Feeds:
Tulisan
Komentar

Merumuskan Slogan Pariwisata

Terhenti di lampu merah Jl. Thamrin, saya papasan dengan bus pegawai Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata. Di belakangnya tertera logo dengan tulisan di bawahnya “Ultimate in Diversity”. Excuse me… ???

2270_775-logobenderacopy

Mari kita lihat dua kata tersebut secara seksama (saya kutip dari kamus The American Heritage Dictionary cetakan ketiga):

1. Ultimate

sebagai kata sifat

  • being last in a series process, or progression
  • fundamental, elemental
  • of the greatest possible size or significance, maximum; representing or exhibiting the greatest possible development; utmost, extreme
  • being most distant or remote, farthest
  • eventual

sebagai kata benda

  • the basic or fundamental fact, element, or principle
  • the final point, the conclusion
  • the greatest extreme, the maximum

2. Diversity

kata benda

  • the fact or quality of being diverse
  • a point or respect in which things differ
  • variety or multiformity

Jika digabung memang keduanya menjadi sangat “Pancasila-is” dengan nada kebhinekaan yang tunggal ika satu tujuan. Cara bertutur “utimate in diversity” biasa kita dengar saat ceramah P4 dahulu, atau bagaimana TVRI pernah memiliki slogan “Persatuan dan Kesatuan” di setiap bumper antar-program.

Saya mencoba mengecek lagi situs-situs Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata atau lembaga yang seharusnya menjadi corong promosi pariwisata negeri ini (atau lebih jauh lagi, corong pelestarian dan pemberdayaan budaya negeri ini). Catatan saya kemudian adalah:

  1. Situs resmi Kantor Kementerian Negara Budaya dan Pariwisata www.budpar.go.id menjadi sekadar situs berita institusi yang melulu berisi “Ini loh gue, punya anggaran segini, meresmikan ini-itu, dan menginfokan agenda di sana tanpa kelanjutan bagaimana bisa sampai ke sana.”
  2. Situs dibuat asal jadi, terbukti dari isi satu situs www.my-indonesia.info atau www.indonesia.travel yang seluruh isi situsnya bisa direkap di hanya satu paragraf pendek di Wikipedia.  Sekali lagi, tak ada petunjuk apa dan bagaimana menjadi turis asing — bisnis atau rekreasi — di Indonesia.
  3. Satu hal lagi, jika kita google kata  “visit Indonesia” yang tertera di urutan paling atas adalah situs resmi www.my-indonesia.info. My? Bayangkan jika “id” adalah kode web Indonesia, dan Malaysia kode web adalah “my” sehingga terbacalah Malaysia Indonesia Info!

Tak mengherankan jika slogan di bus pegawai kantor pemerintah yang satu itu hanya berisi “ini loh gue” bukan berisi ajakan turis untuk kembali lagi ke Indonesia, atau ajakan setiap warga negara untuk semangat mengundang kawan-kawannya di luar negeri sana.

Sekarang saya mau membandingkan slogan “Ultimate in Diversity” itu dengan slogan pariwisata (bukan budaya) dari banyak negara yang sukses menaikkan rating “visit my country” selama beberapa tahun terakhir:

1. Maldives, sebuah negara dengan pantai pasir putih yang indah lengkap dengan pulau karang yang belum terjamah polusi. Statistik international tourist arrival 1990-2000 mencatat paruh pasar di region Asia Selatan adalah 7,5% dan pertumbuhan 8,6%

  • Slogan: My Sunny Side of Life;
  • Situs: www.tourism.gov.mv, www.visitmaldives.com, www.tourisminmaldives.com

2. India, sebuah negara industri dan kaya budaya yang berkembang pesat secara ekonomi maupun modal sumber daya manusianya. India menempati peringkat tertinggi di Asia Selatan untuk kunjungan wisatawan selama 1990-2000 dengan paruh pasar 50,6% dan pertumbuhan 6,4%.

  • Slogan: Incredible India
  • Situs: www.incredibleindia.org, www.tourisminindia.com, www.india-tourism.com, www.visitindia.com, www.mustvisitindia.com, dan masih banyak lagi situs lain yang dikelola partikelir

3. Dan beberapa negara lain yang pertumbuhan di atas 20% dengan pencitraan negara yang penuh warna dan terkesan hangat dinamis, di antaranya:

  • Bermuda: Feel the Love
  • Dubai: Definitely Dubai
  • Egypt: The Gift of the Sun
  • Lebanon: Splendid Lebanon
  • Spanyol: Espana
  • Sri Lanka: Small Miracle, Find Your Miracle
  • Turkey: Turkey Welcomes You
  • Zimbabwe: A World of Wonders

budpar

… dan yang paling penting adalah bagaimana negara tetangga Malaysia dan Singapura memosisikan dirinya

1. Malaysia: Truly Asia

2. Singapura:  Uniquely Singapore

Lihatlah ada slogan negara yang “berbicara” dengan sudut pandang diri “Saya” atau “I” yang mengajak turis sebagai “Anda” atau “You”. Ada juga negara yang mengangkat impian berada di tempat penuh cinta atau penuh matahari; sebuah ketertinggalan kesan yang mendalam setelah kembali dari sana. Sedangkan dua negara tetangga kita itu, tentu mengangkat keragaman budaya dan etos; betapa etnis India, China dan Melayu bersatu dengan turis atau pekerja ekspat di sana. Truly Asia, Uniquely Singapore, atau Ultimate in Diversity… dan slogan kita paling tidak indah, tidak merayu siapapun untuk datang.

** menghela nafas panjang **

Loh kok ngomongin olahraga (dan hiburan) dengan kacamata kebijakan publik? Apa hubungannya?

Seorang kawan menanyakan, “Apa yang bisa dilakukan regulator jika siaran Liga Inggris itu berpindah dari satu operator TV berlangganan ke TV berlangganan lain?”

Saya jawab, “Di Indonesia? Tak ada.”

Kasus Liga Inggris di Astro Nusantara tempo hari ini memberikan catatan khusus tentang kepastian hukum di Indonesia. KPPU telah memutuskan sesuatu di luar kewenangannya, dan diamini oleh Mahkamah Agung (walau ada satu hakim yang dissenting opinion).

Hak konsumen seakan menjadi hal terakhir yang harus dipikirkan penyelenggara negara ini, sementara banyak cara bisa dipelajari untuk mencegah terjadinya “kesewenangan” pasar Liga Inggris. Belajar dari Komisi Uni Eropa, via Komisi Persaingan Usaha Uni Eropa, Microsoft yang berbasis di Amerika Serikat, tidak dikenakan sanksi aturan persaingan usaha. Microsoft kena penalti halangan perdagangan (trade barrier) dengan meniadakan Explorer dalam paket bundling piranti lunaknya, jika Microsoft ingin memasok ke pasar Uni Eropa (baca ulasannya di sini).

Sayangnya di Indonesia telah diputuskan final oleh MA, bahwa benar adanya putusan KPPU yang menyatakan ESS (Singapore-based, pemasok siaran Liga Inggris kawasan ASEAN) dan All Asia Media Networks (Malaysia-based, investor Astro Nusantara, pemegang lisensi Astro pay TV) “bersalah”. Atas keputusan sebuah lembaga regulator persaingan usaha yang melakukan tindakan mengatur extra-jurisdictional, atau mengatur entitas di luar wilayah yurisdiksinya, inilah yang disebut “ketidakpastian hukum”. Belum lagi ditambah dengan kasus korupsi M Iqbal (anggota KPPU aktif waktu itu) dan Billy Sindoro (manajemen First Media yang dimiliki juga oleh Lippo Group, investor Astro Nusantara).

Kesimpulan sementara saya,  siapapun yang memenangkan hak siar Liga Inggris musim 2009-2010 ini bisa melenggang nyaman dan menikmati penambahan pelanggan secara signifikan seperti halnya almarhum Astro Nusantara waktu itu (dari 30 ribu menjadi 130 ribu dalam waktu kurang dari 1 bulan). Market mechanism and government failure, a nice combination for chaos. Kita kembali setelah ini… ZAP!

Open Govt & Social Media

Sebulan terakhir ini, di Gedung Kesenian Jakarta diselenggarakan “Jakarta Arts Festival” dalam rangka ulang tahun Kota Jakarta. Saya mengajak anak saya (kelas 1 SD) melihat pentas drama romans tragis Soppeng-Luwu “We Sangiang I Mangkawani”. Drama ini hanya dipentaskan malam ini dan esok malam, Selasa, 23 Juni 2009.

Satu jam pertunjukan berjalan sang bocah sudah tertidur, tapi yang penting ia bertanya “Apa itu siri, Bu?” dan “Bajunya kayak yang pernah Ibu pakai ya…”. Ada antusiasme dari sang bocah melihat warna-warni nusantara yang tak bisa dilihat di buku pelajarannya.

Saya membayangkan acara seni budaya ini dibuat reguler tiap malam; yah, mirip Broadway. Bayangkan juga cerita-cerita klasik daerah seluruh Indonesia dipentaskan bergiliran di Gedung GKJ yang magis anggun itu. Mulai drama musikal hingga tragis pun. Sebagai fasilitas penunjang, banyak hotel di dekat situ disiapkan hanya untuk wisatawan yang khusus menonton. Ditambah lagi jika Pasar Baru yang berada di seberangnya diremajakan dengan standar internasional. Jika hari ini sekitar GKJ masih terlihat rusuh dan kotor, beruntung sebenarnya akses ke GKJ dari bandara itu lewat Kemayoran sangat nikmat: puluhan kilometer jalan hanya melalui satu lampu merah Gunung Sahari. Tak usah berbondong-bondong staf Depbudpar RI ke luar negeri untuk promosi. Lebih baik mengundang wisatawan asing ke Indonesia, devisa dapat, Indonesia makin terkenal dengan kekayaan budayanya.

Ah, itu cuma mimpi. Semoga KPU menganggap penting pernyataan para capres terhadap perkembangan dan pelestarian seni budaya di Indonesia. Mudah-mudahan debat capres yang akan datang juga menyentuh hal paling mendasar dari kita berbangsa, yang membedakan kita dengan negara lain di dunia. Semoga…

Saya merasa sedih jika ada buku yang dianggap membahayakan kehidupan bermasyarakat. Sebaliknya, koruptor kakap kabur dan tak diurus serius? Jujur nih, mana sih yang lebih berbahaya?

http://indonesiabuku.com/?p=627

Paradigma sejarah yang dibuat penguasa suatu masa sudah saatnya ditinggalkan. Nukilan sejarah menceritakan bagaimana dan siapa yang melakukan perubahan terhadap jalannya pemerintahan, jalannya hidup berbangsa.

Demikian dikatakan Amelia Day kepada Indonesia Buku menanggapi upaya Kejaksaan Agung yang sedang meng-clearing house-kan beberapa buku yang dianggap “membahayakan” paham kenegaraan dan meresahkan masyarakat.

Menurutnya, sejarah tidak lahir di ruang vakum atau steril, dengan banyaknya kejadian di luar ruang itu yang dapat mempengaruhi, selain juga banyaknya kejadian yang tak bisa diungkap total karena keterbatasan ruang dan waktu dari setiap orang.

Sebagai contoh, seorang Soekarno duduk sendirian (berdua, bertiga?) di kamar menulis sebuah surat penting dan kemudian surat itu hilang, tak ada orang lain yang tahu. Kalaupun ada yang mengaku tahu, harus ditanya lagi, “Mana surat itu?” Dan seterusnya, dan seterusnya… karena telah terjadi informasi asimetri yang harus digali terus dari berbagai sudut.

“Saya hanya penikmat sejarah, dan saya tak bisa memprediksi arah tujuan dari “pemeriksaan” Kejaksaan RI terhadap lima buku (dan mungkin akan banyak buku-buku lain di masa datang). Di satu saat kelak buku-buku ini dilarang beredar, saya akan mencoba profesi baru sebagai penulis. Kira-kira buku saya akan berjudul begini: “Indonesia Memasuki Zaman Prasejarah”,” kata Amelia.

Bagi Amelia, sembari mengutip slogan CNN, “History in The Making”, hari ini siapapun bisa membuat sejarah, memperkaya dan menyempurnakan setiap kejadian penting. Peristiwa dukungan masyarakat terhadap Prita versus arogansi kekuasaan adalah contoh semua orang bisa membuat dan menjaga “sejarah” di titik kebenaran paling tinggi. Arus informasi antara kejadian sesungguhnya dengan “berita yang saya dengar” tak lagi kaku diikat ruang dan waktu.

“Bebaskan setiap orang berkreasi, berpendapat dan menjawab pendapat orang lain… inlah kisah sejarah yang paling bisa dipertanggungjawabkan,” tegas Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Periode 2003-2007.

Tulisan Sebelumnya »