RSS

Arsip Kategori: propaganda

Hittites, Semites, Mesopotamia, and Tribal Marketing 3.0


Imagine there’s no countries
It isn’t hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace

Lennon bahkan pernah menulis lirik untuk Timothy Leary “Come Together” untuk kampanye gubernur California, tapi kandidasi ini gagal karena Leary tertangkap basah menggunakan marijuana. Some hero huh?

Tak lama setelah lagu Lennon tadi, penyiar radio membacakan berita tentang [lagi-lagi] Israel. Otomatis saya bergumam, “Tawarkan saja Israel sewa tanah Papua biar diam.” Simplifikasi yang sangat bodoh memang. Saya pernah baca usul lebih cerdas, lupa baca di mana: “Jadikan tanah internasional, tak usah pakai paspor tapi dibuatkan institusi seperti FIFA atau Mahkamah Internasional.” That’s right, non-territory governing body. Suami saya yang mendengar gumaman saya tadi meminta saya buka lagi buku sejarah yang banyak gambarnya terbitan Kingfisher Book (dulu saya beli karena tawaran direct mail Book of the Month Club, UK).

kingfisher

Sejarah bukan mata pelajaran terfavorit, tapi the older I got, the most subject I required is history of every little thing, even the historian‘s personal life. Hittites, Semites, Minoans, Phoenicians, Mycenaeans. Banyak suku bangsa (tribe) dan peradaban (civilization) yang berasimilasi, hilang atau timbul. Invasi satu kelompok terhadap kelompok lain adalah kisah tak pernah habis.

Barusan juga saya sempat mampir ke salah satu top blog hari ini yang membahas satu film nasional. Tak pernah membaca novelnya, dan tak ingin menonton filmnya juga, but I just find it difficult for anyone to be annoyed by “ideas”. Chill out will ya… Kontroversi film ini tak ingin saya tanggapi, bahkan tak ingin sebut judul filmnya di sini.

Sadarkah bahwa semua hanya daya upaya marketer atau publicist hari ini. Sama seperti halnya Da Vinci Code, apapun berkedok agama atau kelompok harus dicerna dengan kepala dingin. Saya bahkan dengan senang hati menyamakan kontroversi berkedok agama ini dengan dengan Maia-Dhani, Dewi-Syamsul, atau Tiga Diva-Erwin. It’s all about [the] money, dum dum durrum dum dum… or new album, dum dum durrum dum dum… or… dum dum!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 25, 2008 in history, propaganda, religion

 

Domino Effects


Topik yang ingin saya angkat kali ini mungkin lebih baik dibahas oleh sahabat saya di kampus, Pak Joko, yang memang jagoan di dunia finansial dan investasi. Selamat malam, Pak. Maaf saya sebut-sebut, but do correct me if I misled everybody here, ‘K?

***

Saya tak ingin masuk ke detail masalah. Yang bisa saya kaji sebagai orang awam tentang The Fed mengintervensi bursa di Amerika Serikat adalah bahwa atas tindakan ini, investor akhirnya tergerak untuk membeli. Terjadilah rush pasar Asia yang buka lebih dahulu dari pasar Eropa, tentulah pasar Asia gain. Sedangkan pasar Eropa yang sedang lelap hanya mendapat “sisa” dari upaya The Fed ini. Di saat ini mungkin beberapa investor Eropa akan mengutuk, “Oh I wish the bloody world is flat, and the sun shines here earlier, waaay before Asia”

Di lain pihak, sore ini saya membuka beberapa situs berita internasional. Sebuah kebetulan atau tidak, kupasan Mas Ninok Leksono di halaman 1 di Kompas tadi pagi juga memfokuskan hal yang serupa tapi tak sama. Ah, all about China on filthy dirty economy system. Sebaliknya, situsĀ  berita Xinhua justru memberitakan Presiden Hu Jintao memberi ucapan selamat tahun baru bagi rakyatnya. Pastinya dengan harapan “more prosperous year to come.”

Sementara itu di belahan dunia yang merasakan matahari kemudian, Footsie (FTSE) adalah bursa yang turut merasakan kecutnya Asian rush. Pagi ini (or at the moment I am typing this writing) Bank of England tetap keukeuh untuk tidak menanggung beban pasar Amerika (alias tak ingin ikut-ikut turunkan tingkat suku bunga). Gubernur the Bank of England, Mervyn King menyatakan bahwa “There is a risk that weaker activity and lower asset prices could result in another round of losses for banks and a further tightening of credit conditions.” (independent.co.uk, 23 Januari 2008)

Bermain di kepala saya betapa sistem perdagangan internasional kian memberi bentuk tersendiri bagi peradaban negeri ini. Kelesuan pasar Asia beberapa waktu terakhir dengan agflasi sebagai salah satu pemicunya mulai bergeliat setelah kejadian ini. Hanya kemudian kita tak boleh terlena. Saya mungkin salah, tapi kampanye negatif media massa atas geliat ini juga harus diwaspadai. China atau India adalah topik paling seksi dibahas selama dekade ini. Jika kedua pasar besar sekaligus juga produsen besar di berbagai sektor ini kemudian menjadi topik atas limbah industri dan sistem pengelolaan pangan ekspor yang tidak sehat hari ini, saya tidak melihatnya sebagai sebuah kebetulan belaka. Oh yeah, it’s just a plain vanilla war, another kind perchance. We’re in a war time economy, or maybe economy war time? Let’s ask Mr Bush.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2008 in India-China, koran global, propaganda

 

Indonesia on The Move, atau Baca Indonesia Baca!


Paul A. Samuelson (2002) mengangkat isu adanya akademisi seleb sebagai “Nobel Prize Disease”, jauh sebelum Al Gore mendapat Nobel Perdamaian. Ulrike Malmendier dan Geoffrey Tate (2005) menyebut “Sports Illustrated Jinx” untuk olahragawan seleb yang menurun prestasinya tapi kerap tampil modis, atau “Sophomore Jinx” untuk pemain film yang debutnya gagal.

Malmendier dan Tate juga mengkaji superstar CEO yang ternyata terbukti secara empiris tidak menghasilkan pemasukan berarti bagi perusahaan yang mereka pimpin. Harga saham perusahaan menurun, pemasukan juga tidak kunjung membaik selama mereka menjabat (baca tulisan Malmendier & Tate di sini).

***

CEO di perusahaan multinasional di Amerika seperti Michael Eisner (The Walt Disney Company) juga dianggap dibayar terlalu tinggi sementara kiprahnya membuat Disney nyaris bangkrut. Selama tahun 1998, satu orang bernama Eisner mendapat US$565 juta yang bernilai sama dengan honor 65.700 pegawai Disney setahun di seluruh dunia dengan angka pukul rata US$8,600 per kepala.

Eisner juga adalah sosok flamboyan. Ia menulis beberapa buku di antaranya Work in Progress dan Common Sense and Conflict: An Interview with Disney’s Michael Eisner. Lebih banyak lagi buku tentang Eisner ditulis orang lain. Eisner juga lebih banyak hadir di acara-acara gala dan menerima penghargaan mulai NAB Hall of Fame Awards hingga Exemplary Leadership in Management Award (ELMA). Ia juga senang berseteru dengan cucu dari Walt Disney yang menyebabkan dirinya mengundurkan diri tahun 2005.

Selama menjabat CEO Disney, Eisner sendiri tercatat banyak mengambil keputusan-keputusan yang merugikan korporasi. Memberi pesangon pimpinan studio Jeffrey Katzenberg yang seharusnya bernilai US$60 juta menjadi $280 juta. Dia juga membangun theme park di luar Paris sementara sentimen rakyat Perancis terhadap budaya asing sungguh amat tinggi; hal ini menyebabkan taman itu bangkrut.

Beberapa keputusan lain yang membawa korporasi Disney merugi, di antaranya adalah akuisisi saluran televisi berlangganan Bravo! dan Independent Film Channel dari Cablevision Systems Corp. Ia juga dianggap membayar terlalu mahal terhadap pembelian saluran TV ABC Family Channel. Yang terparah adalah saat Disney membeli ABC yang akhirnya merugi.

***

Tanah adalah obyek imperialisme masa lalu, dan Columbus adalah agennya. Hari ini, Corporate America adalah penguasa dunia yang tak lagi terlalu rakus dengan tanah. Selain tanah, ada hal lain yang tak bisa diperbaharui tapi lebih seksi bagi para penguasa dunia ini. Uranium dan minyak adalah obyek hari ini, dan Eisner adalah salah satu agennya. Bagaimana media televisi dan film layar lebar Amerika Serikat telah mendominasi global, lihatlah film tentang Perang Dingin hingga Perang Teluk ataupun peristiwa 9/11 (kecuali karya Michael Moore, tentu). Perhatikan setiap film layar lebar produksi Hollywood atau film seri berlatar-belakang New York, bendera (atau lagu kebangsaan) Amerika Serikat pasti muncul di latar depan atau belakang beberapa adegan. CNN juga tak harus selalu cover both sides. Dan seterusnya…

***

Belajar dari kegagalan Eisner ataupun progres Corporate America hingga ke Indonesia, ada baiknya kita berbenah di dalam. Salah satu yang mungkin bisa mengawali langkah bersama adalah “membaca” segala sesuatu yang menggunakan bahasa Inggris. India dengan puluhan dialek dan bahasa daerah aseli India mampu menjadi penerbit buku berbahasa Inggris terbesar ketiga di dunia setelah Inggris dan Amerika Serikat. Indonesia? Setelah mengisi perut dan mencuci mata, membaca bahasa Inggris masih jauh di bawahnya. Bayangkan, menulis dalam bahasa Indonesia saja masih di nomor urut kesekian, apalagi menulis dalam bahasa Inggris!

Apa yang dilakukan Presiden SBY hari ini–yaitu meluncurkan kompilasi pidato dan tulisan dalam buku berjudul Indonesia on The Move–selayaknya memiliki backward & forward effect bagi rakyat negeri ini. Seorang presiden adalah pengambil keputusan tertinggi di negeri ini, seperti halnya gereja di masa lalu–yang mampu menyuruh pemusnahan buku pasca-temuan mesin cetak Gutenberg.

Peluncuran buku Indonesia on The Move di sebuah toko buku komersial, merupakan titik koma dari industri buku di negeri ini. Ada sedikit catatan yang harus dipertimbangkan:

  • Sayang jika buku ini hanya sekadar “ditempel” dengan peluncuran toko buku pasca-renovasi gedung, yang notabene masih saudara dari Harian Kompas.
  • Sayang jika pajak buku dihapus per Oktober 2007 namun belum mendorong penurunan harga buku. Pokok biaya terbesar masih dipegang oleh harga kertas dan distribusi. Bayangkan hari ini 62% pasokan bubur kertas (pulp) di Indonesia masih disuplai oleh tersangka pembalakan liar PT Riau Andalan Pulp and Paper dan PT Indah Kiat Pulp and Paper. Bayangkan juga bagaimana jalur distribusi buku bisa mencapai ke Pangkalan Bun (Kalimantan) atau Bungo (Jambi).
  • Sayang jika tak ada penulis diberi insentif internal (keringanan pajak penghasilan atau tambahan subsidi) atau insentif eksternal (dilindungi karya ciptanya atau dipasarkan karyanya ke seluruh Indonesia).
  • Sayang jika tak dibarengi dengan kebijakan pendidikan formal yang mewajibkan bacaan sastra ataupun biografi tokoh sejak kecil. Apalagi menuliskannya…

***

Presiden bukanlah CEO an sich. Peluncuran buku tak selayaknya jadi turnamen popularitas semata. George W. Bush meresmikan Indonesia Education Initiative senilai US$157 juta untuk mempromosikan Sesame Street Indonesia sebagai langkah yang lebih konkret untuk pamer Corporate America. Jika menonton film Hollywood tentang negara Iran atau China, posisikan diri sebagai orang Iran atau China agar tak terjebak sebagai korban propaganda semata. Masih banyak lagi hal lain yang bisa dipelajari, tentu jika kita mahir membaca (atau menonton) dalam bahasa Inggris.

Saya belum membaca Indonesia on The Move. Kalau ada resensinya, tolong email ke saya. Jika bagus, tentu saya akan membelinya. Yang pasti, malam ini ada satu pertanyaan yang menggelitik di kepala saya: “Jika benar Indonesia sedang bergerak, kira-kira ke arah mana ya Pak Presiden?”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 29, 2007 in buku, corporate america, presiden, propaganda