalu. Kebetulan saya bersama Bang Ade Armando dan Pak Victor Menayang pernah ikut urun rembug dalam proses revisi itu bersama P3I di era Pak RTS Masli. Permasalahan sesungguhnya bukanlah “tak ada penegakan sanksi” bagi pengiklan yang nakal. Permasalahannya adalah tak semua biro iklan di negeri ini adalah anggota P3I, dan tak semua yang beriklan itu melalui biro iklan (alias dari produsen kripik, misalnya, langsung ke rumah produksi untuk membuat materi iklan TV dan ke stasiun televisi untuk proses media buying). Jika anggota P3I diberi sanksi, mengapa yang bukan anggota tidak diberi sanksi? Di mana peran KPI dan Depkominfo? Riuh rendah ini membentuk kegagalan pasar yang kronis (baca: government failure).

Hal kedua membuat saya menggeleng kepala, yaitu masalah “melanggar etika” secara mendasar. Pak Peea menekankan masalah kejahatan simbolik. Secara pribadi malah berpikir etika media adalah given process in a society. Mau media panggung, koran ataupun internet (seperti blog saya ini), semua memiliki etika yang berproses. Nilai-nilai kebaikan universal tetap ada, dan nilai-nilai kejahatan (seperti korupsi yang membuat tulisan Pak Baz kian menggigit) juga tetap hidup. Keduanya tak bisa dilihat dalam dua nafas berbeda.

Selain itu, jika Pak Peea berpikir media dan produk turunannya sebagai sebuah proses kejahatan, lucunya Gereja Vatikan malah melihat “[viewing] the media as ‘gifts of God’ which, in accordance with his providential design, bring people together and ‘help them to cooperate with his plan for their salvation’.”

Sanksi terhadap iklan tak beretika sudah dijalankan bagi anggota P3I. Bahkan telah ada Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) yang diwajibkan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Telah lama ada tapi tak efisien atau tak terdengar fungsinya karena banyak hal. Masalahnya–mengutip gerutu Pak Baz pagi ini–penegak hukum negeri ini hanya mampu bilang, “Sabar saja dulu, besok saya berikan sanksi.” Besok itu berarti “hingga waktu tak terhingga”?


SeMaNTic wEb: Give Meaning To My Anonimity?

Suatu hari kita bisa meng-update blog melalui telepon selular dengan harga lebih murah dari hari ini.
Suatu hari kita akan mengakses internet di mana saja dan dalam durasi waktu lebih banyak daripada jam tidur.
Suatu hari kita bisa men-download satu file 90 menit film Nenek Grondong Siang Bolong hanya 15 menit.

Pic: Nova Spivack & Radar Network

Suatu hari itu adalah di saat Departemen Komunikasi (communication? k-myn-kshn) dan Informatika (informatics? nfr-mtks) sudah selesai bertugas sebagai leading sector of Palapa Ring dan (utamanya) opsi routing-backbone. Setelah gempa Taiwan tempo hari, proyek-proyek megadolar ini adalah langkah antisipasi arus internet macet.

Kembali ke semantic web, tak hanya sebuah mekanisme jaringan yang “bisa mengerti” secara teknis tapi juga secara manusiawi. Manusiawi? Di tengah belantara data yang kian hari kian menggunung, tak setiap orang memiliki keahlian meng-google dengan baik. Eric Schmidt (CEO dari Google) memprediksi bahwa satu hari (secepatnya):

  • aplikasi akan semakin kecil, data akan berada di satu kelompok tertentu,
  • aplikasi itu bisa dipakai di alat apa saja, PC atau telepon selular,
  • aplikasi itu sangat sangat cepat dan dapat disesuaikan (customizable),
  • aplikasi tersebut didistribusikan ibarat virus (viral distribution)
  • kita semua tak harus pergi ke toko dan membeli semua hal.

Lalu di mana manusiawinya web semantik ini? Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari “arti” dari setiap ungkapan (kata, kalimat, gerak tubuh, dan seterusnya). Sehingga yang terjadi dengan web masa depan (sooner than you thought!) adalah web yang mengenali identitas kita (OpenID dan ClamID) untuk memproses setiap langkah (klik). Contoh mudah adalah AdSense, tapi kemudian di web semantik semua keinginan kita (mulai penerapan password hingga kebutuhan informasi yang ingin kita baca setiap hari) akan direkam dan diproses otomatis. Setiap orang memiliki unique ID (seperti memberi nomor ke setiap kening kita) sehingga di setiap klik kita hanya mendapatkan informasi yang kita inginkan saja.

Web semantik ini secara manusiawi memudahkan langkah-langkah mencari informasi hingga bertransaksi dari meja kita ke ujung dunia manapun. Still people talk to people, machines talk to machines, masalah keamanan adalah hal krusial di sini. Anonimity? No, this is not my most favourite sin.


Wiki This!



Hari ini, hakim federal di San Fransisco, Amerika Serikat memutuskan penutupan hosting Wikileaks di Amerika Serikat, sehingga semua penyedia nama domain di sana seperti Dynadot, and harus memblokir domain ini. Yang terjadi adalah alamat tidak dapat diakses “dari depan” (from front door) tapi bisa melalui (Belgia) atau (Jerman) atau (Pulau Natal) atau alamat IP di atas yang langsung dialihkan ke mirror site.

Media sosial (social media) adalah cabang termutakhir dari kehidupan jurnalisme. Jimmy Wales (aka Jimbo, penggagas Wikipedia) menegaskan bahwa penulisan Wiki adalah bentuk dari segala pakem pemerintahan:

  • anarki: semua orang bisa melakukan apapun,
  • demokrasi: keputusan dilakukan dengan voting,
  • meritokrasi: ide terbaiklah yang menang, diputuskan karena netral dan informatif,
  • aristokrasi: orang yang paling lama berkutat di Wikipedia adalah orang yang paling didengar, dan
  • monarki: jika semua gagal, Jimmy Waleslah yang paling berkuasa.

Bentuk Jurnalisme Wiki ini tak hanya Wikipedia. Jurnalisme Wiki bisa juga ditemui dalam format “tulisan atau dokumen bocoran” dari berbagai institusi. Format bocoran informasi ini bisa ditemui di situs Wikileaks yang dirintis oleh James Chen (another Jimbo?) dan beberapa orang lain yang membelot dari China, Tibet, dan Rusia. Mereka juga dibantu oleh ahli di bidang jurnalisme, matematika dan komputer dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia dan Afrika Selatan. Keunikan Wikileaks adalah narasumber yang biasa dikenal dengan istilah whistleblower. Salah satu kasus whistleblower yang dimuat oleh Harian Guardian, Inggris memuat kasus korupsi dan pencucian uang di Kenya yang bocoran dokumennya diperoleh dari Wikileaks.

Jurnalisme Wiki adalah common-based media journalism atau jurnalisme oleh orang awam (commoners) dan di media siapa saja. Jurnalisme jenis ini mungkin dihentikan oleh otoritas di satu teritori, tapi hukum satu negara tidak ekstrateritorial. Dihentikan di San Fransisco, masih bisa berdiri di tempat lain. Yang terjadi kemudian adalah bagaimana otoritas di setiap teritori (baca: penegak hukum satu negara) akhirnya harus menempatkan diri dan mengambil manfaat dari gaya jurnalisme ini. Otoritas akhirnya bisa melakukan pemantauan korupsi atau kejahatan setiap institusi di dalam negaranya.

Terakhir, akurasi adalah segalanya. Bagi jurnalis media apapun hari ini juga bagi pembaca media apapun (seperti saya) yang terpenting adalah akurasi Jurnalisme Wiki. Mungkin akurasi Webster atau Britannica lebih baik, namun informasi yang disediakan Wikipedia atau Wikileaks adalah awal dari rasa ingin tahu akan apapun secara mudah dan murah. There’s always a start for a curious cat like me.