RSS

Arsip Bulanan: Desember 2008

Caleg Berisik


Siang ini saya papasan dengan serombongan mahasiswa berjalan mundur ke kantor KPK. Serius, mereka berjalan mundur sambil membawa bendera kuning dan krans bunga kematian. Mereka mungkin meminta KPK segera menyelesaikan kasus-kasus korupsi kelas kakap eh paus. Perihal pertama: menjerat koruptor kelas berat.

Malamnya, saya melewati pasar malam yang dipadati penjual CD dan DVD (tentu bajakan). Beberapa lapak berderet dengan pengeras suara sember yang disetel full blast alias tombol suara mentok kanan. Setiap lapak berteriak berbeda dengan lapak di sebelahnya. Di tengah kebisingan suara itu, saya heran pembelinya tetap banyak. Sepertinya inilah kondisi kampanye caleg menyambut 2009: berisik tapi tetap ada pembeli. Mungkin saya naif, tapi sama seperti pembeli DVD bajakan, pemilih caleg X atau Y atau Z mungkin tak memiliki pilihan lain yang menarik selain yang tampil di spanduk di pinggir jalan ataupun stiker di belakang bajaj. Tak tahu siapa bagaimana, cuma memang mereka tak punya pilihan lain. Sosialisasi para wakil rakyat dan calon presiden bisa menjembatani information gap ini. Perihal dua.

Pemda tak mau menertibkan spanduk atau baliho caleg bukan karena takut pada partai yang mengusung para caleg ini, mungkin lebih karena alasan “tak ada anggaran” menggaruk semua. Perihal tiga: anggaran kebersihan.

Calon presiden atau wakil rakyat yang akan bertarung di 2009 adalah mereka yang telah jauh-jauh hari berkampanye, baik secara kasar (baca: mencetak digital 100 spanduk dan memasang stiker di sekujur badan mobil pribadi), atau secara halus (baca:  mencetak 1000 buku visi dan misi lalu diluncurkan di Grand Indonesia). Dari materi dalam format apapun yang telah mereka sampaikan, seharusnya ada satu badan khusus merekam jejak seluruh calon ini: perihal nomor empat.

Pencitraan terkadang semu. Demo mahasiswa adalah satu citra yang mulai luntur beberapa tahun terakhir, tak terlalu punya greget. Masyarakat seperti saya melihat demo mahasiswa ini hanya membuat macet jalan. Kalau sepuluh tahun lalu mereka berdemo, saya mungkin akan ikut jalan mundur karena saya waktu itu punya hati nurani. Sekarang? Saya masih punya, tapi ada urusan lebih mendasar lain yang lebih penting: saya butuh bekerja agar dapur rumah saya tetap ngebul. Hanya doa tulus dari saya; dengan syarat jika mereka berdemo pun secara tulus. Sepakat, kita demo KPK agar dapat bekerja tanpa intervensi politik (baca: anggaran).

Saya membayangkan intervensi terhadap KPK datang dari badan eksekutif atau legislatif. Tak terbayang apa jadinya jika yang duduk di kursi empuk nanti adalah caleg kinyis-kinyis yang senyum-senyum di banyak spanduk dan stiker. Saat pertama kali melihat spanduk dengan senyum ‘maksa’ di setiap pojok jalan, saya merasa lebih baik saya mencermati baliho film “Mas Masukin Aja” dan mencoba mencerna arti judul ini setiap lewat di lampu merah Senen. Daripada membeli “buku kampanye”, saya lebih suka menyumbangkan uang saya untuk anggaran kebersihan kota Jakarta. Kasus korupsi tidak diintervensi bukan berarti kebijakan SBY yang baik, tapi sistem telah berjalan sebagaimana harapan rakyat. Bukan veto satu orang.

Banyak hal yang membuat saya de-reformis saat ini.

Sekali lagi, pencitraan adalah semu. Adakah kedekatan sesungguhnya dari para caleg, capres, cawapres, cagub dst. ini dengan rakyatnya? Adakah rekam jejak ketulusan tindakan mereka selama ini?

Seperti lapak DVD bajakan yang baku-banter suara, 2009 akan berisik pula. Sayangnya, semua yang berisik ini malah paling laku dibeli. Oh well…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 27, 2008 in chaos, election

 

Book Review: Crowd to the Bottom of It


I just finished reading a new book ‘Crowd’ by a marketer Yuswohady. Nothing new, at least for me. Ten-minute break for me.

The good side is the quality paper thus interesting layout. The flops, as I see it, are more to language. Easy to read, though sometimes it breaks the very basic of it: spelling. He tries to talk to the reader, but he forgets to warn the editor about putting the right dots, making sure permission on every quotation, or even finding the correct name of eminent persons. It’s Chris ANDERSON, for crying out loud, not Andersen.

More to that is that there is no further explanation on implementation for business, bureaucracy or other institution of Indonesia’s atmosphere. He also forgot to note that there are barriers such as: less Net connection than other countries, and  English is a number-three language in this country. For this scoring, I would say this book is rather camera-view reporting than enlightment.

Beyond all flops of the book, you may not want someone to steal your identity and personal info. For this security reason, do not visit http://www.yuswohady.com. Maybe the site’s owner did not realize this, but Mozilla has helped me to do “safe surfing”. His website has this malware warning sign about Phishing attacks. What are they? They usually come from email messages that attempt to lure the recipient into updating their personal information on fake, but very real looking, Web sites.

I don’t want anybody sending me emails or call my number without my consent. “Hello, I would like to set up an appointment for this business… bla bla bla.” If you are annoyed by this calls or spammers, do note that it all starts from entering a Web site like that.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 25, 2008 in blogging, books, buku

 

The Era of Handsome Leaders


“He’s so good looking, I’m even thinking of introducing him to my wife.”

Pada suatu ketika, negara ini pernah mengalami demam imam yang pintar. Pada suatu ketika, ia juga pernah mengidolakan pemimpin tinggi kekar dan pintar. Pada ketika lain, ia bisa saja cuek bebek.

Hari ini, media adalah pemegang kendali siapa yang paling ganteng, siapa yang bisa jadi korban ataupun penjahatnya. Kasus Marcella v. Ananda v. Agung membuat penonton bingung siapa yang jahat. Kalau di politik, saya ingat ibu-ibu di arisan tante saya mengelu-elukan SBY saat kampanye tahun 2004 lalu: “Aih… ganteng, kekar, doktor pula.” Era nenek saya di ‘kampanye’ 1998, Amien Rais bisa jadi idola bentuk lain.

sultan

Tahun 2009 yang riuh ini, saya melihat capres atau cawapres yang sudah berani tampil masih “keberatan” dengan citra masa lalunya. Contohnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X adalah sosok yang dikenal dengan nama “Sultan”, atau sederet nama lain mulai dari Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Mangkubumi, KGPAA Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram, Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sri Sultan Hamengku Buwono Senapati ing Ngalogo Ngabdurrokhman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang jumeneng kaping X. Terlalu panjang untuk dikutip di media televisi yang hitungannya detik, bukan?

Jika mau bersahabat dengan media, marilah kita lihat sifat-sifat media: simplifikasi, sensualitas, dan freshness. Pengulangan atau rerun hanya ada di tengah malam atau jam mati. Warna-warni adalah tampilan utama, karena gloomy atau kesusahan itu tak bisa menjual kecuali ditampilkan dengan dramaturgi victim-butcher. Obama Girl, misalnya, adalah salah satu bentuk bersahabatnya kandidat dengan media audio-visual. Abhisit juga tampil elok di setiap kesempatan. Bagaimana kandidat presiden kita di masa depan? Saya tetap yakin yang elok dan memiliki dramaturgi berorasi sajalah yang mampu tampil ke permukaan. Jargon “kemiskinan” atau “korupsi” cuma di ujung lidah yang kelu, tapi wajah ganteng dengan gaya orator menarik bisa menjadi modal utama yang lebih menjual.

abhisit1

 
 

Pasangan Aneh


Saya pernah punya buku horoskop yang mencocokkan tanggal lahir dua orang selebritas (suami-istri, anak-bapak, adik-kakak) yang pernah dan masih hidup di dunia. Ada yang memang seperti aica-aibon (lengket!) tapi juga ada yang tak akan cocok sampai kapanpun. Dahulu saya beli buku ini dari Book of the Month Club, sebuah organisasi di Amerika Serikat yang selalu mengirim brosur buku (impor) terbaru. Dahulu belum ada QB, Periplus, Kinokuniya atau Aksara. Memiliki buku impor apapun judul dan topiknya adalah kemewahan tersendiri.

Kembali ke pasangan aneh (seperti saya dan buku-buku saya), saya cuma percaya bahwa ada peristiwa kimiawi yang terjadi saat interaksi dua orang atau dua kelompok orang. Buku horoskop saya waktu itu jadi semacam primbon kalau saya mau ketemu orang. Saya selalu tanyakan, “Tanggal berapa kamu lahir?” dan langsung saya cek chemistry saya dengan dia.

Saya pernah diceritakan juga bahwa seorang konglomerat China selalu meminta karyawannya mencari tahu tanggal lahir semua orang yang akan hadir di satu rapat bersamanya, untuk mengetahui feng shui dari rapat itu.

Apapun alasannya, saya merasa bahwa ke-rezeki-an saya dengan suami saya itu lancar, dan kedekatan saya dengan sahabat saya sejak SMA juga membawa rezeki yang lumayan. Contohnya, kawan saya itu selalu menang kuis atau undian dan hanya saya yang diajaknya. Mungkin saat menjawab pertanyaan kuis, di kepalanya ada wajah saya. Suami saya juga memiliki chemistry yang lumayan perihal rezeki ini saat berduaan. Contohnya kalau jalan berdua sering kehujanan. Sering!

Jika saya menulis ini dan Anda menyangka saya akan menulis perihal SBY-JK atau Obama-Biden, saya harus membuka buku lama saya itu. Sayangnya sudah hilang saat saya pindah ke rumah baru ini tempo hari. It’s a good book, for fun purpose at least. Mau bahas yang serius saja di blog ini? Besok ya…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 17, 2008 in books, curhat

 

Pundi-pundi Partai


Jelang Pemilu dan Pilpres 2009, yang menarik dicatat, dan sudah sering didiskusikan dan dijadikan bahan politiking domain KPU, adalah masalah arus uang masuk ke partai. Jika di Amerika Serikat ada acara khusus penggalangan dana bagi Hillary Clinton yang mau maju jadi capres, dan acara ini dikelola secara transparan dan terpantau baik, bagaimana di Indonesia? Hmmm… banyak cara dan banyak bolongnya di peraturan KPU.

Salah satunya, ya… pernah dengar investasi lukisan atau tanaman super-langka? Huh? Kenapa juga berlian harganya setinggi langit. Plain supply and demand thingy. Huh again?

Jawabannya: karena berlian permintaannya banyak (para ibu sosialita dunia), dan penawarannya sedikit atau sulit (mulai dari menggali hingga mengasah dan mendesainnya). Mengapa juga hanya ada De Beers? Ini panjang ceritanya, tapi yang pasti ada kurva penawaran-permintaan semu yang terjadi di sini hingga Pemerintah Amerika Serikat pun pernah menginvestigasi masalah ini.

Nah, dari kurva semu ini, bisa jadi lukisan dan tanaman langka adalah obyek selanjutnya. Karya Monet, Picasso, atau Affandi tentu tak akan bertambah banyak, karena alasannya jelas: yang melukis semuanya sudah almarhum. Mengoleksi replikanya tentu lain rasanya saat memandang ataupun menyentuh tekstur lukisan di atas kanvasnya. Selain itu, menjaga tanaman agar berdaun-akar-buah sehat sejak tunas adalah kesulitan yang mirip.

supply-demand2

Kesulitan mengasah berlian, mendapatkan lukisan yang terbatas jumlahnya, atau mengawasi tanaman (bahasa Inggrisnya: plant nursery) adalah kendala bagi garis penawaran. Selanjutnya, kurva permintaan digeser ke kanan. Caranya? Tentu fungsi media menjadi sangat besar di sini. “Wahai, ini ada lelang lukisan si X setelah sekian tahun tidak pernah ada yang tahu ia teronggok di satu pojok rumah cucu si Y bekas sahabat X…” maka terjadilah skandal pelukis terkenal itu.

Lalu apa hubungannya dengan Hillary Clinton? Kalau Hillary waktu itu dibuatkan acara penggalangan dana di salah satu rumah mewah milik pengusaha nasional sana, di sini acara penggalangan dananya masih malu-malu. Pertanyaan naif saya, tak bisakah kita memberikan asas GCG (good corporate governance) dan GPG (good public governance) dalam setiap pundi partai negeri ini?

Klik sini untuk baca (pdf file) perihal good public governance.

Klik sini untuk baca (doc file) perihal penyelenggaraan penggalangan dana secara umum (versi Amerika, karena di sini tentu tak ada pembedaan musim salju atau semi dkk).

Sekarang yang harus dicermati adalah bagaimana aliran uang itu masuk dari seonggok berlian, setumpuk daun hidup dan selembar kanvas lukisan, hingga ke pundi-pundi partai. Seharusnya KPU bisa lebih cerdas dari para pemilik anthurium dan amethyst.

When are we going to learn and grow up? Say no to korupsi? Yeah right, say yes to money laundering!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 8, 2008 in money, politics

 

Hullabaloo & Wired Bulla, Whazzdat?


Iklan radio di Amerika Serikat turun 10% sejak Oktober 2007; membuat pasar melemah 18 bulan berturut-turut. Radio CBS bahkan turun 12%, Citadel 10.9%, CC Media Holdings, pemilik Clear Channel Communications, menyatakan bahwa penghasilan dari radio menurun 7%. COx 6.2%. Emmis Communications turun 1.5% dan Radio One 2%.

Di Indonesia, ada segelintir pemilik radio besar, seperti beberapa konglomerasi media Elshinta, MNC, Suara Surabaya, OZ Bandung, 99ers Bandung, dan beberapa lain kelompok usaha kecil lainnya. Dari segelintir ini, beberapa inovasi (teknis dan nonteknis) telah dijalani. Mulai megubah programming hingga mencari pipa distribusi baru seperti streaming via internet. Masalahnya kemudian, terjadi pergeseran pola pembaca, pendengar dan pemirsa di banyak belahan dunia. Salah satu indikatornya di Indonesia adalah tingginya hit Detikcom (berita online), Kaskus Radio (streaming radio) atau Binus Watch (audio-visual). Social networks adalah sebuah jargon yang terdengar gaungnya dua tahun terakhir. Jejaring sosial yang dimaksud ini adalah wired bulla, memberikan informasi sekaligus mendulang uang. Bulla adalah tabung untuk menuliskan transaksi barter ribuan tahun silam.

Sekarang, setelah semua transaksi kian canggih, nilainya tak perlu lagi digoreskan ke tabung tanah bernama bulla. Hari ini segala bentuk jual beli pun bisa ditemui secara online. Dengan demikian banyak kegiatan IRL (in real life) kemudian digeser. Kita pun berinteraksi secara online: membaca e-koran hingga menulis agenda. Menonton acara audio visual, mendengar lagu juga bisa dunikmati di situs-situs online. Tak lagi orang dengan sengaja memutar radio, kecuali berada di tengah kemacetan kota Jakarta dan sekitarnya. Tak lagi orang menunggu acara televisi malam seantusias sepuluh tahun silam.

Pola interaktivitas manusia yang kian dinamis ini mewajibkan pemikiran-pemikiran out of the box sebagai sekoci bisnis radio yang mulai kolaps.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 1, 2008 in business