RSS

Arsip Kategori: pay TV

Gambar

Glocal Media


Saya baru saja menuntaskan satu karya tulis yang selama enam bulan terakhir saya ubah, dari sebuah buku teks menjadi buku berhipotesis tentang kebijakan publik dan media. Saya melakukan studi banding atas sektor M&E (media and entertainment) di China dan di Indonesia, dan khususnya tentang isi media atau lebih dikenal dengan istilah “content”. Saya tak harus pergi ke China untuk mendapatkan berbagai informasi, karena saya hanya duduk membaca seluruh sumber (pdf atau books.google.com) lalu menulis dan membaca lagi. Saya juga hanya berkirim email ke Prof. Anthonyy YH Fung dari School of Journalism and Communication, CUHK, Hong Kong dan Dr Umair Haque dari Havas Media Lab, Amerika Serikat.

Ini buku kedua tentang media, dan buku ketiga kalau dihitung dari buku dwibahasa cerita anak yang saya tulis semasa kuliah dulu.

Silakan klik sini untuk membaca lebih lanjut, dan klik sini untuk lampiran pdf atau video.

GlocalMedia

 

Mempelajari Media Hari Ini


Tahun 1997 adalah tahun saya bergabung dengan salah satu kanal JV milik Malicak dan Star TV Hongkong. Sebelum wawancara dengan CEO-nya, saya harus menyiapkan sebundel materi cetak yang saya peroleh dari internet. Belum ada Google waktu itu, hanya Yahoo. Saya ingat mencari dengan mesin Yahoo itu menyebalkan; suka tersesat. Materi cetak itu untuk memberikan saya amunisi jika bertemu dengan Pak CEO yang bule itu. Tentu saja saya tak ingin gagap saat menjawab “What is pay-TV?”. Tentu saja, dengan amunisi sebanyak itu saya mampu menjawab tanpa gagap.

Hari ini saya masih membaca terus unlimited material yang ada di dunia maya ini tanpa harus mengeluarkan tiket pesawat atau kertas printout secarikpun. Saya masih ingin mengunyah dan mencerna fenomena media hari ini. Satu hal pasti, teknologi yang begitu pesat di luar sana, masuk ke sini hanya seujung kuku. Sampai hari ini tak banyak anak bangsa ini yang mampu mencari jalan bagaimana membuat alat dan infrastruktur yang memudahkan “sebuah media” bergulir mengikuti teknologinya. Silicon Valley di Amerika Serikat adalah surga bagi mereka, dan mereka yang bekerja di sana sekarang bukan lagi dikenal sebagai IT Nerds tapi Media Tycoons. Go figure…!

Saya masih membaca di sini dan di sini, bagaimana sekian banyak saluran audiovisual yang bisa ditonton kemudian menjadi seperti sekarang dan bagaimana model bisnis mereka mulai mencari jalan ke titik paling menguntungkan. Bayangkan Youtube adalah fenomena yang tak bisa diprediksi oleh orang kebanyakan 5 tahun lalu, namun hari ini bukan main pemasukannya. Jalur kabel serat optik bawah laut yang masih jadi perdebatan di negeri ini sudah digelar puluhan tahun lalu oleh mereka yang memiliki visi, seperti Singapura, Malaysia dan Jepang. Singapura telah memasang Wimax di seantero daerah bahkan hingga ke sepanjang pesisir negeri pulau itu. Tak ada sinyal internet raib di sana sepanjang kita duduk di atas mobil yang berjalan. Di sini? Haha, nanti banyak operator telko gulung tikar dan tak ada lagi pemasukan bagi negara.

Right on, selain IT Nerds dan Media Tycoons… saya singgung Telco Moguls. Ini adalah media hari ini. Konvergensi. Apakah kita siap dengan model bisnis dan segala perkembangan yang akan terjadi? Go figure…

 

Tag:

PSSI, LPI, Big Money Honey…


 

Tag: ,

Liga Inggris dan Kebijakan Publik


Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

 

Liga Inggris, Liga Dekoder


Memasuki minggu kedua, tayangan Liga Inggris musim tanding 2008-2009 tetap diobok-obok. Masa tunggu musim tanding kali ini disambut para penggila bola (gibol) dengan nada datar. Banyak yang pasrah, “Ya sudah, nonton yang lain saja.” Gibol di negeri ini mungkin sudah jenuh, atau juga sudah kehabisan uang untuk ganti dekoder.

Hitung-hitungannya mudah, dan seluruh dunia sudah tahu: sekarang tak ada lagi Liga Inggris paket lengkap bisa dinikmati di televisi gratisan! Tee hee….

Walau sebenarnya musim 2008-2009 ini bakal lebih seru dari musim-musim sebelumnya. Musim tanding lalu Manchester United mampu membabat Chelsea di final, namun kali ini Big Phil Scolari bersumpah merebutnya dari Sir Alex Ferguson, seperti masa jaya 2005 dan 2006. Kalau tidak, maka akan ada 11 tahun kejayaan MU.

Arsenal memang kehilangan Flamini dan Hleb, tapi Nasri masuk dan sejumlah pemain muda yang mampu menegaskan penyegaran yang tak ada di musim lalu. Mereka bisa?

Atau Liverpool dan Rafael Benitez juga bergerak? Jika tidak Spurs dan Portsmouth bisa menendang empat besar, sementara jika Hull mampu bertahan di awal saja sudah baik.

Apa saja yang menjadi pendorong masing-masing klub di Premier League ke 17 kali ini. Kaji profil pemain, statistik masing-masing pemain dan klub, serta naik-turunnya setiap orang dan klub. Know ahead of the big kick off, klik saja di sini.

ARSENAL FC

Posisi musim lalu: KETIGA (3)
Manager: Arsène Wenger

8 deals: 4 in, 4 out
IN Samir Nasri (dari Marseille, £11.5m), Aaron Ramsey (dari Cardiff, £5m), Amaury Bischoff (dari Werder Bremen, nilai tak jelas), Carlos Vela (dari Osasuna, nilai tak jelas).
OUT Gilberto Silva (ke Panathinaikos, £1m), Alexander Hleb (ke Barcelona, £12m), Jens Lehmann (ke Stuttgart, gratis), Mathieu Flamini (ke Milan, gratis).

JAGOAN MUSIM INI Theo Walcott – sekarang nomor 14, mari harapkan gol-gol baru darinya.
YANG PARAH MUSIM INI Adebayor – meminta pergi, dan tak ada yang mau tahan dia.
LAWAN YANG DIBENCI Juande Ramos.
LAWAN GAMPANG Spurs (pastinya).
LAWAN TANGGUH Manchester United – ketat! Read the rest of this entry »

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2008 in business, football, global media, hak siar, pay TV, sports

 

Menghitung Saluran Berlangganan/FTA via Satelit


Tertarik membuat saluran lokal, mengapa tidak membuat khusus melalui satelit? Membuat televisi yang free-to-air (FTA atau gratis) bisa, atau memasok ke operator TV berlangganan pun bisa. Yang terakhir ini justru diwajibkan oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Setiap entitas penyelenggara penyiaran berlangganan (baca: operator TV berlangganan) harus menyalurkan 1 (satu) saluran lokal untuk setiap sepuluh saluran televisi yang ditawarkan ke pelanggan.

Kalau lokal yang dimaksud adalah FTA seperti RCTI atau Trans7, mungkin tak usah pusing. Justru yang saya maksud adalah saluran lokal berlangganan yang diproduksi sendiri . Bisa berupa first run, tayang pertama, ataupun hasil olahan dari koleksi (second run, library) yang telah tayang di TV swasta seperti RCTI dan Trans7.

raam-punjabi.jpg Sebagai ilustrasi, membuat saluran lokal bagi satu operator itu adalah mempunyai anak perusahaan atau kerjasama dengan perusahaan lain yang khusus memasok isi siaran satu saluran sepenuhnya. Selain alasan hukum seperti yang saya kutip di atas, alasan utamanya adalah agar pundi-pundi uang yang berputar terus dari penjualan koleksi tayangan dengan cerdas. Dengan perpustakaan audio-video digital yang dikelola secara profesional, Raam Punjabi mampu membuat kerjasama dengan Astro agar film atau sinetron produksinya terus menghasilkan uang tanpa henti (baca: reruns never die!).

Saya pernah menghitung kasar bagaimana membuat sebuah saluran televisi berlangganan, khususnya yang disalurkan via satelit. Untuk setahun menjalankan saluran ini, diperlukan sekitar 1750 jam acara untuk diputar total 8800 jam dalam setahun. Artinya, satu tayangan per jam itu diputar kembali (rerun) dengan setidaknya 4 (empat) kali dalam setahun (4 runs 1 year, istilahnya). Biaya operasionalnya dibagi dalam 4 (empat) perihal:

  1. biaya pembelian program (bukan produksi)
  2. biaya produksi selingan atau filler atau interstitial
  3. biaya menjalankan saluran (on-air playout)
  4. biaya satelit (operasional uplink dan sewa transponder)

Jika diadakan kerjasama, seperti dengan Raam Punjabi, sebuah operator TV berlangganan kemudian harus menghitung (valuation) untuk biaya per jam tayangan yang sesungguhnya sudah balik modal saat penayangan pertama. Contohnya, sinetron “Kehormatan” durasi sejam ini telah dihargai RCTI sekian ratus juta untuk penayangan 2 kali dalam dua tahun, misalnya. Bahkan RCTI bisa melakukan sub-lease ke Global TV atau TPI dengan harga paket ini. Produksi “Kehormatan” telah tuntas dan semua hak dipegang produser, yaitu Raam Punjabi. Adalah sah jika Raam ingin menjual ke TV lain setelah itu tanpa harus membayar lagi royalti ke setiap sutradara atau pemain utamanya. Singkatnya, biaya per jam sinetron ini adalah senilai dengan zero marginal cost of production.

Ada pertimbangan lain untuk melihat total biaya operasional sebuah saluran televisi kabel ini. Di tahun pertama ada biaya tunai yang harus dipersiapkan, antara lain: 30% untuk pembelian program/produksi selingan dan 20% untuk operasional saluran dan sisanya untuk playout. Persentase ini harus dilihat dari total biaya pembelian program. Untuk itu adalah penting di awal ini untuk secara seksama melakukan valuasi per jam tayangan jika tayangan itu adalah produksi lama. Ada perhitungan lain jika ingin membuat tayangan tipe movie-made for TV atau original programming seperti Sex in the City yang tayang perdananya di HBO (tapi kemudian dijual dalam bentuk keping DVD secara bebas).

Inilah nikmatnya berdagang tayangan. Betul begitu, Pak Raam?