RSS

Arsip Tag: universitas indonesia

Seleksi PPDB 2015: It is a competition of “Apple to Kesemek”


Boleh dong kritisi seleksi masuk SD, SMP hingga SMA/SMAK Negeri tahun ini? Ya selama konstruktif (bukan emosional gitchuuuw), tentu boleh. Lagipula ini wordpress saya, tong sampah atas pemikiran-pemikiran saya. Jadi begini, saya baru melihat kalau seleksi itu dibagi 3 loket: IPA, IPS dan terkadang Bahasa. Kalau sekarang (di situs web PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) DKI Jakarta itu ya MIA, IIS dan IIB.

Nah, yang lucu itu parameter seleksinya via UN (ujian nasional) ya cuma materi IPA dan Matematika saja yang berbau MIA (matematika dan ilmu-ilmu alam). Tak ada ilmu-ilmu sosial disaring jika anak ingin masuk IPS. Sementara itu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, materi yang diuji di UN juga, menjadi parameter seleksi diterima atau tidaknya seorang anak masuk di Sistem PPDB ini. Dan tidak semua SMA/SMAKN itu memiliki Jurusan Bahasa. Untuk seleksi IIB (ilmu-ilmu bahasa ) yang jadi parameter ya dua ujian nasional untuk bahasa tadi. Yang jadi anak tiri itu ya IIS, karena tak ada ilmu sosial (ekonomi, geografi, sejarah, atau yang non-eksakta itu), yang diuji di UN.

Kelucuan kedua (mungkin apple to durian kali ya?) adalah nilai total mata ujian IPA-Matematika-Bahasa Indonesia-Bahasa Inggris itu artinya 4 bagian untuk 1 jurusan. Ada 3 jurusan, yang seakan diranking tertinggi itu MIA dan terendah itu IIB. Hmmm… inilah kerumitan sistem yang apple to kesemek, apple to durian, kedondong, duku, bengkoang dan beragam kecerdasan bocah itu. Semua buah dianggap apel. Kalau buahnya berbau menusuk, dianggap itu apel busuk? Cempedak itu enak, brader…

Karena tiap anak itu unik… paham?

imagessmart  

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 25, 2015 in public policy

 

Tag: , , , , , ,

You cannot live without scholarship, and you cannot live with scholarship


Di luar jatah seleksi reguler, Universitas Indonesia (UI) memiliki program seleksi mahasiswa yang telah berjalan 3 tahun terakhir ini. Kerjasama Daerah Industri (KsDI) adalah program non-SIMAK atau seleksi masuk UI. Pemerintah daerah atau pun industri dapat memasukkan nama siswa berprestasi usulan mereka untuk masuk ke UI tanpa tes seleksi ketat: hanya selembar surat usulan plus kontrak-kontrak. Diharapkan memang banyak siswa SMA berprestasi di daerah yang bisa masuk lewat jalur khusus ini, dan disepakati bahwa mereka adalah siswa yang kurang mampu secara finansial melanjutkan ke sekolah lebih tinggi.

Noble huh? Sayangnya tidak begitu kenyataan tiga tahun terakhir. Banyak bolong dan bohong…

Adalah David Welkinson, salah satu siswa dari SMA di Bengkulu yang beruntung masuk ke jalur ini di awal program KsDI ini disepakati pihak kampus dan Pemerintah Provinsi Bengkulu. Ia adalah satu dari mahasiswa berprestasi secara akademis ataupun organisasi kesiswaan (pernah menjabat menjadi ketua OSIS semasa SMA). Ia adalah anak petani yang terkesan sederhana namun tegas. Saya belum pernah melihatnya, tapi wajahnya tampil di layar TV beberapa saat lalu untuk mengungkap kebobrokan Pemprov Bengkulu, yang notabene kepala daerahnya pun sekarang pesakitan karena korupsi (beritanya di sini, ya).

Uang kuliah yang dijanjikan Pemprov Bengkulu tak kunjung turun, bahkan dinyatakan bahwa program ini ditutup di provinsi itu sejak tahun 2010. Lalu bagaimana kontrak awalnya? Inilah pangkal kisruh beasiswa dan jalur khusus masuk UI ini. Ditengarai bahwa pihak Pemprov Bengkulu tidak menjalankan kewajibannya sesuai kontrak. Ditengarai pula bahwa kontrak yang ada memang tidak “menjanjikan” pembayaran, hanya memberikan usulan nama siswa berprestasi. Douglas North (1991) menegaskan bahwa “There are some cases where contracts are self-enforcing; i.e., when all parties to a contract have an economic incentive to comply with the terms of the contract.” Sayangnya, compliance atas kedua pihak yang menandatangani kontrak ini terkadang tidak terjadi.

Apapun alasan yang telah diberikan Pemprov Bengkulu, jelas saja ada ingkar janji sepihak. Terbukti kok provinsi lain mampu membiayai dan sepertinya tidak bermasalah hingga hari ini. Apa yang terjadi sesungguhnya di meja bendahara pemerintah Bengkulu, wallahualam.

Lambsdorff (2007) menegaskan bahwa “corrupt actors are more influenced by other factors such as the opportunism of their criminal counterparts and the danger of acquiring an unreliable reputation.” Bengkulu adalah provinsi miskin karena letak geografis yang tidak menguntungkan, dikelilingi pengunungan tinggi dan pantai berkarang. Hal ini diperparah lagi dengan seringnya gempa terjadi di sepanjang pantai barat Sumatera. Untuk itu, jalur distribusi ke dan dari Bengkulu adalah mustahil kalaupun tidak mau dinyatakan “mahal”.

Hal ini bukan alasan jika memang “aktor” yang dimaksud Lambsdorff adalah aktor yang tidak oportunistik. Tak ada niat baik dari pihak pemprov sana untuk berbenah diri. Bengkulu puluhan tahun silam adalah potret Bengkulu sekarang. Tak banyak kemajuan berarti dibanding provinsi tetangganya. Sayangnya pemerintah di salah satu provinsi dari 5 nomor buncit (dalam hal pemasukan dan belanja daerah) di Indonesia ini tak memiliki niat baik memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Rakyat cerdas akan keluar dari terbatasnya sumber daya alam–lihat Singapura. Rakyat cerdas pun akan keluar dari terbatasnya jalur transportasi–lihat Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan Laskar Pelangi.

Di lain pihak, UI sebagai institusi besar, sesungguhnya bisa bertindak lebih arif dan taktis untuk membantu masalah per kasus atau bahkan masalah KsDI ini secara umum. Tak usah ditutup jalur ini, hanya kedua pihak harus menandatangani kontrak yang lebih tegas. Selain itu, seleksi masuk sepenuhnya milik UI agar standar mahasiswa “cerdas” yang diloloskan dari program ini bukanlah mereka yang “cuma punya uang bayar pemda” atau “cuma kebetulan anak Pak Bupati Anu”… dan seterusnya.

Semoga David Welkinson adalah anak terakhir yang harus menderita karena mendapat beasiswa bodong pemdanya.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 14, 2011 in chaos, economy, education, institutionalism

 

Tag: , , ,