RSS

Arsip Kategori: recession

A Smile at Prices of Hot Spices


Indonesia is a unique country, for I cannot say it is impossible to live in. I still have to use a positive sentence to start the year.  We are still celebrating new year, and we passed Idul Fitri and Idul Adha, two most sacred days for moslems. Over the two latter, prices of hot spices–you might call it chillis and we called it “cabe”–was hotter than mercurius. We usually cook special food to celebrate Idul Fitri (hot “ketupat rendang” or “ketupat opor” added with ground chillis and onions). We also cook “kare kambing” or “lamb curry” after we sacrifice the lamb in the morning. Curry, as we know it, needs spices mostly chillis.

So what happened when it’s Christmas time? Do we cook spicey food? Not too many. New year’s eve? We cook spaghetti with is tomato sauce, and chillis if required–not a must. We serve pudding and other sweeties to close the year. Why on earth the price of chillis per kilogram went from IDR 50,000 to IDR 100,000 overnight on the first week of  2011? This is amazingly outrageous or outrageously amazing…!

Blame it on the extreme weather? Awww, come on… the sun is still there at certain times of the day. We have reached the highest level of bioengineering for food production for the last decades. Why don’t we do something out of it? In Indonesia, again as a unique country, priority of doing the right things is upside down, inside out of whatsoever. Our president was best seen sitting graciously near a soccer field instead of chopping the grass in the middle of paddy field. Our local government is too busy doing knick-knacks instead of encouraging the people to produce and distribute more efficient farming or fishery goods. Public officers concern more on renovating their official houses and buying more expensive official sedans to suit their ranking of bureaucratic system. (click here for one of the news)

We, the Indonesians, are likely to face a very hotter year in the future if the prices of 9 staff and staple (“sembilan bahan pokok” or “sembako”) are crazily skyrocketting.  There were no significant government’s actions last year, and we are not hoping more this year. However, we are the still the kindest and the most forgiving species on earth. We Indonesians always handle things with smile, for better or worse.

 

Tag:

Dunia ini dikuasai segelintir…


Resesi sudah datang di salah satu pusat perdagangan dunia terbesar, Amerika Serikat, karena kredit macet di saat pembeli rumah di sana tak mampu mengembalikan cicilan. Ditambah lagi pola hidup debt diet yang dianjurkan Oprah Winfrey itu tak mampu membendung nafsu konsumerisme warga Amerika Serikat. Tambah runyam lagi saat government spending sana disedot untuk membiayai tentara perang, bukan membangun pabrik dan jalan. Produksi stagnan, konsumsi tinggi, tak ada surplus ekspor impor yang signifikan.

Presiden negara itu, yang banyak dinilai error oleh rakyatnya, minggu lalu menandatangani Emergency Economic Stabilization Act, alias peraturan gawat darurat untuk perekonomiannya. Disebutkan di sana bahwa pengawas bursa (SEC, stock exchange commission) harus berkoordinasi dengan bank sentral dan departemen keuangan untuk membuat mark-to-market accounting, dan harus melaporkan kembali ke kongres dalam 90 hari ke depan. Lehman Brothers/LB dan Fannie Mae Freddy Mac, Wachovia dan Wells Fargo,  are strictly supply-demand thing. Institusi finansial ini tak punya masalah “pabrik macet” atau “kehabisan bahan produksi” karena memang mereka hanya usaha jasa: menyalurkan uang untuk mendapatkan keuntungan nilai. Di saat uang tersebut tidak kembali lagi, alias kredit macet, maka nilai keuntungan itu tidak kunjung datang malah kemudian membuat lubang kian lebar. LB sebagai satu usaha finansial terbesar keempat di Amerika Serikat menyiapkan sekoci namun terlambat. Di saat tak ada yang mau membeli aset “bodong” LB, tak ada jalan untuk spin off some of its toxic assets to shareholders.

Apes, LB kemudian menyatakan diri bangkrut, di saat itu pula Amerika Serikat dan dunia guncang. Salah satu dampaknya, jelas 26 ribu pegawai LB akan kehilangan pekerjaan. Selain itu juga investor dunia mulai menahan diri untuk menanamkan uangnya di institusi finansial Amerika Serikat, alias tak ada investasi masuk ke negara adidaya ini. Ekspor ke Amerika Serikat akan terhenti karena membebani anggaran mereka. Akhirnya tak ada uang untuk membangun jalan dan pabrik dan infrastruktur produksi dalam negeri, karena harus menggelontorkan AS$700 milyar untuk menyelamatkan institusi finansial bermasalah (tak hanya LB saja loh!).

Bayangkan dampak bola salju yang akan menghajar negara adidaya ini. Titik henti bola salju itu ada pada saat: LB tak ada yang mau beli. Nasib serupa sedang menghantui institusi finansial lain seperti Merrill Lynch & Co Inc., sehingga pemerintah negara-negara Eropa segera menjamin bahwa tabungan warganya aman di bank lokal mereka. Kalau Indonesia kemudian ikut-ikut panik dan banyak pakar bilang “Hey, harus ada rencana antisipatif untuk ini!”, kok saya melihatnya seperti semut teriak di tengah gajah-gajah kebakaran jenggot ya? Hehehe…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2008 in business, chaos, recession

 

Bail Out


Kalau di film tuh ya, ada tersangka kasus pidana atau perdata mau jadi tahanan rumah, atau drunk driver ditahan di kantor polisi, dia ini bisa keluar dengan jaminan atau bail out. Nilainya mungkin kecil, mungkin besar untuk ukuran yang mau menjamin (bisa keluarga, istri atau pengacaranya). Masalahnya kalau bail out untuk cegah depresi hebat kedua (Great Depression II) di Amerika Serikat yang punya dampak bola salju ke seluruh dunia, nah ini baru jaminan luar biasa.

Terkadang juga apa yang digembar-gemborkan media tentang mekanisme bail out di Amerika Serikat sana, baik melalui berita aktual ataupun kolom opini para pakar, bisa bergulir dan melahirkan dampak sampingan yang membuat panik siapapun. Masalahnya, kalau tidak diberitakan atau disampaikan dengan arif, bisa jadi kita semua jadi generasi paranoia; satu berita heboh (Ryan, misalnya) ke berita heboh lain (resesi ekonomi yang tak kunjung selesai).

Mari kita bail out rasa nyaman kita membaca berita, menonton TV, mendengarkan radio, atau klik detikcom yang suka bombastis bikin judul itu (maklum, urusannya per detik, kalau tak di-klik orang, beritanya lewat saja).

Oke, selamat Lebaran dan Liburan! Dua hal yang paling saya nanti setiap tahun. Maaf lahir batin ya buat semua, kalau ada salah ketikan atau tindakan…

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 1, 2008 in depression, detikcom, great depression, recession