RSS

Arsip Kategori: Trans-Jawa

Menyamakan persepsi “Infrastruktur” di negeri ini


Kategori infrastruktur secara kasat mata:

  1. Penerbangan dan alat transportasi
  2. Jembatan dan jalan arteri
  3. Jalan tol dan jalan kereta
  4. Waduk
  5. Air minum
  6. Pembuangan kotoran
  7. Sekolah
  8. Rumah sakit
  9. Fasilitas umum (taman dan area rekreasi)
  10. Energi
  11. Keamanan
  12. Hal lain: hazardous waste, gas pipeline, information sources, and other intangible items.

Perkiraan biaya

Perkiraan biaya untuk investasi selama 5 tahun: US$ ? trilyun atau RP ? zilyun… ada yang bisa membantu saya menghitung angka ini secara awam?

Mari kita mulai dari yang paling mendasar: apa itu “infrastruktur”.


Jalur Pipa Gas Sumatera-Jabar (sumber: http://www.bpmigas.com )

Menyamakan persepsi “infrastruktur” di negeri ini

Menonton rerun “Kick Andy” minggu lalu yang mengangkat Sri Sultan Hamengkubuwono X dan visi misi beliau memimpin negeri ini kelak, akhirnya saya mengenal lebih dekat sosok “raja yang cerdas dan bijak”. Kompas juga kemarin (5/11/07) mengangkat sosok pemimpin daerah (Sutiyoso, Sri Sultan, Fadel hingga Teras Narang) yang hendak maju ke kancah nasional. Sayangnya, survei popularitas beberapa nama itu masih menempatkan Sutiyoso lebih tinggi dari Sri Sultan.

Kisah sukses infrastruktur daerah

Apa hubungannya dengan nama-nama pemimpin daerah ini dengan kata seberat “infrastruktur”? Buat saya, sosok Sutiyoso identik dengan “busway controversy”. Nyaman buat saya tapi bikin macet orang lain. Di mata saya pula, sosok Fadel dan Teras Narang masih lekat dengan Jakarta yang tahu bagaimana mengundang investasi masuk lebih deras dari periode sebelumnya. Sri Sultan, sebaliknya, bukan orang Jakarta dan tak banyak menggali lubang kontroversi, setidaknya yang berskala nasional.

Keempat nama ini memang telah membangun daerah dengan gaya masing-masing, dan strategi berbeda. “Investor” menjadi kata kunci bagi pengusaha dari Jakarta. Hasilnya adalah pemberdayaan perkebunan dan pertanian di Gorontalo. Keseimbangan alam dan manusia menjadi kata kunci Sri Sultan dan Teras Narang. Hasilnya adalah geliat industri pariwisata Yogyakarta dan konservasi alam berpusat di Palangkaraya. Saya juga pernah merasakan halusnya jalan-jalan di antero Sumatera Barat, sebagian kecil Kalimantan Timur, hingga nol koma sekian persen jalan aspal di kota Sorong. Pemerataan infrastruktur adalah satu kendala negeri ini. Tentunya ada kiat dan kajian untuk setiap daerah agar mampu mempercepat pembangunan infrastruktur di daerah.

Sepakat, pembangunan infrastruktur harus menyesuaikan diri dengan struktur unik dan kelebihan di daerah tersebut. Ada lebih dari 4 nama pemimpin daerah yang memiliki kualitas dan visi seperti nama-nama tersebut di atas, bahkan untuk tingkat kabupaten dan kota. Tapi tak sedikit pula yang tak mampu mensinkronisasi nilai unik daerahnya dengan “infrastruktur” yang harus dibangun di daerah mereka.

Pembangunan jaringan pipa gas interkoneksi Jawa-Sumatera oleh Perusahaan Gas Negara, misalnya, belum dikoordinasikan (atau sudah, tapi kurang maksimal) dengan pimpinan di setiap daerah yang dilalui pipa ini. Untuk itu, pembangunan sub-jaringan gas alam ini belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya oleh masyarakat daerah.

Anggaran daerah dan prioritas pembangunan

Saya berandai, jika anggaran daerah untuk membiayai pesta Pekan Olahraga Nasional 2004 di Palembang, misalnya, direlokasi untuk membangun infrastruktur pipa gas ini, mungkin pembangunan pipa akan lebih cepat terwujud. Bayangkan saja betapa besar anggaran dan sumbangan masyarakat Sumsel sehingga Palembang bisa membangun stadion olahraga megah khusus PON 2004, yang sekarang dikunjungi masyarakat di akhir pekan saja.

Kembali ke sub-jaringan pipa gas alam ini. Sebagai informasi tambahan, jalur pipa ini bisa “ditumpangi” kabel serat optikal yang bisa menyalurkan sinyal audio-video-data dalam kecepatan tinggi. Saya rasa kita bisa berhitung lebih teliti lagi berapa potensi pariwisata yang dikeruk dari PON 2004 versus backward-forward effect dari pembangunan sub-jaringan pipa gas plus serat optikal ini. Harap diingat, PON 2004 hanya terjadi di satu periode itu saja, bandingkan dengan panjangnya durasi waktu jika sub-jaringan pipa gas/serat optik ini bisa menjangkau masyarakat se-Sumatera Selatan.

Sebagai ilustrasi, yang pasti masyarakat Sumsel tak perlu repot ikut konversi minyak tanah. Selain itu, harga gas alam jauh di bawah gas elpiji, dan uang dapur bisa ditabung untuk kebutuhan lain. Tambahan lagi, arus informasi melalui radio, televisi, ataupun jaringan internet yang disalurkan jaringan serat optikal ke pelosok Sumsel dapat membantu pemberdayaan masyarakat secara swadaya.

Mungkin juga pemanfaatan gas alam ini tak hanya untuk rumah tangga, tapi juga memajukan industri di Sumsel. Biaya operasional industri lebih rendah, kualitas produksi terjaga, bahkan jika kian cerdas manusianya, pemanfaatan dan inovasi teknologi industri dapat diterapkan untuk peningkatan efisiensi produksi. Sekali lagi, pemanfaatan teknologi (ataupun sekadar “memelintir” inovasi yang telah ada) bisa dipicu dari sekutip informasi yang bisa didapat gratis melalui televisi, radio ataupun internet.

Sekali lagi, infrastruktur di setiap daerah tetap harus menjadi prioritas utama dibanding pesta hura-hura yang mendapatkan nikmat sesaat. Pesta bukan hal yang haram dilakukan, tapi ada pepatah: bersakit dahulu, berpesta kemudian, bukan?

Akhirul kalam, saya hanya akan memilih calon presiden dari daerah yang membuat daftar prioritas infrastruktur pelosok Indonesia dengan pemahaman seperti di atas. Sutiyoso? Sri Sultan? Ah, Pemilu ‘kan masih lama. Toh, selama anggaran KPU belum jejak ke tanah, enggan rasanya mencoblos kertas seharga jembatan.

 

Angka-angka Fantastis Satu Bulan Terakhir


Mari kita perhatikan angka-angka fantastis yang digarisbawahi ini:

1. … Wiratman & Associates memperkirakan, pembangunan JSS [Jembatan Selat Sunda] membutuhkan dana sekitar 10 milyar dollar AS atau setara dengan Rp 92 triliun. Dana itu bisa diperoleh dari pemerintah maupun investasi pihak swasta. Pembangunan JSS akan dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap pembuatan prastudi kelayakan (2007-2009), tahap pembuatan studi kelayakan (2009-2013), dan tahap pembangunan (2013-2025).

(dikutip dari tulisan Anita Yossihara di Kompas, Jumat, 19 Oktober 2007, “Jembatan yang Satukan Jawa-Sumatera”)

2. … Bentang tengah Suramadu saat ini, ujarnya, menggunakan konstruksi cable stayed sepanjang 434 meter yang memungkinkan kapal berlalu-lalang, namun teknologi ini jelas lebih mahal. Jembatan yang akan menghabiskan dana Rp4 triliun itu, menurut Prasetyo, memang tak akan terbayar dengan misalnya membangun jalan tol di sepanjang jembatan itu. Estimasi dengan jalan tol menghitung hanya Rp400-500 miliar yang akan kembali modal, sisanya hilang.

“Tetapi Suramadu dibangun memang khusus untuk mengatasi kesenjangan ekonomi yang tinggi antara Jawa dan Madura. Konsep pemerintah, dengan memutus isolasi, maka interaksi ekonomi dan pembangunan bisa berjalan di Madura,” katanya.

(dikutip dari http://www.gatra.com, edisi 29 Agustus 2007 “Pembangunan Fasilitas Transportasi Jembatan Suramadu Sudah Capai 40%”)

3. … Kini dibangun 10 ruas tol pada jaringan tol trans-Jawa dari Jakarta hingga Surabaya, di antaranya Cikampek-Palimanan, Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pemalang-Batang, Batang-Semarang, Semarang-Solo, Solo-Ngawi-Kertosono, Kertosono-Mojokerto, dan Mojokerto-Surabaya.

Tiap ruas tol mempunyai kendala tersendiri, misalnya pergantian manajemen tanpa izin kreditor sehingga pengucuran kredit ditunda (ruas Kanci-Pejagan), keluhan investor tentang rendahnya nilai ekonomis sehingga pembebasan lahan menggunakan dana APBN (ruas Solo-Ngawi-Kertosono), dan kesulitan dalam pembebasan lahan.

Total biaya dari semua ruas tol ini adalah Rp 35,83 trilyun.

(dikutip dari harian Kompas, Senin 5 November 2007 “Realisasikan Trans-Jawa, Regulasi Akan Terus Disempurnakan”; angka tersebut merupakan kutipan juga dari BPJT, Departemen Pekerjaan Umum Republik Indonesia)

4. … Airbus chose Singapore Airlines as the first company to give the world’s newest plane, which was formally handed over on Monday in Toulouse, France where the superjumbo was put together. The jetliner [A380], which took seven years and about $US13 billion ($A14.68 billion) to develop, rolled off the assembly line nearly two years behind schedule.

(dikutip dari www.smh.com.au)

Catatan $US13 billion/milyar setara dengan Rp 119.600.000.000.000,- atau Rp 119,6 trilyun hanya untuk pengembangan/development selama 7 tahun. Harga per pesawat, lihat angka di bawah ini:

… According to the Financial Times Deutschland, the list price of the A380 – which will become world’s largest airliner – rose by 4.7% to between 235.4m euros ($295.6 million; £161.9m) and 251.6m euros ($316 million; £173.1m) earlier this month.

(dikutip dari news.bbc.co.uk)

Catatan: angka pembelian satu pesawat terbang A380 sebesar $US316 million/juta di atas adalah setara Rp 2.907.200.000.000,- atau Rp 2,9 trilyun

5. … Kepala Dinas Pendidikan Daerah (Disdikda) Bojonegoro, Mardikun dalam laporannya menegaskan bahwa latar belakang pembangunan sekolah model terpadu mulai dari tingkat TK sampai dengan SMA ini dalam rangka menigkatkan dan mewujudkan Sumber Daya Manusi (SDM) yang profesional dan handal. Diharapkan dengan adanya pembangunan sekolah terpadu ini akan meningkatkan harkat dan martabatnya dalam rangka era globalisasi dalam persaingan internasional. Menurut Mardikun, pengembangan sekolah model terpadu ini yang direncanakan akan memiliki prasarana dan sarana pendidikan yang disesuaikan dengan sistem ketentuan pendidikan nasional.

Dikatakan, luas tanah yang dibutuhkan untuk pembangunan sekolah terpadu seluas 69.000 meter persegi yaitu untuk komponen pembangunan utama yakni terdiri dari gedung sekolah TK, SD, SMP dan SMA dengan didukung beberapa fasilitas lain yakni gedung olahraga, asrama, tempat ibadah dan rumah dinas. Ditambahkan biaya pembangunan gedung sekolah terpadu ini diperkirakan menelan anggaran sebesar 110 milyar rupiah dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) untuk tahun anggaran 2006 sampai dengan 2008.

(dikutip dari www.bojonegoro.go.id)

 

 

Terakhir, mari kita lihat apakah angka-angka tadi masuk akal dibanding anggaran KPU untuk penyelenggaraan pemilu 2009 (dan persiapan pemilu sepanjang tahun 2008).

6. … Sebelumnya, menurut Abdul Hafiz [Ketua KPU], total anggaran KPU 2008 dan pemilu 2009 dibutuhkan dana total Rp 47,9 trilyun, terdiri dari KPU dan proses pemilu untuk tahun 2008: Rp 18,6 trilyun, dan proses pemilu 2009: Rp 29,3 trilyun.

(dikutip dari Kompas Cyber Media, Rabu, 31 Oktober 2007)

… Padahal Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah menganggarkan KPU untuk masa kerja 2008-2010 “hanya” sebesar Rp 25,7 trilyun yang membengkak karena “honor faksi-faksi di TPS itu naik”.

(dikutip dari detikcom)

 

 

Silakan dicerna, silakan merenungi nasib.

Membeli pesawat canggih, membangun pelabuhan internasional baik laut ataupun udara, membangun jembatan dan jalan, membangun gedung sekolah, rumah sakit, dan seterusnya dan seterusnya… bukanlah prioritas utama pengambil keputusan di negeri ini ‘kah?

Sampai kapan? Jika angka usulan KPU itu tidak ditekan hingga titik paling “beradab”, buat saya pribadi Pemilu 2009 itu bukan hari yang paling ditunggu lagi.

Rekap Angka-angka Fantastis

Jembatan Selat Sunda = Rp 92.000.000.000.000,-

Jembatan Suramadu = Rp 4.000.000.000.000,-

Jalan Tol Trans-Jawa = Rp 35.830.000.000.000,-

Pengembangan 7 thn A380 = Rp 119.600.000.000.000,-

Harga Satu Pesawat A380 = Rp 2.900.000.000.000,-

Pembangunan 1 Sekolah Terpadu = Rp 110.000.000.000,-

Penyelenggaraan Pemilu:

Versi Menkeu (2008-2010) = Rp 25.700.000.000.000,-
Versi KPU (2008-2009) = Rp 47.900.000.000.000,-