RSS

Arsip Kategori: planning

My Old Article (1): Cybercity Indonesia, where no one has gone before


cybercity

JAKARTA (JP): Living in today’s world, the net is open for business-big time. As big as it gets, the 21st century’s civilization builds cities on networking, virtual or real.

Now, cybercities are blooming all around the world. One of them, carefully and intelligently planned, is Malaysia Super Corridor (MSC) by Multimedia Development Corporation Sdn Bhd (MDC).

Indonesia, with its setbacks and uproars, comes next. The city funded by L&M Investments Group and organized by PT Cybercity Indonesia will be built in Kemayoran area, the long defunct airport in Jakarta. There is also an already-established satellite city without Internet gimmick, Karawaci, built by the Lippo Group.

Although without the Net gimmick, Karawaci housing has plug-in cable network and other integrated facilities. Unlike Karawaci, the 10-hectare Kemayoran cybercity is still an empty space. The latter also claims to “”act as a hub and a locomotive bridging Indonesia and the world by creating a virtual and physical cluster of Internet-related business.””

Defining a Cybercity

What is a cybercity? Defining cybercity can be pretty tricky. To give an idea, let’s look up the word “”cyberspace”” that was coined by William Gibson in his 1984 novel Neuromancer. Cyberspace is the total interconnectedness of human beings through computers and telecommunication without regard to physical geography. Ever since the Internet became a hype all over the world in the 90s, the word “”cyber”” grows famous for any word related to the Net.

The word cybercity could mean a physical city with Internet connection, yet could mean a virtual city on the Net. If the first is taken into account, then a physical city must include five sectors of living: home, school, office, other facilities for religious, entertainment or commercial purposes, with streets to connect each and one of them. This kind of city could be added with Internet connection to intensify the “”cyberhood”” of the area-in contrast with traditional city.

A property consultant, T. Legawa, states another definition of cybercity. Cybercity is the extended version of teleport. Teleport itself is defined as the interrelated centers of broadband world. One big difference between traditional city and teleport is that teleport’s building has raise floors for computer and telecommunication cables to run freely underneath. This type of building then is 50 cm higher than traditional building. It is a smart building, he adds.

One teleport sponsored and funded entirely by private sector, Immobilien-Treuhand und vermogensahage AG, is Focus Teleport at Berlin, Germany. Another is in India, the Software Technology Park at Bangalore. This teleport was initiated and funded by the Indian Government through the Department of Electronics.

To make it short, a cybercity is probably termed as an enhanced sophisticated city in contrast with today’s existing “”traditional”” city. Cybercity is a more advanced teleport, or a smart city.

From Cyberlaw to Smart Buildings

Despite the political turbulence of the current years, Prime Minister Dato’ Seri Dr Mahathir Mohamad has visioned Malaysia as a fully developed, matured and knowledge-rich country by year 2020. He phrases this as “”Vision 2020″”, a national long term objective guideline.

With this vision, Malaysia prepares Putrajaya (the new seat of government and administration), and Cyberjaya (an intelligent city for multimedia and commercial companies). As a government-appointed, government-backed corporation, MDC calls Putrajaya and Cyberjaya as highlights of MSC’s physical environment. The 15-km-wide-and-50-km long MSC project will connect the Kuala Lumpur City, the new Kuala Lumpur International Airport, Putrajaya and Cyberjaya. With worldwide partners such as Sun Microsystems, Oracle, and many others, MDC is arranging the project with three phases of establishment.

Phase 1 is more to establishing the basics: laws and regulations. A world-leading framework of Cyberlaws and intellectual property laws, they call it. Putrajaya for government office area and Cyberjaya for commercial sites are also established during this phase.

On Phase 2, MSC is ready to link itself to other cybercities (or teleports) in Malaysia and all around the world. Phase 3 would transform Malaysia to be a full-fledged knowledge-based country.

Indonesia is most likely to catch up with what Malaysia has planned and achieved. The executive committee chairman of L&M Investments Group, Edward Soeryadjaya, the son of William Soeryadjaya, founder of Astra International, would bring in strategic partners to fund Cybercity Indonesia. Soeryadjaya has already offered SingNet to take up 30 percent stake valued at US$15 million for the project.

Occupying 10 hectares site in Kemayoran area, Jakarta, this cybercity is initiating e-business, incubation, multimedia, education, technology park. PT Cybercity Indonesia has thought of B2B, B2C, ISP, and other net terms for the e-business item.

Incubation includes expertises for technical, industry, financial and business sides. Exposure of multimedia-or more than one concurrent presentation medium-is supported with broadcasting to broadband facilities. Education and Technology Park would possibly become the most essential part of a cybercity.

Last of all, since this project is funded exclusively by private sector, many aspects of this project can only touch the surface. It is difficult to foresee cyberlaw to be set forth soon by the government.

Since most attention of Indonesia’s government is focused on restructuring a bigger land, the cybercity could live up to gimmick of selling Kemayoran real estate.

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, December 31 2000, 7:20 AM

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 21, 2013 in DKI Jakarta, e-business, e-commerce, planning

 

Tag: , , , , ,

Keuangan Daerah


Ada masalah koordinasi, itu benar. Sesungguhnya masalah terbesar adalah “hati nurani” karena duet Jokowi-Ahok memangkas anggaran 2013 hingga 25% itu bukan karena tak ada koordinasi pusat-daerah (vertikal) atau pun dengan provinsi perbatasan seperti Jabar dan Banten (horizontal).

Tabel di bawah ini selain mencerminkan beban APBD itu berat di belanja pegawai (bayar gaji PNS, beli mobil dinas, perbaikan fasilitas kantor sendiri) dibanding belanja modal (infrastruktur), terutama untuk tingkat kabupaten/kota: rata-rata 50% dalam 5 tahun terakhir. Bandingkan dengan belanja APBD tingkat provinsi. Ketidaksinkronan pola belanja ini juga membuktikan kurangnya koordinasi antara pusat dan daerah, atau pemimpin daerah tingkat provinsi terhadap kabupaten atau kota di bawah jurisdiksi Bapak/Ibu Gubernur.

Hari ini sedang proses revisi UU Otonomi Daerah, yang juga harus sinkronisasi dengan UU Aparatur Sipil Negara. Materinya masih hard copy nih… nanti kalau sudah jadi, saya unggah yang soft copy ya…

Sumber: Ditjen Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2012 in otonomi daerah, planning, public policy, reform, state budget

 

Tag: , , , , ,

[Sekali Lagi] Merumuskan Indonesia


Sudah lama saya tak update blog ini. Satu hal yang kemudian mendorong saya menulis lagi pagi ini adalah ‘semangat kebangkitan nasional’ yang dicoba diracik lagi oleh beberapa kelompok masyarakat. Kemarin malam saya datang ke acara selamatan putra seorang kawan, yang dibuka oleh penggiat buku dan penggila sejarah dunia, Pak Taufik R. Dia merumuskan1908 – 1928 adalah era brahmana, kasta tertinggi dalam beberapa peradaban bangsa. Alasannya, karena Indonesia waktu itu dirumuskan oleh segelintir priyayi. Kemudian di era 1928 – 1968, Indonesia ‘dikelola’ oleh kaum di bawah brahmana: kaum ksatria.  Yang dimaksud adalah pasukan TNI dan pasukan perjuangan non-gelar.  Era 1968-1998, Indonesia dikuasai kaum pedagang, satu garis di bawah ksatria. Sejak itu hingga hari ini, Indonesia dikuasai rakyat, atau istilahnya, kaum sudra. Maaf kalau salah, tapi setahu saya sudra itu adalah kelompok paling miskin dalam tataran sosial ekonomi.  Sebuah analisis yang mungkin kebetulan saja.

dreamindonesia.wordpress.com

Tak berlama-lama di acara itu, saya langsung ‘loncat’ ke acara lain bertempat di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta Pusat. Acara berjudul “Dialog Pemuda Nasional: Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia” ini didukung oleh Kantor Menpora dan diselenggarakan mulai pukul 14.00, dan hingga 21.45 dialog belum selesai, padahal masih ada pertunjukan musik etnik-kontemporer dari Mahagenta. Sayangnya pula, sang menteri yang kantornya punya titel “pemuda” ini tidak hadir karena sedang sibuk peluncuran buku pribadinya dalam rangka pemilihan ketua partai politik. Hmm, mana yang lebih penting ya…?

Kembali ke dialog nasional yang cukup menarik karena panitia menghadirkan sepuluh pembicara dari pelbagai belahan nusantara, lengkap dengan naskah ilmiah tentang konsep Indonesia. Saat mengetik tulisan ini, di meja saya tergeletak buku “Cities, Chaos & Creativity” yang di sampulnya tertulis: politically participatory, socially just, economically productive, ecologically sustainable, dan culturally vibrant. Aspek yang dibahas dalam dialog nasional ini kebanyakan hanya soal kebudayaan yang seharusnya vibrant atau bersemangat. Yang terucap di sesi pertama dialog ini adalah keluhan Dewan Adat Papua tentang ‘aneksasi bukan integrasi’, dan pernyataan Dewan Pakar Kesultanan Ternate tentang federalisme. Federalisme dan disintegrasi, dua kata satu makna.

Paparan menarik datang dari Dr Purwadi M.Hum, staf pengajar Universitas Negeri Yogyakarta dan penulis beberapa buku di antaranya Javanologi: Asal Mula Tanah Jawa. Ia paparkan bahwa hanya ada 2 bangsa yang mampu menguasai dunia (karena mereka mampu menguasai 3 hal: perspektif epigrafis, historis dan kosmopolis) yaitu bangsa Tionghoa dan Israel. Di manapun mereka berada di dunia ini mereka mampu menulis, membaca dan mendokumentasikan tata cara hidup dan pencapaian hidup mereka (epigrafis). Mereka pun mampu menjelaskan dan menarik garis sejarah nenek moyang mereka (historis). Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa mereka mampu mengelola kota di dunia ini dengan membangun pilar politik di kota-kota tersebut (kosmopolis). Polis berarti kota, dan politik adalah turunan kata dari polis. Tak ada keputusan penting berbangsa itu, argumen Purwadi, datang dari desa.

Menarik juga ia mempertanyakan judul acara ini, “Menyoal” bukan “Memperkokoh” atau mungkin usulan saya, “Merumuskan Kembali”. Dari sisi kebudayaan, Indonesia itu sangat kaya. Salah satu pembicara dialog ini, Muhammad Zaini, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung, bahkan meneliti 250 permainan anak seluruh Indonesia. Ia sampaikan bahwa sesungguhnya ada ribuan permainan tradisional, yang baru dikajinya hanya segelintirnya saja. Kekaguman saya adalah bahwa beliau telah membuat arsip permainan daerah yang tak pernah terpikirkan oleh birokrat negeri ini.

Terakhir, acara sepenting ini selayaknya dihadiri oleh pengambil keputusan negeri ini. Seperti ucapan Buya Syafii Maarif di satu kuliah umum yang diselenggarakan harian Kompas, negeri ini tak punya pemimpin yang tahu jadi negarawan. Semuanya berpikir jangka pendek, sependek Pemilu 2014.

 

Java Jazz 2010 dan Jamban Terbesar Dunia


Saya mengucapkan selamat bagi penyelenggara Axis Jakarta International “Java Jazz Festival” 2010 (5-7 Maret 2010) atau disingkat JJF 2010 ini. Pak Peter Gontha telah sukses menyelenggarakan acara bertaraf internasional (seperti judulnya) dan bertempat di area luas dengan konstruksi audio canggih dan kenyamanan menikmati makanan seperti layaknya berada di arena makan di mal.

Sayangnya, beberapa kawan saya mengeluh soal penyelenggaraan yang berlokasi di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, ini. Keluhannya rata-rata soal “lokasi yang jauh” dari tempat tinggal mereka. “Lebih baik di JCC Senayan, sambil merem tengah malam atau bahkan subuh pulang pergi mah biasa.”

Itu kata kuncinya: biasa.

Saya melihat ada masalah psikologis: bahwa daerah Kemayoran bagi warga yang tinggal di selatan Jakarta adalah tidak biasa. Jika ditarik garis lurus dari Monas ke pintu gerbang utama Pekan Raya Jakarta (PRJ) ini seperti jarak Senayan ke lampu merah Kuningan; sayangnya dari Monas ke PRJ terlalu banyak lampu merah dan jalan berkelok.

Lebih makro lagi, lokasi Kemayoran yang strategis, selain dekat pintu tol arah Bandara Cengkareng dan arah Tanjung Priok, serta dekat dengan pusat pemerintahan, ia juga merupakan lokasi yang tak jauh dari laut sebagai sumber daya air dan alam yang melimpah-ruah: Teluk Jakarta.

Teluk Jakarta, seperti divisikan oleh Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta periode 1966-1977 (dua kali), merupakan daerah menyambut wisatawan dan pedagang dalam dan luar negeri. Daerah wisata Ancol merupakan rawa dan pantai tak bertuan sebelum dibangun seperti sekarang.

Tengok kemudian ke timur dan barat Ancol yang kian kumuh dan tak terawat. Tengok pula ke arah selatan di mana aliran sungai-sungai berawal sebelum bermuara ke laut. Sumber daya air dan alam seperti sungai dan laut akhirnya menjadi “JAMBAN” bagi warga Jakarta yang majemuk ini. Sungai dan laut tak lagi menjadi awal kehidupan manusia yang bersih dan bermartabat.

Hal yang sama juga terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Kota dengan seribu sungai dan anak sungai seperti Banjarmasin mengharuskan warganya karib dengan sungai. Pedagang sayur di atas perahu salah satu keunikannya, tapi jangan juga lupa bahwa nyaris seluruh rumah di pesisir sungai membelakangi sungai, alias menjadikannya jamban. Mereka juga mencuci baju atau piring, serta menyikat gigi di tempat yang sama.

Bandingkan dengan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan yang menjadi arena hiburan saat Trans Corp (induk perusahaan Trans TV dan Trans 7) mendirikan kompleks studio untuk daerah timur Indonesia. Visi pemerintah dan rakyat daerah sana yang berjiwa bahari (juga berjiwa saudagar) menjadikan Pantai Losari pusat fasilitas umum, sosial dan bisnis sekaligus. Bandingkan juga dengan Singapura dengan Sentosa Island atau Boat Quay.

Sayang memang, visi pemimpin daerah di Indonesia tak semuanya sama. Sutiyoso terkenal dengan kontroversi busway, dan sekarang, Foke ngetop dengan foto-foto dirinya di billboard sepanjang kota ini. Saking asyiknya berfoto, mungkin beliau lupa bahwa Jakarta adalah kota dengan pantai (yang pernah) indah dan Kepulauan Seribu sebagai mutu manikam yang seakan menari menyambut pelaut sebelum masuk ke Jakarta.

Jakarta bukan jamban terbesar dunia… tabik!

 

Manajemen Sakit dari Sebuah Rumah Sakit


Sehat adalah murah. Antidot-nya adalah sakit. Sakit itu berarti bayar dokter Rp 120 ribu, rontgen Rp 150 ribu, cek darah-dahak-feses Rp 400 ribu dan obat antibiotik dkk sebesar Rp 450 ribu. Mahal.

Harga itu masih terbilang masuk akal dibanding jika harus ke Singapura atau ke rumah sakit swasta, mengingat harga itu adalah Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Cipto Mangunkusumo. Sebagai gantinya, saya harus menyusuri koridor labirin di sana. Saya bisa bertanya tujuh kali sejak tempat parkir untuk menemui ruangan praktek atau loket radiologi. Saya juga harus bertengkar dengan penyerobot antrean atau sabar menanti petugas administrasi tunggal di loket pendaftaran. Atau bahkan harus menutup telinga mendengar bisingnya orang lalu lalang, atau pasien bawel yang merasa datanya hilang.

“Pak Sodap, Pak Sodap…?”

Panggilan nama ini sungguh sedap didengar. Saya terkikik dalam hati saat mendengar percakapan yang dipanggil Pak Sodap ini dengan petugas administrasi pendaftaran.

“Kenapa nama saya tak ada lagi di data Anda, heh…”, tanyanya dengan logat kental sambil memberikan secarik kertas berisi namanya: Mr Sodap, Jalan Mencong sekian sekian.

Sang petugas administrasi memanggil Pak Sodap ke dalam loket untuk mengecek sendiri ejaan namanya di komputer. Pak Sodap menghampirinya.

“Jangan pakai ‘mister’, ketik saja Sodap, begitu…”

“Lah, ini em-er di depan nama Bapak apa dong?”

Saya nyaris terbahak kalau tidak mengingat etika kesopanan terhadap orang yang tak saya kenal.

Saya kembali termenung menunggu panggilan dokter. Mencoret sesuatu atau membaca koran di kala menunggu buat saya adalah tindakan yang lebih berarti selain melamun. Ah, kali ini saya mau melamun saja. Membayangkan sebuah rumah sakit umum pusat yang tertata rapi dan terintegrasi. Tak perlu ada beberapa apotek sekaligus dalam satu gedung. Tak perlu ada berbagai loket. Tak ada jam istirahat yang molor sehingga pasien yang sudah sekarat harus menunggu petugas loket yang sedang istirahat makan siang.

Terkesan memang area RSUP Cipto ini dibuat seperti rumah tumbuh; sayangnya, tidak direncanakan dengan matang. Sejak awal ditunjuknya Dr Cipto Mangunkusumo sebagai ikon kedokteran dan kesehatan Indonesia, rumah sakit ini sudah salah kelola (bahasa kerennya: mismanagement). Membaca Kompas pagi ini tentang sejarah kedokteran di Indonesia, Sabtu 23/5/2009, saya ingin mencerna lagi apakah ribet-nya tata ruang RSUP Cipto ini terkait dengan sejarah berdirinya sebuah kampus kedokteran di negeri ini.

Dinyatakan dr Kartono Mohamad bahwa bahwa kedokteran adalah sekolah pertama yang dibuat untuk menangani penyakit wabah sebelum Indonesia merdeka. Ditambahkan Prof S Somadikarta bahwa universitas di negara-negara maju didirikan sebagai tempat eksklusif, berawal dari tempat kongkow pemikir dan pendakwah.

Ah, itu dia!

Karena bersifat darurat sejak awal — tidak sebagai tempat tenang berpikir dan mengobati rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala sesuatu — lahirlah sebuah rumah sakit yang selalu darurat. Darurat adalah krisis! Darurat adalah gunakan yang ada saja dahulu sebelum ditemukan yang terbaik. Perencanaan untuk memprediksi segala sesuatu adalah hal terakhir yang harus dilakukan. “Nanti keburu orangnya meninggal…”

Seharusnya krisis itu baik. Prof Yohannes Surya malah menekankan manusia survive atau berevolusi untuk bertindakan lebih baik jika berada di bawah tekanan krisis. Seharusnya krisis bisa menjadi pegangan hari ini untuk terus berproses yang lebih baik ke depan. Tentu, saya melihat pembangunan gedung mewah baru bertitel “internasional” di sebelah barat area RSUP Cipto. Saya hari ini juga melihat warung tenda di dalam halaman rumah sakit telah digusur untuk tempat parkir yang lebih nyaman. Saya juga melihat lantai baru mengkilat di beberapa titik.

Melihat RSUP Cipto seperti melihat Indonesia Raya ukuran mini. Berantakan, chaos. Saya terhenyak saat nama saya dipanggil. Lebih dari sepuluh menit saya diperiksa, sekaligus saya bertanya ini-itu tentang penyakit saya. Bertanya adalah hak pasien, dan hanya bisa saya temui di RSUP Cipto ini. Pengalaman saya ke beberapa rumah sakit swasta yang bertitel internasional sekaligus, dokter-dokter spelialisnya banyak yang sakit sariawan; jarang menjawab tuntas pertanyaan remeh-temeh pasiennya.

Keluar dari ruangan mungil sang dokter yang baik itu, saya kembali bingung saat diberitahu ongkos rontgen, cek darah-dahak-feses serta harga obat. Saya melihat sekeliling saya… ada yang bersandal jepit, ada yang bolak-balik memfotokopi berkas jaminan kesehatan. Walau saya tak perlu mengurus dokumen Gakin dan kawan-kawannya, saya tetap merasa sebagai wong cilik yang sesungguhnya. Apakah saya korban dari manajemen negara yang sakit? Dari tiga capres yang akan datang itu, siapa yang peduli sih…? Platform kampanye semuanya terfokus di masalah ekonomi ini, ekonomi itu.

Saya rakyat kecil, dan saya perlu dicerahkan soal rencana tunjangan kesehatan yang nyaman buat saya.

I do need your assurance on HEALTH CARE PLAN, Bapak dan Ibu Capres!

manajemen RS

Click here for info on some-heart-throbbing USA health care plan.

 

Resesi di Amerika Serikat?


Libur Martin Luther Jr di sana bisa membuat seluruh dunia memicingkan mata. Kebetulan tadi malam saya bongkar-bongkar DVD lama, dan berakhir dengan menonton “American History X” ( 1998 ) yang dibintangi cemerlang (seperti biasa) oleh Edward Norton. Tidak ada hubungannya dengan resesi yang ditakutkan melanda Amerika Serikat dan berdampak ke seluruh dunia, film ini tentang rasisme dan kebencian yang sulit dipadamkan, bahkan setelah ratusan tahun perbudakan dihilangkan di negeri itu.

 Edward Norton  Clinton & Obama (pic: New Line Cinema & Reuters)

Film ini merupakan perenungan yang amat dalam, lebih dari sekadar masalah sejarah Amerika apalagi dramaturgi cerita. Amerika Serikat tetap menyimpan sejuta permasalahan yang tetap bergulir walau seorang “melting-pot gene” Obama kelak naik. Jika Hillary naik, yang didukung 200% oleh suaminya yang telah piawai menstabilkan bahkan menaikkan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat secara signifikan, tentulah pilihan seorang wanita sebagai presiden bisa lebih dari sekadar kampanye “give the woman a chance”.

Di sini kita pun harus waspada dengan tanda-tanda resesi global yang kian tampak. Konflik tak kunjung selesai di Timur Tengah (surga bagi minyak dunia) membuat banyak orang memutar otak untuk mencari energi alternatif. Walhasil, energi alternatif ini menggeser fungsi produksi pangan. Jika kurva penawaran dan permintaan tergeser, titik ekuilibrium juga turut berubah. Jelas sudah betapa naiknya harga bahan-bahan pokok dalam negeri setahun terakhir adalah pergolakan yang dipengaruhi faktor luar; selain faktor di dalam negeri yaitu: 1) tidak ada penguatan dan peningkatan pasokan dalam negeri dan 2) bencana alam tak kunjung diantisipasi. DPR RI dalam rapat kerja kemarin dengan Menteri Pertanian Pak Anton Apriyantono tentu memiliki alasan kuat dengan meminta cetak biru kedelai.

Mengapa hanya kedelai? Saya punya kumpulan bacaan yang saya download yaitu tulisan tentang strategi dan penanganan kasus dari penjuru dunia untuk segala sektor makanan, peternakan, perikanan, dan pertanian. Mari kita studi banding dan terapkan mana yang terbaik untuk negeri ini. Tak perlu lagi membuat makalah yang habiskan ratusan juta rupiah (buat tim khusus hingga rapat konsinyir di luar kota yang tak kunjung selesai).
Bagaimana Pak Anton? Masalah di Amerika Serikat bisa terus bergulir liar, dan jangan sampai bola liar ini mampir lama di Indonesia. Bagaimana kalau kita percepat saja konsepsi ketahanan pangan (Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002, klik di sini) dan rapatkan barisan Dewan Ketahanan Pangan (Peraturan Pemerintah Nomor 83 Tahun 2006 dentang Dewan Ketahanan Pangan, klik di sini) dengan segala program dan dana yang bisa digunakan.

Beware, we really need an Emergency Alert System of Food and Agriculture to protect our overall economy system. By all means… please.

 

West Wing for Indonesia


Sam Seaborn (diperankan Rob Lowe) dalam serial West Wing musim tayang ketiga bergumam soal “Amerika Serikat berinvestasi di India atau China”. Dengan alasan English-speaking and democratic people, deputi direktur komunikasi White House Seaborn memilih India; sebuah perenungan kembali saat saya membaca Perdana Menteri India Manmohan Singh mengunjungi China minggu ini.

Perang Sino-India tahun 1962 di perbatasan Himalaya telah lewat. Ada agenda lebih penting lainnya dalam pertemuan Singh dengan Perdana Menteri China Wen Jiabao dan Presiden Hu Jintao. Presiden Hu juga telah mengunjungi India tahun lalu; hasilnya perdagangan bilateral telah mencapai US$ 40 milyar tahun ini sesuai target.

Dua negara besar di Asia, baik dalam hal sumber daya ataupun pertumbuhan ekonomi, duduk bersama di satu meja diplomasi. Bayangkan saja, jumlah penduduk India dan China adalah dua per lima penduduk dunia. Tiga milyar kapitalis baru, adalah pameo yang mengiringi pertumbuhan ekonomi keduanya. Satu persen dari tiga milyar adalah angka fantastis untuk produk konsumsi apapun. Bayangkan jika ada 30 juta bungkus Supermie dikonsumsi dalam sehari di kedua negara ini…

Sayangnya, hingga hari ini masih ada masalah institusional di dalam. Pertumbuhan India masih di bawah China, tapi pemerataan di China masih bermasalah. China juga masih dinyatakan “belum demokratis” oleh negara-negara industrialis. Masih banyak daerah kumuh ditemui di pelosok-pelosok keduanya.

Walau tidak terkenal sebagai negara yang English-speaking, China memiliki infrastruktur (termasuk peraturan daerah) yang lebih baik dari India. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi (10-12%) bahkan harus direm agar tidak exhausted atau aus karena penduduknya tidak kuat mengikuti pertumbuhan ini. Srinivasan (2002) mengkaji posisi fiskal, kemiskinan, dan disparitas kawasan, selain faktor buruh dan reformasi politik serta keuangan. Semua ini juga terkait faktor-faktor eksternal kedua negara ini. Semuanya harus diwaspadai seiring dengan perkembangan sikap setiap warga negaranya yang menginginkan lebih banyak kebebasan berusaha dan berinteraksi. Jangan sampai pertumbuhan tetap tinggi tapi rakyatnya tak mampu menunjang. Beware, bubble economy is coming to town.

Seaborn mungkin hanya karakter gumam yang cuma ada di televisi, namun saya banyak belajar dari gumaman cerdas setiap karakter di serial itu. Memang ada adegan Presiden Bartlet menghadapi duta besar China untuk Amerika yang “oh drama drama!” tentang sikap politis China. FYI, saya tetap jatuh hati pada dialog dan intrik dalam “West Wing” daripada “Commander ini Chief”.

west-wing1.jpg

Terakhir, Indonesia adalah negara ketiga di Asia yang memiliki lansekap institusi yang mirip dengan kedua negara ini. Satu hal pasti yang menjadi catatan akhir saya tentang kerjasama India dan China ini: bagaimana Indonesia belajar dari keduanya, baik secara internal ataupun eksternal. Watch, learn, and implement it wisely…