RSS

Arsip Kategori: pertumbuhan ekonomi

Dimensi Korupsi


Tak perlu tanyakan apa akibatnya, tak perlu tanyakan berapa besar. Penyebabnya jelas: kesempatan dan tak adanya integritas. Hari ini saya disodori “uang transportasi” karena membantu memberi pengetahuan secara informal. No pun intended, saya hanya anggap dia tak tahu bahwa saya dibayar lebih mahal (dari sejumlah uang yang ingin ia berikan itu) jika saya memberikan paparan formal. Saya menolak halus, “Traktir saya kalau satu hari saya berada di kota Bapak.”

Pendekatan formal-legal mengenal bahwa tindakan korupsi adalah tindakan yang melanggar “specific rules governing the way public duties should be performed” (Williams 1987: 15), sebagai “pertukaran ilegal” antara barang politis dengan barang/hadiah pribadi (Manzetti & Blake 1996; Heidenheimer, Johnston & LeVine 1989: 8-9; Williams 1987: 15-16). Hukum (rules) itu sendiri bisa ambigu, tak jelas, multi-interpretatif (Lowenstein 1989). Pendekatan legal-formal juga dinamis dari satu negara ke negara lain, dan terkadang tindakan ini menjadi tindakan manipulatif dari aktor politik (Williams 1987: 18). Bisa juga definisi legal berupa tindakan yang tidak ilegal tapi ternyata dianggap tidak pantas (Moodie 1989: 876; Theobald 1990: 17).

Sandholtz & Koetzle (1998) pernah mengkaji dimensi korupsi dalam 2 hal:

  • “structure of opportunities and incentives” dan
  • “culture, [or] understood as a “repertoire of cognitions, feelings, and schemes of evaluation that process experience into action”

Yang kedua merupakan budaya yang melahirkan integritas yang bisa terbentuk sejalan dengan:

  • matangnya pemikiran setiap warga negara tentang demokrasi, dan
  • freedom of economy (atau saya terjemahkan sebagai) kesejahteraan ekonomi dan sosial setiap warga negara.

Khusus di Indonesia, saya ingin mengkaji lebih jauh dari dari sekadar integritas: informasi asimetris. Saya mengambil contoh peristiwa pagi ini. Ada informasi asimetris antara saya dan sang bapak yang ingin memberikan uang tadi. Tak hanya sebatas pengenalan antar-diri secara sepihak (saya mendapat informasi tentang dia lebih banyak dari dia tentang saya), tapi juga tentang pengetahuan empiris yang berbeda antara dia dan saya. Sesungguhnya internet telah memudahkan kita berilmu dengan murah, dan yakinlah bapak tersebut adalah bukanlah orang yang rajin nge-blog. Baca di sini untuk paparan UNDP dan di sini untuk kajian Center for the Study of Democracy yang pokok pemikirannya saya kutip di atas (See? I am not that witty, I just read a bit more than him)

Atau baca di sini untuk tulisan karya Bosserman (2005)… lihat bagan di bawah.

affiliation-corruption.jpg

 

 

 

 

Resesi di Amerika Serikat?


Libur Martin Luther Jr di sana bisa membuat seluruh dunia memicingkan mata. Kebetulan tadi malam saya bongkar-bongkar DVD lama, dan berakhir dengan menonton “American History X” ( 1998 ) yang dibintangi cemerlang (seperti biasa) oleh Edward Norton. Tidak ada hubungannya dengan resesi yang ditakutkan melanda Amerika Serikat dan berdampak ke seluruh dunia, film ini tentang rasisme dan kebencian yang sulit dipadamkan, bahkan setelah ratusan tahun perbudakan dihilangkan di negeri itu.

 Edward Norton  Clinton & Obama (pic: New Line Cinema & Reuters)

Film ini merupakan perenungan yang amat dalam, lebih dari sekadar masalah sejarah Amerika apalagi dramaturgi cerita. Amerika Serikat tetap menyimpan sejuta permasalahan yang tetap bergulir walau seorang “melting-pot gene” Obama kelak naik. Jika Hillary naik, yang didukung 200% oleh suaminya yang telah piawai menstabilkan bahkan menaikkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat secara signifikan, tentulah pilihan seorang wanita sebagai presiden bisa lebih dari sekadar kampanye “give the woman a chance”.

Di sini kita pun harus waspada dengan tanda-tanda resesi global yang kian tampak. Konflik tak kunjung selesai di Timur Tengah (surga bagi minyak dunia) membuat banyak orang memutar otak untuk mencari energi alternatif. Walhasil, energi alternatif ini menggeser fungsi produksi pangan. Jika kurva penawaran dan permintaan tergeser, titik ekuilibrium juga turut berubah. Jelas sudah betapa naiknya harga bahan-bahan pokok dalam negeri setahun terakhir adalah pergolakan yang dipengaruhi faktor luar; selain faktor di dalam negeri yaitu: 1) tidak ada penguatan dan peningkatan pasokan dalam negeri dan 2) bencana alam tak kunjung diantisipasi. DPR RI dalam rapat kerja kemarin dengan Menteri Pertanian Pak Anton Apriyantono tentu memiliki alasan kuat dengan meminta cetak biru kedelai.

Mengapa hanya kedelai? Saya punya kumpulan bacaan yang saya download yaitu tulisan tentang strategi dan penanganan kasus dari penjuru dunia untuk segala sektor makanan, peternakan, perikanan, dan pertanian. Mari kita studi banding dan terapkan mana yang terbaik untuk negeri ini. Tak perlu lagi membuat makalah yang habiskan ratusan juta rupiah (buat tim khusus hingga rapat konsinyir di luar kota yang tak kunjung selesai).
Bagaimana Pak Anton? Masalah di Amerika Serikat bisa terus bergulir liar, dan jangan sampai bola liar ini mampir lama di Indonesia. Bagaimana kalau kita percepat saja konsepsi ketahanan pangan (Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002, klik di sini) dan rapatkan barisan Dewan Ketahanan Pangan (Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2006 dentang Dewan Ketahanan Pangan, klik di sini) dengan segala program dan dana yang bisa digunakan.

Beware, we really need an Emergency Alert System of Food and Agriculture to protect our overall economy system. By all means… please.

 

West Wing for Indonesia


Sam Seaborn (diperankan Rob Lowe) dalam serial West Wing musim tayang ketiga bergumam soal “Amerika Serikat berinvestasi di India atau China”. Dengan alasan English-speaking and democratic people, deputi direktur komunikasi White House Seaborn memilih India; sebuah perenungan kembali saat saya membaca Perdana Menteri India Manmohan Singh mengunjungi China minggu ini.

Perang Sino-India tahun 1962 di perbatasan Himalaya telah lewat. Ada agenda lebih penting lainnya dalam pertemuan Singh dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Presiden Hu Jintao. Presiden Hu juga telah mengunjungi India tahun lalu; hasilnya perdagangan bilateral telah mencapai US$ 40 milyar tahun ini sesuai target.

Dua negara besar di Asia, baik dalam hal sumber daya ataupun pertumbuhan ekonomi, duduk bersama di satu meja diplomasi. Bayangkan saja, jumlah penduduk India dan China adalah dua per lima penduduk dunia. Tiga milyar kapitalis baru, adalah pameo yang mengiringi pertumbuhan ekonomi keduanya. Satu persen dari tiga milyar adalah angka fantastis untuk produk konsumsi apapun. Bayangkan jika ada 30 juta bungkus Supermie dikonsumsi dalam sehari di kedua negara ini…

Sayangnya, hingga hari ini masih ada masalah institusional di dalam. Pertumbuhan India masih di bawah China, tapi pemerataan di China masih bermasalah. China juga masih dinyatakan “belum demokratis” oleh negara-negara industrialis. Masih banyak daerah kumuh ditemui di pelosok-pelosok keduanya.

Walau tidak terkenal sebagai negara yang English-speaking, China memiliki infrastruktur (termasuk peraturan daerah) yang lebih baik dari India. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi (10-12%) bahkan harus direm agar tidak exhausted atau aus karena penduduknya tidak kuat mengikuti pertumbuhan ini. Srinivasan (2002) mengkaji posisi fiskal, kemiskinan, dan disparitas kawasan, selain faktor buruh dan reformasi politik serta keuangan. Semua ini juga terkait faktor-faktor eksternal kedua negara ini. Semuanya harus diwaspadai seiring dengan perkembangan sikap setiap warga negaranya yang menginginkan lebih banyak kebebasan berusaha dan berinteraksi. Jangan sampai pertumbuhan tetap tinggi tapi rakyatnya tak mampu menunjang. Beware, bubble economy is coming to town.

Seaborn mungkin hanya karakter gumam yang cuma ada di televisi, namun saya banyak belajar dari gumaman cerdas setiap karakter di serial itu. Memang ada adegan Presiden Bartlet menghadapi duta besar China untuk Amerika yang “oh drama drama!” tentang sikap politis China. FYI, saya tetap jatuh hati pada dialog dan intrik dalam “West Wing” daripada “Commander ini Chief”.

west-wing1.jpg

Terakhir, Indonesia adalah negara ketiga di Asia yang memiliki lansekap institusi yang mirip dengan kedua negara ini. Satu hal pasti yang menjadi catatan akhir saya tentang kerjasama India dan China ini: bagaimana Indonesia belajar dari keduanya, baik secara internal ataupun eksternal. Watch, learn, and implement it wisely…