RSS

Arsip Kategori: writing

Just Another Year


A certain day, Friday maybe, could mean something sacred while it could mean a lay-low sign of long weekend. I could never consider a certain day is different from others. I don’t celebrate my own birthday by blowing candles and other party hocus-pocus. I don’t even pray just for my birthday. I don’t meditate just for that.

At my age, time flies so fast. Ah yes, been there, done that. It’s fun to see my children laughing chasing running going cuckoo, or my students writing their ass off to get good grades eventhough I’ve already marked their forehead with straight A’s. I enjoy every second of it. And I wish time just stand still to scan every pixel of a nice picture…

Happy New Year, everybody!

 
 

Tag:

[Sekali Lagi] Merumuskan Indonesia


Sudah lama saya tak update blog ini. Satu hal yang kemudian mendorong saya menulis lagi pagi ini adalah ‘semangat kebangkitan nasional’ yang dicoba diracik lagi oleh beberapa kelompok masyarakat. Kemarin malam saya datang ke acara selamatan putra seorang kawan, yang dibuka oleh penggiat buku dan penggila sejarah dunia, Pak Taufik R. Dia merumuskan1908 – 1928 adalah era brahmana, kasta tertinggi dalam beberapa peradaban bangsa. Alasannya, karena Indonesia waktu itu dirumuskan oleh segelintir priyayi. Kemudian di era 1928 – 1968, Indonesia ‘dikelola’ oleh kaum di bawah brahmana: kaum ksatria.  Yang dimaksud adalah pasukan TNI dan pasukan perjuangan non-gelar.  Era 1968-1998, Indonesia dikuasai kaum pedagang, satu garis di bawah ksatria. Sejak itu hingga hari ini, Indonesia dikuasai rakyat, atau istilahnya, kaum sudra. Maaf kalau salah, tapi setahu saya sudra itu adalah kelompok paling miskin dalam tataran sosial ekonomi.  Sebuah analisis yang mungkin kebetulan saja.

dreamindonesia.wordpress.com

Tak berlama-lama di acara itu, saya langsung ‘loncat’ ke acara lain bertempat di Gedung Joang ’45, Menteng, Jakarta Pusat. Acara berjudul “Dialog Pemuda Nasional: Menyoal Identitas Kebudayaan Indonesia” ini didukung oleh Kantor Menpora dan diselenggarakan mulai pukul 14.00, dan hingga 21.45 dialog belum selesai, padahal masih ada pertunjukan musik etnik-kontemporer dari Mahagenta. Sayangnya pula, sang menteri yang kantornya punya titel “pemuda” ini tidak hadir karena sedang sibuk peluncuran buku pribadinya dalam rangka pemilihan ketua partai politik. Hmm, mana yang lebih penting ya…?

Kembali ke dialog nasional yang cukup menarik karena panitia menghadirkan sepuluh pembicara dari pelbagai belahan nusantara, lengkap dengan naskah ilmiah tentang konsep Indonesia. Saat mengetik tulisan ini, di meja saya tergeletak buku “Cities, Chaos & Creativity” yang di sampulnya tertulis: politically participatory, socially just, economically productive, ecologically sustainable, dan culturally vibrant. Aspek yang dibahas dalam dialog nasional ini kebanyakan hanya soal kebudayaan yang seharusnya vibrant atau bersemangat. Yang terucap di sesi pertama dialog ini adalah keluhan Dewan Adat Papua tentang ‘aneksasi bukan integrasi’, dan pernyataan Dewan Pakar Kesultanan Ternate tentang federalisme. Federalisme dan disintegrasi, dua kata satu makna.

Paparan menarik datang dari Dr Purwadi M.Hum, staf pengajar Universitas Negeri Yogyakarta dan penulis beberapa buku di antaranya Javanologi: Asal Mula Tanah Jawa. Ia paparkan bahwa hanya ada 2 bangsa yang mampu menguasai dunia (karena mereka mampu menguasai 3 hal: perspektif epigrafis, historis dan kosmopolis) yaitu bangsa Tionghoa dan Israel. Di manapun mereka berada di dunia ini mereka mampu menulis, membaca dan mendokumentasikan tata cara hidup dan pencapaian hidup mereka (epigrafis). Mereka pun mampu menjelaskan dan menarik garis sejarah nenek moyang mereka (historis). Yang tak kalah pentingnya adalah bahwa mereka mampu mengelola kota di dunia ini dengan membangun pilar politik di kota-kota tersebut (kosmopolis). Polis berarti kota, dan politik adalah turunan kata dari polis. Tak ada keputusan penting berbangsa itu, argumen Purwadi, datang dari desa.

Menarik juga ia mempertanyakan judul acara ini, “Menyoal” bukan “Memperkokoh” atau mungkin usulan saya, “Merumuskan Kembali”. Dari sisi kebudayaan, Indonesia itu sangat kaya. Salah satu pembicara dialog ini, Muhammad Zaini, dosen Sekolah Tinggi Seni Indonesia dan ITENAS Bandung, bahkan meneliti 250 permainan anak seluruh Indonesia. Ia sampaikan bahwa sesungguhnya ada ribuan permainan tradisional, yang baru dikajinya hanya segelintirnya saja. Kekaguman saya adalah bahwa beliau telah membuat arsip permainan daerah yang tak pernah terpikirkan oleh birokrat negeri ini.

Terakhir, acara sepenting ini selayaknya dihadiri oleh pengambil keputusan negeri ini. Seperti ucapan Buya Syafii Maarif di satu kuliah umum yang diselenggarakan harian Kompas, negeri ini tak punya pemimpin yang tahu jadi negarawan. Semuanya berpikir jangka pendek, sependek Pemilu 2014.

 

Long Weekend: ?


Still had the same wonder everytime I passed by that area. Fifty men not working, sitting in warung. Sipping coffe or just smoking. Not doing anything only catching up same old, same old. Tonite I am still awake, tired but not sleepy. I conclude a new horizon about dialog on theory of economy. That Stephen Hawking shall come up with new theory of big bang particles and the rest of the universe. A dialog of Einstein and Newton. Of Milton Friedman and Robert M. Solow. Of me and my new pair of glasses.

rigel-2.jpg

poseidons.net

This song keeps playing inside my head, “You had a bad day, you’re taking one down…” and I am having a ball today, exhaustively speaking. I feel very responsible seeing those men laying low while I wish I had more time and energy everyday to finish many things. I must read all materials on distribution theory. I must finish the proposal by 16th this month. I must meet someone err two people tomorrow. I must arrange the new column. I must go to my shopping arcade first thing in the morning, feed all the babies well (even the daddy), and I think any public-policy related topics are not for tonight’s writing. “Will you need a blue sky holiday? The point is they laugh at what you say… and I don’t need no carryin’ on…”

 
 

Wiki This!


NEW ADDRESS! NEW ADDRESS!

http://88.80.13.160/wiki/Wikileaks

wikileaksss.jpg

Hari ini, hakim federal di San Fransisco, Amerika Serikat memutuskan penutupan hosting Wikileaks di Amerika Serikat, sehingga semua penyedia nama domain di sana seperti Dynadot, Register.com and GoDaddy.com harus memblokir domain http://www.wikileaks.org ini. Yang terjadi adalah alamat http://www.wikileaks.org tidak dapat diakses “dari depan” (from front door) tapi bisa melalui http://www.wikileaks.be (Belgia) atau http://www.wikileaks.de (Jerman) atau http://www.wikileaks.cx (Pulau Natal) atau alamat IP di atas yang langsung dialihkan ke mirror site.

Media sosial (social media) adalah cabang termutakhir dari kehidupan jurnalisme. Jimmy Wales (aka Jimbo, penggagas Wikipedia) menegaskan bahwa penulisan Wiki adalah bentuk dari segala pakem pemerintahan:

  • anarki: semua orang bisa melakukan apapun,
  • demokrasi: keputusan dilakukan dengan voting,
  • meritokrasi: ide terbaiklah yang menang, diputuskan karena netral dan informatif,
  • aristokrasi: orang yang paling lama berkutat di Wikipedia adalah orang yang paling didengar, dan
  • monarki: jika semua gagal, Jimmy Waleslah yang paling berkuasa.

Bentuk Jurnalisme Wiki ini tak hanya Wikipedia. Jurnalisme Wiki bisa juga ditemui dalam format “tulisan atau dokumen bocoran” dari berbagai institusi. Format bocoran informasi ini bisa ditemui di situs Wikileaks yang dirintis oleh James Chen (another Jimbo?) dan beberapa orang lain yang membelot dari China, Tibet, dan Rusia. Mereka juga dibantu oleh ahli di bidang jurnalisme, matematika dan komputer dari Amerika Serikat, Taiwan, Eropa, Australia dan Afrika Selatan. Keunikan Wikileaks adalah narasumber yang biasa dikenal dengan istilah whistleblower. Salah satu kasus whistleblower yang dimuat oleh Harian Guardian, Inggris memuat kasus korupsi dan pencucian uang di Kenya yang bocoran dokumennya diperoleh dari Wikileaks.

Jurnalisme Wiki adalah common-based media journalism atau jurnalisme oleh orang awam (commoners) dan di media siapa saja. Jurnalisme jenis ini mungkin dihentikan oleh otoritas di satu teritori, tapi hukum satu negara tidak ekstrateritorial. Dihentikan di San Fransisco, masih bisa berdiri di tempat lain. Yang terjadi kemudian adalah bagaimana otoritas di setiap teritori (baca: penegak hukum satu negara) akhirnya harus menempatkan diri dan mengambil manfaat dari gaya jurnalisme ini. Otoritas akhirnya bisa melakukan pemantauan korupsi atau kejahatan setiap institusi di dalam negaranya.

Terakhir, akurasi adalah segalanya. Bagi jurnalis media apapun hari ini juga bagi pembaca media apapun (seperti saya) yang terpenting adalah akurasi Jurnalisme Wiki. Mungkin akurasi Webster atau Britannica lebih baik, namun informasi yang disediakan Wikipedia atau Wikileaks adalah awal dari rasa ingin tahu akan apapun secara mudah dan murah. There’s always a start for a curious cat like me.

 

Kampanye Kuning, Hijau, Colorless?


Say no to Ahmad Dhani (yellow journalism?)

Say no to plastic bags (green journalism?)

Say yes to biofuels (then tell a new story that it is 93% higher emissions than gasoline; new color journalism?)

Dialog-dialog seperti ini akan terus berlanjut. Menjalani kehidupan hari ini, di tengah hujan informasi yang kian deras, bisa membuat sakit kepala (jika tidak tahu bagaimana menyaring informasi).

Buku Warren Bennis “One Becoming A Leader” adalah salah satu yang bisa membuka mata dan menyaring apa yang harus masuk ke mata. Information overloaded adalah istilah yang saya kenal dari bukunya ini. Satu hal pasti, karena Bennislah saya kemudian mencoba untuk selalu membaca berita di antara berita “read between the stories, not just lines”. Mungkin su’udzon, tapi dengan trik Bennis ini setiap orang akan lebih cepat membaca apa yang terjadi dengan:

  • Ahmad Dhani, Dewi Dewi, Maia, duo baru dst. (ah Dhani ‘kan entertainer sejati, harus selalu tampil ke permukaan atau album selanjutnya tak laku dijual)
  • Plastic Bags (setuju untuk kurangi penggunaan plastik, apakah edukasi tentang sampah plastik tidak jalan di sekolah-sekolah atau memang tak ada CSR dari Tri Polyta)
  • Biofuels v. Gasoline (tak perlu membaca detail riset terakhir dari University of Minnesota, damage has been done; dunia akan memasuki resesi panjang dengan agflasi salah satu penyebabnya; dan kampanye anti-nuklir Amerika Serikat-Eropa sebagai alternatif energi, salah duanya; atau hutan di Kalimantan telah cepat berubah fungsi… dan seterusnya)

Inilah kegilaan berpikir yang saya dapat dari Bennis. Atau Leary. Atau Rheingold. Atau Krugman. Dan seterusnya… dan seterusnya…

The factory of the future will have only two employees, a man and a dog. The man will be there to feed the dog. The dog will be there to keep the man from touching the equipment. (Dr Warren G. Bennis)

 

Governing the New Private-Turned-to-Public Sphere


The president is a hot celeb? I found pic of Susilo Bambang Yudhoyono amongst other worldwide celebrities at http://www.riya.com, a picture search engine. From Hu Jintao to Kelly Hu (not related to the president) to Pamela Anderson, I found their nice, print-quality pictures. A digital picture has signatures (be found at properties). Riya search engine will look at the same signature the time any digital picture is saved, digitized and uploaded on the Net. I take pictures of me from my camera, and other pictures that have my signature or similar typography could be searched easily.

Crazy huh? I am living in a world that anyone could no longer hide, unless I am living in remote island Pulau Wetar or something. No electricity nor satellite phone.

In this crazy kind of world, I assume everyone is nice and reasonable. A nice blogstalker like me would not follow the virtual link to IRL. I send emails only to by beloved, real-life friends or colleagues. Never reply an email with “Assalamualekum” or “My Client Died and Left Some Inheritance to Noone” subjects.

I still wonder how on earth anyone could do such work, and noone got arrested for intruding with such emails. No governing bodies ever officially declared such thing as a crime. There is Internet Engineering Task Force and Social Media (from Wikipedia to Facebook, from Cyworld to Gawker Stalker) to consider as new institutions that govern the virtual world.

For me, whatever they are and do, I am going to be strict: draw a definite line of IRL and the virtual world. Or else I cannot explore other parts of beautiful beaches and mountains and heritage of Indonesia. I am just sitting here with my coffee and pajamas. Get a life?

 

Waking Up: WordPress yourself


*yawn* Already Jan. 30. Just now, after a quick napping I made some hot tea. Need to freshen up to start writing a loooong due presentation.  Sipping my tea, I started reading J Kristiadi’s column (again) in Kompas Jan. 29. His writings always soft but sharp.

Thinking and putting thoughts into good writings required 3 things:

  • the thoughts (of course),
  • hard work (exercising in the brain is more than muscle-wise work), and
  • experience in writing (how many thousands of letters and rejections, this matters most).

I don’t like writing poem, btw. I used to. I don’t like writing journals. I used to, too. I just find it easier today to express thoughts in longer longer words. I hated the skyrocketting tempe price and kedelai v. corn; I wrote them. I searched long hours just to find out how agrobusiness really worked out. I wrote them in 10 minutes. I love the idea of sertifikasi guru, I wrote it. Many many more things I read and think in a day, I just wrote them. Thanks for sharing.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 30, 2008 in curhat, thinking, wordpress, writing