RSS

Arsip Harian: Februari 15, 2008

Hari Ini Berita Detikcom NGACO


betadine3.jpg betadine2.jpg

Tiga tetes air rahmat di air PDAM, air bisa bebas bakteri langsung minum? Soal air ini, Detikcom mengutip pernyataan resmi Direktur Penyehatan Lingkungan dalam jumpa pers di Hotel Shangri-La.

Berita tentang air rahmat (Air RahMat) ini ditulis oleh Rafiqa Qurrata dan di-upload Detikcom pukul 22.17 hari ini. Detikcom membuat sebuah berita yang MENYESATKAN. Jika memang ada kebiasaan bahwa wartawan yang ditempatkan di akhir pekan adalah wartawan rookie, harus dipertanyakan apakah beritanya juga imparsial. Saya menyesalkan sebuah penulisan yang hanya mementingkan judul heboh dan tanpa mengindahkan kode etik wartawan secara utuh.

Bayangkan sebuah jumpa pers Depkes, oleh Dr Wan Alkadri, Direktur Penyehatan Lingkungan di Hotel Shangri-La Jakarta (mengapa tidak di kantor resmi, dan mengapa akhir pekan?) diplintir sebagai berita yang “menjual produk” yang telah terdaftar di Depkes dan telah mendapatkan sertifikat halal MUI. Tidakkah sebuah media berita online seperti Detikcom mampu meng-google kata kunci “air rahmat” dan “wan alkadri” untuk mencari hubungannya? Perkenankan saya cari jembatannya: USAID sebagai donor dan John Hopkins sebagai peneliti.

1. Rafiqa teledor dengan angle berita; mengapa mengaitkannya dengan “lebih menghemat BBM” dan memberi informasi sepenggal-sepenggal. Mengapa tidak disebutkan bahwa air rahmat ini adalah produk yang diteliti, didistribusikan dan dipasarkan oleh John Hopkins, sebuah institusi penelitian resmi Amerika Serikat yang memiliki kantor di Jakarta? Mengapa tidak digali lebih lanjut hasil riset John Hopkins? Bisa juga dilengkapi kasus sukses penurunan diare di daerah-daerah yang sudah memanfaatkan air ini (jika ada).

2. USAID yang mendukung penyebaran air rahmat (baca di sini untuk berita lengkap pemerintah Amerika Serikat “menolong” program air bersih Indonesia) bekerja sama dengan Depkes untuk “mengentaskan” masalah air tidak bersih di negeri ini untuk menghindari diare. Masalah sesungguhnya berada di hulu (masyarakat Indonesia yang belum memperhatikan kesehatan lingkungan secara utuh). Kalau mau tarik ke hulu, mungkin terlalu lama (baca: memakan uang donor USAID lebih banyak) untuk mendidik dan melatih tuntas soal kebersihan 200 juta orang. Akan lebih mahal lagi membangun infrastruktur daur-ulang air seperti yang dimiliki Singapura untuk melepaskan ketergantungan air bersihnya dari Malaysia.

3. Memberi nama “rahmat” adalah sebuah trik yang memanfaatkan agama. Satu usaha yang tidak simpatik, seakan orang Indonesia semua berpikir tahayul untuk konsep sanitasi. Tiga tetes air, voila! semua sehat. Padahal Islam juga mengajarkan kebersihan yang lebih konsepsional; salah satu bentuknya adalah berwudhu atau langsung membersihkan diri jika terkena najis.

4. Logika, membunuh kuman di dalam air, dan airnya kita minum, akan berapa banyak substansi pembunuh kuman masuk ke perut masyarakat yang percaya tahayul? Selama ini yang saya tahu kalau ingin membunuh kuman saya oleskan, teteskan atau kumur Betadine, tidak dengan meminum Betadine dan kumannya sekalian. Berapa banyak informasi lain yang belum diketahui masyarakat. Mengerikan jika pemberian nama “Air RahMat” ini adalah cara menjual produk yang tidak jelas apa dampak jangka panjang untuk rakyat Indonesia.

Janganlah menempatkan sebuah berita layaknya iklan komersial. Lama-lama Detikcom kok menjadi media infotainmen kacangan ya?

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in detikcom, news, profesionalisme

 

Babak Baru: AFC v. English Premier League


bola.jpg

Richard Scudamore dari Liga Inggris (English Premier League) siap-siap menggelar pertandingan persahabatan EPL di Bangkok, Beijing, Hong Kong, Melbourne dan Singapore (haha Jakarta kelewat!). Akan ada 10 pertandingan di lima kota itu sebelum 2011. Scudamore menyatakan bahwa pertandingan ini akan menaikkan popularitas EPL ke seluruh dunia (juga menaikkan pemasukan klub dengan menaikkan nilai hak siar dan hak intelektual via platform lain, sehingga sponsornya makin menggila).

Hebatnya, presiden Asian Football Confederation (AFC) Mohamed bin Hammam menolak inisiatif Scudamore ini dengan alasan tidak baik untuk perkembangan klub sepakbola Asia. Tambahnya, “I appreciate, for example, if the Premier League wants to play in Darfur, Somalia or East Timor where they can act as peace makers.” ROFLMAO, LOL! Good one. Sayangnya, kalau EPL main di sana nanti Beckham pun bisa pulang ke Inggris tanpa kaki.

Apa yang saya lihat? Murni pertarungan lahan sponsor global.

Szymanski (2002) dan Dawson (2005) adalah dua peneliti yang khusus memfokuskan diri untuk urusan sports economics, khususnya sepakbola. Lihat bagan di bawah ini. Hak siar tertinggi dunia untuk olahraga masih diduduki oleh tayangan bola. Mereka bahkan melihat bahwa pergerakan hak siar sepakbola dari tahun ke tahun kian menggila.

2-liga-inggris-terkaya.jpg

Selanjutnya, lihat bagan di bawah ini. Semenjak dipegan BSkyB harga hak siar Liga Inggris di seluruh dunia mulai meroket. Harga per pertandingan pun berlipat ganda.

3-kontrak-bskyb-rocketing.jpg

Untuk seterusnya uang ini dibagikan ke setiap klub. Persentase hitung-hitungannya untuk setiap klub saya punya juga, tapi kita bahas di diskusi lain saja. Uang itu akhirnya kembali ke kampung halaman tiap klub, membangun stadion dan regenerasi pemain dan semua pilar institusi sebuah klub yang baik.

Akhir ceritanya, memang uang dari hak siar menjadi pemicu bagaimana sebuah asosiasi yang baik membangun [industri] sepakbola di negaranya. AFC punya hak untuk teriak, sementara itu EPL juga bisa menjadi gurita yang tak terhentikan. Plain supply-demand thing. But most of all, people (read: AFC and EPL) always respond to incentive. Cring-cring!

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 15, 2008 in football, sepakbola, sports