RSS

Arsip Kategori: -nomics

Masih VR


VR-nomics? Why not.

Sebuah konsep bisnis yang mungkin tak akan berbeda jauh saat mesin cetak Gutenberg ditemukan, atau mesin uap, atau mesin-mesin lainnya. Jual barang teknologi ya begitulah… mesin baru lahir, mesin lama tak laku lagi. Samsung keluar akhir tahun bareng HTC. Sony tahun depan.

Yang membedakan adalah me-monetize apa yang dihasilkan mesin cetak, mesin uap dan mesin VR. Sebagai satu saluran (channel) atau pipa (pipe), VR memadukan big data dengan koneksi yang bagus. Tak yakin setiap titik di Indonesia bisa seragam kecepatan koneksi internetnya, bahkan di kota besar seperti Jakarta.

Jika pipa (mesin) itu akan obsolete, tidak demikian halnya dengan isi pipa (content). Film Mickey Mouse pertama saja masih bisa diputar di TV berbayar dan menghasilkan uang. Boneka Mickey Mouse pun masih laku dijual. Sekarang jika semua cerita dan karakter itu bisa diciptakan oleh si empunya kacamata (goggle) VR, dengan setriliun kombinasi cerita dan karakter, siapa melihat siapa? Atau siapa mengikuti siapa? Point to point menjadi lebih nyaman. Tapi saya kebayang seorang selebritas macam Sherina bisa menjual “experience” dirinya dalam satu sesi VR (bentuk game atau berita, apapun genrenya). Follower-leader tetap terbangun jika Sherina berkarya terus.

Itu point to multi-point antara selebritas ke penggemarnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2015 in -nomics

 

Tag:

Mempelajari Media Hari Ini


Tahun 1997 adalah tahun saya bergabung dengan salah satu kanal JV milik Malicak dan Star TV Hongkong. Sebelum wawancara dengan CEO-nya, saya harus menyiapkan sebundel materi cetak yang saya peroleh dari internet. Belum ada Google waktu itu, hanya Yahoo. Saya ingat mencari dengan mesin Yahoo itu menyebalkan; suka tersesat. Materi cetak itu untuk memberikan saya amunisi jika bertemu dengan Pak CEO yang bule itu. Tentu saja saya tak ingin gagap saat menjawab “What is pay-TV?”. Tentu saja, dengan amunisi sebanyak itu saya mampu menjawab tanpa gagap.

Hari ini saya masih membaca terus unlimited material yang ada di dunia maya ini tanpa harus mengeluarkan tiket pesawat atau kertas printout secarikpun. Saya masih ingin mengunyah dan mencerna fenomena media hari ini. Satu hal pasti, teknologi yang begitu pesat di luar sana, masuk ke sini hanya seujung kuku. Sampai hari ini tak banyak anak bangsa ini yang mampu mencari jalan bagaimana membuat alat dan infrastruktur yang memudahkan “sebuah media” bergulir mengikuti teknologinya. Silicon Valley di Amerika Serikat adalah surga bagi mereka, dan mereka yang bekerja di sana sekarang bukan lagi dikenal sebagai IT Nerds tapi Media Tycoons. Go figure…!

Saya masih membaca di sini dan di sini, bagaimana sekian banyak saluran audiovisual yang bisa ditonton kemudian menjadi seperti sekarang dan bagaimana model bisnis mereka mulai mencari jalan ke titik paling menguntungkan. Bayangkan Youtube adalah fenomena yang tak bisa diprediksi oleh orang kebanyakan 5 tahun lalu, namun hari ini bukan main pemasukannya. Jalur kabel serat optik bawah laut yang masih jadi perdebatan di negeri ini sudah digelar puluhan tahun lalu oleh mereka yang memiliki visi, seperti Singapura, Malaysia dan Jepang. Singapura telah memasang Wimax di seantero daerah bahkan hingga ke sepanjang pesisir negeri pulau itu. Tak ada sinyal internet raib di sana sepanjang kita duduk di atas mobil yang berjalan. Di sini? Haha, nanti banyak operator telko gulung tikar dan tak ada lagi pemasukan bagi negara.

Right on, selain IT Nerds dan Media Tycoons… saya singgung Telco Moguls. Ini adalah media hari ini. Konvergensi. Apakah kita siap dengan model bisnis dan segala perkembangan yang akan terjadi? Go figure…

 

Tag:

Konsep Uang di Awal Kuliah


Di bawah ini ada beberapa jawaban mahasiswa di kelas saya yang menjawab atas pertanyaan, “Apa arti uang bagi kamu?” Saya biarkan tanpa nama dengan harapan bahwa di akhir kuliah saya dan seluruh isi kelas mendapatkan pencerahan. Semoga.

Inilah jawaban mereka:

1. Bagi saya, dalam arti luas uang adalah alat tukar yang sah. Namun berdasarkan pengalaman saya, dalam arti sempit uang merupakan faktor yang amat sangat penting untuk membina suatu hubungan percintaan. Dengan kehadiran uang, suatu hubungan akan berjalan damai, tentram dan harmonis.

2. Uang, bagi saya, adalah suatu benda yang digunakan untuk membeli barang atau jasa yang dibutuhkan dan diinginkan. Uang juga dijadikan sebagai pengukur kekayaan seseorang. Uang merupakan suatu hal yang harus dikelola dengan bijak.

3. Uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi bahagia dapat didapat dengan punya banyak uang. Oleh karena itu, mari kita mencari uang namun dengan cara yang halal.

4. Uang adalah sebuah hasil dari usaha dan kerja keras diri sendiri. Kita dikatakan memiliki uang ketika kita sudah dapat menghasilkan uang sendiri, bukan diberikan oleh orang lain. Uang terkadang dapat dikatakan sebuah kebahagiaan, tapi kebahagiaan tidak selalu uang dan karena uang.

5. Uang adalah alat yang digunakan untuk dapat membeli kebutuhan. Sejak kecil saya selalu bermasalah dengan uang karena apa yang saya butuhkan seringkali tidak bisa dipenuhi lantaran alasan uang. Karena itulah salah satu impian saya adalah kelak uang tidak lagi menjadi masalah bagi saya, keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

6. Uang adalah alat tukar. Fungsinya untuk ditukarkan dengan apapun yang kita butuhkan dan inginkan. Selama barang-barang tersebut tidak berkaitan dengan sisi emosional seseorang. Tidak hanya sebagai alat yang ditukarkan tapi juga sebagai alat yang “menggerakkan”.

7. Uang merupakan sesuatu yang dianggap penting oleh manusia, karena uang adalah alat yang penukar dibutuhkan untuk membeli barang-barang. Namun yang seringkali menjadi pemicu pertengkaran antar-manusia karena kesalahpahaman mengenai uang itu sendiri.

8. Uang bagi saya adalah suatu benda yang penting karena banyak sekali aspek dalam hidup ini yang membutuhkan uang. Terlebih di era modern seperti ini yang sebagian besar kebutuhan hidup dibeli dengan uang, mulai dari sandang, pangan, papan, dsb. Jadi bisa dikatakan untuk zaman sekarang ini, manusia hidup tidak hanya membutuhkan oksigen untuk bernafas tetapi juga membutuhkan UANG untuk “bernafas bebas.”

9. Uang merupakan hal yang penting salah satu hal yang penting dalam kehidupan. Selain sebagai alat tukar untuk mendapatkan suatu barang yang kita inginkan, uang juga dapat menentukan kesejahteraan hidup manusia. Kita dapat menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan, fasilitas dan menggunakan uang untuk usaha agar dapat menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

10. Tidak dapat dipungkiri bahwa uang memegang peranan penting dalam hidup ini, baik hidup saya ataupun orang lain. Uang dapat membantu saya memenuhi kebutuhan dan keinginan saya, bahkan termasuk untuk mencapai mimpi saya pun membutuhkan uang. Sayangnya, saya bukan orang yang memiliki banyak uang, maka dari itu sebelum mewujudkan mimpi saya, saya akan berusaha mengumpulkan uang dahulu sebagai modalnya.

11. Bagi saya, uang adalah suatu komponen yang cukup vital dalam kehidupan. Pada zaman sekarang ini, uang mengatur hampir seluruh aspek dalam keberlangsungan suatu masyarakat. Maka, kalai kita sampai salah mengelolanya, bisa menimbulkan suatu masalah yang cukup besar.

12. Uang adalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan, salah satunya sejahtera hidup, hahaha. Dengan adanya uang kita dapat merasakan atau menuju bahagia. Meskipun tidak selalu menjaminnya.

13. Uang bagi saya adalah sebuah alat pembayaran. Dengan uang kita bisa mendapatkan barang-barang atau jasa yang dibutuhkan.

14. Uang bagi saya adalah sebuah benda yang digunakan untuk mendapatkan benda lainnya. Dalam artian, yang memiliki nilai untuk mendapatkan / membeli suatu barang. Uang juga bisa dijadikan simbol atau tolak ukur untuk menghitung kekayaan.

 

MANAJEMEN KEUANGAN STASIUN TV

IKP 2009

Depok, 7 Februari 2011

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 18, 2011 in -nomics, economy, money

 

Tag: , ,

Wiki This!


NEW ADDRESS! NEW ADDRESS!

http://88.80.13.160/wiki/Wikileaks

wikileaksss.jpg

Hari ini, hakim federal di San Fransisco, Amerika Serikat memutuskan penutupan hosting Wikileaks di Amerika Serikat, sehingga semua penyedia nama domain di sana seperti Dynadot, Register.com and GoDaddy.com harus memblokir domain http://www.wikileaks.org ini. Yang terjadi adalah alamat http://www.wikileaks.org tidak dapat diakses “dari depan” (from front door) tapi bisa melalui http://www.wikileaks.be (Belgia) atau http://www.wikileaks.de (Jerman) atau http://www.wikileaks.cx (Pulau Natal) atau alamat IP di atas yang langsung dialihkan ke mirror site.

Media sosial (social media) adalah cabang termutakhir dari kehidupan jurnalisme. Jimmy Wales (aka Jimbo, penggagas Wikipedia) menegaskan bahwa penulisan Wiki adalah bentuk dari segala pakem pemerintahan:

  • anarki: semua orang bisa melakukan apapun,
  • demokrasi: keputusan dilakukan dengan voting,
  • meritokrasi: ide terbaiklah yang menang, diputuskan karena netral dan informatif,
  • aristokrasi: orang yang paling lama berkutat di Wikipedia adalah orang yang paling didengar, dan
  • monarki: jika semua gagal, Jimmy Waleslah yang paling berkuasa.

Bentuk Jurnalisme Wiki ini tak hanya Wikipedia. Jurnalisme Wiki bisa juga ditemui dalam format “tulisan atau dokumen bocoran” dari berbagai institusi. Format bocoran informasi ini bisa ditemui di situs Wikileaks yang dirintis oleh James Chen (another Jimbo?) dan beberapa orang lain yang membelot dari China, Tibet, dan Rusia. Mereka juga dibantu oleh ahli di bidang jurnalisme, matematika dan komputer dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia dan Afrika Selatan. Keunikan Wikileaks adalah narasumber yang biasa dikenal dengan istilah whistleblower. Salah satu kasus whistleblower yang dimuat oleh Harian Guardian, Inggris memuat kasus korupsi dan pencucian uang di Kenya yang bocoran dokumennya diperoleh dari Wikileaks.

Jurnalisme Wiki adalah common-based media journalism atau jurnalisme oleh orang awam (commoners) dan di media siapa saja. Jurnalisme jenis ini mungkin dihentikan oleh otoritas di satu teritori, tapi hukum satu negara tidak ekstrateritorial. Dihentikan di San Fransisco, masih bisa berdiri di tempat lain. Yang terjadi kemudian adalah bagaimana otoritas di setiap teritori (baca: penegak hukum satu negara) akhirnya harus menempatkan diri dan mengambil manfaat dari gaya jurnalisme ini. Otoritas akhirnya bisa melakukan pemantauan korupsi atau kejahatan setiap institusi di dalam negaranya.

Terakhir, akurasi adalah segalanya. Bagi jurnalis media apapun hari ini juga bagi pembaca media apapun (seperti saya) yang terpenting adalah akurasi Jurnalisme Wiki. Mungkin akurasi Webster atau Britannica lebih baik, namun informasi yang disediakan Wikipedia atau Wikileaks adalah awal dari rasa ingin tahu akan apapun secara mudah dan murah. There’s always a start for a curious cat like me.

 

Public Choice v. Keynesian


Proses dialog tentang fenomena ekonomi adalah proses yang sangat dinamis. Great Depression melahirkan preskripsi baru yang dikenal dengan Keynesian Economics, yang ditelurkan oleh John Maynard Keynes. Tapi hari ini, pendekatan institusional lebih banyak dikenal di belahan dunia sana mengingat pemerintah juga bisa gagal (government failure), tak hanya pasar yang gagal (market failure).

Indonesia pernah mengenal Widjojonomics yang kemudian “berdialog” dengan Habibienomics lalu sekarang dengan SBY-nomics? Sayangnya, istilah-istilah ini ditelurkan semata-mata karena “dialog rejim politik”, bukan karena temuan preskripsi yang manjur untuk menyembuhkan perekonomian Indonesia.

Ibarat sakit panas karena virus Roseola dan panas karena malaria, tentulah obat yang diberikan berbeda. Diagnosis dokter harus detail, bahkan sampai ke usia pasien. Jika tidak, nanti obat yang dimaksud membunuh lalat dibuat bahkan untuk bisa membunuh gajah. Atau sebaliknya.

Hari ini saya membaca edisi lama sebuah majalah, yang memuat berita sekilas tentang disertasi Presiden SBY: “Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran”, sub-judul “Analisis Ekonomi Politik Kebijakan Fiskal” (Oktober 2004). Menarik. Menganalisis sebuah upaya mengatasi kemiskinan dari kacamata pajak, bukan dari kacamata tingkat suku bunga, bukan juga dari pendekatan institusional, seperti yang dikaji dalam teori pilihan publik (public choice theory).

Presiden SBY hari ini memang dibantu sepenuhnya oleh ekonom andal negeri ini. Tentu hal ini bukan melulu tugas Menkeu atau Gubernur BI atau Menko Perekonomian, tapi juga dialog pemerintah dan wakil rakyat, dengan tentunya transparansi proses dialog ini ke publik secara luas.

Empu-empu yang memiliki preskripsi penyembuhan perekonomian negeri ini sebaiknya adalah para dokter yang andal mendiagnosis permasalahan. Kebijakan yang harus diambil pemimpin negeri ini adalah kebijakan diagnostik yang out of the box. Dialog-dialog ekonomi yang diangkat–apalagi seorang pemimpin yang memutuskan hajat hidup 250 juta orang–memang waktu itu (circa 2004) masih terpaku dengan pendekatan formal kebijakan fiskal atau moneter.

Padahal di belahan dunia lain, misalnya Amerika Serikat, pendekatan public choice ini telah diterapkan dalam pengambilan keputusan secara komprehensif. James C. Miller kepala Office of Management and Budget (OMB) semasa Presiden Ronald Reagan membantu pengesahan Hukum Gramm-Rudman yang menetapkan batas dari pengeluaran tahunan dan ketegasan pemotongan otomatis jika pagu atas tidak tercapai. Proses pengambilan keputusan atas kebijakan ini melibatkan Kongres yang cenderung bekerja atas banyak kepentingan, sehingga memperpanjang daftar pengeluaran dalam negeri mereka. Putusan ini memang sempat memperlambat pengeluaran negara yang tak perlu untuk sementara waktu. Hal ini diberlakukan sementara waktu karena efektivitas pengaturan seperti ini masih dipertanyakan.

Intinya adalah bahwa pendekatan institusional bagi sebuah negara yang “belum sembuh dari sakit 1998” adalah preskripsi yang harus diawali dari dialog-dialog antar-pemangku kepentingan. Yang terjadi di Indonesia dengan turunnya Peraturan Pemerintah (PP) yang terkadang “lari” dari asas, fungsi, arah dan tujuan Undang-undang di atasnya melahirkan fungsi baru bagi DPR: turut merancang PP. Dialog DPR-Pemerintah seperti ini mungkin merupakan proses yang tidak terbukti juga efektivitasnya.

Di luar itu, sangat disayangkan jika istilah –nomics yang ditempel ke nama pemimpin negeri ini hanya sebatas istilah tak berfungsi. Bukti bahwa tidak berbunyi? Harga kebutuhan pokok (yang tak lagi 9 nama itu) merangkak perlahan, sementara kesejahteraan atau “welfare” berada beberapa puluh langkah di belakangnya.

Setelah kedelai dan kelapa sawit, mungkin ada temuan baru untuk mengubah bahan pokok lain menjadi bahan bakar baru. Akan datang lagi agflasi beberapa waktu mendatang dengan makin gencarnya kampanye “biofuels” oleh negara-negara maju di sana. Siapa tahu minyak ikan mujair di satu saat bisa “diplintir” menjadi bahan bakar baru. Atau kulit ayam? Atau lemak sapi?

Kita punya tanah luas, dan kita punya laut luas. Namun kita juga punya masalah institusi yang kronis, yaitu korupsi yang lamban dipangkas (btw, korupsi juga masuk dalam kajian institusional). Bisakah kita membuat diagnosis yang benar mulai dari sejarah perekonomian pasca-1998 hingga rekonstruksi mendasar? Tentu tak ada preskripsi yang “sekali telan sembuh” untuk penyakit kronis. Untuk itu, -nomics yang lahir dari jargon rejim semata-mata tak patut diperdebatkan lagi. Hari ini kita hanya butuh dokter yang punya senjata obat termujarab. Less complication, more results, please.

***

PS. Dialog dan diagnosis memiliki kajian bahasa seperti ini:

  • di- prefiks yang berarti dua, dua kali, atau dobel.
  • Diagnosis dari kata Yunani diagignoskein yang berarti menetapkan dari evaluasi sejarah [pasien].
  • Dialog dari kata Yunani dialogos, dialegesthai yang berarti pembicaraan antara dua pihak.