RSS

Arsip Kategori: transaction

Gambar

My Old Article (2): Unwiring the Internet blunder on the many islands of Indonesia


jammed

JAKARTA (JP): The Internet in Indonesia is like the city of Jakarta: many activities backed up in a terrible traffic jam. “”Slowly but surely we are becoming connected to the outside world,”” says Alika Aurelia, an Internet observer and owner of several information technology (IT)-related companies in Jakarta.

Every day commuters have to face the deranged and crowded streets. So do the subscribers of Internet service providers (ISPs) in Indonesia. Data, from simple text to video streaming, travels through phone lines like cars at peak-hour, jammed and bottlenecked, Alika adds.

The infrastructure of messy streets in Jakarta is to be blame for traffic problems. And the Internet in Indonesia is facing the same problem: poor infrastructure.

With so many alleys and dead-ends, Jakarta also has three main streets: Sudirman, Thamrin and Rasuna Said. In Indonesia today, there are many ISP allies, with three major players: Indosat, Telkom and Satelindo.

The main issue limiting the number of players is the monthly spending on Internet licenses, which cost thousands of dollars per month. And if the dollar keeps floating toward the ceiling, even the main players could crash. Let’s hope not.

License to Speed

The costly license is all about bandwidth. Bandwidth, the complexity of the data for a given level of system performance, allows text (as the data) to be downloaded in a second. It is also possible to download photographs or more complicated data in a second. However, to download a photograph requires more bandwidth.

Large sound files and computer programs require even more bandwidth for acceptable system performance. More complicated data is moving pictures with sound, or movies for short. One can request a movie as a pay-per-view commodity, then the movie is transferred by streaming or downloading methods.

Ultimately, virtual reality (VR) and full-length three-dimensional audio-visual presentations require the most bandwidth of all. Today, VR and 3D movies are still undergoing trial-and-error analysis in technology labs — one of them is the University of North Carolina, where Howard Rheingold, author of Virtual Reality, has experienced early VR technology.

Technology humbuggery

In brief, from simple text to VR, all transmitted and received signals, whether analog or digital, have a certain bandwidth.

In digital cable and fiber-optic systems, the demand for ever-increasing data speeds outweighs the need for bandwidth conservation. There could be an abundance of bandwidth to go around if more and more cables are continually installed, but then again, hard wires are plentiful. Where else can solid cables be placed; under feet or above heads?

With no wires to install instantly, demand exceeds supply. However, there are always other efforts to anticipate a more dynamic, often interactive, multimedia content by “”re-arranging”” the network infrastructure.

One of the efforts could be upgrading the Internet protocol (IP) networking. It shifts from Layer 3 connectivity issues to the construction of intelligent, Layer 4 – 7 infrastructures.

Network layer upgrades

Principally, the IT industry emphasis is turning to specially tuned overlays to the Internet. They are called content delivery networks or content distribution networks (CDNs).

A CDN is a system, frequently an overlay network to the Internet, that has been built specifically for the high-performance delivery of rich multimedia content. A CDN’s raison d’etre is to make the Internet a trusted delivery network for mission-critical, content-rich CDN services.

CDNs address the severe response-time demands, mainly by minimizing the number of Internet backbones that a site requests. This results in streaming or downloadable content encounters becoming much shorter.

The CDN also contains a lookup service that steers a content request to the content surrogate that is closest (geographically or shortest travel time) to the user and/or is the least busy.

Wireless solution

To some extent, Alika remarks, the industry needs to also think of alternative ways such as “”wireless”” communication infrastructure. Either way, restructuring the network systems or building new infrastructure for wireless devices, there are some issues for consideration. Let’s look into the wireless further.

Wireless communication systems carry a signal through atmospheric space without, of course, wire. The early form of the wireless system, or wireless for short, was the “”telegraph”” that went on air in the early years of the 20th century.

Besides radio, television, facsimile and other data communication devices, perpetuating wireless progress has inspired the advent of other devices: from the most complex: full-feature cellular phones, global positioning systems (GPS), cordless mouse or keyboard; to simple baby monitors.

Wireless transceivers are available for connection to portable digital assistants (PDAs) and notebook computers, allowing Internet access without the worry of having to locate a phone jack. One of these days, it will be possible to link any computer to the Internet via satellite, wherever the computer is located on the globe.

In Europe, new high-bandwidth allocation for wireless local area networks (LANs) are expected to be installed where existing LANs are not already in place. With a wireless LAN, a mobile user can also connect to a network through a radio frequency. To some extent, this could be considered as an inexpensive way of tackling infrastructure problems.

If it were possible to introduce this development in Indonesia, with its many scattered islands, it would be a great move toward resolving the infrastructure logistics nightmare. Moreover, if the wireless LANs also communicated directly with a satellite, then this could also cut down the hierarchy of network routing. No traffic jam, no more ill-famed world wide wait.

The Jakarta Post, Jakarta | Life | Sun, May 06 2001, 7:21 AM

 

Film Nasional vs. Film Asing


Di bawah ini adalah posting komentar saya di dinding Facebook seorang kawan. Saya ingin berbagi secuil pengetahuan bisnis dan industri film global dengan khalayak yang mendukung dan menolak pernyataan jubir pihak 21, Mas Noorca Massardie yang terhormat.

… di dunia ini cuma di Indonesia kelak kalau produksi film nasional 0% tapi sekolah SD ke SMA tetap bayar; cuma di Indonesia senang-senang gratis tapi mau pintar dipungut biaya…

1. bedakan dahulu …pajak (dibayar oleh perusahaan Indonesia) dan bea cukai (dibayar oleh perusahaan asing atau counterpart-nya yg mau berusaha di Indonesia)
2. bedakan juga tahapan film: produksi, distribusi hingga eksibisi (penayangan)
3. bedakan juga produksi dan distribusi film nasional (dibuat oleh perusahaan Indonesia) dan hanya distribusi film asing (dilakukan oleh distributor perusahaan Indonesia kerjasama dengan pihak asing, di sini MPA)
4. bedakan juga antara produk “film” dan produk “mie instan”, yang satu barangnya cuma satu tapi bisa diputar ulang sampai berbulan-bulan tak habis, dan yang satu lagi sekali kunyah habis

Dari pembedaan di atas, harus juga dilihat bahwa di Kanada itu tak ada pajak 0% atas produksi, distribusi (impor atau ekspor) dan eksibisi. Yang ada tax credit atas income si pekerja film, atau refund di akhir tahun atas penghasilannya di satu/beberapa flm setahunnya. (klik sini untuk industri perfilman di Kanada)

Di Malaysia juga berlaku 20% entertainment tax rebate jika film yang dibuat HANYA berbahasa Melayu, Tamil dan China… kalau lebih dari 50% bahasa yg dipakai di film itu bahasa Inggris pajak gak balik tuh 20%. Beritanya di sini.

Yang terjadi di Indonesia itu ada dua hal: pertama adalah bea cukai (yg tidak dipermasalahkan MPA). Yang kedua, pajak usaha yang harus dibayarkan oleh pihak 21, yang produknya bukan indomie itu. Nah, kalau soal aturan bea cukai dan pajak yang dimaksud artikel Mas Hikmat Darmawan ini, silakan cek berita ini.

Sebagai info tambahan lagi, perusahaan distributor rekanan bioskop 21/eksibisi yang juga masih sister company bioskop 21, adalah milik Agus Sudwikatmono dkk. Selain itu Blitz, yang dimiliki putra Arifiin Siregar (ex gubernur BI) ini membeli film juga via perusahaan distribusi 21 karena dia tak bisa langsung ke MPA. MPA cuma mau lihat jaringan 21 yang lebih banyak (volume kontrak yg lebih gemuk) daripada kavling Blitz yang cuma segelintir itu.

Berita pemilik Blitz di sini.

Di artikel ini, pajak film nasional itu memang tetap ada. Dibuat 0% adalah naif. Semua entitas komersial di belahan dunia manapun harus mengembalikan sedikit keuntungannya untuk pemberdayaan industrinya. Permasalahannya kemudian:
1) mungkin seperti “gw bikin tapi gak ada yang mau beli” karena slot masuk ke jaringan 21 itu amat sangat TERBATAS. Lebih baik menekan risiko: daripada membayar royalti ke pengusaha film nasional yang porsinya besar, lebih jelas memperhitungkan retained profit di awal kontrak film box office dan budget movie (satu kontrak tuh paket box office dan budget sekaligus, bukan ketengan eceran membelinya).
2) belum ada perhitungan tax credit bagi pekerja film nasional
3) belum ada kebijakan quota film asing seperti di China
4) belum ada kebijakan ketat “wajib kerjasama anggota MPA” dan produser film nasional (terkait kebijakan kuota)

Dengan pernyataan seorang presiden agar pajak film 0%, beritanya di sini, saya jadi miris mengingat implementasi dan dampak pernyataan pemimpin bangsa ini bakal super duper ribet dan tidak menguntungkan bagi industri itu. No incentives, brur? Industri paling pintar cari jalan bulus loh…

 

Tag: , ,

Osaifu Keitai = e-Dompet?


Otoritas moneter negeri ini masih berkutat dengan penyehatan ekonomi dalam negeri (baca: semua yang terkait urusan KPK hingga kebijakan suku bunga). Saya membayangkan suatu hari nanti *segera!* jika suasana sudah mulai cair dan semua orang terinformasikan dengan simetris, sistem pembayaran dengan dompet elektronik bisa segera terlaksana. “…some analysts say e-money makes up about 20 percent of the ¥300 trillion, or $2.8 trillion, in Japanese consumer spending” (iht.com)

Jika kelak ada transaksi e-money luar biasa besar via satu operator, buat saja kebijakan “batas atas transaksi pulsa dalam satu hari dari satu nomor pelanggan adalah sekian” hingga “dan/atau jika transaksi melampaui jumlah sekian secara kumulatif, maka transaksi harus ditunda hingga beberapa bulan ke depan”. Toh mengambil uang dalam sehari juga lebih mudah “dibatasi” secara elektronik (misalnya, mekanisme ATM). Aturan dan proses teknis terkadang memang bisa berjalan bergandengan. Bank BCA juga sudah mulai menyosialisasikan kartu debit flazcard (?) yang memudahkan transaksi di resto Hoka-hoka Bento * zap! * pulsa Anda berkurang tujuh puluh ribu…

 
 

SeMaNTic wEb: Give Meaning To My Anonimity?


Suatu hari kita bisa meng-update blog melalui telepon selular dengan harga lebih murah dari hari ini.
Suatu hari kita akan mengakses internet di mana saja dan dalam durasi waktu lebih banyak daripada jam tidur.
Suatu hari kita bisa men-download satu file 90 menit film Nenek Grondong Siang Bolong hanya 15 menit.
(s-mntk)
radar-networks-towards-a-web-os.png

Pic: Nova Spivack & Radar Network

Suatu hari itu adalah di saat Departemen Komunikasi (communication? k-myn-kshn) dan Informatika (informatics? nfr-mtks) sudah selesai bertugas sebagai leading sector of Palapa Ring dan (utamanya) opsi routing-backbone. Setelah gempa Taiwan tempo hari, proyek-proyek megadolar ini adalah langkah antisipasi arus internet macet.

Kembali ke semantic web, tak hanya sebuah mekanisme jaringan yang “bisa mengerti” secara teknis tapi juga secara manusiawi. Manusiawi? Di tengah belantara data yang kian hari kian menggunung, tak setiap orang memiliki keahlian meng-google dengan baik. Eric Schmidt (CEO dari Google) memprediksi bahwa satu hari (secepatnya):

  • aplikasi akan semakin kecil, data akan berada di satu kelompok tertentu,
  • aplikasi itu bisa dipakai di alat apa saja, PC atau telepon selular,
  • aplikasi itu sangat sangat cepat dan dapat disesuaikan (customizable),
  • aplikasi tersebut didistribusikan ibarat virus (viral distribution)
  • kita semua tak harus pergi ke toko dan membeli semua hal.

Lalu di mana manusiawinya web semantik ini? Semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari “arti” dari setiap ungkapan (kata, kalimat, gerak tubuh, dan seterusnya). Sehingga yang terjadi dengan web masa depan (sooner than you thought!) adalah web yang mengenali identitas kita (OpenID dan ClamID) untuk memproses setiap langkah (klik). Contoh mudah adalah AdSense, tapi kemudian di web semantik semua keinginan kita (mulai penerapan password hingga kebutuhan informasi yang ingin kita baca setiap hari) akan direkam dan diproses otomatis. Setiap orang memiliki unique ID (seperti memberi nomor ke setiap kening kita) sehingga di setiap klik kita hanya mendapatkan informasi yang kita inginkan saja.

Web semantik ini secara manusiawi memudahkan langkah-langkah mencari informasi hingga bertransaksi dari meja kita ke ujung dunia manapun. Still people talk to people, machines talk to machines, masalah keamanan adalah hal krusial di sini. Anonimity? No, this is not my most favourite sin.