RSS

Arsip Kategori: theory

Sebuah renungan malam…


Ada batas minimum suatu teknologi, sehingga manusia harus memiliki kemampuan tertentu. Memakai sepeda atau surfing the net, ia harus mampu mengerti pedal atau tombol menggunakannya. Bahkan menggenggam sebuah pisau, seseorang akan mendapatkan manfaat dan hasil terbaik jika ia memegang gagang pisau dan benda yang akan dipotong secara harmoni.

Mengandalkan internet dalam kehidupan sehari-hari, manusia pun harus dapat mengambil hal terbaik untuk dirinya. Apakah video porno, ataukah resep masakan, ia tak boleh terperangkap dalam situasi yang membelenggunya. Ia hanya ke warnet untuk resep atau video itu saja.

What can be done becomes exemplary, worth doing, the only thing to do. We become our tools.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 18, 2009 in technology, theory

 

Tag: , ,

Long Weekend: ?


Still had the same wonder everytime I passed by that area. Fifty men not working, sitting in warung. Sipping coffe or just smoking. Not doing anything only catching up same old, same old. Tonite I am still awake, tired but not sleepy. I conclude a new horizon about dialog on theory of economy. That Stephen Hawking shall come up with new theory of big bang particles and the rest of the universe. A dialog of Einstein and Newton. Of Milton Friedman and Robert M. Solow. Of me and my new pair of glasses.

rigel-2.jpg

poseidons.net

This song keeps playing inside my head, “You had a bad day, you’re taking one down…” and I am having a ball today, exhaustively speaking. I feel very responsible seeing those men laying low while I wish I had more time and energy everyday to finish many things. I must read all materials on distribution theory. I must finish the proposal by 16th this month. I must meet someone err two people tomorrow. I must arrange the new column. I must go to my shopping arcade first thing in the morning, feed all the babies well (even the daddy), and I think any public-policy related topics are not for tonight’s writing. “Will you need a blue sky holiday? The point is they laugh at what you say… and I don’t need no carryin’ on…”

 
 

Baca semua in inglish plis…


Pernah menonton film Groundhog Day (1993, Bill Murray dan Andie McDowell)? Atau klip video Craig David “Seven Days”? Tentu semuanya dalam Bahasa Inggris. Jika seorang bisa mengulang satu hari berkali-kali untuk menyempurnakan kesalahan, mungkin saya adalah orang yang pertama kali mendaftar. Terkesan tidak mensyukuri diri sendiri? Tidak juga, titik awal yang ingin saya perbaiki hanya satu: saat satelit Palapa mengangkasa. Loh kok?

bill-gates-neil-postman.jpg

Sebagai satu pipa saluran informasi, Palapa yang pertama adalah satelit yang “membawa Indonesia mengangkasa”. Sejak itu angkasa di atas khatulistiwa negeri ini sungguh padat merayap oleh satelit negara lain. Sejak saat itu, Indonesia tidak pernah lagi “belajar bahasa Inggris” untuk membaca peraturan International Telecommunications Union (ITU), sehingga tertinggal jauh dengan negara tetangga yang anggota Commonwealth itu. Orang Indonesia juga tak banyak membaca buku teks ilmu yang sayangnya banyak ditulis oleh pemikir-pemikir bule. Salah duanya adalah Postman dan Gates. Check this out:

***

Saya hendak mengawali dengan frasa: “The Age of Reason” yang merupakan titik usia seorang manusia dianggap berakal. Saya tak ingin mengangkat tulisan Sartre yang mendebat soal gereja yang corrupted atau masalah mendasar tentang agama dan kepercayaan manusia. Istilah age of reason ini terkait dengan media. Sebelum alat cetak Gutenberg mendunia, tak banyak lukisan maestro yang menggambarkan anak kecil karena usia 7 tahun telah dianggap sebagai manusia dewasa. Mereka tak lagi menjadi obyek lucu atau indah untuk dilukis. Selanjutnya, usia anak yang dianggap berakal naik menjadi 13-14 tahun karena harus membaca dan mengerti isi bacaannya.

Televisi kemudian hadir. Semua bacaan jadi visual dan bergerak. Dengan adanya program televisi “triple X” kemudian usia anak dewasa naik lagi menjadi 18. Apakah kemudian angka ini naik terus? Tidak juga. Karena literasi anak terhadap media bisa saja berubah.

Yang kemudian menjadi menarik adalah pergerakan “mesin” itu sendiri. Televisi berwarna ditemukan dan ditakuti banyak orang akan menggantikan radio dan koran. Sayangnya, hal ini tak terjadi. Saat jaringan internet dan konvergensi digital menjadi matang, televisi juga tidak mati. This is The Age of Reasoning, by the way. Berpikir (reasoning) tak henti.

Tak ada media mati, tapi hanya bergeser fungsinya dan berganti model bisnisnya. Platform media bisa berubah, pipa salurannya juga bergerak terus. Dari satu “bentuk” media ke “bentuk” lain, ada teknologi yang mendorong “pembentukannya”. Temuan teknologi adalah proses S-Curve bersambut S-Curve yang lain.

ti-pol2.gif

Di saat Bill Gates salah memprediksi (640K for every PC is enough?), Neil Postman (1931-2003) secara bijak malah memberikan perenungan bagi kita semua:

“… technological change is always a Faustian bargain: Technology giveth and technology taketh away, and not always in equal measure. A new technology sometimes creates more than it destroys. Sometimes, it destroys more than it creates. But it is never one-sided.”

Dari dasar pemikiran ini, tak semua insinyur harus menjadi tukang, bukan? Ada beberapa bacaan singkat (sebelum semua buku Neil Postman diterjemahkan ke Bahasa Indonesia?) yang bisa diakses untuk memahami teknologi dari kacamata yang lebih besar (klik di sini). “Lihat keluar jendela kereta, kita bisa berlari bersama pepohonan. Bandingkan saat kita hanya duduk memperhatikan pinggiran jendela kereta: pepohonan berlari kencang di luar sana” (Albert Einstein). In English, please.

 
 

Thoughts of the Day


What determines demand?

The answer to “What determines demand?” came sooner in history, but “What determines supply?” is a bit easier for the student to understand. We suppose that supply comes from the decisions of many business firms, and that the business firms want to hire enough labor and produce enough output so that profit will be as large as possible. As a start-up firm expands its labor force and output, it can increase its profits. Will this ever come to a stop? Here, Malthus’ principle of “diminishing returns” came back into the picture. As the firm increases its labor force, with its other input resources constant, the productivity of labor would decline, and as a result its costs would rise. To make these ideas more precise and complete, the earliest neoclassical economists had to invent a new approach (new to economics, anyway) called the “marginal” approach … [S]upply and demand could only work as long as all the resources used were paid for. What if they were not paid for because they were community property, or for some similar reason? In such a case, many microeconomists reasoned, markets might not lead to efficiency and there might be a role for government in promoting efficiency. (Roger A. McCain)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2007 in microeconomics, theory

 

Pasar Monopoli v. Oligopolistik v. Monopolistik v. Persaingan Sempurna


Ada pernyataan seorang kawan akhir-akhir ini, saat bertemu dengan pelaku pasar televisi berlangganan di Indonesia. Sebelum sering-sering bermain ke Gorontalo dan Balikpapan untuk melihat dan mendaftar pemain-pemain kecil spanyol*, ada baiknya konsepsi dasar tentang struktur pasar harus dipahami secara mendalam. Saya jadi tersenyum sekaligus menggeleng, “Kenapa juga pasar oligopolistik jadi merugikan masyarakat?” Pak, jangan memberikan pernyataan sebelum melakukan riset dan pendalaman pemahaman, ya.

***

Pasar monopoli pun bisa terjadi secara alamiah, karena penguasaan teknologi atau modal kapital yang besar. Saat sang pemain monopoli ini mulai melakukan tindakan merugikan masyarakat (dan ada hitungannya), di saat ini pula kebijakan persaingan usaha berperan.

Secara singkat ada sedikit perbedaan antara persaingan sempurna dengan monopolistik:

Pasar persaingan sempurna:

  • banyak pembeli dan banyak penjual
  • produk yang homogen
  • informasi produk cukup
  • free entry

Pasar persaingan monopolistik:

  • banyak pembeli dan banyak penjual
  • produk yang terdiferensiasi
  • informasi produk cukup
  • free entry

Produk yang mirip bisa terdiferensiasi karena geografi (lokasi Alfamart di dekat rumah saya lebih nyaman ditempuh daripada Indomaret lima rumah di sebelahnya). Alfamart itu berada di daerah yang tidak terlalu ramai untuk diseberangi dibanding Indomaret. Produk yang mirip juga bisa terdiferensiasi karena iklan yang terus-menerus. Cairan pencuci rambut (shampoo) merek Sunsilk yang berbotol hijau adalah untuk pengguna jilbab. Apa isinya berbeda dengan yang botol kuning, merah muda ataupun biru? Mungkin hanya wewangian dan pewarna yang berbeda, tetapi semuanya tetap cairan pencuci rambut dari bahan kimia sama.

Lalu apa oligopolistik? Di pasar ini, keputusan harga berada di segelintir pemain, walaupun berada di banyak pemain. Sebagai price leaders, segelintir pemain ini bisa membuat skema sebagai berikut:

  • Perusahaan oligopoli berkonspirasi dan berkolaborasi untuk membuat harga monopoli dan mendapatkan keuntungan dari harga monopoli ini
  • Pemain oligopoli akan berkompetisi dalam harga, sehingga harga dan keuntungan menjadi sama dengan pasar kompetitif
  • Harga dan keuntungan oligopoli akan berada antara harga di pasar monopoli dan pasar kompetitif
  • Harga dan keuntungan oligopoli tak dapat ditentukan, indeterminate.

Di sini, barulah kita bermain dalam sebuah teori permainan. Game theory. Ada tata cara bermain dan penaltinya juga! Dilanjutkan nanti ya…

* Catatan: spanyol = separuh nyolong, sebuah istilah yang dikemukakan oleh seorang filantropis pemilik satelit negeri ini, “Sesungguhnya inilah Indonesia Raya, negara kepulauan yang tak mampu diurus semuanya di pusat.”

 
49 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 24, 2007 in competition, theory