RSS

Arsip Kategori: news

When in doubt, challenge the strategy, not the tactics


Malam ini saya belajar lagi dari blog Seth Godin (klik sini). Kalimat ini berlaku saat sebuah korporasi bingung menetapkan format iklan untuk sebuah kampanye. Skala mengkritisi brosur seperti yang disampaikan Seth Godin ini berlaku antara “great!” lalu “cuma ganti ukuran font…” hingga “untuk apa membuat brosur?”. Sejenak memang Seth Godin bisa memberikan pencerahan atas tindakan korporasi ini. Saya malah melihat “beyond advertising strategy” yang bernilai komersial. It is beyond that.

Terkadang kita melihat sebuah kampanye iklan itu dalam kerangka detail, hingga satu eksekutif bisa bertengkar hebat dengan eksekutif lain tanpa akhir. Saya pernah duduk di satu rapat yang cukup produktif menghasilkan detail kampanye iklan (waktu itu kami mau merumuskan tagline bagi Liputan 6 yang baru lahir).  Mbak Indrit, waktu itu direktur operasional, dengan cantik dan renyah mengarahkan kami memikirkan tagline itu. “Ayo kita urutkan bahasa Inggrisnya dulu, nanti kita cari bahasa Indonesia-nya”, keluar dari bibir Mbak Indrit yang lulusan Boston University itu. Dari arahan yang sangat sederhana itu, kami bisa menghasilkan tagline “Aktual, Tajam, Terpercaya” yang masih digunakan hingga hari ini, sudah lebih dari 16 tahun lamanya.

Disalib oleh Metro TV yang melulu menayang program berita, lalu hari ini oleh TVOne, SCTV kemudian harus berpikir ulang untuk mempertahankan program beritanya. Tak sekadar memindah jam tayang lebih awal atau mengganti setting studionya. Secara sederhana saya melihat persaingan news source dalam sebuah manajemen stasiun televisi (terutama yang memiliki tiang pemancar di banyak provinsi) ada dalam kajian kompetisi yang sehat:

1. Metro TV tak lagi memonopoli berita, walau telah mendominasi dengan berbagai format dan kerjasama. Satu rumor internal menyatakan program “Kick Andy” adalah program filantropis sang pemilik TV, karena terbukti setiap tayang program ini bleeding, tak bisa menghasilkan profit. Program pencitraan ini menjadi penting dipertahankan Metro TV agar tetap berdiri dengan tegak melawan head to head dengan TVOne.

2. Sejak berubah nama karena berubah kepemilikan (heck, another point to discuss later!), TVOne juga tak lagi berniat menjadi TV olahraga. Satu hal pasti, membeli hak siar Liga Inggris atau liga-liga terbaik dunia adalah mahal. Memproduksi berita, dengan kesiapan infrastruktur di setiap daerah, tentu lebih menguntungkan. Jika telah membuat format yang menarik perhatian, seperti Tina Talissa yang mengingatkan saya dengan gaya Ira Koesno waktu itu, TVOne kemudian mencuri porsi pemangsa berita di malam hari dari Metro TV.

3. Bagaimana dengan SCTV yang masih berkutat dengan “all-you-can-watch TV station”? Percayalah bahwa “Liputan 6” sudah menjadi merek sama kuatnya dengan “Headline News”, namun saya pribadi lebih menunggu update berita setiap jam dari Metro TV daripada sekadar duduk di sore hari menonton Liputan 6 secara penuh. Apakah SCTV akan mengubah strateginya, mengikuti dua TV berita di atas, ataukah akan membuat terobosan lain sebagai televisi dengan tayangan segala rupa?

Not so fast, kita lihat dulu beberapa latar belakang sebuah stasiun TV.

Kembali ke Seth Godin dan frasa yang dituturkan di artikelnya (lihat judul di atas), saya kemudian melihat bahwa ada beberapa hal jika ingin menilai stasiun televisi berita yang baik:

1. Skala ekonomi dan cakupan ekonomi dari pengumpulan dan pendistribusian berita yang bisa menekan biaya produksi di daerah-daerah hingga meningkatkan akses ke berita internasional;

2. Akses untuk manajemen berita yang lebih baik (dari luar negeri dan media lain) serta talenta terbaik (seperti jurnalis dan presenter andal);

3. Peningkatan akses ke modal asing untuk membantu alat perangkat pemberitaan tanpa mengganggu akses editorial;

4. Peningkatan akses ke teknologi pengumpulan, pendistribusian serta penyuntingan berita akurat dan cepat.

Dari sini, dan dari analisis kompetisi terhadap 2 stasiun televisi berita (lapis pertama untuk dikaji) dan ratusan televisi lokal-nasional lain (sebagai lapisan kedua yang dikaji) yang harus dilihat SCTV akan memberikan satu pandangan baru.

1. Jika ingin menjadi stasiun berita penuh nomor 3, SCTV harus berani menjadi nomor 3 dari televisi berita yang tak banyak dapat kue iklan gado-gado. Kelak stasiun TV akan mendapatkan banyak cipratan iklan kampanye partai atau kandidat presiden, tapi jika dibagi 3, akankah cukup untuk operasional sehari-hari?

2. Jika tetap ingin menjadi “all-you-can-watch TV station”, sepertinya SCTV juga harus mengembangkan merek “Liputan 6” dengan langkah lebih strategis lainnya. Sekarang program ini memang sudah masuk ke internet dan handphone masyarakat kita, yang saya pikir masih terbatas secara format dan akses. Apakah sudah dipikirkan pengembangan platform lain? Give you a hint: transmitted via satellite, dedicated 24 hours like Astro Awani, and free-to-air or placed in basic package… another platform, another resources for undecided voters?

Yeah right…

 

Media Mlintir Susu?


Saya suka heran mengapa media kita suka sekali mengeksploitasi hasil penelitian dari satu sisi. Bahkan klarifikasi hari ini dari Ikatan Dokter Indonesia juga tak cukup kuat memlintir balik.

Tadi siang di salah satu radio di Jakarta sang penyiar menyitir bagaimana jika tak hanya susu bayi di bawah 1 tahun; bagaimana jika susu lansia juga mengandung bakteri enterobacter sakazakii? Saya pribadi merasa terpaan udara di Jakarta setiap hari bagi pengendara motor lebih mematikan daripada bakteri tersebut bagi orang dewasa.

***

Di saat tidak ada berita heboh (gempa berkekuatan di atas rata-rata atau koruptor meninggal misterius di tahanan, misalnya) terkadang media massa kita suka mengambil berita fantastis a la batik (bakso tikus) atau apapun yang merugikan konsumen. Juicy ‘eh?

Saya curiga efek salju berita susu bakteri ini diawali minggu lalu dari posting beberapa blog wordpress (mengutip artikel serupa sebangun) soal susu bakteri yang mendapat ketukan (hit) tertinggi (karena saya juga ikut nge-klik). Banyak yang mempertanyakan merek susu dan makanan bayi apa yang tercemar bakteri enterobacter sakazakii. Jurnalisme orang awam ini menyebar secara efektif efisien. Yang lebih hebat lagi:

  • tak banyak mungkin yang kemudian mencari informasi lebih lanjut dengan kata kunci “Enterobacter Sakazakii” yang ternyata ditemukan oleh peneliti Jepang bernama Riichi Sakazaki (1980) ;
  • tak ada yang kemudian mengambil hipotesis lain selain masalah “korporasi dan pemerintah yang tak bertanggungjawab”; mungkinkah diplintir menjadi hipotesis “adakah persaingan usaha tak sehat?”

Bayangkan, bakteri yang sama ini memang pernah terjadi di Eropa tahun 2002 soal produk Nestle di Belgia, Beba1. Merek susu ini dituduh menjadi pembunuh sorang bayi yang baru lahir. Salah siapa, bayi baru lahir diberi susu instan? Jika diberi pun selayaknya sepengetahuan dokter bukan? Sehingga masalah yang terjadi adalah kompleks dan lebih banyak human error dari pihak orang tua dan dokter sang bayi.

Kembali ke isu susu bayi ini, bayangkan ada sebuah penelitian dengan sampling kecil (yang mungkin bisa memiliki epsilon atau kesalahan sampling besar) serta tidak memiliki lampiran kajian lengkap tentang manfaat dan keburukan bakteri ini (atau wartawannya malas membuka lampiran?). Kemudian penelitian ini diekspos ke media massa sehingga menjadi konsumsi masyarakat umum. Salah siapa jika kemudian bergulir panik?

Bukan seperti panik orang tua di Belgia, karena di sini belum ada (dan jangan sampai ada) korban. Panik susu berbakteri mematikan ini seperti siklus semesteran. Namun yang lebih penting masyarakat jangan panik dulu. Sebaiknya pemerintah segera memberikan pernyataan resmi yang bisa menenangkan orang tua yang memiliki bayi baru lahir. Yang lebih baik lagi, wahai penyiar radio dan penulis blog, mohon kaji dulu semua aspek penelitian ini sebelum panik (atau membuat orang lain panik).

Mungkin memang ada saatnya satu generasi di negeri ini harus pasrah dengan air tajin. Which is good also, btw. However, I don’t have energy to find out any related studies on air tajin, sorry. I drink milk everyday, and I feel dizzy for ten or more minutes afterwards, why? I just hate its taste.

susu.jpg

 

Wiki This!


NEW ADDRESS! NEW ADDRESS!

http://88.80.13.160/wiki/Wikileaks

wikileaksss.jpg

Hari ini, hakim federal di San Fransisco, Amerika Serikat memutuskan penutupan hosting Wikileaks di Amerika Serikat, sehingga semua penyedia nama domain di sana seperti Dynadot, Register.com and GoDaddy.com harus memblokir domain http://www.wikileaks.org ini. Yang terjadi adalah alamat http://www.wikileaks.org tidak dapat diakses “dari depan” (from front door) tapi bisa melalui http://www.wikileaks.be (Belgia) atau http://www.wikileaks.de (Jerman) atau http://www.wikileaks.cx (Pulau Natal) atau alamat IP di atas yang langsung dialihkan ke mirror site.

Media sosial (social media) adalah cabang termutakhir dari kehidupan jurnalisme. Jimmy Wales (aka Jimbo, penggagas Wikipedia) menegaskan bahwa penulisan Wiki adalah bentuk dari segala pakem pemerintahan:

  • anarki: semua orang bisa melakukan apapun,
  • demokrasi: keputusan dilakukan dengan voting,
  • meritokrasi: ide terbaiklah yang menang, diputuskan karena netral dan informatif,
  • aristokrasi: orang yang paling lama berkutat di Wikipedia adalah orang yang paling didengar, dan
  • monarki: jika semua gagal, Jimmy Waleslah yang paling berkuasa.

Bentuk Jurnalisme Wiki ini tak hanya Wikipedia. Jurnalisme Wiki bisa juga ditemui dalam format “tulisan atau dokumen bocoran” dari berbagai institusi. Format bocoran informasi ini bisa ditemui di situs Wikileaks yang dirintis oleh James Chen (another Jimbo?) dan beberapa orang lain yang membelot dari China, Tibet, dan Rusia. Mereka juga dibantu oleh ahli di bidang jurnalisme, matematika dan komputer dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia dan Afrika Selatan. Keunikan Wikileaks adalah narasumber yang biasa dikenal dengan istilah whistleblower. Salah satu kasus whistleblower yang dimuat oleh Harian Guardian, Inggris memuat kasus korupsi dan pencucian uang di Kenya yang bocoran dokumennya diperoleh dari Wikileaks.

Jurnalisme Wiki adalah common-based media journalism atau jurnalisme oleh orang awam (commoners) dan di media siapa saja. Jurnalisme jenis ini mungkin dihentikan oleh otoritas di satu teritori, tapi hukum satu negara tidak ekstrateritorial. Dihentikan di San Fransisco, masih bisa berdiri di tempat lain. Yang terjadi kemudian adalah bagaimana otoritas di setiap teritori (baca: penegak hukum satu negara) akhirnya harus menempatkan diri dan mengambil manfaat dari gaya jurnalisme ini. Otoritas akhirnya bisa melakukan pemantauan korupsi atau kejahatan setiap institusi di dalam negaranya.

Terakhir, akurasi adalah segalanya. Bagi jurnalis media apapun hari ini juga bagi pembaca media apapun (seperti saya) yang terpenting adalah akurasi Jurnalisme Wiki. Mungkin akurasi Webster atau Britannica lebih baik, namun informasi yang disediakan Wikipedia atau Wikileaks adalah awal dari rasa ingin tahu akan apapun secara mudah dan murah. There’s always a start for a curious cat like me.

 

Hari Ini Berita Detikcom NGACO


betadine3.jpg betadine2.jpg

Tiga tetes air rahmat di air PDAM, air bisa bebas bakteri langsung minum? Soal air ini, Detikcom mengutip pernyataan resmi Direktur Penyehatan Lingkungan dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La.

Berita tentang air rahmat (Air RahMat) ini ditulis oleh Rafiqa Qurrata dan di-upload Detikcom pukul 22.17 hari ini. Detikcom membuat sebuah berita yang MENYESATKAN. Jika memang ada kebiasaan bahwa wartawan yang ditempatkan di akhir pekan adalah wartawan rookie, harus dipertanyakan apakah beritanya juga imparsial. Saya menyesalkan sebuah penulisan yang hanya mementingkan judul heboh dan tanpa mengindahkan kode etik wartawan secara utuh.

Bayangkan sebuah jumpa pers Depkes, oleh Dr Wan Alkadri, Direktur Penyehatan Lingkungan di Hotel Shangri-La Jakarta (mengapa tidak di kantor resmi, dan mengapa akhir pekan?) diplintir sebagai berita yang “menjual produk” yang telah terdaftar di Depkes dan telah mendapatkan sertifikat halal MUI. Tidakkah sebuah media berita online seperti Detikcom mampu meng-google kata kunci “air rahmat” dan “wan alkadri” untuk mencari hubungannya? Perkenankan saya cari jembatannya: USAID sebagai donor dan John Hopkins sebagai peneliti.

1. Rafiqa teledor dengan angle berita; mengapa mengaitkannya dengan “lebih menghemat BBM” dan memberi informasi sepenggal-sepenggal. Mengapa tidak disebutkan bahwa air rahmat ini adalah produk yang diteliti, didistribusikan dan dipasarkan oleh John Hopkins, sebuah institusi penelitian resmi Amerika Serikat yang memiliki kantor di Jakarta? Mengapa tidak digali lebih lanjut hasil riset John Hopkins? Bisa juga dilengkapi kasus sukses penurunan diare di daerah-daerah yang sudah memanfaatkan air ini (jika ada).

2. USAID yang mendukung penyebaran air rahmat (baca di sini untuk berita lengkap pemerintah Amerika Serikat “menolong” program air bersih Indonesia) bekerja sama dengan Depkes untuk “mengentaskan” masalah air tidak bersih di negeri ini untuk menghindari diare. Masalah sesungguhnya berada di hulu (masyarakat Indonesia yang belum memperhatikan kesehatan lingkungan secara utuh). Kalau mau tarik ke hulu, mungkin terlalu lama (baca: memakan uang donor USAID lebih banyak) untuk mendidik dan melatih tuntas soal kebersihan 200 juta orang. Akan lebih mahal lagi membangun infrastruktur daur-ulang air seperti yang dimiliki Singapura untuk melepaskan ketergantungan air bersihnya dari Malaysia.

3. Memberi nama “rahmat” adalah sebuah trik yang memanfaatkan agama. Satu usaha yang tidak simpatik, seakan orang Indonesia semua berpikir tahayul untuk konsep sanitasi. Tiga tetes air, voila! semua sehat. Padahal Islam juga mengajarkan kebersihan yang lebih konsepsional; salah satu bentuknya adalah berwudhu atau langsung membersihkan diri jika terkena najis.

4. Logika, membunuh kuman di dalam air, dan airnya kita minum, akan berapa banyak substansi pembunuh kuman masuk ke perut masyarakat yang percaya tahayul? Selama ini yang saya tahu kalau ingin membunuh kuman saya oleskan, teteskan atau kumur Betadine, tidak dengan meminum Betadine dan kumannya sekalian. Berapa banyak informasi lain yang belum diketahui masyarakat. Mengerikan jika pemberian nama “Air RahMat” ini adalah cara menjual produk yang tidak jelas apa dampak jangka panjang untuk rakyat Indonesia.

Janganlah menempatkan sebuah berita layaknya iklan komersial. Lama-lama Detikcom kok menjadi media infotainmen kacangan ya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in detikcom, news, profesionalisme

 

Too much news will kill you…


After all, not a so slow news day huh? Just not being too productive day. Drink lots of Ultramilk and leave the garbage on the table… reading this-and-that, then got bored. Mati lampu pun setengah jam kemudian. So here goes…

1. Luber di mana-mana: telat jemput anak di sekolah, the rest… business unusual.

2. Paket Stabilisasi Bahan Pokok: Pikir-pikir mengapa diumumkan Jumat? Efektivitas dari implementasinya pasti menunggu 2 hari libur. Alasannya mungkin karena kajian paket kebijakan baru tuntas kemarin, mungkin juga karena pemerintah bisa meredam gejolak harga di akhir minggu. Tapi jangan lupa, banjir Jakarta bisa mengacaukan lagi rencana pemerintah (apapun alasan di balik pengumuman hari Jumat ini).

3. Poco-poco vs Sipadan Ligitan: tak ada hubungan langsung, tapi sahut-sahutan PDIP dan Partai Demokrat cukup seru. Black campaign pastinya kerap dijumpai menjelang 2009, terbuka ataupun sedikit terbuka. Yang pasti, hari ini Jakarta pusing, dan sebelum mikirin 2009, lebih enak memantau kepastian banjir hibah dari Bogor tengah malam ini.

4. Hillary Clinton jadi presiden, Barack Obama wapres? Lebih kuat mana, jikaBarack yang presiden dan Hill wapres? Kalau saya pasti memilih kandidat presiden yang tanggal jarig-nya sama dengan saya. Kita cuma beda di model rambut saja, err… juga beda balance of checking account.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2008 in news, politics

 

Gesture of Crisis


Di Amerika Serikat (menurut film yang saya tonton dan artikel yang saya google), seorang presiden di sana itu harus berlatih bicara beberapa malam di satu tempat secara reguler (silakan google dengan kata kunci speech camp). Berbicara di depan publik bahkan sudah diajarkan sejak usia sekolah (setara SMA di sini). Itu di Amerika sana…

Sekarang perhatikan dengan bicara di publik a la pemimpin kita. Bayangkan, gerakan tangan seperti presiden kita: sudah bagus, lebih banyak terbuka ke atas. Hanya kelenturan gerakan yang perlu diperhatikan, demikian kritik satu kawan saya dalam diskusi warung kopi.

Bandingkan lagi dengan Amerika sana. Walau di depannya teleprompter mati karena listrik mati, seorang presiden Amerika Serikat harus mampu berbicara retorikal dan patriotis. Gerakan-gerakan aneh (menggaruk rambut atau mengerutkan kening) bisa menjadi berita headline. Sudut pengambilan foto Bill Clinton yang salah bahkan bisa membuat pipinya seakan penyok atau mulutnya manyun.

Dalam foto jumpa pers yang dimuat Kompas beberapa hari lalu seputar pernyataan bersama Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani, dan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, perhatikan ekspresi setiap menteri: lelah dan kosong. Not a good gesture to start the economy of 2008, does it?

Selanjutnya, hari ini (masih di Kompas tapi, tapi di halaman 1) tampil sosok Presiden dan Wakil Presiden setelah berkunjung ke mantan presiden RI, Soeharto. Ironisnya, di bawahnya ada berita bencana ratusan rumah hancur di Kepulauan Seribu dan 1500 orang kehilangan tempat tinggal. Di sebelah berita bencana alam ini ada berita intermesso: “Meramal Nasib Rakyat dan Politisi” yang menampilkan foto sosok-sosok peramal nasional (saking negeri ini tak pernah percaya lain selain tahayul?). Hey, ini hari Minggu. Tak ada lagu sedih di hari Minggu. Buktinya hari ini Jakarta cerah (walau gerimis sebagian).

Presiden memang tak boleh datang ke daerah bencana sampai dinyatakan daerah itu aman dari bencana. Lebih baik datang ke rumah sakit, sebagai gesture simpatik terhadap yang sakit. Kata beberapa film lagi, gesture sebuah berita tak hanya seputar mimik muka di depan pers, tapi bisa juga dengan menyusun prioritas berita. “Jangan naikkan kasus X karena lebih baik bahas Y agar pakar Z bisa menjawab” dan seterusnya.

Betul, berita juga mengenal dramaturgi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2008 in news, newspaper, newsworthy