RSS

Arsip Kategori: satellite business

MNC di AsiaSat S3


Malam ini saya mau titip salam kenal buat kawan yang ingin mengetahui saluran MNC di satelit AsiaSat S3. Apakah yang dimaksud “mnc” dalam arti luas “multinational corporation”, atau MNC alias Media Nusantara Citra; jika MNC yang terakhir ini, yang merupakan unit dari Global Mediacom, hingga hari ini sih belum terdaftar di jajaran penyewa AsiaSat S3. Ada memang Sun TV, tapi beralamat China, satu negara yang menjadi incaran ekspansi Global Mediacom AKA Bimantara Citra, saudara sepupu dari Bhakti Investama. Memang melalui satu unit di bawah MNC, Global Mediacom telah membeli outstanding share dari perusahaan telekomunikasi di China, Linktone Ltd. yang juga merupakan penyedia media interaktif. Linktone juga merupakan biro iklan eksklusif dan penyedia isi bagi Qinghai Satellite Television, sebuah saluran TV via satelit yang bisa ditangkap di 24 provinsi dengan total penonton 276 juta. Nah, Qinghai ini memang diuplink ke satelit AsiaSat S3 juga. Jadi, kesimpulannya: bukan MNC langsung ya?

Anyway…

Bangga juga ada pengusaha Indonesia yang bisa mengayuh perahunya sejauh China. Asal tidak ada cuci-cuci uang, saya mah angkat kepalan tangan saya (bukan topi, karena enggak suka pakai topi sih) buat Global Mediacom.

***

Kapasitas dan cakupan footprint AsiaSat S3 itu cukup besar, maklum milik General Electric dan Citic. GE adalah konglomerat Amerika Serikat yang punya GE Commercial Finance, GE Industrial, GE Infrastructure (termasuk GE Aviation dan bekas Smiths Aerospace), GE Consumer Finance, GE Healthcare, dan NBC Universal, usaha bisnis hiburan (wikipedia). Sedangkan Citic (China International Trust and Investment Company) merupakan BUMN Pemerintah China.

Beberapa saluran di dalam AsiaSat S3 adalah sebagai berikut: China Entertainment TV, China Entertainment TV 2, Maharishi Veda Vision, Zee Network, Channel NewsAsia, Radio Singapore International, BTV World, TVB 8, Celestial Movies, Celestial Classic Movies, Azio TV Asia, Fashion TV Hong Kong & Asia, Aaj TV, Arirang Arab, NOW, Bloomberg TV Asia-Pacific, Russia Today, MTA International, Al Jazeera English, Supreme Master TV, TV 5 Monde Asie, Eurosport Asia, Eurosport News, IRINN, Amouzesh TV Network, IRIB Quran, Jame-Jam TV Network 3, Press TV, Sahar, IRIB Radio 1, Radio Payam, Radio Javan, Radio Maaref, Radio Farhang, Sedaye Ashena, Radio Varzesh, Radio Quran (Iran), Radio Yazd, Radio Sistan Balochestan, Phoenix InfoNews Channel, Kerman TV, Khalij Fars TV, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Radio Kerman, Radio Bandar Abas, Noor TV (Afghanistan), Tamadon TV, PBC Larkana, Radio Pakistan, Sun TV (China), PTV Global, PTV Global, TVB, TVB Xing He, MATV, Horizon Channel, PTV National, PTV Home, Radio Pakistan, Zee Network, Zee Muzic Asia, Zee Smile, Geo TV Network… pokoknya cukup heboh!

 

KEBEBASAN *sensor* TERANCAM?


PTUN adalah mekanisme hukum yang sah; lalu mengapa jadi tersinggung dan menggugat balik?

Proses tender Universal Service Obligation (USO) ke desa-desa adalah frasa kunci dalam kasus ACeS menggugat Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Sedangkan frasa kunci buat Postel menggugat balik ACeS adalah “teknologi comply atau tidak, kalau tidak jadinya lebih mahal”. Baca beritanya, klik di sini.

You gotta be kidding!

Honestly?

1. USO sudah beberapa kali ditanyakan di DPR RI Komisi 1 tentang transparansi penyalurannya oleh Postel. Kalau tidak salah total 2005 adalah sebesar 17 trilyun rupiah. Hasilnya? Apakah DPR RI juga tak lagi bertanya karena bosan atau alasan lain, ataukah memang rakyat tak boleh tahu uang pungutan dari operator telekomunikasi negeri ini larinya ke mana. Transparansi penggunaan uang negara memang masalah berat hingga hari ini.

Alasan Panitia Tender USO untuk membatalkan Tender karena Penawaran dari PT ACeS sebesar Rp 1,7 trilyun adalah terlalu murah, sedangkan Tawaran PT TELKOM sebesar Rp 5,6 trilyun dianggap teralu mahal. Berdasarkan simulasi Panitia, angkayang wajar adalah Rp 3,7 trilyun. Apa aturan Tender memang demikian?

2. PTUN adalah mekanisme paling adil dan demokratis untuk keputusan-keputusan pemerintah yang dianggap salah karena merugikan anggota masyarakat. Pemerintah seharusnya nrimo dan berbuka hati atas kritik ini. Challenge atas putusan pengadilan kemudian adalah pengaturan di Postel kemudian. Kajian terhadap penggunaan dana USO seharusnya dipaparkan ke publik; mengapa ACeS tidak layak atau layak (tapi ada alasan di balik alasan?). Toh pilar yudikatif hari ini juga berbenah diri, mengapa pemerintah/eksekutifnya tidak?

3. Teknologi comply? Hari ini dengan digitalisasi di segala lini, rentang perbedaan antara satu standar dengan lainnya menipis. Maaf jika saya salah dalam berlogika tentang teknologi.

  • FAKTA 1: pilih mana? ACeS (sebagai pemilik salah satu satellite komunikasi – owned and operated by ACeS) versus pemenang tender yang comply teknologinya tapi tidak memiliki satelit.
  • FAKTA 2: seperti China yang luas, Indonesia juga memiliki 17 ribu kepulauan. Sejak lima tahun terakhir, China menggunakan satelit untuk seluruh negaranya kemudian menggelar kabel daripada antena terestrial di satu titik untuk efisiensi.
  • FAKTA 3: Satelit komunikasi adalah sebuah alat digital yang penerimanya harus digital atau bisa ditransfer ke analog. Membuat head-end di satu titik untuk menyalurkan ke rumah-rumah adalah proses yang kian dibuat murah (ingat Wajanbolik yang dirancang Mas Ono Purbo, bukunya bisa dibeli di toko buku terdekat; atau ingatlah bahwa kabel buatan China adalah kabel termurah di dunia!)
  • Rangkaian berpikirnya adalah: Indonesia raya 17 ribu pulau, satelit digital, kabel buatan China murah, wajanbolik mudah dan murah, lalu mengapa dipersulit? (Oh lupa, ini Indonesia ya?)

Akhirul kalam, saya tak melihat alasan standar teknologi yang comply dan proses gugat balik ini akhirnya dilakukan atau bahkan dipikirkan dalam esensi tertinggi dan termulia: kepentingan rakyat di daerah. Postel seharusnya bisa lebih cerdas dan bijak lagi, karena saya kenal Pak Basuki adalah orang yang cerdas dan bijak.

wajanbolik.jpg wajanbolik @ www.netsains.com

 

Geography with Pipo


Pipo has website. Who is Pipo? Nobody, just an interactive game’s character. But seriously, he has boosted my curiosity. One of Pipo’s game is about satellite bird’s pointing at earth. I googled here and there on the keywords “satellite bird business”. Hmmpppff… Ernst & Young (2006) reported that the most EBITDA margin in Media and Entertainment sector is satellite operations! Aha, tempeh and tofu are not alone.

One of my favourite websites (cannot tell you, not yet) provide me comprehensive information on satellite business. A complete list of satellite birds hammering all over the earth surface, they have up-to-this-second data. Yep, I am a bit stingy on data now.

OK, back to Pipo. No, fast forward. Back to satellite business. Indonesia might be the first in Asia to accomplish with Palapa 1. Yet, with too many birds today and less buyers in Asia made the retail transponder costs cheaper thus it became even “not so delicious pie of market”. Indostar AKA Cakrawarta even has itsy bitsy problem with “military orbit thingie” while proposing for the second, third and so-forth slotting. Yet, remember this: satellite business worldwide is the most prospective for ten years to come. Other distribution pipe shall be considered expensive yet too long to establish for such wide coverage areas.

Thank you Pipo. You made my day a step further.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 26, 2008 in ernst & young, satellite, satellite business