RSS

Arsip Kategori: summit

Harga Hijau


Data dan proyeksi dari US Census tentang emisi karbon dioksida dari konsumsi bahan bakar fosil (fossil fuels) menyebutkan total dunia 7.308 juta ton (2005) dan proyeksinya di tahun 2010 adalah 8.146 juta ton. Bahan bakar ini termasuk minyak, gas alam, batubara dan pembakaran gas alam. China (minus Taiwan) menempati urutan kedua (1.186 juta ton) setelah Amerika Serikat (1.683 juta ton). Hanya India, Jepang dan Korea Selatan yang menempati urutan di bawah Russia yang menempati urutan ketiga (405 juta ton di tahun 1998).

Sedangkan untuk pencemaran udara (air pollutant) tertinggi tahun 1997 di dunia ini ditempati Australia (sulfur oksida 100,7 kg per kapita dan nitrogen oksida 118, 5 kg per kapita) dan Luxembourg (karbon dioksida 20,5 kg per kapita). Pembuah sampah (waste generated) tetap dipegang oleh Amerika Serikat sebesar 2.100 ton per kapita.

Selain itu, tahun 1998 Amerika bagian utara juga masih produsen energi terbesar dunia (99,3 trilyun Btu) diikuti oleh Asia dan Oseania (75,4 trilyun Btu). Catatan: Btu=British thermal units. Untuk konsumsi energi terbesar dunia juga masih diduduki Amerika bagian utara (112,6 trilyun Btu) dan Asia/Oseania (99,3 trilyun Btu).

Apa yang terjadi dengan acara-acara “selamatkan bumi” merupakan satu indikasi bahwa bumi akan tenggelam dalam pencemaran kronis sejalan dengan industrialisasi global. Negara-negara industrialis yang tersebut di atas adalah produsen sekaligus konsumen dan pencemar bumi terberat.

Lebih mikro lagi, produk-produk besar (misalnya mobil, perangkat elektronik) terindikasi diproduksi dengan konsumsi energi lebih besar dan dikonsumsi lebih banyak oleh pria. Johansson-Latham mengadakan penelitian bahwa “pria” lebih banyak memicu polusi karbon dibanding “wanita” yang lebih banyak membuang sampah karena menggunakan produk-produk “hygiene, medical care and health, and clothing and shoes”. Pria lebih banyak memiliki perangkat atau gadget yang menghasilkan lebih banyak carbon footprint.

Tentu saja ajang “bersihkan bumi” yang diselenggarakan di Bali, 3-14 Desember 2007, menjadi ajang bergengsi bagi Indonesia di tahun ini, khususnya membawa pesan “Bali aman”. Sesungguhnya konferensi United Nations Framework for Climate Change ini adalah putaran ke-13 pasca putaran ke-3 yang terkenal dengan Kyoto Protocol and Climate Change. Konferensi ini memiliki pesan dan tujuan:

  • menghindari pembatasan atas pertumbuhan karena polusi selalu dikaitkan dengan pertumbuhan industrial, dan negara berkembang berpotensi tumbuh sangat cepat
  • negara-negara berkembang tak boleh menjual energi tanpa menghiraukan kemungkinan polusi berlebihan
  • negara-negara ini akan menerima uang dan teknologi dari negara maju untuk mengatasi polusi

Pembedaan antara negara industralis, negara maju dan negara berkembang sesungguhnya tidak perlu mengingat setiap orang harus mengurangi emisi dan tingkat polusi industri. Untuk itu Amerika Serikat tak menandatangani Kyoto Protocol karena akan berakibat bagi perindustrian dan kondisi ekonominya (lihat data di atas).

Indonesia, yang memiliki hutan terluas setelah hutan Amazon di Amerika Latin, tentulah daerah yang “paling bertanggungjawab” sebagai penyeimbang pembuangan karbon ini. Indonesia, selain itu, juga termasuk dalam deretan negara berkembang yang sedang memacu industri domestik lebih kencang lagi. Posisi yang cukup strategis dengan harga yang tak cukup hanya “dibayar” untuk mempromosikan Bali.

Penekanan “harga hijau” untuk transfer teknologi ke Indonesia harus diajukan. Kebijakan-kebijakan Indonesia kelak pasca-konferensi ini harus juga berbentuk nyata, seperti pembangunan pengelolaan sampah a la Jepang, atau pembangunan pabrik pendaur-ulang air a la Singapura.

Tak perlu pusing dengan ulah Amerika Serikat. Selama keuntungan tanah air tercinta lebih dahulu diprioritaskan oleh para “konsultan politik”. Kalau memang berani, buatlah agenda terkait harga hijau ini bagi delegasi Indonesia untuk membahas kiat diplomasi internasional dalam konferensi International Association of Political Consultants yang bertemu di Bali minggu ini.

Link ke beberapa organisasi dunia yang terkait lingkungan hijau:

Environmental Defense
European and Chicago Climate Exchanges
European Commission Directorate General for Environment
European Federation for Transport and Environment
Friends of the Earth
Greenpeace
International Energy Agency
The Pew Center on Global Climate Change
United Nations Environment Agency
United Nations Framework Convention on Climate Change
US Department of Energy
World Meteorlogical Association
WWF

 

Supporting Indonesia’s International Investment Summit 2007, JCC 5-7 November, Jakarta


 

Indonesia’s International Investment Summit 2007

Revitalizing The Energy and Mining Sectors

(click here for list of all speakers and agenda)

A big applaud and a wish for success for the committee who initiated another international event–and more likely on specific sectors like energy and mining. And here are some facts I quoted from Geographical World Reference, published by Periplus Editions (HK) Limited: “Coal, petroleum, and natural gas provide energy supplies, and in recent decades, uranium has provided the basis for nuclear energy… [T]he greatly increased use of minerals by the developed countries, and the increasing use by newly industrialized countries, has led to concerns about there being adequate mineral supplies for the future. Substitution of new materials for metals and the search for new or renewable energy sources–such as solar power or wind generation–are amongst the developments aimed at conserving our mineral resources.”

uranium is there

Two things I would like to hightlight beforehand: uranium and solar- or wind-generated energies. Global controversies around uranium (its waste and nuclear war weaponry issues arisen in North Korea or Afghanistan or Iran) has held up the potential alternative energy in Indonesia. On the other hand, solar- or wind-generated production is hurdled by lack of technology or innovation strategy–even if importing the technology is considered as one strategy. It is the unquestionable price that would make Indonesia pushed aside.

waste/dumped truck

Solar generator

T.J. Rodgers of SunPower aimed to develop large-scales solar farms in remote, sunny locations to compete with big fossil-fuel generators that sell electricity to utilities (Fortune, October 15, 2007). Unfortunately, Indonesia with always sun-powered areas and cheap labour would not pass the candidacy of areas Rodgers were looking for. Manila became one place to provide this.

What went wrong with this picture?

Brief analyze it, another institutional approach is considered. In summit or conference like the upcoming International Investment Summit 2007, policy makers in Jakarta sometimes leave the so-called “public utilities’ managers” in provinces or regencies. Local autonomy shall not be crossed out and left as jargon only. The overall success is about coordination of Jakarta and local authorities. A package of new laws, be it sector-specific or local autonomy, shall be enforced and implemented with good political will of both national or local authorities. Amending the old working contracts with third parties must also insert obligations for social and institutional welfare of overall Indonesia. The contracts’ transformation process shall be burdensome, yet in a transparent and reliable way, any investor would be more than happy to further the negotiations.

In addition to that, this summit and other investors’ events that highlight alternative energy must also give ways for local authorities to take a more active part. Great committee preparation shall include well arrangement of the related stakeholders from Aceh to Papua.

One last thought, just don’t leave Sulsel Summit, Jabar Summit, North Sumatera Summit or other local events go their own separate ways, leaving a chaotic room that would scare investors instantly. Inform the investors promptly, make them smile, and get them to know the field better. Yet, they must know that we are not selling a piece of land. It’s the richness above and below the land.

Jakarta, 30 October 2007

World Nuclear Reactors ( www.cameco.com)

2015

Operating 2006

New

Shutdown

Total Operating

GWe Change

Nuclear Electricity 2004* (%)

Argentina

2

1

0

3

0.7

8

Brazil

2

1

0

3

1.4

3

Canada

18

2

0

20

1.7

15

Mexico

2

0

0

2

0

5

US

103

4

0

107

4.7

20

China

9

18

0

27

17.4

2

India

15

15

0

30

9.0

3

Iran

0

2

0

2

2.0

0

Japan

54

10

1

63

13.3

29

Korea

20

8

0

28

9.6

38

Pakistan

2

2

0

4

0.6

2

Taiwan

6

2

0

8

2.7

21

Belgium

7

0

0

7

0

55

Czech Republic

6

0

0

6

0

31

Finland

4

1

0

5

1.6

27

France

59

1

1

59

1.4

78

Germany

17

0

0

17

0

32

Hungary

4

0

0

4

0

34

Lithuania

1

0

1

0

(1.3)

72

The Netherlands

1

0

0

1

0

4

Romania

1

2

0

3

1.4

10

Slovakia

6

2

2

6

0

55

Slovenia

1

0

0

1

0

38

Spain

9

0

1

8

(0.2)

23

Sweden

10

0

0

10

0

52

Switzerland

5

0

0

5

0

40

UK

23

0

8

15

(2.5)

19

Russia

31

6

0

37

5.8

16

Armenia

1

0

0

1

0

39

Bulgaria

4

2

2

4

1.1

42

Ukraine

15

1

0

16

1.0

51

South Africa

2

2

0

4

0.3

7

*Source: World Nuclear Association