RSS

Arsip Kategori: media

Reputation Management


Agak lucu rasanya temuan saya malam ini. Ternyata apa yang saya pikirkan tentang manajemen reputasi, terutama perihal istilah yang saya kenal kemarin, yang berbeda dengan istilah ‘online’. Selama ini yang saya tahu memang reputasi itu dibangun bertahun-tahun dan bisa dihancurkan dalam satu kali kejadian krisis. Ibaratnya, rusak susu sebelanga karena nila (racun) setitik.

Ternyata di dunia maya, istilah manajemen reputasi ini adalah bagaimana Anda membangun [reputasi] bisnis agar dikenal oleh mesin pencari Google, misalnya. SEO, search engine optimization, istilah kerennya. Jadi kalau yang di atas itu bagaimana menghindari hal buruk, nah kalau dunia maya hanya “mengenal yang baik-baik” agar dapurnya ngebul terus.

Saya tak suka dengan gambar klip video di bawah ini, seperti ada tombak muncul dari ubun-ubunnya; tapi ucapannya cukup membantu saya belajar lebih jauh tentang dunia maya ini. Selamat belajar, teman.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 27, 2008 in business, media

 

Spectrum Management


Saya baru saja ditelepon seorang kawan dari sebuah majalah ekonomi untuk sebuah opini menjelang tidur. Karena topiknya seksi. izin penyiaran, saya tak jadi tidur. Sekarang malah larut dalam membaca tulisan-tulisan di Ofcom (Office of Communication), kiblat saya untuk sebuah good governance terkait pengaturan infrastruktur komunikasi (penyiaran ada di dalamnya).

Saya tak mau beberkan isi telepon tadi, silakan baca majalahnya kalau keluar nanti. Malam ini saya mau membahas regulasi Ofcom terkait manajemen spektrum frekuensi, yang dikenal dengan nama command and control. Ofcom telah menerapkan regulasi spektrum yang top-down ini selama 100 tahun terakhir. Dengan perkembangan kebutuhan versus penggunaan, yang juga terkait hal isi siaran (bahkan teleponi pun telah menjajakan jualan audio videonya dengan gencar), pengaturan Ofcom ini diubah. Mekanisme pasar akan lebih ditekankan menjelang tahun 2010.

We believe that market forces should be allowed to prevail where this is in the best interests of citizens and consumers. This is based on the belief that firms have the best knowledge of their own costs and preferences and a strong incentive to respond to market signals and put resources to their best possible use (Ofcom, Spectrum Framework Review, 2004).

Liberalisasi manajemen spektrum ini menawarkan dua mekanisme:

  • Pertama: berdasarkan variasi izin untuk menerapkan perubahan yang diminta oleh pengguna/pemohon. Ofcom akan mempertimbangkan berdasarkan kewajiban yang telah pemohon lakukan selama beberapa waktu terakhir. Jika baik, Ofcom akan mempertimbangkan apakah permintaan ini akan mengganggu atau tidak mengganggu pengguna lain.
  • Kedua mekanisme yang ditawarkan Ofcom untuk berbagai macam izin yang telah ada adalah dengan mewajibkan mereka tidak menggunakan dengan percuma (tidak siaran, atau kadang siaran kadang mati) serta tidak menggunakan standar teknologi tertentu/minoritas. Hal ini akan mendorong pengguna spektrum mengubah pemakaiannya tanpa harus memberitahukan Ofcom. Ofcom telah mendata semua untuk penerapan tahun 2005. Banyak hal teknis yang harus diatur pada akhirnya, jika pengguna ingin menjalani mekanisme ini.

Menarik ya?

Tapi saya sudah mulai mengantuk. Saya simpan dulu file pdf ini (klik sini untuk mengunduh). Selamat istirahat.

 

A different view now


Ten years ago
sales ppl/marketers used to do for a living is yell at strangers
that we would buy tv commercials
hope that strangers are sought
and if enough strangers are sought
they would send us money
we’d rent a phone lister
send her sales people out
call on purchasing agents
and if call on enough  purchasing agents
we’d sell stuff
and that’s what we did for a hundred years
then the web came along

— Seth Godin —

***

Applications are pieced together, in a number of characteristics:
– applications are relatively small, – data in the cloud
– applications can run on any device pc or mobile phone
– applications are fast and very customizable
– applications are distributed virally, by social networks, by email (won’t go to store and purchase them)
Solves a lot of problems and works everywhere…

— Eric Schmidt —

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2008 in marketing, media, seth godin

 

Etika


Aristotle: Virtue lies at the mean between two extremes.

Kant: Technologies often served in the process of drive-control the training of human faculties overcoming immaturity.

Hegel: Norms followed in everyday behavior.

(klik sini untuk bagan dilema etika)

***

“Johntw” seorang pewarta warga (istilah detikcom) melaporkan rumor Steve Jobs terkena serangan jantung, sehingga saham Apple Inc. (AAPL) di bursa turun drastis 10% Jumat lalu (klik sini untuk beritanya).

Sarah Palin dicurigai menggunakan alat pembisik mutakhir saat debat cawapres, seperti dianalisis blogger kritis saat melihat video di CNN (klik sini).

Memberitakan seorang Mayangsari pun menjadi penting untuk melihat manfaatnya bagi kemaslahatan publik. Apakah penting membela first wives’ club ataukah tak ada materi lain yang bisa mencerdaskan ibu-ibu di rumah?

Memberitakan dengan hati nurani adalah pekerjaan tidak mudah, pada akhirnya. Sissela Bok pernah membuat model simplifikasi dengan tiga pertanyaan. Tanyakan ketiga pertanyaan ini pada diri sendiri sebelum membuat sebuah tulisan (yang membohongi diri dan orang banyak atau tidak).

1. Apa yang saya rasakan jika saya menulis tentang perilaku Steve Jobs, Sarah Palin, atau Mayangsari? Jika amarah yang menjadi porsi terbesarnya, tulisan saya tentu bukan menjadi tulisan yang mencerahkan banyak orang. Apa rasanya menyebarkan kebencian atau panik?

2. Adakah cara lain untuk melihat angle perilaku setiap obyek tulisan saya? Adakah sumber terpercaya lain yang bisa dimintakan pendapat dan pandangannya?

3. Apakah tulisan saya ini akan mengganggu atau mencerahkan pembaca tulisan saya?

Dialog-dialog dalam diri saya sebelum menulis terjadi setiap saat saya melihat satu kejadian yang menggelitik. Etika ada dalam proses (means) juga hasil akhir tulisan-tulisan saya (ends). Bahkan John Stuart Mill menekankan bahwa akibat dari sebuah tindakan menjadi satu hal terpenting untuk menentukan apakah saya etis atau tidak.

Saat saya membaca tulisan Oom Bas di Kompas, yang sepertinya pro-Obama, saya tidak tergerak untuk menulis tentang Sarah Palin, walau sama-sama perempuan. Heck, saya tak tahu (dan tak mau tahu) latar belakang dirinya. Selain tergelitik dengan nucular dan new-clear (klik sini) saya juga tergerak menulis saat membaca tulisan tentang (kecurigaan) pemasangan perangkat halus saat debat cawapres yang menaikkan rating Sarah Palin sedikit (walau tetap pasangan Obama-Biden masih di atas 50%). Saya juga tak peduli Steve Jobs, kecuali cara berpakaiannya yang tak berubah dari hari ke hari (turtle neck hitam dan jeans biru). Saya melihat fenomena Mayangsari adalah fenomena CUK (istilah Mas Arswendo) yaitu Cinta, Uang, Kekuasaan, yang selalu menarik diangkat dalam bentuk media apapun (panggung, radio, TV, hingga forum diskusi internet).

veracreative.com

Apapun tulisan saya, saya berharap setiap pembaca tulisan saya bisa mendapat pencerahan, mulai sekadar informasi hingga ide yang membuat hal lain yang mencerahkan komunitasnya.

Semoga.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 5, 2008 in ethics, media, media ethics, palin-biden debate

 

MNC di AsiaSat S3


Malam ini saya mau titip salam kenal buat kawan yang ingin mengetahui saluran MNC di satelit AsiaSat S3. Apakah yang dimaksud “mnc” dalam arti luas “multinational corporation”, atau MNC alias Media Nusantara Citra; jika MNC yang terakhir ini, yang merupakan unit dari Global Mediacom, hingga hari ini sih belum terdaftar di jajaran penyewa AsiaSat S3. Ada memang Sun TV, tapi beralamat China, satu negara yang menjadi incaran ekspansi Global Mediacom AKA Bimantara Citra, saudara sepupu dari Bhakti Investama. Memang melalui satu unit di bawah MNC, Global Mediacom telah membeli outstanding share dari perusahaan telekomunikasi di China, Linktone Ltd. yang juga merupakan penyedia media interaktif. Linktone juga merupakan biro iklan eksklusif dan penyedia isi bagi Qinghai Satellite Television, sebuah saluran TV via satelit yang bisa ditangkap di 24 provinsi dengan total penonton 276 juta. Nah, Qinghai ini memang diuplink ke satelit AsiaSat S3 juga. Jadi, kesimpulannya: bukan MNC langsung ya?

Anyway…

Bangga juga ada pengusaha Indonesia yang bisa mengayuh perahunya sejauh China. Asal tidak ada cuci-cuci uang, saya mah angkat kepalan tangan saya (bukan topi, karena enggak suka pakai topi sih) buat Global Mediacom.

***

Kapasitas dan cakupan footprint AsiaSat S3 itu cukup besar, maklum milik General Electric dan Citic. GE adalah konglomerat Amerika Serikat yang punya GE Commercial Finance, GE Industrial, GE Infrastructure (termasuk GE Aviation dan bekas Smiths Aerospace), GE Consumer Finance, GE Healthcare, dan NBC Universal, usaha bisnis hiburan (wikipedia). Sedangkan Citic (China International Trust and Investment Company) merupakan BUMN Pemerintah China.

Beberapa saluran di dalam AsiaSat S3 adalah sebagai berikut: China Entertainment TV, China Entertainment TV 2, Maharishi Veda Vision, Zee Network, Channel NewsAsia, Radio Singapore International, BTV World, TVB 8, Celestial Movies, Celestial Classic Movies, Azio TV Asia, Fashion TV Hong Kong & Asia, Aaj TV, Arirang Arab, NOW, Bloomberg TV Asia-Pacific, Russia Today, MTA International, Al Jazeera English, Supreme Master TV, TV 5 Monde Asie, Eurosport Asia, Eurosport News, IRINN, Amouzesh TV Network, IRIB Quran, Jame-Jam TV Network 3, Press TV, Sahar, IRIB Radio 1, Radio Payam, Radio Javan, Radio Maaref, Radio Farhang, Sedaye Ashena, Radio Varzesh, Radio Quran (Iran), Radio Yazd, Radio Sistan Balochestan, Phoenix InfoNews Channel, Kerman TV, Khalij Fars TV, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Noor TV (Afghanistan), Tamadon TV, PBC Larkana, Radio Pakistan, Sun TV (China), PTV Global, PTV Global, TVB, TVB Xing He, MATV, Horizon Channel, PTV National, PTV Home, Radio Pakistan, Zee Network, Zee Muzic Asia, Zee Smile, Geo TV Network… pokoknya cukup heboh!

 

Matinya Televisi Terestrial: TVRI 4.1?


Judul ini saya tak suka, karena tak ada media yang mati; hanya fungsinya menjadi obsolete alias kadaluwarsa. Pager dan teleks adalah dua media berkomunikasi yang fungsinya diperbaharui oleh telepon selular dan mesin faks. Jangan tanya jika mengirim faks ternyata tak lagi sepraktis mengirim email dengan 45 Mb lampirannya (attachment). Jangan tanya lagi kalau nanti mengirim lampiran itu juga tak lagi nyaman karena file-sharing sudah menjadi bagian berinternet-ria kelak. “Hey, buka saja slideshare dot sekian sekian, bahan presentasi saya ada di sana semua.”

Baik, kembali ke televisi terestrial.

Lativi berubah jaket menjadi TVOne mengikuti nama pemiliknya, lalu terpolarisasi dengan stasiun televisi terestrial lain. Beware, integrasi horizontal televisi-televisinya harus diterjemahkan ke dalam visi yang lebih dari sekadar hari ini. Beware, buatlah model bisnis yang lebih integral. Beware, restrukturisasilah semua aset (program on air ataupun bukan) dalam sebuah pemikiran multi-fungsi vertikal, tak hanya horizontal. Tak bisa tidak, polarisasi ini tak boleh hanya mengecilkan biaya operasional (efisiensi) tanpa memikirkan integrated profit.

Peta persaingan televisi terestrial di Jakarta sudah jelas terbaca. Di tengah riuh-rendah televisi baru yang lahir dari semangat lokal atau sekadar kocek berlebih, sesungguhnya pemainnya tak lebih dari lima saja. Kembali ke zaman RCTI baru muncul. Bedanya memang hari ini ada puluhan biro iklan dan talent agency serta ratusan talent itu.

Era pertama (1.0) adalah saat TVRI (bersama RRI) menguasai angkasa negeri ini.

Era kedua (2.0) adalah saat RCTI, SCTV, TPI, ANTV dan Indosiar turut meramaikan dunia penyiaran Indonesia.

Era ketiga (3.0) adalah saat Metro TV, Lativi (AKA TVOne), Global TV, TV7 (AKA Trans7) dan TransTV turut memperkeruh kolam persaingan televisi terestrial.

Era hari ini (4.0) adalah saat TV lokal menyerbu di daerah-daerah (bahkan di Jakarta) yang kemudian turut terpolarisasi secara alamiah.

Era 4.1? This is the diminishing return era. Bend a little one way or the other. Leave your mind open to discover. Or soon you’ll be gone.

Semua stasiun televisi terestrial (menggunakan frekuensi UHF atau VHF untuk bersiaran) tidak akan mati, tapi akan menyesuaikan diri. Saat ini saya lebih menyukai YouTube untuk memanjakan mata dan telinga. Hari ini juga CBS dan NBC sudah goes online dan memungut biaya untuk menjual programnya serialnya yang jadoel seperti Star Trek ataupun serial terbarunya The Office. “The [Office] episode attracted a broadcast audience of 9.7 million people, according to Nielsen Media Research. It was also streamed from the Web 2.7 million times in one week…” A chunk of content of a big streaming buck, you bet!

ist2_3001428_green_media_icons.jpg

Saya bukan penonton yang tergantung dengan remote control lagi. Saya adalah penguasa atas apa yang mau saya tonton. Jutaan tontonan, saya tinggal google saja. Ya toh?

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2008 in business, e-commerce, global industry, media

 

Baca semua in inglish plis…


Pernah menonton film Groundhog Day (1993, Bill Murray dan Andie McDowell)? Atau klip video Craig David “Seven Days”? Tentu semuanya dalam Bahasa Inggris. Jika seorang bisa mengulang satu hari berkali-kali untuk menyempurnakan kesalahan, mungkin saya adalah orang yang pertama kali mendaftar. Terkesan tidak mensyukuri diri sendiri? Tidak juga, titik awal yang ingin saya perbaiki hanya satu: saat satelit Palapa mengangkasa. Loh kok?

bill-gates-neil-postman.jpg

Sebagai satu pipa saluran informasi, Palapa yang pertama adalah satelit yang “membawa Indonesia mengangkasa”. Sejak itu angkasa di atas khatulistiwa negeri ini sungguh padat merayap oleh satelit negara lain. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah lagi “belajar bahasa Inggris” untuk membaca peraturan International Telecommunications Union (ITU), sehingga tertinggal jauh dengan negara tetangga yang anggota Commonwealth itu. Orang Indonesia juga tak banyak membaca buku teks ilmu yang sayangnya banyak ditulis oleh pemikir-pemikir bule. Salah duanya adalah Postman dan Gates. Check this out:

***

Saya hendak mengawali dengan frasa: “The Age of Reason” yang merupakan titik usia seorang manusia dianggap berakal. Saya tak ingin mengangkat tulisan Sartre yang mendebat soal gereja yang corrupted atau masalah mendasar tentang agama dan kepercayaan manusia. Istilah age of reason ini terkait dengan media. Sebelum alat cetak Gutenberg mendunia, tak banyak lukisan maestro yang menggambarkan anak kecil karena usia 7 tahun telah dianggap sebagai manusia dewasa. Mereka tak lagi menjadi obyek lucu atau indah untuk dilukis. Selanjutnya, usia anak yang dianggap berakal naik menjadi 13-14 tahun karena harus membaca dan mengerti isi bacaannya.

Televisi kemudian hadir. Semua bacaan jadi visual dan bergerak. Dengan adanya program televisi “triple X” kemudian usia anak dewasa naik lagi menjadi 18. Apakah kemudian angka ini naik terus? Tidak juga. Karena literasi anak terhadap media bisa saja berubah.

Yang kemudian menjadi menarik adalah pergerakan “mesin” itu sendiri. Televisi berwarna ditemukan dan ditakuti banyak orang akan menggantikan radio dan koran. Sayangnya, hal ini tak terjadi. Saat jaringan internet dan konvergensi digital menjadi matang, televisi juga tidak mati. This is The Age of Reasoning, by the way. Berpikir (reasoning) tak henti.

Tak ada media mati, tapi hanya bergeser fungsinya dan berganti model bisnisnya. Platform media bisa berubah, pipa salurannya juga bergerak terus. Dari satu “bentuk” media ke “bentuk” lain, ada teknologi yang mendorong “pembentukannya”. Temuan teknologi adalah proses S-Curve bersambut S-Curve yang lain.

ti-pol2.gif

Di saat Bill Gates salah memprediksi (640K for every PC is enough?), Neil Postman (1931-2003) secara bijak malah memberikan perenungan bagi kita semua:

“… technological change is always a Faustian bargain: Technology giveth and technology taketh away, and not always in equal measure. A new technology sometimes creates more than it destroys. Sometimes, it destroys more than it creates. But it is never one-sided.”

Dari dasar pemikiran ini, tak semua insinyur harus menjadi tukang, bukan? Ada beberapa bacaan singkat (sebelum semua buku Neil Postman diterjemahkan ke Bahasa Indonesia?) yang bisa diakses untuk memahami teknologi dari kacamata yang lebih besar (klik di sini). “Lihat keluar jendela kereta, kita bisa berlari bersama pepohonan. Bandingkan saat kita hanya duduk memperhatikan pinggiran jendela kereta: pepohonan berlari kencang di luar sana” (Albert Einstein). In English, please.