RSS

Arsip Kategori: newspaper

[Sekali Lagi] Merumuskan Indonesia


Sudah lama saya tak update blog ini. Satu hal yang kemudian mendorong saya menulis lagi pagi ini adalah ‘semangat kebangkitan nasional’ yang dicoba diracik lagi oleh beberapa kelompok masyarakat. Kemarin malam saya datang ke acara selamatan putra seorang kawan, yang dibuka oleh penggiat buku dan penggila sejarah dunia, Pak Taufik R. Dia merumuskan1908 – 1928 adalah era brahmana, kasta tertinggi dalam beberapa peradaban bangsa. Alasannya, karena Indonesia waktu itu dirumuskan oleh segelintir priyayi. Kemudian di era 1928 – 1968, Indonesia ‘dikelola’ oleh kaum di bawah brahmana: kaum ksatria.  Yang dimaksud adalah pasukan TNI dan pasukan perjuangan non-gelar.  Era 1968-1998, Indonesia dikuasai kaum pedagang, satu garis di bawah ksatria. Sejak itu hingga hari ini, Indonesia dikuasai rakyat, atau istilahnya, kaum sudra. Maaf kalau salah, tapi setahu saya sudra itu adalah kelompok paling miskin dalam tataran sosial ekonomi.  Sebuah analisis yang mungkin kebetulan saja.

dreamindonesia.wordpress.com

Tak berlama-lama di acara itu, saya langsung ‘loncat’ ke acara lain bertempat di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta Pusat. Acara berjudul “Dialog Pemuda Nasional: Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia” ini didukung oleh Kantor Menpora dan diselenggarakan mulai pukul 14.00, dan hingga 21.45 dialog belum selesai, padahal masih ada pertunjukan musik etnik-kontemporer dari Mahagenta. Sayangnya pula, sang menteri yang kantornya punya titel “pemuda” ini tidak hadir karena sedang sibuk peluncuran buku pribadinya dalam rangka pemilihan ketua partai politik. Hmm, mana yang lebih penting ya…?

Kembali ke dialog nasional yang cukup menarik karena panitia menghadirkan sepuluh pembicara dari pelbagai belahan nusantara, lengkap dengan naskah ilmiah tentang konsep Indonesia. Saat mengetik tulisan ini, di meja saya tergeletak buku “Cities, Chaos & Creativity” yang di sampulnya tertulis: politically participatory, socially just, economically productive, ecologically sustainable, dan culturally vibrant. Aspek yang dibahas dalam dialog nasional ini kebanyakan hanya soal kebudayaan yang seharusnya vibrant atau bersemangat. Yang terucap di sesi pertama dialog ini adalah keluhan Dewan Adat Papua tentang ‘aneksasi bukan integrasi’, dan pernyataan Dewan Pakar Kesultanan Ternate tentang federalisme. Federalisme dan disintegrasi, dua kata satu makna.

Paparan menarik datang dari Dr Purwadi M.Hum, staf pengajar Universitas Negeri Yogyakarta dan penulis beberapa buku di antaranya Javanologi: Asal Mula Tanah Jawa. Ia paparkan bahwa hanya ada 2 bangsa yang mampu menguasai dunia (karena mereka mampu menguasai 3 hal: perspektif epigrafis, historis dan kosmopolis) yaitu bangsa Tionghoa dan Israel. Di manapun mereka berada di dunia ini mereka mampu menulis, membaca dan mendokumentasikan tata cara hidup dan pencapaian hidup mereka (epigrafis). Mereka pun mampu menjelaskan dan menarik garis sejarah nenek moyang mereka (historis). Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa mereka mampu mengelola kota di dunia ini dengan membangun pilar politik di kota-kota tersebut (kosmopolis). Polis berarti kota, dan politik adalah turunan kata dari polis. Tak ada keputusan penting berbangsa itu, argumen Purwadi, datang dari desa.

Menarik juga ia mempertanyakan judul acara ini, “Menyoal” bukan “Memperkokoh” atau mungkin usulan saya, “Merumuskan Kembali”. Dari sisi kebudayaan, Indonesia itu sangat kaya. Salah satu pembicara dialog ini, Muhammad Zaini, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung, bahkan meneliti 250 permainan anak seluruh Indonesia. Ia sampaikan bahwa sesungguhnya ada ribuan permainan tradisional, yang baru dikajinya hanya segelintirnya saja. Kekaguman saya adalah bahwa beliau telah membuat arsip permainan daerah yang tak pernah terpikirkan oleh birokrat negeri ini.

Terakhir, acara sepenting ini selayaknya dihadiri oleh pengambil keputusan negeri ini. Seperti ucapan Buya Syafii Maarif di satu kuliah umum yang diselenggarakan harian Kompas, negeri ini tak punya pemimpin yang tahu jadi negarawan. Semuanya berpikir jangka pendek, sependek Pemilu 2014.

 

Saya Tetap Membaca Koran Cetak Kok!


Siang hari ada Kompas Update (biasanya hanya halaman depan saja), dan sudah lama Koran Tempo memperkecil dimensi kertasnya. Tak satupun dari media cetak offline yang mampu berinovasi selain downsizing (alias pecat karyawan yang tidak kompeten) atau columnsizing (alias jurnalisme awam; baca: citizenship journalism). Yang terakhir tentu terkait dengan downsizing, agar tak terlalu banyak reporter yang ditanggung Jamsostek-nya, cuti hamilnya, dan fasilitas wajib lain.

Harian atau daily newspaper adalah media yang 80% hidupnya tergantung dari iklan. Kue iklan harian di Amerika Serikat tidak banyak berkembang. Sejak 1990, naik hanya  5-10% setiap tahunnya. Bahkan di tahun 1991 hingga 1993 cenderung turun seperti halnya tahun fiskal 2007-2008 ini (turun 7%!).

Banyak cara agar media cetak hari ini mampu bersaing secara sehat (apalagi yang tidak sehat, tapi tidak akan saya bahas kali ini di sini). Yang mungkin sudah terpikir oleh beberapa pemimpin perusahaan adalah membuat edisi online yang bisa di-update setiap detik. Yang belum terpikir adalah konsep long tail yang menunjukkan cara bahwa segala sesuatu online itu berjaringan dengan mudah dan murah. Lebih lanjut, dari sisi pemasaran, cara berjaringan online ini pun diterapkan bergandengan dengan media cetaknya; walhasil harga iklan yang dipaketkan antara media cetak dan online-nya bisa menjadi lebih menarik. Banyak cara untuk inovasi, tapi lebih banyak lagi cara untuk efisiensi.

 newspaper.jpg

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 8, 2008 in business, media, newspaper

 

Book of The Day


Kum Kum bahas NY Times!

kumkum.8thman.com

Memang saya yang telat beli buku Kum Kum yang satu ini (terbit 2006), dan terus terang juga ini bukan Kum Kum karakter film kartun zaman saya SMA (SMU?) dulu. Ia adalah kawan saya yang produktif. Saya kagumi Kum Kum karena memang selain produktif juga tajam terpercaya (aktual juga?). Nama aslinya Ignatius Haryanto, dulu di kampus dia dikenal dengan panggilan Kum Kum karena memang seperti Kum Kum. Pintar. Gembul pipinya. Walau kurang licin dibanding Kum Kum sang kartun.

Kali ini Kum Kum menulis satu topik yang sedang saya gemari: Krugman di New York Times (NYT). Tapi Kum hanya menulis New York Times “Menulis Berita Tanpa Takut atau Memihak”. Walau ada sedikit salah ketik nama (seperti Henri Subianto, seharusnya Henry Subiakto), secara menyeluruh buku ini membuka mata saya tentang jurnalisme yang tajam terpercaya sesungguhnya. Dahulu saya mengekang diri saya dari topik “jurnalisme” secara mendetail, karena memang fokus saya lebih kepada hal-hal yang lebih teknis. Hari ini pun tidak berubah, tapi karena New York Times menjadi pegangan bacaan pagi-siang-malam selain detikcom dan iht.com, curiosity killed the cat, saya harus membaca kupasan Kum Kum tentang NYT ini.

Kum membuka dengan kasus plagiat dan kode etik internal NYT yang bisa di-download (saya coba cari di situs internet, tapi belum ketemu). Kum kemudian mengupas sedikit tentang sejarah pendiri NYT, Adolph Ochs yang diturunkan ke menantu lelakinya hingga sekarang sudah keturunan keempat, Arthur Ochs Sulzberger, Jr.

Setelah itu, rekaman prestasi dipaparkan yang membuat NYT ngetop sebagai pemborong Pulitzer dari tahun ke tahun, bahkan khusus NYT panitia Pulitzer membatasi berapa banyak yang boleh digondol NYT dalam setahunnya. Terakhir Kum juga mengangkat krisis, penanganan, dan harapan ke depan bagi NYT.

Tulisan Kum ini tak terlalu tebal (119 halaman, ukuran kertas setengah A4), tapi yakinlah berkas penelitian yang dilakukan Kum berpuluh-puluh kali lipat jumlahnya. Saya terkadang suka heran saya orang yang mampu merangkum sekian banyak data informasi dan menyajikannya kembali secara ringkas dan jelas. Salut untuk Kum, dan masih banyak tulisan Kum di masa depan yang terus akan saya koleksi. Seperti NYT, tulisan Kum ini juga patut mendapat penghargaan. Serius!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 2, 2008 in books, buku, journalism, jurnalisme, newspaper

 

Gesture of Crisis


Di Amerika Serikat (menurut film yang saya tonton dan artikel yang saya google), seorang presiden di sana itu harus berlatih bicara beberapa malam di satu tempat secara reguler (silakan google dengan kata kunci speech camp). Berbicara di depan publik bahkan sudah diajarkan sejak usia sekolah (setara SMA di sini). Itu di Amerika sana…

Sekarang perhatikan dengan bicara di publik a la pemimpin kita. Bayangkan, gerakan tangan seperti presiden kita: sudah bagus, lebih banyak terbuka ke atas. Hanya kelenturan gerakan yang perlu diperhatikan, demikian kritik satu kawan saya dalam diskusi warung kopi.

Bandingkan lagi dengan Amerika sana. Walau di depannya teleprompter mati karena listrik mati, seorang presiden Amerika Serikat harus mampu berbicara retorikal dan patriotis. Gerakan-gerakan aneh (menggaruk rambut atau mengerutkan kening) bisa menjadi berita headline. Sudut pengambilan foto Bill Clinton yang salah bahkan bisa membuat pipinya seakan penyok atau mulutnya manyun.

Dalam foto jumpa pers yang dimuat Kompas beberapa hari lalu seputar pernyataan bersama Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani, dan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah, perhatikan ekspresi setiap menteri: lelah dan kosong. Not a good gesture to start the economy of 2008, does it?

Selanjutnya, hari ini (masih di Kompas tapi, tapi di halaman 1) tampil sosok Presiden dan Wakil Presiden setelah berkunjung ke mantan presiden RI, Soeharto. Ironisnya, di bawahnya ada berita bencana ratusan rumah hancur di Kepulauan Seribu dan 1500 orang kehilangan tempat tinggal. Di sebelah berita bencana alam ini ada berita intermesso: “Meramal Nasib Rakyat dan Politisi” yang menampilkan foto sosok-sosok peramal nasional (saking negeri ini tak pernah percaya lain selain tahayul?). Hey, ini hari Minggu. Tak ada lagu sedih di hari Minggu. Buktinya hari ini Jakarta cerah (walau gerimis sebagian).

Presiden memang tak boleh datang ke daerah bencana sampai dinyatakan daerah itu aman dari bencana. Lebih baik datang ke rumah sakit, sebagai gesture simpatik terhadap yang sakit. Kata beberapa film lagi, gesture sebuah berita tak hanya seputar mimik muka di depan pers, tapi bisa juga dengan menyusun prioritas berita. “Jangan naikkan kasus X karena lebih baik bahas Y agar pakar Z bisa menjawab” dan seterusnya.

Betul, berita juga mengenal dramaturgi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 7, 2008 in news, newspaper, newsworthy

 

Information Overloaded


Kalau mau membaca opinion-maker seluruh dunia (tentu tentang topik yang mendunia), ada beberapa link situs koran yang bisa diintip. Silakan lirik saja sebentar, karena tak banyak orang mampu untuk menyimpan semua informasi, baik di kepala ataupun di external harddisk. Beberapa koran memang masih dalam satu rumpun kepemilikan atau afiliasi khusus dengan The New York Times Company, pemilik tunggal International Herald Tribune. Sekarang silakan lirik saja, kalau sempat mencerna berita dari angle yang berbeda, selamat!

***

Berhubung ada permintaan untuk media di Indonesia yang bisa diklik di sini (yang memang masih didominasi detik.com, yang tak punya edisi cetaknya) saya lampirkan di bawah ini beberapa.  Situs berita di bawah ini adalah mulai koran hingga majalah, mulai yang umum hingga spesifik ke berita ekonomi bisnis. Saya hanya cantumkan yang sering saya klik. Selebihnya saya bisiki saja yah carinya di mana:

Masih ada puluhan link lagi, silakan klik di sini jika mau cari koran di daerah. Good luck!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 25, 2007 in global media, informasi, information, koran, koran global, newspaper, opini