RSS

Arsip Kategori: tourism

Juicy Stuff, Away!


This is about supply-side vs demand-side policies. For the last couple of days I tried so hard to simplify and calming my roaring thoughts. Someone has already given me a direction to focus and overcome the chaos inside. But do I have priorities? There goes nothing…

NORMApembangunan

He reminded me some 2 nights ago, “What are you? A Bappenas planner or just plain secretarial evaluator?” The latter I must say. But this so called unlearning thing was not too easy to brave. I agitated and my hair went blundered side-ways.

Anyhows, I really need to finish this within a week. “Dimensi Sektor Unggulan” vs “Kelompok III Perpres 7/2015″… must get off me. I need to really focus on below stuf:

profile.75adf325f0cd134d32d1e9b88458ba7a

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 22, 2016 in public policy, TCCI, tourism

 

Merumuskan Slogan Pariwisata


Terhenti di lampu merah Jl. Thamrin, saya papasan dengan bus pegawai Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata. Di belakangnya tertera logo dengan tulisan di bawahnya “Ultimate in Diversity”. Excuse me… ???

2270_775-logobenderacopy

Mari kita lihat dua kata tersebut secara seksama (saya kutip dari kamus The American Heritage Dictionary cetakan ketiga):

1. Ultimate

sebagai kata sifat

  • being last in a series process, or progression
  • fundamental, elemental
  • of the greatest possible size or significance, maximum; representing or exhibiting the greatest possible development; utmost, extreme
  • being most distant or remote, farthest
  • eventual

sebagai kata benda

  • the basic or fundamental fact, element, or principle
  • the final point, the conclusion
  • the greatest extreme, the maximum

2. Diversity

kata benda

  • the fact or quality of being diverse
  • a point or respect in which things differ
  • variety or multiformity

Jika digabung memang keduanya menjadi sangat “Pancasila-is” dengan nada kebhinekaan yang tunggal ika satu tujuan. Cara bertutur “utimate in diversity” biasa kita dengar saat ceramah P4 dahulu, atau bagaimana TVRI pernah memiliki slogan “Persatuan dan Kesatuan” di setiap bumper antar-program.

Saya mencoba mengecek lagi situs-situs Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata atau lembaga yang seharusnya menjadi corong promosi pariwisata negeri ini (atau lebih jauh lagi, corong pelestarian dan pemberdayaan budaya negeri ini). Catatan saya kemudian adalah:

  1. Situs resmi Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata www.budpar.go.id menjadi sekadar situs berita institusi yang melulu berisi “Ini loh gue, punya anggaran segini, meresmikan ini-itu, dan menginfokan agenda di sana tanpa kelanjutan bagaimana bisa sampai ke sana.”
  2. Situs dibuat asal jadi, terbukti dari isi satu situs www.my-indonesia.info atau www.indonesia.travel yang seluruh isi situsnya bisa direkap di hanya satu paragraf pendek di Wikipedia.  Sekali lagi, tak ada petunjuk apa dan bagaimana menjadi turis asing — bisnis atau rekreasi — di Indonesia.
  3. Satu hal lagi, jika kita google kata  “visit Indonesia” yang tertera di urutan paling atas adalah situs resmi http://www.my-indonesia.info. My? Bayangkan jika “id” adalah kode web Indonesia, dan Malaysia kode web adalah “my” sehingga terbacalah Malaysia Indonesia Info!

Tak mengherankan jika slogan di bus pegawai kantor pemerintah yang satu itu hanya berisi “ini loh gue” bukan berisi ajakan turis untuk kembali lagi ke Indonesia, atau ajakan setiap warga negara untuk semangat mengundang kawan-kawannya di luar negeri sana.

Sekarang saya mau membandingkan slogan “Ultimate in Diversity” itu dengan slogan pariwisata (bukan budaya) dari banyak negara yang sukses menaikkan rating “visit my country” selama beberapa tahun terakhir:

1. Maldives, sebuah negara dengan pantai pasir putih yang indah lengkap dengan pulau karang yang belum terjamah polusi. Statistik international tourist arrival 1990-2000 mencatat paruh pasar di region Asia Selatan adalah 7,5% dan pertumbuhan 8,6%

2. India, sebuah negara industri dan kaya budaya yang berkembang pesat secara ekonomi maupun modal sumber daya manusianya. India menempati peringkat tertinggi di Asia Selatan untuk kunjungan wisatawan selama 1990-2000 dengan paruh pasar 50,6% dan pertumbuhan 6,4%.

3. Dan beberapa negara lain yang pertumbuhan di atas 20% dengan pencitraan negara yang penuh warna dan terkesan hangat dinamis, di antaranya:

  • Bermuda: Feel the Love
  • Dubai: Definitely Dubai
  • Egypt: The Gift of the Sun
  • Lebanon: Splendid Lebanon
  • Spanyol: Espana
  • Sri Lanka: Small Miracle, Find Your Miracle
  • Turkey: Turkey Welcomes You
  • Zimbabwe: A World of Wonders

budpar

… dan yang paling penting adalah bagaimana negara tetangga Malaysia dan Singapura memosisikan dirinya

1. Malaysia: Truly Asia

2. Singapura:  Uniquely Singapore

Lihatlah ada slogan negara yang “berbicara” dengan sudut pandang diri “Saya” atau “I” yang mengajak turis sebagai “Anda” atau “You”. Ada juga negara yang mengangkat impian berada di tempat penuh cinta atau penuh matahari; sebuah ketertinggalan kesan yang mendalam setelah kembali dari sana. Sedangkan dua negara tetangga kita itu, tentu mengangkat keragaman budaya dan etos; betapa etnis India, China dan Melayu bersatu dengan turis atau pekerja ekspat di sana. Truly Asia, Uniquely Singapore, atau Ultimate in Diversity… dan slogan kita paling tidak indah, tidak merayu siapapun untuk datang.

** menghela nafas panjang **

 
7 Komentar

Ditulis oleh pada September 12, 2009 in budpar, country, culture, image, Indonesia, institutionalism, media, slogan, tourism

 

Mandi, Cuci, Kakus, Transportasi, Dst.


Saya sekarang mengetik di satu warnet di Martapura. Dua puluh meja dan seluruhnya digunakan oleh “abege” di sini. Sedikit mewawancarai penjaganya; setiap pagi mereka harus membersihkan isi komputer dari file atau cookies porno. Inilah anak sekarang… di manapun. This is the power of fully informed generation!

Saya menikmati sekali perjalanan di sini. Tadi siang saya menikmati makan Soto Banjar paling nikmat di bawah satu jembatan. Restoran soto itu menghadap sungai. Saya memicingkan mata saat memandang kehidupan penduduk di atas air sungai ini. Rumah menjorok ke sungai dan segala kegiatan pun dilakukan di atas air. Mulai mandi, sikat gigi, mencuci motor atau baju, buang air, berjualan solar, memasak, dan transportasi berjualan hasil tangkapan ikan. Konsep sanitasi sungguh rendah di sini.

Saya beserta rombongan menyusuri sungai (yang saya lupa tanyakan apa) menuju Pulau Kembang yang banyak sekali monyetnya. Kapal motor kami diserbu monyet sesaat merapat di dermaga kayu. Kacamata saya bahkan dirampas satu monyet. Untung diberi kacang untuk menukar kacamata itu. Kaget dan sedih. Ternyata di sana penduduk lokalnya juga meminta-minta dengan desakan yang tak sopan. Pantas saja kelakuan monyet di sana juga kasar, meniru “majikannya” mungkin. Saya tak akan kembali lagi ke sana, kesan tak baik. Banyak sampah bungkus kacang Dua Kelinci, walau sesungguhnya pulau itu terlihat indah dari jauh. Visit Indonesia 2008? No way!

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2008 in banjarmasin, martapura, pariwisata, tourism