RSS

Poros Maritim: Sebuah Konsep yang Lebih Matang


Pak Jokowi dan Pak JK Yth,

Kita itu sesungguhnya sudah punya banyak infrastruktur & fasilitas untuk kembangkan Poros Maritim:

1) Galangan pembuatan kapal di Batam, Surabaya, dkk. Galangan ini bahkan meladeni banyak pesanan Malaysia dan negara-negara ASEAN!
2) Koordinasi pengawasan keamanan laut Bakorkamla.
3) Koordinasi cuaca realtime BMKG yg terkoneksi langsung ke kapal laut yang terdaftar.
4) Pelayanan satu pintu untuk nelayan, serta terpadunya pelabuhan kegiatan laut dengan pabrik pengolahan ikan segar.
5) Riset kekayaan bahari kita.

Walau memang seharusnya infrastruktur ini harus lebih tersebar merata di seluruh Indonesia. Selain itu juga, paliing tidak informasi seperti peta tangkapan ikan ini mudah diakses rakyat, mulai nelayan hingga siswa SD.

Percaya deh, kita itu tajir bangeeeettt….

*goosebumps* ngeliat foto-foto ini lagi….

2012-10-18 16.19.23 Galangan Kapal Tj Sengkuang, Batam

Koordinasi keamanan laut

 

 

 

 

 

Koordinasi keamanan laut

 

BMKG

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Koordinasi info cuaca realtime

 

 

Sungailiat, Bangka

 

 

 

 

 

Pelabuhan terpadu Sungailiat, Bangka Belitung

 

KKP

 

 

 

 

Peta riset bahari Kementerian Kelautan dan Perikanan

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2014 in Poros Maritim, public policy

 

KAUR milih-milih calon menteri profesional


Dari nama-nama usulan ini ada yang masuk akal, ada yang mengundang tawa miris. Susah-susah gampang sih…

1. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan *

Jenderal TNI Budiman
Jenderal TNI Dr. Moeldoko
Jenderal TNI (Purn) Sutiyoso
Other:

2. Menteri Koordinator Perekonomian *

Chairul Tanjung
Prof. Dr.(H.C.) Dahlan Iskan
Gita Irawan Wirjawan
Other:

3. Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat *

Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si
Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, MSIE., MSCE.
Prof. Dr. Alwi Shihab
Other:

4. Menteri Dalam Negeri *

Dr. Abraham Samad, S.H., M.H
Dr (HC). Agustin Teras Narang, SH
Prof. Dr. Pratikno, M.Soc. Sc
Other:

5. Menteri Luar Negeri *

Don K. Marut, MA, M.Phil.
Drs. Makmur Keliat, Ph.D
Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc
Other:

6. Menteri Pertahanan *

Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc
Mayor Jenderal (Purn) TB Hasanuddin
Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu
Other:

7. Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) *

Dr. Artidjo Alkostar, SH., LLM
Prof. Dr. Saldi Isra, S.H., MPA
Dr. Zainal Arifin Mochtar, SH., LLM
Other:

8. Menteri Keuangan *

Prof. Dr. Hendrawan Supratikno
DR. Ir. Raden Pardede, Ph.D
Agus Martowardojo
Other:

9. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) *

Dr. Ir. Arif Budimanta, MSc
Ir. Luluk Sumiarso
Dr. Ir. Tumiran, M.Eng.
Other:

10. Menteri Perindustrian *

Anton Joenoes Supit
Dr. Poempida Hidayatulloh, B.Eng (Hon), PhD, DIC
Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA
Other:

11. Menteri Perdagangan *

Dr. Mari Elka Pangestu, Ph.D
Soetrisno Bachir
Dr. Sri Adiningsih
Other:

12. Menteri Pertanian *

Arif Wibowo
Prof. Dr. Bustanul Arifin
Dr. Ir. Iman Sugema, M.Sc.
Other:

13. Menteri Kehutanan *

Prof. Dr Ir. Frans Wanggai
Dr. Mohamad Prakosa
Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Sc
Other:

14. Menteri Perhubungan *

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim
Prof. Dr. Tech. Ir. Danang Parikesit M. Sc.
Ignasius Jonan
Other:

15. Menteri Kelautan dan Perikanan *

Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc
Dr. Kadarusman, P.hD
Prof. Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS.
Other:

16. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi *

Rieke Dyah Pitaloka
Dr. Rizal Sukma
Wahyu Susilo
Other:

17. Menteri Pekerjaan Umum *

Dr. Bayu Krisnamurthi, M.Si
Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA
Tri Mumpuni Wiyatno
Other:

18. Menteri Kesehatan *

Prof. DR. Fasli Jalal
dr. Ribka Tjiptaning
Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D.
Other:

19. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan *

Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan
Dr. Hilmar Farid
Yudi Latif, MA, PhD.
Other:

20. Menteri Sosial *

Dadang Juliantara
Eva Kusuma Sundari
Ir. Hasto Kristiyanto, MM
Other:

21. Menteri Agama *

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA
Drs. H. Lukman Hakim Saifudin
Siti Maulida
Other:

22. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif *

Garin Nugroho
Jeffrie Geovanie
Mira Lesmana
Other:

23. Menteri Komunikasi dan Informatika *

Drs. Ferry Mursyidan Baldan
Nezar Patria, MA
Ir. Onno W Purbo. M.Eng, PhD.
Other:

24. Menteri Sekretaris Negara *

Maruarar Sirait, S.IP
Ir. H. Pramono Anung Wibowo MM
Dr. H. Yuddy Chrisnandi, ME
Other:

25. Menteri Riset dan Teknologi *

Dr. I Gede Wenten
Dr.Eng. Romi Satria Wahono, B.Eng.,M.Eng
Prof. Yohannes Surya, Ph.D.
Other:

26. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) *

Abdul Kadir Karding, S.Pi, M.Si
Dra. Khofifah Indar Parawansa
Nusron Wahid, SS.
Other:

27. Menteri Pemberdayaan dan Perempuan- Anak *

Lies Marcoes Natsir, MA
Nani Zulminarni, MA
Puan Maharani
Other:

28. Menteri Lingkungan Hidup *

Chalid Muhammad
Charlie Heatubun, Ph.D
Drs. Ir. Dodo Sambodo, MS
Other:

29. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi *

Dr. Eko Prasojo
Ir. Tri Rismaharini, M.T
Agung Adi Prasetyo
Other:

30. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal *

Drs. Akbar Faizal, M.Si
Drs. Andrinof Achir Chaniago, M.Si
Indra Jaya Piliang, SS, M.Si
Other:

31. Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional *

Aviliani, SE, M.Si.
Faisal Basri.,SE.,MA
Dr. Revrisond Baswir
Other:

32. Menteri Perumahan Rakyat *

Prof. Rhenald Khasali, Ph.D.
Prof. Ir. Suprihanto Notodarmojo, Ph.D.
Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD.
Other:

33. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) *

Dr. Hendri Saparini
Dr. Kurtubi
Emirsyah Satar
Other:

34. Menteri Pemuda dan Olahraga *

Adhie MS
Anies Rasyid Baswedan Ph.D.
Herry Zudianto, SE.Akt, MM
Other:

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 24, 2014 in jokowi, profesionalisme, public policy

 

Tag: ,

Capres Peduli Reformasi Birokrasi


“Reformasi birokrasi adalah Jokowi.” Kalimat ini diucapkan seorang sahabat di salah satu rapat kementerian, setahun lalu. Hari ini, Jokowi maju untuk calon presiden Republik Indonesia. Hitung cepat (quick count) menunjukkan PDI-P yang mengusung Jokowi melesat meninggalkan partai politik lain. Selain PDI-P, yang masuk peringkat 3 besar adalah Partai Golkar dan Partai Gerindra. Menarik…

Kira-kira nanti ada 3 (tiga) pasang capres-cawapres, kalau melihat konstelasi pemenang suara pemilu legislatif hari ini. Siapapun, saya tak ingin berspekulasi di sini, karena sesungguhnya siapapun itu sudah wajib menjalankan RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang) dengan kabinet yang bersih dan bekerja.

Wajib hukumnya psangan capres–cawapres ini bersih dan bekerja. Karena siapapun capres-cawapresnya, kalau masih punya agenda utang perusahaannya atau menggelembungkan parpolnya, rakyat Indonesia akan memasuki 5 tahun yang suram lagi.

Baiklah, ada RPJP.

Baiklah, harus bersih.

Lalu, bagaimana profil birokrasi hari ini? Sudah siap? HARUS SIAP! Karena Jokowi, salah satu contoh yang disebut ‘reformis’ tadi, mempunyai prioritas kerja di detik pertama ia menjadi Gubernur DKI Jakarta: mereformasi jajaran birokrasi DKI Jakarta.

SBY sebenarnya telah menandatangani Perpres 81/2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi.Ada tahapan untuk mereformasi jajaran birokrasi ini, dengan 3 indikator utama keberhasilannya: 1) pemerintah bersih bebas & KKN, 2) kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi, 2) peningkatan kualitas pelayanan publik.

RB2

Dari ketiga indikator keberhasilan reformasi birokrasi ini ada beberapa hal yang perlu dipahami lebih mendalam:

  1. Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme, dengan dua indikator utama: IPK (Indeks Persepsi Korupsi) yang disurvei Transparency International, dan Opini BPK WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) yang diselenggarakan Badan Pemeriksa Keuangan.
  2. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat, dengan indikator: Integritas Pelayanan Publik yang disurvei KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan Peningkatan Kemudahan Berusaha atau Doing Business Index yang disurvei oleh The World Bank.
  3. Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi dengan indikator: Indeks Efektivitas Pemerintahan atau World Governance Index yang diselenggarakan The World Bank,serta jumlah instansi pemerintah yang akuntabel berdasarkan hasil LAKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintahan) yang dinilai Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

RBApa yang telah dihasilkan sepanjang 2010-2014? Mungkin baru output (dokumen hasil kegiatan birokrasi), namun belum sepenuhnya mencapai outcome & impact (umpan balik atas hasil dan dampak) atas kegiatan birokrasi, apapun sektornya. Penguatan pengawasan juga belum terselenggara dengan ideal di beberapa kementerian dan lembaga (catatan pribadi selama menjadi anggota evaluator Pelaksanaan Reformasi Birokrasi di beberapa K/L selama periode 2012-2013).

Input-process-output-feedbak

Jadi, apa yang harus dilakukan capres dan cawapres yang akan datang? Harapannya memang seperti apa yang dilakukan Jokowi: melakukan gebrakan sistem terkait rekrutmen dan pengawasan pelaksanaan program/kegiatan. Ya, chicken or egg? Mau SDM aparaturnya bersih dulu baru diawasi, atau SDM diawasi dulu baru direkrut yang bersih?

Saya berharap, Jokowi effect itu harusnya ada di tingkat nasional. Amin…

*Catatan tambahan: TULISAN INI TIDAK DIBAYAR OLEH TIM SUKSES MANAPUN, paham?

 

Tag: , , ,

Kenapa Harus Teh Impor?


Kemana teh kita? Indonesia tercatat melakukan impor teh sepanjang Januari-Juni 2013, sejumlah 11.411 ton dengan nilai US$ 15,7 juta atau sekitar Rp 134,5 miliar. Dari mana saja? Impor teh kita berasal dari Vietnam, India, Kenya, Srilangka dan Iran/

Teh terbaik kita dibeli oleh tengkulak Singapura (untuk dijual ke luar negeri, sejauh Inggris dan jadi “Twinnings English Breakfast Tea”). Contohnya, teh Solok Sumbar yang bersih dan harum, itu tak ada yang jadi teh lokal yang harganya super duper murah. Dibungkus cantik oleh Twinnings, “digoreng” iklannya seluruh dunia, jadilah teh itu mahal.

Konsep “free trade”? Ya, kita bisa jual teh Rp 1000, tapi beli teh impor Rp 500. Kita masih untung Rp 500, jadi untuk apa kita pakai sendiri teh kita? Hanya saja pemerintah lupa, ada biaya tengkulak (broker) yang tak dihitung, apalagi untuk jangka panjang jelas bukan angka profit margin Rp 500 itu saja yang harus dilihat, tapi harus dilihat industri teh dalam negeri berputar hingga banyak warung/toko teh dan pasar penjual teh yang menggerakkan ekonomi lokal.

Ada beberapa bahan untuk mengkaji masalah komoditas teh, yang merupakan salah satu produk unggulan negeri tercinta ini. Sila klik sini, sini, dan sini untuk laporan FAO (Food and Agriculture Organization di bawah PBB, Persatuan Bangsa-bangsa). Ada juga bahasan teh sebagai bagian khusus pembangunan di benua Afrika, sebuah kajian dari UNECA (klik sini).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 6, 2013 in public policy

 

Tag: , , , , , ,

Tahir Djide: “Champions Must Be Made”


Inilah buku manajemen bulu tangkis di masa kejayaannya. Buku keren karena tokohnya super duper keren! Yang hadir juga super duper ultra keren: Christian Hadinata, Imelda Wiguna, Icuk Sugiarto, Verawati Fajrin, Ivanna Lie…

602043_10201160905119445_1066051801_n

Ini cuplikan isi bukunya, yang diterbitkan terbatas:

Di dalamnya, sungguh sarat dengan nilai Islami yang berbaur dengan nilai inti kultur Bugis yang unik yaitu siri dan passe. Ekpresinya, berwujud ungkapan perilaku yang berani, mengutamakan harga diri, dan bersikap tegas di satu pihak, serta welas asih, kepedulian dan respek antarsesama di pihak lain. Meskipun demikian, ada juga pengaruh kultur Jawa pada dirinya yang menekankan “tata krama” dan nilai hormat dan loyal kepada tugas dan pimpinan. (haaman 23)

Betapa sering terdengar keluhan dalam suatu organisasi olahraga, ihwal iklim pembinaan yang kurang kondusif. Pencapaian tujuan program gagal terwujud. Para atlet sering mangkir latihan dengan berbagai alasan. Meskipun mereka mengikuti program latihan, tetapi tugas-tugas itu disikapinya dengan setengah hati. Hal ini tercermin misalnya dari perilaku yang ogah-ogahan, kurang bersemangat. Atau seperti istilah mantan pelatih PSSI yang sukses membina tim nasional tahun 1950-an, Anton ‘Toni” Pogacnik, “pemain korupsi dosis latihan.” Dalam perbincangan kami di perkampungan Senayan, sebelum Persib Bandung berangkat mengikuti turnamen “King Cup” 1978 di Bangkok, ia mengutarakan sikap negatif beberapa pemain sepakbola terhadap tugas latihan, yang dia sebut “tidak sungguh-sungguh”, dan disebutkannya beberapa nama sebagai contoh.

Sangat berbeda. Sungguh jauh perbedaannya di kalangan pemain bulutangkis generasi 1970-an yang dibina Tahir Djide, pemain angkatan Rudy Hartono, Liem Swie King dan lain-lain. Hal ini bukan saja di kalangan putera tetapi juga di kalangan puteri, seperti Imelda Wiguna, Retno Kustiah dan lain-lain. Perbedaan iklim pelatihan itu adalah buah hasil dari interaksi pemain dan pelatihnya. Tahir berhasil menciptakan suasana yang bersemangat, cerminan dari sikap positif pemain terhadap tugas latihan. Jangankan mengurangi dosis latihan, biasanya mereka malah menambahnya, disertai oleh dorongan untuk saling bersaing, dan saling mengungguli secara sehat. (halaman 169)

1173642_10201160846237973_611619250_n

Hyderabad, India (ANTARA News) – Daftar pemenang kejuaraan dunia bulu tangkis sejak pertama kali diselenggarakan pada 1977 di Malmo, Swedia hingga terakhir 2009 di Hyderabad, India.

2009 (Hyderabad, India) - Tunggal putra: Lin Dan (China), Tunggal putri: Lu Lan (China), Ganda putra: Cai Yun/Fu Haifeng (China), Ganda putri: Zhang Yawen/Zhao Tingting (China), Ganda campuran: Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (Denmark)

2007 (Kuala Lumpur, Malaysia) – Lin Dan (China), Zhu Lin (China), Markis Kido/Hendra Setiawan (Indonesia), Yang Wei/Zhang Jiewen (China), Nova Widianto/Liliyana Natsir (Indonesia)

2006 (Madrid, Spanyol) – Lin Dan (China), Xie Xingfang (China), Cai Yun/Fu Haifeng (China), Gao Ling/Huang Sui (China), Nathan Robertson/Gail Emms (Inggris)

2005 (Anaheim, AS) – Taufik Hidayat (Indonesia), Xie Xingfang (China), Tony Gunawan/Howard Bach (AS), Yang Wei/Zhang Jiewen (China), Nova Widianto/Liliyana Natsir (Indonesia)

2003 (Birmingham, Inggris) – Xia Xuanze (China), Zhang Ning (China), Lars Paaske/Jonas Rasmussen (Denmark), Gao Ling/Huang Sui (China), Kim Dong Moon/Ra Kyung Min (Korea)

2001 (Sevilla, Spanyol) – Hendrawan (Indonesia), Gong Ruina (China), Tony Gunawan/Halim Haryanto (Indonesia), Gao Ling/Huang Sui (China), Zhang Jun/Gao Ling (China)

1999 (Kopenhagen, Denmark) – Sun Jun (China), Camilla Martin (Denmark), Ha Tae Kwon/Kim Dong Moon (Korea), Ge Fei/Gu Jun (China), Kim Dong Moon/Ra Kyung Min (Korea)

1997 (Glasgow, Skotlandia) – Peter Rasmussen (Denmark), Ye Zhaoying (China), Chandra Wijaya/Sigit Budiarto (Indonesia), Ge Fei/Gu Jun (China), Liu Yong/Ge Fei (China)

1995 (Laussane, Swiss) – Heryanto Arbi (Indonesia), Ye Zhaoying (China), Rexy Mainaky/Ricky Subagja (Indonesia), Gil Toung Ah/Jang Hye Ock (Korea), Thomas Lund/Marlene Thomsen (Denmark)

1993 (Birmingham, Inggris) – Joko Suprianto (Indonesia), Susi Susanti (Indonesia), Rudy Gunawan/Ricky Subagja (Indonesia), Zhou Lei/Nong Qunhua (China), Thomas Lund/Catrine Bengtsson (Denmark/Swedia)

1991 (Kopenhagen, Denmark) – Zhao Jianhua (China), Tang Jiuhong (China), Park Jo Bong/Kim Moon Soo (Korea), Guan Weizhen/Nong Qunhua (China), Park Jo Bong/Chung Myung Hee (Korea)

1989 (Jakarta, Indonesia) – Yang Yang (China), Li Lingwei (China), Li Yongbo/Tian Bingyi (China), Lin Ying/Guan Weizhen (China), Park Jo Bong/Chung Myung Hee (Korea)

1987 (Beijing, China) – Yang Yang (China), Han Aiping (China), Li Yong Bo/Tian Bingyi (China), Lin Ying/Guan Weizhen (China), Shi Fangjing/Wang Pengren (China)

1985 (Calgary, Kanada) – Han Jian (China), Han Aiping (China), Park Joo Bong/Kim Moon Soo (Korea), Han Aiping/Li Lingwei (China), Park Jo Bong/Yoo Sang Hee (Korea)

1983 (Kopenhagen, Denmark) – Icuk Sugiarto (Indonesia), Li Lingwei (China), Jesper Helledie/Steen Fladberg (Denmark), Lin Ying/Wu Dixi (China), Thomas Kihkstrom/Nora Perry (Swedia/Inggris)

1980 (Jakarta, Indonesia) – Rudy Hartono (Indonesia), Verawati (Indonesia), Ade Chandra/Christian Hadinata (Indonesia), Nora Perry/Jane Webster (Inggris), Christian Hadinata/Imelda Wiguna (Indonesia)

1977 (Malmo, Swedia) – Delfs Fleming (Denmark), Lene Koppen (Denmark), Tjun Tjun/Wahyudi Johan (Indonesia), Ueno Eriko/Toganoo Etsuko (Jepang), Steen Skovgaard/Lene Koppen (Denmark).(*)

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © 2009

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 24, 2013 in sports

 

Tag: , , , , , , , ,

Materi Penyiaran – 1


Pengantar Penyiaran – 1

***

Silakan diunduh.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 5, 2013 in penyiaran

 

Tag:

Masih perlukan “konsep” televisi digital di Indonesia?


Jawabannya: tidak.
Masalah dari dijalankan atau tidaknya infrastruktur televisi digital (baca: televisi terestrial digital) adalah ketersediaan frekuensi. Belajar dari “filosofi Jokowi”, menggusur berbeda dengan menggeser. Permasalahannya, penghuni frekuensi sekarang tidak rela digusur atau digeser. Alasan utamanya: tidak adanya kepastian hukum, siapa dapat apa di sektor komunikasi dan informasi ini. Mau digusur atau bahkan cuma digeser pun, mekanismenya konon terlalu ribet atau tidak transparan.

Saya cuma ingin mengingatkan saja, di saat kita semua terlena dengan konsep “televisi terestrial digital”, di saat itu pula dunia sudah memasuki era baru. Indonesia tidak berada di dalam peta global Hbb (hybrid broadcast broadband), yang perangkatnya hari ini sudah konvergensi (terpadu, atau interconnected).

Menunggu Godot? Ah… kok ya tetap pada ngotot!

Hybrid Broadcast Broadband

Baca di sini untuk konsepsi Hbb.
Baca di sini dan di sini untuk ekonomi dunia bergerak hari ini (mobile economy), and TV experience is just a small part of it… WAKE UP ALL Y’ALL!!!

 

Tag: , , , , , , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 259 pengikut lainnya.